
"Oke kak. Aku pergi dulu ya," pamit Selin lalu pergi membawa Clara ikut bersamanya.
"Yes," ucap Leon menutup laptopnya lalu menyusul Gauri di kamarnya.
***
"Gauri," panggil Leon sembari menutup pintu kamarnya. Kebetulan sekali Gauri baru saja selesai mandi dan masih menggunakan handuk putih untuk menutupi tubuhnya.
"Ya," jawab Gauri sambil tersenyum kepada suaminya itu.
Leon kemudian berjalan menghampiri Gauri dan memeluknya dari belakang.
"Kamu kenapa Leon?" tanya Gauri heran.
"Gauri, semenjak kita menikah, kamu belum memberikan hak ku sebagai istri. Maka dari itu, aku sekarang akan menagihnya kepadamu," ucap Leon memperat pelukannya dan menciumi tengkuk istrinya itu.
"Leon, nanti Clara kesini gimana?" tanya Gauri dengan suara mendayu-dayu.
"Clara sedang pergi jalan-jalan bersama Selin. Sekarang jangan pikirkan apapun selain menyenangkan ku," bisik Leon di telinga Gauri.
Leon kemudian memutar tubuh istrinya itu menghadap kepadanya, ia kemudian langsung mencium bibir Gauri lalu membawa Gauri ke atas ranjang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Leon," panggil Gauri dengan jantung yang berdegup kencang. Nafasnya sesak dan matanya sayu, membuat Leon semakin bernafsu untuk menggauli istrinya itu.
"Ya sayang," jawab Leon dengan suara serat.
"Aku gugup," jawab Gauri menatap lekat suaminya itu.
"Gugup kenapa hmmm? Santai saja. Aku akan bermain pelan-pelan," balas Leon mencium kembali bibir istrinya itu.
Gauri hanya bisa pasrah sembari menikmati pelayanan panas dari Leon.
Ia teringat kembali saat pertama kali melakukannya dengan laki-laki yang kini telah resmi menjadi suaminya itu.
Saat itu Gauri dan Leon menjalin hubungan sebagai kekasih. Saat Leon mengantarkan Gauri pulang, tiba-tiba saja motornya mogok dan saat itu kebetulan hujan turun dengan sangat deras disertai petir yang saling menyambar.
__ADS_1
Kasihan akan Gauri yang sudah kedinginan, Leon kemudian memutuskan untuk menginap di hotel dekat mereka berteduh saat itu.
Waktu di kamar hotel, Leon selalu membujuk Gauri untuk melakukan hubungan terlarang itu, awalnya Gauri sudah menolaknya, namun karena bujuk rayu Leon, Gauri akhirnya luluh juga dan terjadilah hal tersebut. Semenjak itu, Gauri dan Leon sering melakukannya hingga Gauri hamil darah daging Leon.
Sementara itu, di rumah Gara dan juga Airin sekarang lebih banyak menghabiskan waktu berdua, karena si kembar telah memiliki empat baby sitter.
"Sayang, kira-kira masih lama gak?" tanya Gara mengelus kepala istrinya sembari tiduran di atas ranjang mereka.
"Masih lama apa?" tanya Airin sibuk melihat foto bayi-bayi mereka melalui ponselnya.
"Itu..," ucap Gara menghentikan kata-katanya.
"Itu apa sih mas? Ngomong yang jelas biar aku ngerti," balas Airin masih fokus dengan ponselnya.
"Hmmm itu nifasnya. Aku udah gak tahan soalnya," ucap Gara mencium istrinya sekilas.
"Ya kira-kira dua mingguan lagi lah mas. Darahnya memang udah bersih, tapi ya nifasnya belum lewat. Sabar ya," jawab Airin kembali fokus dengan ponselnya.
"Tapi aku maunya sekarang. Gak papa ya, sekali aja. Udah gak tahan lagi soalnya," pinta Gara memohon.
Gara pun menunggu seperti yang di perintahkan Airin dengan anteng.
"Airin ngapain ya? Kenapa lama sekali sih?" tanya Gara mulai resah.
Saat Gara akan menyusul Airin ke kamar mandi, Airin pun keluar menggunakan pakaian minimnya dan berjalan dengan seksi menuju ranjang tempat Gara tiduran.
Seketika Gara langsung menelan ludahnya saat melihat pakaian Airin yang begitu membuatnya tergoda. Matanya tak bisa berkedip seakan ia tak rela untuk melewatkan pemandangan yang membuat P nya itu berdiri tegak.
Ini adalah kedua kalinya Gara melihat Airin mengenakan pakaian kurang bahan seperti ini. Pertama saat Airin menjual kesuciannya dan yang kedua adalah pada saat ini. Saat perut Airin tak lagi buncit karena kehamilannya.
"A.. Airin," ucap Gara dengan suara serak.
"Ya, ini aku. Kenapa?" tanya Airin meraba dada bidang Gara.
'Aduh, Airin ngapain ya? Katanya belum bisa sekarang, ini kenapa malah berpakaian seperti ini,' batin Gara. Nafasnya sudah mulai tidak beraturan, dan jantungnya berdegup sangat kencang.
__ADS_1
"Ai.. Airin katamu kita belum bisa melakukan itu, tapi kenapa kamu malah berpakaian seperti ini. Kamu tau, aku semakin tersiksa sayang," ucap Gara membuat Airin menyunggingkan senyumannya.
"Memang belum bisa, tapi aku akan membantumu lepas dari siksaan ini," ucap Airin lalu mencium bibir Gara. Sedangkan tangannya sibuk membuka seluruh pakaian Gara satu persatu.
Setelah semua pakaian suaminya lepas, Airin mulai menciumi seluruh anggota tubuh suaminya itu tanpa terkecuali hingga berakhir di P Gara dan akhirnya membuat Gara melepaskan yang selama ini ia tahan di luar rahim Airin.
"Oh Airin, kamu begitu pintar sekali melakukannya. Aku benar-benar menikmatinya. Ngomong-ngomong, dari mana kamu belajar semua itu?" tanya Gara membuat wajah Airin bersemu merah.
"Sudahlah, tak penting aku belajar dari mana, yang terpenting itu semua aku persembahkan khusus untukmu. Sudah menjadi kewajiban ku untuk melayani mu di saat kamu sedang membutuhkan semua itu," jawab Airin lalu langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Beruntung sekali aku memilikimu Airin," gumam Gara menatap punggung istrinya itu.
Sedangkan di apartemen, Gauri dan Leon juga juga baru selesai dalam memadu kasih di atas ranjang mereka.
Fisik Gauri yang lemah, membuat Leon tak ingin memaksakan kehendaknya.
"Gauri, kita mandi yuk. Mumpung Selin dan juga Clara belum pulang" ajak Leon yang masih betah memeluk tubuh istrinya itu.
"Ya sudah, ayo. Aku juga sudah merasa gerah sekali," sambut Gauri bangkit dari tempat tidurnya.
"Sayang lagi yuk," ajak Leon saat mereka sudah berada di bawah guyuran shower.
"Lagi? Bukankah tadi kita bermain sudah hampir satu jam?" protes Gauri menatap suaminya.
"Ayolah sayang. Sekali ini saja," ucap Leon memohon.
Tanpa menunggu persetujuan dari Gauri, Leon pun langsung menciumi seluruh tubuh Gauri yang sudah basah karena guyuran air yang keluar dai shower kamar mandinya.
Lagi-lagi, Leon berhasil membuat Gauri terbang ke langit ke tujuh. Begitu juga Leon. Laki-laki lucu dan bertanggung jawab itu juga ikut merasakan kenikmatan seperti sang sana seperti Gauri rasakan.
.
.
'Aku harus berhasil kabur dari sini dan mencari Samuel,' batin Liona yang saat ini tangan dan kakinya di ikat dan di letakkan di sel khusus.
__ADS_1
Liona sengaja berpura-pura gila agar ia dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Dengan begitu, Liona menjadi lebih mudah untuk melarikan diri lalu pergi mencari keberadaan Samuel. Liona sudah tidak tahan lagi berada di dalam penjara. Hampir setiap hari Liona selalu di pukuli oleh tahanan lainnya. Bahkan ia juga sering di keroyok dan di ambil jatah makanannya.