
"Kamelia sayang, terima kasih banyak karena kamu sudah bertaruh nyawa untuk anak kita. Terima kasih karena telah bersedia melahirkan darah daging ku. Bagaimana keadaan mu? Apa masih sakit?" ucap Ustadz Gibran sembari mengusap-usap kepala Kamelia.
***
"Sama-sama Aby. Aku baik-baik saja, bahkan saat ini tubuhku rasanya ringan sekali. Oh ya Aby, dimana anak kita?" jawab Kamelia lalu ia menanyakan keberadaan anaknya.
"Dia masih ada sama perawat. Kita tunggu saja beberapa saat nanti," jawan Ustadz Gibran yang selalu mengusap kepala istrinya itu.
"Kamelia selamat ya nak. Saat ini kamu sudah resmi menjadi seorang Ibu," ucap Yuni memberikan ciuman yang bertubi-tubi untuk anaknya itu.
"Sama-sama Bu," jawab Kamelia bahagia.
"Selamat ya Kamelia, Selamat Ustadz Gibran" ucap Liona yang masih menyamar menjadi Aluna.
"Sama-sama mba. Terima kasih," jawab Ustadz Gibran dan Kamelia bersamaan.
"Selamat ya nak, saat ini kalian berdua telah menjadi orang tua. Abah senang sekali melihatnya," ucap Kiyai Sodikin memberikan selamat kepada Kamelia dan juga Ustadz Gibran.
"Sama-sama Abah," balas Kamelia dan Ustadz Gibran lagi bersamaan.
Tak lama setelah itu, seorang suster pun masuk dengan menggendong seorang bayi tampan yang mungil lalu memberikannya kepada Kamelia.
"Nah ini dia, pemeran utamanya datang," Abah sangat bahagia sekali melihat cucu pertamanya itu.
Semua mata langsung tertuju kepada bayi yang masih ada di dalam gendongan suster tersebut.
Suster pun meletakkan bayi tampan itu di dalam box bayi yang sudah tersedia di dalam kamar VVIP tersebut.
"Assalamualaikum nak. Kenalkan, ini kakek mu. Selamat datang di dunia kami nak. Semoga kamu tumbuh menjadi laki-laki yang saleh dan dapat membawa ke dua orang tua mu ke dalam surganya Allah. Amiin," sapa Kiyai Sodikin memperkenalkan dirinya dengan haru dan mata yang berkaca-kaca.
Kiyai Sodikin teringat akan mendiang istrinya yang sangat menginginkan seorang anak dari dirinya, hingga suatu hari sang istri berhasil hamil di usia pernikahan dua puluh tahun, namun tuhan berkata lain, dengan keadaan yang sudah berumur, istri Kiyai Sodikin pun sering sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia bersama janin yang di kandungnya pada usia lima bulan.
"Abah kenapa menangis? Apa Abah ingat Umi?" tanya Ustadz Gibran yang tau akan penderitaan Ayah angkatnya itu.
__ADS_1
"Iya nak. Abah teringat dengan Umi mu. Jika dia masih ada, Umi mu pasti akan senang sekali melihat putra mu ini," jawab Kiyai Sodikin menghela nafasnya kasar.
"Hmmmm maaf Kiyai, kenapa Kiyai tidak menikah lagi saja? Siapa tau, dengan Kiyai menikah lagi, hari-hari Kiyai akan kembali berwarna," ucap Aluna tiba-tiba membuat Kiyai Sodikin dan yang lainnya menjadi kaget dengan perkataan Aluna.
"Haha.. Saya ini sudah tua, sudah bau tanah pula. Mana ada wanita yang mau menjadi istri saya," jawab Kiyai Sodikin diiringi dengan tawa khasnya.
"Siapa bilang? Jika Kiyai tidak keberatan, saya bersedia menjadi istri Kiyai Sodikin. InsyaAllah, saya akan sehidup semati dengan Kiyai nantinya," balas Aluna dengan entengnya. Ia tak memikirkan bagaimana reaksi Kiyai Sodikin dan yang lainnya saat perkataan konyol itu terlontar dari mulutnya itu.
"Haha.. Kamu ini bercanda saja. Mana mungkin wanita yang masih muda seperti mu mau hidup dengan laki-laki tua seperti saya," jawab Kiyai Sodikin yang mengira jika Aluna bercanda.
Sebenarnya, Aluna sendiri tidak sadar dengan ucapannya. Entah kenapa ia memiliki keberanian untuk melamar Kiyai Sodikin yang sejatinya pantas menjadi seorang Ayah untuknya.
"Saya tidak bercanda Kiyai. Saya serius. Untuk apa saya bercanda di depan keluarga Kiyai seperti ini?" ucap Aluna memantapkan niatnya.
"Kamu serius?" tanya Kiyai Sodikin sesaat kemudian, sementara Yuni dan yang lainnya hanya menjadi pendengar yang baik. Mereka tidak tau harus mengatakan apa di depan laki-laki sepuh yang sangat dihormati tersebut.
"Ya, saya serius. Jika Kiyai tidak menerima lamaran saya ini, juga tidak masalah. Anggap saja saya tidak pernah mengatakan hal ini sebelumnya," jawab Aluna sedikit merasakan kekecewaan di hatinya.
"Alhamdulillah. Abah serius?" tanya Ustadz Gibran tampak senang sekali.
"InsyaAllah Abah serius. Bagaimana menurutmu nak?" tanya Kiyai Sodikin meminta pendapat putra angkatnya itu.
"InsyaAllah, Gibran sangat setuju sekali Abah. Dengan begitu, Abah akan ada teman hidup kembali. InsyaAllah, meskipun mba Aluna tak bisa menggantikan posisi Umi, setidaknya beliau punya tempat baru di hati Abah dan di hati Gibran. Lalu, kapan Abah akan melangsungkan pernikahannya?" tanya Ustadz Gibran antusias sekali.
"Abah terserah calon Umi mu saja. Silahkan kamu tanyakan langsung padanya," jawab Kiyai Sodikin melempar pertanyaan Ustadz Gibran kepada Aluna.
"Kalau saya terserah Kiyai saja. Saya menurut saja," jawab Aluna tampak malu-malu.
'Kenapa aku bisa mengatakan hal seperti ini? Apa benar aku akan menikah dengan laki-laki tua ini? Dasar, Liona bodoh,' batin Liona menyesali ucapannya.
"Bagaimana Abah? Calon mempelai perempuannya menyerahkan semua keputusannya kepada Abah," tanya Ustadz Gibran mengedipkan matanya kepada Kiyai Sodikin.
"Kamu ini bisa saja Gibran. Kalau jawabannya seperti itu, InsyaAllah setelah menantu Abah keluar dari rumah sakit, Abah akan langsung menikahi Aluna," jawab Kiyai Sodikin menatap putra dan menantunya bergantian.
__ADS_1
"Alhamdulillah," ucap semua yang ada di ruangan tersebut kecuali Aluna dan Kiyai Sodikin.
'Apa? Secepat itu? Bagaimana ini? Apa aku benar-benar harus menikahi aki-aki ini kah? Lalu bagaimana dengan Gara? Aku masih mencintainya sampai detik ini,' batin Aluna tampak menyesal.
"Sudah, sudah, sekarang jangan memikirkan pernikahan Abah dulu. Lebih baik kita fokus kembali kepada putra mu ini. Apa kalian sudah memiliki nama untuknya?" tanya Kiyai Sodikin tampak lebih cerah.
"Belum Bah. Apa Abah memikirkan nama untuk putra kami?" jawab Kamelia lalu bertanya kepada mertuanya itu.
"Abah punya satu kata, apa Ibu Yuni sudah memikirkan nama untuk cucu kita ini?" tanya Kiyai Sodikin kepada besannya itu.
"Kebetulan saya juga sudah memikirkan satu kata nama untuknya Kiyai. Bagaimana kalau kita coba menggabungkannya saja?" tanya Yuni terus menatap cucu pertamanya itu.
"Saya setuju-setuju saja. Bagaimana menurut kalian? Ayah dan Ibu si tampan ini?" ucap Kiyai Sodikin menanyakan langsung kepada Kamelia dan juga Ustadz Gibran.
"Kami setuju Bah. Silahkan Abah dan Ibu sebutkan namanya. Jika ada yang kurang, maka akan kami tambahkan," jawab Ustadz Gibran yang langsung di balas anggukan kepala oleh Kamelia.
"Hmmmm, kalau dari Abah, namanya Abah kasih Zafran yang berarti seorang pemenang yang beruntung. Bagaimana dengan Ibu Yuni?" tanya Kiyai Sodikin setelah menyebutkan nama pilihannya.
"Kalau dari Ibu, namanya Malik, yang berarti pemilik. Bagaimana? Apakah cocok Kiyai?" tanya Yuni setelah menyertakan pendapatnya.
"Malik Zafran, berarti pemilik kemenangan yang beruntung, apa masih mau di tambahkan lagi Kamelia? Gibran?" tanya Kiyai Sodikin menatap Ustadz Gibran dan Kamelia bergantian.
"Hmmm sepertinya cukup dari kami, apa calon Umi memiliki nama tambahan untuk putra kami?" tanya Ustadz Gibran kepada Aluna.
"Sa.. Saya? Saya rasa sepertinya kurang pantas untuk memberikannya nama. Saya hanya orang luar," jawab Aluna sungkan.
"Jangan berkata begitu Lun. Kamu ini sudah mba anggap sebagai adik sendiri. Dan sebentar lagi, kamu juga akan menikah dengan Kiyai Sodikin, itu artinya, cucu kami, juga akan menjadi cucu kamu juga," ujar Yuni mengusap punggung Aluna.
"Benarkah mba? Saya merasa terharu sekali. Jika di izinkan, saya mau menambahkan kata Pratama, yang berarti pertama. Bukankah dia merupakan cucu pertama untuk kita semua?" jawab Aluna tampak berkaca-kaca karena terharu.
"Bagus. Tidak masalah. Berarti kita sepakat namanya adalah Malik Zafran Pratama, yang berarti, pemilik kemenangan pertama. Bagaimana?" tanya Kiyai Sodikin kepada Kamelia dan Ustadz Gibran.
"Alhamdulillah. Kami setuju Bah," jawab Kamelia dan Ustadz Gibran bersamaan.
__ADS_1