
"A.. Aby.. Apa. Apa Ibu Rini tau jika kita...," tanya Kamelia terputus.
"Beliau sudah tau. Sudah, kamu jangan banyak pikiran. Ibu Rini bilang kemungkinan besar kamu sedang hamil, nanti setelah tugas mengawas ku selesai, aku akan menemanimu ke dokter," jelas Ustad Gibran membuat Kamelia terbelalak.
"A.. Apa? Aku.. Aku hamil?" ucap Kamelia masih tak percaya.
"Itu kemungkinan besarnya, untuk lebih jelasnya lagi, nanti kita akan tanyakan langsung pada dokternya," jawab Ustadz Gibran.
"Ta.. Tapi bagaimana kalau murid-murid lainnya pada tau? Apa yang harus kita lakukan By?" tanya Kamelia menatap suaminya itu.
"Kamu tenang saja. Kita akan usahakan untuk menyembunyikan ini sebaik mungkin hingga kamu tamat nantinya," ucap Ustadz Gibran mengusap kepala istrinya itu.
'Ustadz Gibran terlihat sangat mencintai Kamelia. Kamu benar-benar beruntung Kamelia. Tapi aku bahagia jika melihat kamu bahagia Ustadz Gibran,' batin Ibu Rini yang melihat di balik tirai ruangan tersebut.
Beberapa saat kemudian, Ustadz Gibran sudah kembali lagi ke kelasnya. Sedangkan Kamelia di perintahkan oleh Ustadz Gibran untuk tetap beristirahat di UKS. Ustadz tampan itu benar-benar tidak mau jika Kamelia kelelahan atau lain sebagainya.
Di saat Kamelia tengah beristirahat, Rahma yang merupakan salah satu dari penggemar berat Ustadz Gibran datang menghampiri Kamelia yang sedang tertidur.
"Kamelia bangun," bisik Rahma mengguncang tubuh Kamelia pelan.
"Rah.. Rahma? Ada apa?" tanya Kamelia menatap Rahma.
"Kamelia maafkan aku soal yang kemarin. Kamelia maukah kamu membantuku untuk dekat dengan Ustadz Gibran?" ucap Rahma seketika membuat Kamelia tercengang.
"A.. Apa? Dekat dengan Ustadz Gibran?" tanya Kamelia sekali lagi.
"Ya, Kamelia kamu tau, aku dari dulu sudah menyukainya, hanya saja, Ustadz Gibran tidak pernah memperhatikan aku sedikitpun," jawab Rahma membuat Kamelia benar-benar kesal.
Ingin rasanya Kamelia mengatakan jika dirinya adalah istri sah Ustadz Gibran, hanya saja, waktunya belum tepat untuk memberi tahukannya kepada Rahma.
__ADS_1
"Maaf Rahma, aku tidak bisa. Jika kamu ingin mendekati Ustadz Gibran, kamu dekati saja sendiri. Aku tidak bisa membantumu," jawab Kamelia kesal.
"Kenapa. Bukankah kamu sepupuan dengan Ustadz Gibran?" tanya Rahma mulai kesal.
"Ya, tapi itu masalah perasaan. Lebih baik kamu fokus saja sama ujian kenaikan kelas nanti. Kalau masalah Ustadz Gibran, jika kalian berjodoh, maka kamu dan Ustadz Gibran akan bersatu," ucap Kamelia membuta Rahma semakin kesal.
"Ya sudah, jika kamu tidak mau membantuku. Aku akan berusaha sendiri. Ingat ya Kamelia, aku pasti bisa mendapatkan Ustadz Gibran tanpa bantuan kamu," balas Rahma lalu pergi meninggalkan Kamelia sendirian.
Pada sore harinya, di saat jam sekolah telah habis, Kamelia dan juga Ustadz Gibran pun pergi menuju rumah sakit untuk memeriksakan kesehatan Kamelia.
Karena satu sekolahan sudah tau jika mereka sepupuan, tak ada yang merasa curiga jika pergi berduaan seperti ini.
Banyak dari santriwati lainnya yang sengaja mendekati Kamelia hanya untuk sekedar mengambil hati Ustadz Gibran. Namun, Ustadz Gibran yang sangat mencintai Kamelia, benar-benar menutup mata untuk wanita lain.
"Kamelia," panggil Ustadz Gibran sembari fokus menyetir mobilnya.
"Apa kepalamu masih pusing? Apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Ustadz Gibran mengusap kepala Kamelia sekilas.
"Masih, hanya saja perutku ini terasa tidak enak. Aby, bagaimana jika nanti aku benar-benar hamil?" tanya Kamelia kepada suaminya itu. Jujur ada rasa takut yang datang menyeruaki pikiran Kamelia. Entah karena trauma atau memang takut karena ia masih sekolah.
"Sayang, jika Kamu benar-benar hamil, Aby akan senang sekali. Kamu tau, Abah sudah lama menginginkan anak dari Aby, maka dari itu, Aby melarang mu untuk menggunakan kontrasepsi saat kita menikah dulu," jawab Ustadz Gibran menggenggam tangan Kamelia.
"Lalu, bagaimana dengan sekolahku Aby? Bukankah peraturan sekolah tidak mengizinkan semua muridnya menikah apa lagi sampai hamil di masa-masa sekolah?" tanya Kamelia lagi.
"Sudah, tenang saja. Jangan di pikirkan.
Sekarang kita sudah sampai, ayo turun," ucap Ustadz Gibran turun dari mobilnya.
Beberapa saat kemudian, setelah mendapatkan antrian, sepasang suami istri itu menunggu di depan ruangan tempat pemeriksaan berlangsung.
__ADS_1
Setelah menunggu tiga puluh menit lebih, akhirnya nama Kamelia di panggil untuk melakukan pemeriksaan oleh dokter.
"Selamat sore, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter tersebut dengan ramah.
"Hmmmmm, begini, dokter, istri saya ini tadi siang sempat pingsan saat melakukan kegiatannya di pondok pesantren, petugas UKS di ponpes kami mengatakan jika kemungkinan besar, istri saya ini hamil, dan kami di suruh untuk memeriksakannya ke rumah sakit atau klinik dokter," jawab Ustadz Gibran menjelaskannya kepada dokter wanita paruh baya tersebut.
"Baiklah, kalau begitu kita akan memeriksanya dulu ya melalui layar monitor yang ada di sana. Nanti kita akan sama-sama mengetahui hasilnya. Sekarang ayo ikut saya dan berbaring di atas kasur itu," ucap dokter kandungan tersebut kepada Kamelia.
Kamelia pun mengikuti perintah dokter tersebut. Dengan gugup, Kamelia murai merebahkan tubuhnya dan seorang suster langsung menutupi sebagian tubuhnya menggunakan selimut tipis dan mengangkat baju Kamelia hingga menampakkan perutnya.
"Baik, sekarang kita akan mulai pemeriksaannya. Ibu mohon rileks dan tenang ya," ucap Dokter tersebut menuangkan cairan dan meletakkan alat pemeriksaannya di atas perut rata Kamelia.
"Ibu Kamelia, selamat ya, anda memang dalam keadaan hamil saat ini. Disini terlihat jelas janin anda yang mulai tumbuh kembang, dan ini kantung rahimnya. Janin anda tumbuh dengan sehat saat ini. Saya akan memberikan resep vitamin agar si kecil bisa tercukupi semua nutrisinya," jelas dokter kandungan tersebut kepada Kamelia.
"Ja.. Jadi saya benar-benar hamil dokter?" tanya Kamelia kembali memastikannya.
"Iya. Anda benar-benar hamil. Dan di sini di katakan kehamilan anda sudah memasuki usia empat hingga lima Minggu," ucap dokter tersebut menjawab pertanyaan Kamelia.
"Alhamdulillah. Terima kasih dokter," ucap Ustadz Gibran sangat senang sekali. Saking senangnya, mata Ustadz Gibran sampai berkaca-kaca karena haru.
Sepulangnya dari rumah sakit, Ustadz Gibran tak henti-hentinya menciumi istrinya saat ia telah berada di dalam mobil. Ustadz Gibran sangat senang sekali. Rasa senangnya itu tak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Terima kasih ya Kamelia. Kamu telah bersedia mengandung darah daging ku. Mulai sekarang, kamu jangan sampai kelelahan. Ingat sayang, di dalam sana ada sebuah nyawa yang menggantungkan hidupnya padamu," ucap Ustadz Gibran lalu melajukan mobilnya.
"Setibanya di pondok, Kamelia langsung di suruh untuk beristirahat oleh Ustadz Gibran, sementara ia akan menemui Kiyai Sodikin untuk memberi tahukan kabar bahagia ini.
"Bagaimana Gibran? Apa kamu sudah memeriksakan Kamelia ke rumah sakit? Dia sakit apa?" tanya Kiyai Sodikin terlihat cemas sedari tadi.
"Alhamdulillah sudah Bah. Bah, Gibran mau mengatakan sesuatu sama Abah. Gibran yakin, Abah pasti akan senang mendengarnya," ucap Ustadz Gibran dengan wajah yang berseri-seri.
__ADS_1