Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 55


__ADS_3

Ya sudah, ayo sekalian saja. Oh ya Airin, mulai sekarang kamu jangan panggil Ibuk lagi ya, panggil saja mama, sama seperti Gara," jawab Lena memegang Airin yang kini telah resmi menjadi menantunya tersebut.


"Iya baik Ma. Makasih ya Ma udah anggap Airin seperti anak mama sendiri," jawab Airin kemudian memeluk mertuanya tersebut.


***


Akhirnya Gara dan yang lainnya memutuskan untuk pulang ke rumah Airin setelah acara pernikahan mereka telah selesai.


Semua yang hadir duduk di ruang keluarga untuk melepas penat dan berbincang-bincang sesaat, kecuali Liona yang sedari tadi sudah meninggalkan kantor urusan agama karena kesal dan iri dengan kebahagiaan Gara dan juga Airin.


"Gara, Airin, jadi kapan kamu mau mengadakan pesta?" tanya Lena membuka pembicaraan di keluarga itu.


"Iya, kapan acaranya?" tanya Emanuel menambahkan.


"Rencananya sehabis Airin lahiran Ma, Pa. Sekalian pestanya menyambut kelahiran bayi kembar kami," jawab Gara mengelus perut buncit Airin.


"Cieee yang sudah bebas elus-eluss," ejek Leon membuat wajah Airin merah merona.


"Hai kau kenapa sewot sih? Kau iri? Makanya cari tuh ibunya Clara, biar bisa kau halalin juga," ucap Gara membuat Leon langsung tertunduk pura-pura sedih.


"Kamu jangan bentak dia seperti itu mas, kasihan Leon nya," ucap Airin memperingatkan suaminya itu.


"Haha.. Kasihan? Buat apa?" tanya Gara tergelak.


"Sudah-sudah, kalian ini selalu saja bertengkar.


"Tau tuh si Leon," ucap Gara menatap sinis Leon.


"Hiks.. Hikss, aku tersakiti. Tolong Daddy Clara," ucap Leon memeluk putrinya.


Sontak semua yang ada di situ langsung tertawa melihat ulah Leon dan juga Gara.


Saat mereka tengah duduk bersama, tiba-tiba saja salah satu pengawal masuk ke tengah-tengah keluarga tersebut.


"Maaf tuan, saya mau memberi tahukan jika di depan ada polisi ingin bertemu dengan tuan Gara," ucap pengawal tersebut menundukkan kepalanya.


"Polisi?" ucap semua yang ada di ruangan itu serentak.


"Suruh mereka masuk," jawab Gara dingin.


Beberapa saat kemudian, beberapa orang polisi tersebut masuk dan langsung di persilahkan oleh Gara untuk ikut duduk bergabung bersama keluarganya.

__ADS_1


"Ada yang bisa kami bantu pak?" tanya Gara membuka percakapan kepada polisi tersebut.


"Begini pak, sesuai hasil penelusuran tim kami di tkp, kami telab menyimpulkan bahwasannya penyebab dari kecelakaan yang bapak alami, terdapat rekayasa yang di sengaja di dalamnya," ucap polisi tersebut membuat Gara dan keluarga lainnya terkejut.


"Mak.. Maksud bapak, ada yang sengaja merusak mobil saya begitu?" tanya Gara tidak habis fikir.


"Ya pak, rem dan bannya sengaja di sabotase oleh seseorang yang tidak suka dengan bapak atau dengan bapak Leon," ucap polisi tersebut lebih jelas.


"Tapi siapa yang bisa melakukan itu? Bukankah mobil itu selalu aku pakai kemanapun aku pergi?" tanya Gara tidak habis pikir.


"Bapak tenang saja. Kami akan selalu menyelidiki kasus ini," jawab polisi tersebut.


"Baik pak terima kasih. Saya mau kasus ini di usut tuntas pak," ucap Gara dingin.


"Baiklah pak. Kalau begitu kami permisi dulu," jawab polisi tersebut pamit meninggalkan kediaman Gara.


"Siapa yang tega melakukan itu padamu mas?" tanya Airin yang kini memanggil Gara dengan sebutan mas.


"Apa ada orang di rumah ini yang sengaja menyabotase mobilmu?" ucap Emanuel tiba-tiba.


"Maksud papa ....-" jawab Gara terputus dan menatap Emanuel dengan intim.


"Ya, sebaiknya kau cobalah selidiki," ucap Emanuel dengan suara pelan.


Jam pun berlalu dengan cepat. Masih di hari yang sama, Saat matahari sudah mulai tenggelam, Lena dan Emanuel pun sudah pulang ke rumah mereka, sedangkan Leon dan Clara juga sudah mulai istirahat dan tidur di kamar yang telah Gara dan Airin sediakan di rumah itu.


Zaki dan Ibunya juga sudah mulai istirahat, begitu juga dengan kedua orang tua Airin.


Aktifitas hari ini benar-benar membuat mereka lelah dan memilih untuk tidur lebih cepat dari biasanya.


Namun di kamar Airin. Saat ini wanita cantik itu telah resmi menjadi seorang istri dari Gara Emanuel. Mau tidak mau, dia harus tidur satu ranjang dengan suaminya itu.


"Airin?" panggil Gara yang saat ini sedang duduk bersandar di atas tempat tidur.


"I.. Iya, kenapa?" tanya Airin gugup.


"Kamu ngapain di sana? Apa kamu tidak akan tidur?" tanya Gara kepada Airin yang sedari tadi duduk di atas kursi riasnya.


"Hmmmm.. Aku.. Aku tidurnya nanti saja. Kamu tidur saja duluan," jawab Airin gugup.


"Kenapa? Apa kamu gugup?" jawab Gara memperhatikan gelagat sang istri.

__ADS_1


"Gu.. Gugup? Ti.. Tidak, Aku tidak gugup, hanya saja aku belum mengantuk," jawab Airin masih saja gugup.


"Sudahlah, aku tau kamu lelah sekali hari ini. Tidak usah malu dan gugup untuk tidur bersamaku. Aku ini suamimu, dan kamu harus terbiasa tidur denganku," ucap Gara yang sudah berdiri di hadapan Airin lalu menuntun istrinya itu untuk tidur bersamanya.


"Ba.. Baiklah," jawab Airin akhirnya mengalah.


"Airin?" panggil Gara saat Airin sudah merebahkan tubuhnya di samping Gara.


"Ya?" jawab Airin singkat.


"Apa aku boleh melakukannya malam ini?" tanya Gara dengan suara lembut sembari mengelus perut buncit Airin.


"Me.. Melakukan apa?" jawab Airin gugup.


"Melakukan tugasku sebagai seorang suami. Memberikan hak mu secara batin dan meminta hak ku sebagai seorang suami," jawab Gara dengan jantung deg-deg serπŸ˜‚.


"Tapi.. Tapi aku sedang hamil? Apakah boleh?" tanya Airin berusaha menolaknya.


"Siapa bilang tidak boleh. Justru itu akan lebih baik untuk mempermudah persalinan mu nantinya. Aku pernah baca artikel jika kita harus sering-sering melakukannya di saat kehamilan yang mendekati persalinan seperti ini," jawab Gara ada benarnya jugaπŸ˜‚πŸ˜‚


"Benarkah? Apa kamu berusaha membohongi ku lagi?" ucap Airin menatap tajam Gara.


"Ti.. Tidak. Aku sama sekali tidak membohongimu. Kalau kau tak percaya, silahkan saja lihat artikelnya di ponselmu," ucap Gara kepada Airin yang kini kembali menatapnya dengan tatapan dingin.


"Baiklah, kamu boleh melakukannya, tapi dengan satu syarat," jawab Airin membuat Gara bersemangat.


"Syarat? Syarat apa? Apapun syaratnya pasti akan aku turuti," jawab Gara semangat empat lima.


"Aku mau kamu membuatkan ku susu hamil. Aku lupa meminumnya hari ini, dan aku sangat malas sekali untuk turun kebawah," jawab Airin mencoba menunda-nunda waktu, karena sebenarnya Airin belum siap sama sekali jika Gara kembali menyentuhnya.


"Susu hamil? Gampang. Aku akan membuatkan mu susu hamil sekarang. Kau tunggulah sini. Sebentar lagi aku akan kembali," jawab Gara sangat semangat. Ia kemudian keluar dari kamar tersebut, dan tak lupa mencium kepala Airin sekilas.


Gara tidak tau saja jika di rumah itu tidak ada sama sekali yang namanya susu hamil.


Airin sengaja menyuruhnya agar wanita cantik itu bisa langsung tidur.


Saat tiba di dapur, Gara pun mulai mengambil gelas dan ia mencari dimana letak susu hamil milik Airin.


"Apa yang kau lakukan di dapur malam-malam begini Gara?" tanya Leon yang berniat membuatkan susu untuk Clara.


"Aku mau membuatkan Airin susu hamil, tapi sedari tadi aku tidak menemukan susu nya," jawab Gara sembari terus mencarinya.

__ADS_1


"Haha, Gara-Gara, mau saja kau di tipu oleh Airin," jawab Leon menertawakan Gara.


"Maksudmu apa?" jawab Gara kembali bertanya.


__ADS_2