
"Kenapa lama sekali By?" tanya Kamelia saat melihat suaminya itu yang baru saja tiba di rumah.
"Iya, maafkan Aby ya sayang. Tadi ada insiden sedikit. Ini satenya kamu habiskan ya," jawab Ustadz Gibran mengusap perut raya Kamelia.
"Makasih By. Oh ya, tadi Aby bilang ada insiden. Insiden apa by?" tanya Kamelia penasaran.
"Itu, tapi kamu jangan salah paham dulu ya sama Aby. Kamu dengarkan dulu perkataan Aby baik-baik. Tadi itu, pas Aby membeli sate Padang buat kamu, Aby di panggil oleh seorang wanita yang ternyata dia adalah teman sekelas Aby waktu sekolah di sini juga. Karena kami saling mengenal, dia pun berjalan ke arah Aby, dan singkat cerita, ternyata teman Aby ini kabur dari rumahnya karena ia menolak untuk di jodohkan dengan laki-laki pilihan kedua orang tuanya.
Karena Aby kasihan, Aby kemudian menawarkan untuk mengantarnya pulang, namun setibanya di rumah orang tuanya, dia mengatakan kepada ke dua orang tuanya jika Aby ini calon suaminya, sontak Aby kaget dan Aby langsung menjelaskan kepada ke dua orang tuanya jika kami tidak ada hubungan apa-apa, dan memutuskan untuk meninggalkan rumah wanita itu. Disini, Aby minta maaf ya jika Aby tidak minta izin dulu sama kamu. Aby takut, kamu akan kepikiran dan akhirnya suudzon," jelas Ustadz Gibran jujur kepada istrinya itu. Ustadz Gibran takut jika Kamelia akan salah faham pada dirinya, namun alangkah lebih baik jika ia jujur saat ini.
"Lalu apa kata orang tua wanita itu." tanya Kamelia dengan raut wajah sedikit berubah. Ia seperti tidak suka saat mendengar suaminya itu pergi dengan wanita lain.
"Kedua orang tuanya kaget, ia tak menyangka jika anaknya itu akan melakukan hal sebodoh ini. Kamelia, sayang, kamu mau kan memaafkan Aby?" ucap Ustadz Gibran memegangi tangan istrinya itu.
"Hhhhh, baiklah, aku tidak akan marah, tapi aku punya satu permintaan untuk Aby," jawab Kamelia menatap tajam suaminya itu.
"Permintaan apa hmmm? Aby akan menuruti semuanya," jawab Ustadz Gibran tampak senang.
"Aku mau Aby habiskan semua sate-sate ini," jawab Kamelia membuat Ustadz Gibran mengerutkan keningnya.
"Sayang, tapi Aby tidak suka ampela, apa kamu serius dengan permintaan mu itu?" tanya Ustadz Gibran dengan tampang memelas nya.
"Ya, aku serius. Jika Aby gak mau, ya sudah, Aby tidur di sofa," jawab Kamelia cemberut.
Melihat Kamelia yang cemberut, Ustadz Gibran pun tidak tega untuk menolak permintaan istrinya, apalagi saat ini wanita itu tengah hamil darah dagingnya. Alhasil, Ustadz Gibran pun langsung menuruti kemauan Kamelia. Ia terpaksa memakan ampela untuk pertama kalinya.
Keesokan harinya, di rumah sakit, Gara Emanuel tengah bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya. Ia sudah tidak sabar untuk menemui Sinta dan menanyakan apa tujuan dan maksud wanita itu menyuruh orang untuk menculik anak kembar nya.
__ADS_1
"Kamu sudah siap?" tanya Airin kepada Gara. Ia baru saja mengurus kepulangan Gara dari rumah sakit.
"Sudah sayang. Oh ya, Airin, nanti pas pulang kita mampir dulu ke rumah sakit tempat kamu memeriksakan penyakitmu waktu itu. Aku sangat penasaran sekali dengan hasilnya," jawab Gara membuat Airin teringat akan penyakitnya.
"Iya ya, aku sampai lupa jika aku ini tengah sakit. Tapi aku tidak merasakan apa-apa pada tubuhku," balas Airin sembari mengemas pakaiannya.
"Jika saja hasilnya berbeda, maka aku akan tuntut dokter rumah sakit XX tersebut," ujar Gara lalu menghubungi sahabatnya Leon untuk menanyakan tugas kantor.
Beberapa saat kemudian, mobil yang membawa Gara dan juga Airin akhirnya tiba di rumah sakit tempat Airin memeriksakan penyakitnya waktu itu.
Setelah menunggu kurang lebih lima menit, nama Airin pun akhirnya di panggil ke ruangan dokter yang kemarin memeriksa dirinya.
"Selamat siang dokter, bagaimana dengan hasil pemeriksaan saya? Apa hasilnya telah keluar?" tanya Airin harap-harap cemas.
"Selamat siang juga Ibu Airin. Hasilnya sudah keluar, ini silahkan di buka," jawab dokter tersebut memberikan selembar kertas yang di lipat.
"Dokter, saya lihat disini hasilnya berbeda, apa itu benar?" tanya Airin menatap dokter paruh baya tersebut.
"Ya, anda benar Bu, hasilnya memang berbeda. Kami telah melakukan pemeriksaan berkali-kali, dan disini ibu tidak menderita penyakit apa pun. Ibu sehat wal afiat," jawab dokter tersebut membuat Gara ternganga.
"Jadi, istri saya tidak sakit leukimia kah dokter?" tanya Gara memastikan sekali lagi.
"Tidak sama sekali pak. Istri anda baik-baik saja," jawab dokter tersebut.
"Apa hasil pemeriksaannya bisa salah atau tertukar dokter?" tanya Gara mulai menyelidiki.
"Kalau untuk tertukar itu sepertinya tidak mungkin pak, kalau masalah salah periksa saya rasa juga tidak mungkin, masalahnya bila penyakit seperti ini, biasanya pemeriksaanya sangat ketat dan berkali-kali," jawab dokter tersebut membuat Gara berpikiran bahwa ada seseorang yang sengaja menyabotase hasil pemeriksaan istrinya itu.
__ADS_1
"Baiklah dokter, terima kasih. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Gara lalu meninggalkan ruangan dokter tersebut bersama dengan istrinya.
Sementara Gara dan Airin masih berada di jalan, kedua orang tua Sinta datang menemui Emanuel ke rumah utama mereka. Mereka memohon untuk melepaskan putri semata wayangnya dari penjara.
"Maaf, saya bukannya tidak punya hati seperti apa yang anda berdua katakan, tapi saya hanya melalukan tugas saya sebagai seorang ayah di kala putra saya berada di dalam bahaya. Bagaimana pun juga, putri anda tetap bersalah karena telah berusaha menculik cucu-cucu kembar saya," jawab Emanuel tenang saat kedua orang tua Sinta mengatakan dirinya tidak memiliki hati.
"Baiklah, kalau anda memang tidak mau untuk melepaskan putri kami, kami mohon maaf sebelumnya. Kami permisi dulu," jawab papanya Sinta dengan raut wajah putus asa.
Beberapa hari telah berlalu, keadaan Gara semakin lama semakin membaik. Saat ini ia hendak berangkat ke kantor, meskipun Airin telah melarangnya.
Saat di perjalanan, Gara dan juga Leon lebih dulu mampir ke kantor polisi untuk menemui Sinta. Ini adalah kali pertamanya Gara menemui wanita itu semenjak keluar dari rumah sakit.
"Gara," panggil Sinta saat mereka di pertemukan di ruang kunjung kantor polisi tersebut.
"Ya, ini aku Gara. Sinta silahkan duduk. ada beberapa hal yang aku ingin tanyakan padamu," jawab Gara menatap dingin ke arah wanita cantik itu.
Sinta pun mengikuti perintah Gara, dan saat ini, mereka telah duduk secara berhadap-hadapan.
"Ada apa Gara?" tanya Sinta dengan senyuman manis di wajahnya.
Sinta benar-benar telah kehilangan akal sehat saat bertemu dengan Gara.
Ia tetap bersikap manis meskipun Gara telah menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Kamu mau menanyakan apa Gara? Aku akan senantiasa menjawabnya dengan senang hati," ucap Sinta menatap Gara.
"Kenapa kamu mau menculik bayi kembar ku?" tanya Gara mencoba meredam emosinya.
__ADS_1