Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara 2 Bab 3


__ADS_3

"Gara woi, ngapain kamu liatin junior saya seperti itu?" tanya Leon merasa risih.


"Apa kedatanganku mengganggumu?" tanya Gara berusaha menahan tawanya.


"Menurut kamu?" jawab Leon yang benar-benar sudah kesal.


***


"Uppsss.. Hahahaha.. Leon maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf," ledek Gara yang sudah tau penyebab kekesalan sahabatnya itu.


"Maaf.. Maaf.. Kamu pikir dengan kata maaf bisa memutar waktu lagi?" balas Leon masih kesal.


"Haha.. Terus aku harus gimana lagi Leon? Apa aku harusssss," ucap Gara terputus.


"Harus apa?" tanya Leon membelalakkan matanya.


"Ah, enggak. Enggak jadi. Ya sudah, kalau begitu aku akan berangkat ke kantor duluan saja. Kamu lanjutkan saja pekerjaan mu. Kasihan tuh junior mu," ledek Gara lalu pergi dan masuk ke dalam mobilnya.


"Sialan si Gara. Udah ganggu, ngeledek lagi," umpat Leon lalu kembali masuk ke kamarnya.


Setibanya di kamar, Leon yang hendak melanjutkan hasratnya itu, lagi-lagi terganggu oleh Kimora yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Kak Gara tadi masih di luar kah kak? Apa dia mau aku buatkan teh atau kopi gitu kak?" tanya Selin yang saat ini posisinya sudah berpakaian lengkap dan menggendong Kimora di pangkuannya.


"Nggak.. Nggak.. Nggak usah. Gara baru saja pergi. Memang dasar sialan anak itu," lagi-lagi Leon mengumpat sahabatnya itu.


"Memang kak Gara ada keperluan apa kak?" tanya Selin lagi penasaran.


"Nggak ada. Dia cuma kebetulan lewat dan gangguin kita saja," jawab Leon kesal.


"Ya sudah sabar. Kalau gitu kakak mandi gih sana. Aku numpang ya ke sekolah Bagas," ucap Selin sembari menggendong Kimora.


"Tapi punyaku belum keluar sama sekali. Bagaimana ini?" tanya Leon mengkhawatirkan juniornya.


"Kan bisa lain kali kak. Kalau sekarang kayaknya nggak bisa deh kak. Kimora nya mau di taruh dimana coba?" jawab Selin menatap suaminya itu dengan tatapan miris.


"Hhhhhh.. Padahal kesempatan ini nggak datang dua kali. Ini semua gara-gara Gara. Buat apa coba dia datang kesini dan merusak semuanya," ujar Leon masih kesal dengan sahabatnya itu.


"Ya sudah sabar. Mending sekarang kakak mandi. Kan harus ke kantor juga," ucap Selin meminta suaminya itu untuk bersegera mandi.

__ADS_1


Dengan kesal, Leon pun akhirnya mandi setelah mendaratkan sebuah ciuman di bibir sang istri tercinta.


Beberapa saat kemudian, Leon pun selesai mandi dan berpakaian. Begitu juga dengan Selin, yang sudah siap untuk kembali ke sekolah Bagas.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Selin menatap Leon.


"Hhhh, baiklah. Kita berangkat sekarang," jawab Leon malas.


Sementara itu, Gara tampak senyam-senyum sendiri di dalam ruangannya. Ia membayangkan betapa kesalnya Leon pada saat ini.


'Gimana ya ekspresi si Leon nanti. Duh, pasti aku diomelin habis-habisan ini,' batin Gara membayangkan wajah Leon yang masam.


Saat Gara tengah termenung memikirkan sahabatnya itu, pintu ruangan CEO pun terbuka. Terlihat jelas sekali, Leon masuk dengan raut wajah masamnya. Leon yang biasanya menyapa Gara, kini mendadak diam dan ia tetap fokus berjalan ke mejanya yang hanya dibatasi dengan sekat transparan.


"Leon," panggil Gara, namun Leon hanya diam dan tidak bergeming sedikitpun.


'Tuhkan, kalo nggak ngomel, ya ngambek,' batin Gara menghela nafasnya kasar.


Gara kemudian berdiri dan menghampiri meja sahabatnya itu.


"Leon, kamu masih marah? Kan tadi aku sudah meminta maaf. Dan lagian, mana ku tau kalau kamu dan Selin sedang...." ucap Gara menghentikan kata-katanya.


"Udah, kamu bisa diam nggak," sela Leon membuat Gara seketika terdiam.


"Tapi jangan gini dong Leon. Aku minta maaf," ucap Gara masih berusaha membujuk sahabatnya itu.


"Terus kamu pikir dengan meminta maaf seperti itu, semuanya selesai gitu. Enggak Gara. Enggak," jawab Leon seperti di drama-drama televisi.


Gara yang tadinya serius dan benar-benar merasa bersalah, kini tiba-tiba saja ingin tertawa terbahak-bahak.


Bagi Gara, meskipun Leon sudah menikah dan memiliki anak, tapi sifatnya masih saja sama seperti yang dulu. Tak ada yang berubah sedikitpun.


Leon semakin marah dan juga kesal kepada Gara saat Gara ketahuan tengah berusaha menahan tawanya.


"Kalo kau ketawa, ya ketawa aja, jangan sok-sok nahan seperti itu," sindir Leon membuat Gara tak dapat lagi menahan tawanya.


"Hahaha.. Leon.. Leon aku benar-benar minta maaf. Jujur, aku tidak bermaksud mengganggu mu, aku benar-benar tidak tau. Sumpah, aku hanya berniat menjemputmu untuk berangkat ke kantor bareng," ucap Gara berusaha meyakinkan sahabatnya itu.


"Sudah. Sudah. Jangan dijadikan masalah lagi. Aku sudah memaafkan mu," jawab Leon akhirnya memberikan maafnya kepada Gara.

__ADS_1


Sementara itu, di tempat Clara bersekolah, gadis cantik itu tengah memperkenalkan dirinya kwpda semua siswa yang satu kelas dengannya.


'Ternyata nama cewek itu Clara,' batin Galang, yang berdiri di dekat pintu masuk. Galang yang saat ini duduk di bangku kelas sembilan itu terus mengamati Clara.


Ia tak sadar, kelakuannya itu disadari oleh Clara yang kebetulan juga melihat ke arah pintu.


'Nah itu dia cowok yang udah meras aku. Lihat saja ntar, aku akan meminta ganti uangku,' batin Clara menatap Galang dengan tatapan tajamnya.


Beberapa saat kemudian, saat jam istirahat tiba, Clara pun langsung mencari Galang yang ia ketahui tengah berada di taman sekolah.


"Nama mu Galang kan?" tanya Clara to the point.


Mendengar ada suara yang menyebut namanya, Galang yang sedang melukis itu mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah suara yang menyebut namanya itu.


"Ya, nama gue Galang. Kenapa?" tanya Galang tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Man ganti uangku. Tadi kamu sengaja kan menjual namaku kepada Ibu kantin? Gara-gara kamu aku harus membayar makanan mu," ucap Clara tanpa rasa takut sedikit pun.


"Kalo gue nggak mau ganti gimana?" bisik Galang yang sudah berdiri di sebelah Clara.


"Ya nggak bisa gitu dong. Lo harus ganti pokoknya. Atau nggak.." ucap Clara terputus.


"Atau nggak apa?" sela Galang menaikkan satu alisnya.


"Atau nggak, gue akan bilangin lo sama Bu guru," ancam Clara tanpa rasa takut.


"Ok.. Ok.. Gue akan membayarnya. Berapa semuanya," jawab Galang akhirnya mengalah.


"Dua puluh ribu," jawab Clara melipat tangannya di dada.


Galang pun kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribu. Ia kemudian memberikannya kepada Clara.


"Ambil saja sisanya buat lo," ucap Galang lalu pergi meninggalkan Clara.


Clara terdiam untuk beberapa saat, hingga akhirnya ia sadar dan segera mengejar Galang ke gedung sekolah.


"Galang tunggu," teriak Clara setengah berlari.


Galang sama sekali tidak menghiraukan panggilan dari Clara. Ia terus berjalan lalu masuk ke dalam kelasnya.

__ADS_1


Clara yang berniat masuk ke dalam kelas Galang, tiba-tiba saja di hentikan oleh suara bel masuk. Dengan raut wajah sedikit kecewa, Clara pun akhirnya kembali masuk ke dalam kelasnya.


__ADS_2