
Setibanya di apotik, Lee pun teringat dengan sahabatnya yang akan bekerja sekaligus berbulan madu ke Sidney. Ia pun kepikiran untuk membelikan obat kuat untuk Zilgwin. Namun sayang, karena bentuk obatnya yang hampir sama, obat tidur milik Lee dan kuat milik Zilgwin jadi tertukar.
***
Lee pun akhirnya meminum obat yang telah tertukar itu dan bersiap-siap untuk tidur.
Namun, beberapa saat kemudian, Lee merasakan tubuhnya begitu panas dan gelisah.
Lee kemudian membuka pakaiannya dan menaikkan suhu AC kamarnya, namun hasilnya nihil. Tubuhnya malah semakin panas dan juniornya terasa mengeras.
Lee sempat keheranan kenapa tubuhnya tiba-tiba seperti ini, ia pun akhirnya menghubungi salah satu temannya yang merupakan dokter di sebuah rumah sakit.
Setelah Lee menjelaskan semua keluhannya kepada temannya itu, Lee begitu terkejut mendengar penjelasan sang tenan yang mengatakan jika Lee kemungkinan meminum obat kuat.
Alhasil semalaman Lee tidak bisa tidur. Ia kemudian memutuskan berendam di bathub seperti saran sang teman sehingga ia terpaksa dibuat tidur di kamar mandi semalaman.
Sementara itu, keesokan harinya, Kanaya pun bangun lebih awal daripada Zilgwin. Ia juga sudah selesai mandi dan melakukan aktifitas lainnya.
Beberapa saat kemudian, Zilgwin pun akhirnya bangun dengan kepala yang sedikit pusing. Perlahan, ia kembali teringat dengan kejadian semalam, yang dimana ia tiba-tiba saja merasakan kantuk yang teramat sangat setelah meminum obat yang di berikan Lee kepadanya yang membuat bulan madunya dengan Kanaya gagal total.
"Sialan si Lee, dia pasti sengaja ngerjain gue dengan memberi obat tidur. Awas saja anak sialan itu," umpat Zilgwin di pagi hari.
"Obat tidur? Sejak kapan kakak mengkonsumsi obat tidur?" tanya Kanaya tiba-tiba saja datang menghampiri Zilgwin.
"Astaga Kanaya, kamu benar-benar mengagetkan ku saja. Darimana saja kamu?" ucap Zilgwin sedikit terperanjat.
"Maaf kak. Aku bukan bermaksud begitu. Aku baru saja dari balkon. Pemandangan di sini begitu indah sekali. Oh ya, tadi aku dengar kakak menyebut-nyebut tentang obat tidur. Sejak kapan kakak mengkonsumsinya?" tanya Kanaya lagi.
"Aku tidak pernah mengkonsumsi obat tidur. Hanya saja, Lee salah memberikan obat untukku," jawab Zilgwin sembari meregangkan tubuhnya.
"Memang sebelumnya kakak memesan obat apa? Apa kakak sakit?" Kanaya balik bertanya.
"Tidak. Aky sama sekali tidak sakit. Itu, apa, Lee memberikan ku obat...." jawab Zilgwin menjeda ucapannya.
__ADS_1
Ia malu jika harus mengatakan hal yang sebenarnya kepada Kanaya.
Zilgwin takut jika nanti Kanaya akan menganggapnya sebagai laki-laki yang kurang bertenaga.
"Obat apa?" tanya Kanaya penasaran.
"Itu, sebenarnya bukan obat sih. Namun bisa dikatakan sebagai vitamin untuk daya tahan tubuh saja. Kita kan tidak tau bagaimana kondisi dan kesehatan di negeri orang ini," jawab Zilgwin beralasan.
"Iya juga ya. Kenapa aku tidak kepikiran sampai di situ. Ya sudah, jika memang obatnya salah, bagaimana kalau nanti kita ke apotik saja buat membeli vitaminnya," usul Kanaya sembari melipat selimut yang telah lepas dari tubuh Zilgwin.
"Ok tak masalah. Kalau begitu aku akan mandi dulu. Pagi ini aku ada pertemuan penting, tapi tidak lama kok. Aku akan pulang secepatnya dan membawamu jalan-jalan keliling kota Sidney," jawab Zilgwin yang teringat dengan rencananya mengunjungi rumah Laura untuk meminta penjelasan dari dirinya.
Beberapa saat kemudian, Zilgwin pun selesai mandi dan berganti pakaian. Setelah ia sarapan pagi dengan Kanaya, Zilgwin pun pamit untuk pergi. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Laura dan mendengar penjelasan dari mantan istri yang selama ini ia ketahui sudah meninggal dalam tragedi kecelakaan.
"Kanaya, aku berangkat dulu ya. Kamu gak papa kan tinggal sendirian?" ucap Zilgwin pamitan kepada Kanaya.
"Ya, gak papa kok kak. Hati-hati dijalan ya," jawab Kanaya mencium punggung tangan suaminya itu.
"Aku harus bisa bertemu dengan Laura hari ini juga," gumam Zilgwin disaat ia sedang dalam perjalanan ke rumah Laura.
Tak butuh waktu lama, beberapa saat kemudian, Zilgwin pun tiba di komplek rumah Laura. Ia mengamati pergerakan rumah mantan istrinya tersebut, hingga beberapa menit kemudian terlihat Steve meninggalkan rumah tersebut.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Zilgwin pun memasang topi dan juga maskernya lalu turun dan berjalan ke rumah Laura.
Ting
Tong
Ting
Tong
Zilgwin menekan tombol bel yang ada di dekat pintunya dan menunggu untuk beberapapa saat.
__ADS_1
"Sayang kamu kenapa pulang la....." ucap Laura yang terputus dari dalam rumahnya. Laura mengira jika Steve kembali lagi untuk mengambil sesuatu tang tertinggal. Namun, Laura sedikit terkejut saat masih melihat ada seorang laki-laki bertubuh tegap berdiri di hadapannya saat ini.
"Siapa kamu?" tanya Laura mengernyitkan kedua alisnya.
Mendengar pertanyaan Laura, Zilgwin pun lalu membuka topi, kaca mata dan juga maskernya.
Laura yang sedari tadi penasaran dibuat terkejut oleh seseorang yang ada di hadapannya itu.
"Zi.. Zi.. Zilgwin?" ucap Laura gugup.
Ia tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.
"Ya, ini aku Zilgwin. Apa kamu terkejut? Hmmmm?" jawab Zilgwin balik bertanya.
"Kamu.. Kamu.. Kenapa kamu ada disini?" tanya Laura shock.
"Kenapa aku ada disini? Harusnya aku yang bertanya seperti itu Laura. Kenapa kamu ada disini,? Bukankah kamu telah meninggal dalam kecelakaan pesawat waktu itu? Atau...Apa kamu sengaja mekamuflase kematian mu agar kamu bisa huduo dengan Steve? Cinta pertamamu?" ucap Zilgwin membuat Laura pucat pasi.
"Zil, bukan.. Bukan.. Bukan gitu maksudku. Aku dan Steve sebenarnya tidak sengaja bertemu. Dia menolongku dan akhirnya kami.. Kami..," jawab Laura terhenti.
"Dan akhirnya kalian hidup bahagia di atas penderitaan ku dan juga Kenzie. Iya kan?" tanya Zilgwin masih berusaha keras menahan emosinya.
"Kalau iya memang kenapa?" teriak seseorang yang baru saja tiba. Dia adalah Steve, sahabat Zilgwin yang sekarang telah menjadi istri dari Laura, mantan istrinya.
"Steve," ucap Zilgwin mengepalkan tangannya.
"Zilgwin, sudah lama kita tidak bertemu. Gimana kabar lo setelah kematian istri? Oh ya, kenalkan, ini Laura, istri gue," ucap Steve mempertegas kata istri kepada Zilgwin.
"Kurang ajar lo Steve. Lo tega nikung gue, sahabat lo sendiri. Lo tau kan, gue dan juga Laura sudah memiliki seorang anak?" balas Zilgwin emosi. Nafasnya terasa sesak saat ia mencoba untuk mengontrol emosinya.
"Haha, gue? Nikung lo? Lo sadar gak sih jika gue dan Laura itu sudah lama saling kenal satu sama lainnya, bahkan gue sudah kenal dengannya jauh sebelum lo mengenal Laura. Kalo lo gak percaya, lo tanyakan saja kepada Laura siapa laki-laki yang ia cintai hingga detik ini," ujar Steve membuat Zilgwin segera menatap Laura meminta jawaban atas pertanyaannya.
"Maafkan aku Zilgwin, meskipun kita telah memiliki anak, namun aku tidak bisa melupakan Steve. Steve benar, aku sangat mencintainya. Dia adalah cinta pertama dan juga akan menjadi cinta terakhirku," jawab Laura membuat hati Zilgwin terasa hancur berkeping-keping.
__ADS_1