
Karena tidak mungkin meninggalkan Clara, Leon kemudian menghubungi dokter dan untuk memeriksa keadaan Selin ke apartemennya. Setelah menunggu tiga puluh menit, dokter wanita itu akhirnya tiba di unit apartemen Leon lalu memeriksa keadaan Selin.
"Bagaimana dokter?" tanya Leon penasaran.
Ia trauma jika harus berurusan dengan dokter lagi. Ia tak mau, Selin mempunyai nasib seperti Gauri, mantan istrinya yang berakhir dengan gelar almarhumah.
***
"Anda tidak perlu khawatir seperti itu, istri anda baik-baik saja," jawab dokter tersebut tersenyum ramah.
"Baik-baik apanya dokter? Sudah jelas istri saya itu pingsan dan wajahnya pucat sekali," jawab Leon tampak kesal.
"Tenang dulu. Itu semua dikarenakan istri anda tengah hamil muda," jawab dokter tersebut menepuk bahu Leon pelan.
"A.. Apa? Is.. Istri saya hamil?" tanya Leon ternganga. Ia tak percaya jika Selin tengah hamil muda saat ini.
"Iya, selamat ya. Ini ada resep yang harus anda tebus ke apotik, resep ini berisikan vitamin untuk istri dan juga bayinya, disini saya juga meresepkan obat penguat kandungan," jawab dokter tersebut memberikan sebuah kertas kecil kepada Leon.
"Makasih dokter. Makasih. Tapi, apa kami masih tetap bisa melakukan itu dok?" tanya Leon tampak malu-malu.
"Melakukan apa?" tanya dokter tersebut sengaja bercanda dengan Leon.
"Itu loh dokter, kita sama tau saja," jawab Leon memain-mainkan jari telunjuknya dengan malu-malu.
"Oh itu, haha.. Ya boleh-boleh saja asalkan mainnya pelan-pelan," jawab dokter tesebut sembari menertawakan Leon.
"Hehe.. Pasti dokter. Saya akan melakukannya pelan-pelan," jawab Leon tampak girang sekali.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Di jaga ya istri dan juga kandungannya," pamit dokter tersebut kepada Leon sembari tersenyum.
Setelah kepergian dokter tersebut, Leon langsung menuju ranjang untuk melihat keadaan Selin. Untung saja saat ini Clara tertidur, jadi Leon tak perlu repot-repot untuk mengurusnya.
Melihat Selin yang masih belum sadarkan diri, Leon pun menatap istrinya dalam. Ia tak menyangka jika saat ini Selin tengah berbadan dua.
Tak beberapa lama kemudian, sang istri yang dulunya merupakan adik iparnya sendiri terlihat mulai membuka matanya perlahan.
__ADS_1
"Selin, kamu sudah bangun?" tanya Leon yang mengusap kepala Selin dengan lembut.
"Kak, Clara.. Clara mana?' tanya Selin berusaha untuk duduk.
"Sssstttt, sudah, jangan bangun dulu. Itu Clara, dia baru saja tidur," jawab Leon menunjuk ke arah Clara yang tengah tertidur pulas di kasur miliknya.
"Ya sudah, kalau begitu aku mau ambil minum dulu kak," ucap Selin sembari bangun.
"Sudah Selin, biar aku saja, kamu sedang hamil, jadi harus banyak beristirahat," jawab Leon membuat Selin tampak terkejut.
"Ha.. Hamil?" tanya Selin lagi, memastikan apa yang baru saja ia dengar.
"Ya, kamu hamil sayang. Sewaktu kamu pingsan tadi, aku memanggil dokter untuk memeriksa keadaan mu. Aku sangat cemas sekali, tapi kecemasan ku itu hilang di saat dokter memberi tahukan jika istri ku ini tengah hamil," jawab Leon sangat senang sekali.
"Alhamdulillah. Aku senang sekali kak. Pantas saja beberapa hari ini aku sering kali mual," ucap Selin masih dengan suara yabg lemah.
Sementara itu, Gara baru saja tiba di kantor miliknya. Sepanjang perjalanan Gara selalu cemas dan terpikirkan oleh sahabatnya Leon.
Saat Gara hendak menelpon sahabatnya Leon, ternyata ponselnya lebih dulu berdering, dan yang menelponnya ternyata adalah Leon sendiri.
"Aduh, Gara bisa gak sih kamu itu bertanya satu-satu, aku pusing harus jawab yang mana," ujar Leon sedikit kesal.
"Iya.. Iya maaf, Bagaimana istrimu? Apa dia baik-baik saja?" tanya Gara mengulangi pertanyaannya.
"Syukurlah, dia baik-baik saja. Kamu tau, Selin ternyata hamil darah daging ku," jawab Leon antusias.
"Apa? Selin hamil? Wahhhh, selamat ya Leon, ternyata punyamu tokcer juga. Aku pikir, punya mu itu sudah karatan dan juga uzur," ucap Gara mencemooh sahabatnya itu.
"Sialan kamu Gara, asal bicara saja. Punyaku ini masih kuat perkasa. Buktinya saja, aku berhasil membuat Selin hamil. Emang kamu, yang sampai saat ini masih punya si kembar, padahal kamu kan lebih dulu nikahnya dari pada aku," balas Leon mencemooh Gara.
"Aku dan Airin bukannya tidak mampu mempunyai anak lagi, hanya saja, kami masih kasihan sama si kembar, masak kecil sudah memiliki adik?" jawab Gara mulai merasa sedikit tersaingi.
"Haha.. Alasan. Bilang saja punya mu itu sudah tidak bisa lagi kan membuat bayi. Kasihan sekali," ejek Leon membuat Gara kesal.
"Enak saja. Aku ini masih kuat perkasa. Kamu lihat saja nanti, aku pasti akan memberikan adik untuk si kembar secepatnya," jawab Gara yang tak terima jika benda pusaka nya di katakan tidak bisa membuat anak lagi.
__ADS_1
"Haha.. Baiklah, aku akan melihatnya, kamu butuh waktu berapa tahun, setahun, dua tahun, atau lima tahun?" ucap Leon dengan nada mengejek.
"Sialan. Lihat saja, aku yakin, bulan depan Airin akan hamil," balas Gara yang sangat yakin jika ia bisa membuat Airin hamil bukan depannya.
"Haha, baiklah, apa kita akan bertaruh?" tanya Leon kepada Gara.
"Baik. Kita akan bertaruh. Taruhannya adalah, barang siapa yang kalah, akan mengenakan lipstik selama tiga hari ke kantor," jawab Gara merasa tertantang.
"Haha.. Baik, siapa takut. Baiklah, kalau begitu, kita akan sama-sama tau hasilnya satu bulan lagi," balas Leon lalu memutuskan panggilan teleponnya.
"Bodoh, kenapa harus pakai acara taruhan segala sih? Kalau Airin tidak hamil gimana?" gumam Gara bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Gara pun kembali membuka ponselnya dan membaca artikel mengenai cara cepat untuk hamil.
Ia tampak serius dan fokus sekali untuk mencari tau mengenai cara cepat untuk segera hamil.
"Sepertinya ini deh. Aku akan mempraktekkannya kepada Airin nantinya," gumam Gara sembari terus membaca artikel lainnya.
Setelah membaca beberapa artikel, Gara pun bergegas pulang dan berencana akan mempraktekkannya langsung kepada Airin. Tak hanya itu, Gara juga memesan beberapa minuman dan pelengkap lainnya untuk menunjang keberhasilannya.
"Semoga saja bulan depan Airin hamil," gumam Gara sembari berjalan menuju mobilnya.
"Mas, kamu sudah pulang? Kenapa cepat sekali?" tanya Airin yang sedang menyuapkan si kembar makan.
"Iya, kepalaku tiba-tiba pusing sekali. Sayang, aku minta tolong nanti buat dipijitin," jawab Gara sedikit gugup.
"Baiklah, silahkan tunggu di kamar ya, aku akan ke sana sebentar lagi," balas Airin kembali menyuapi anaknya makan.
"Baiklah," jawab Gara sembari mencium anak kembarnya satu persatu.
'Sembari menunggu Airin, ada baiknya aku minum obat kuat ini dulu. Semoga saja obat ini manjur," gumam Gara membuka plastik yang membungkus obat kuat yang baru saja ia beli secara online.
Tak beberapa lama kemudian, Gara merasakan sensasi yang berbeda pada tubuhnya. Ia merasakan tubuhnya terasa panas, dan P miliknya mulai mengeras.
'Sepertinya obat ini bagus. Semoga saja hasilnya juga bagus,' batin Gara yang sedang rebahan di tempat tidurnya.
__ADS_1