
"Sayang, aku sudah menghubungi semua orang. Sekarang kamu tenanglah. Jika sakit, katakan padaku," ucap Gara mengusap kepala istrinya yang sudah basah dengan keringat.
***
"Gara ini sakit sekali. Tolong lebih cepat," ucap Airin mencengkram erat lengan Gara.
"Pak, buruan, istri saya sudah kesakitan," perintah Gara yang langsung di laksanakan oleh supirnya itu.
Beberapa saat kemudian, Gara dan juga Airin kini tiba di rumah sakit khusus bersalin. Dengan cepat Gara segera menggendong Airin dan membawanya ke unit gawat darurat.
Setibanya di sana, sudah ada beberapa orang perawat yang siap menangani persalinan Airin.
"Maaf ya Bu, kami akan mengecek pembukaannya. Mohon di buka kakinya," perintah perawat tersebut degan tenang.
Di tengah rasa sakitnya, Airin mengikuti perintah perawat tersebut untuk membuka kakinya.
"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Gara kepada perawat itu saat mereka akan mencek pembukaan Airin.
"Kami akan cek pembukaannya Pak. Bapak mohon tenang sedikit ya," jawab perawat tersebut yang sedari tadi cukup kesal dengan kelakuan Gara
"Mas, biarkan saja mereka melakukan tugasnya. Kamu diam-diam saja oke," ucap Airin memperingatkan Gara.
"Baiklah, aku minta maaf. Aku hanya panik," jawab Gara memegangi tangan Airin.
"Ibu, pembukaannya sudah delapan, kita akan menunggu dua tahap lagi untuk menuju persalinannya. Jika ibu sanggup, Ibu bisa jalan-jalan untuk mempercepat pembukaannya," jelas perawat tersebut dengan ramah.
"Baiklah, terima kasih. Kalau begitu, saya akan jalan-jalan di sekitaran rumah sakit ini," jawab Airin yang benar-benar telah basah dengan keringat.
Gara hanya menurut saat Airin meminta untuk menemaninya jalan-jalan di sekitaran rumah sakit. Saat Airin tengah duduk untuk istirahat sejenak, tiba-tiba ada seorang laki-laki tampan dan lebih muda dari Gara memanggil dan mendekati istrinya.
"Airin,," panggil laki-laki yang bernama Riko tersebut.
"Kak.. Kak Riko?" balas Airin tak menyangka jika ia akan bertemu dengan Riko.
"Siapa dia," bisik Gara yang mulai terbakar cemburu.
__ADS_1
"Dia.. Dia teman lamaku. Sudah lama sekali kami tidak bertemu," jawab Airin menatap ke arah Riko.
"Airin, kamu ngapain di sini?" tanya Riko yang belum ngeh jika Airin akan melahirkan.
"Kamu tidak lihat jika istri saya akan melahirkan. Jika tidak ada yang perlu di tanyakan, silahkan pergi," jawab Gara posesif. Ia tidak suka dengan Riko yang jelas sekali hanya mencari perhatian Airin.
"Mas jangan bicara seperti itu. Dia temanku," bisik Airin di sela-sela rasa sakitnya.
"Hmm, maafkan suami aku ya kak. Dia hanya panik dengan keadaan ku saat ini. Kakak sendiri ngapain di sini?" tanya Airin sekaligus meminta maaf atas nama suaminya.
"Tidak apa-apa. kakak disini juga menemani istri kakak yang sebentar lagi juga akan melahirkan anak pertama kami," jawab Riko menunjuk ruang bersalin istrinya.
"Oh ya, selamat ya kak, semoga Ibu dam bayinya sehat," jawab Airin memberikan selamat..
"Makasih, selamat juga untukmu Airin," jawab Riko berterima kasih kembali.
"Sudahkan, Airin, ayo kita ke ruangan mu sekarang," ajak Gara sudah terbakar cemburu.
"Ya sudah, kak, aku permisi dulu," jawab Airin lalu pergi meninggalkan Riko.
Ia terus menarik nafas pelan dan menghembuskan nya perlahan. Sesampainya di ruang bersalin, semakin lama rasa sakit Airin semakin menjadi-jadi Saat ini Airin sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Ia hanya mampu duduk di sisi ranjang tempat tidur sembari terus memeluk suaminya dengan sangat erat.
Baju yang ia kenakan, kini sudah basah akan keringat, begitu juga Gara, laki-laki itu sudah menitikkan air mata yang sedari tadi ia tahan karena melihat sang istri merasakan kesakitan yang teramat sangat.
"Kamu kenapa menangis mas?" tanya Airin mendapati Gara menangis tersedu-sedu.
"Airin, aku tidak sanggup melihatmu kesakitan seperti ini. Andaikan sakitnya bisa di pindahkan, maka aku bersedia menggantikan rasa sakit yang kamu rasakan itu. Maafkan aku sayang, jika selama ini aku mempunyai salah kepadamu," jawab Gara dengan tersedu-sedu.
Para perawat dan dokter yang baru saja tiba hanya bisa tersenyum dan saling pandang satu sama lainnya melihat momen haru antara suami dan istri tersebut.
Tak beberapa setelahnya, mama Lena dan Emanuel datang dengan terburu-buru.
mama Lena kemudian memeluk menantu kesayangannya itu dan memberikan semangat serta segelas teh hangat untuk meredakan rasa hausnya. Ia tau persis bagaimana rasa sakit yang di rasakan Airin saat ini.
"Airin sayang, minum teh ini dulu. Teh ini akan membantumu menambah energi saat kamu bersalin nanti. Kamu yang kuat ya nak, kami semua ada untukmu disini," ucap Emanuel yang juga memberikan semangat untuk menantunya itu.
__ADS_1
Gara kemudian membantu Airin menyuapkan teh hangat itu ke mulutnya.
"Permisi bapak, ibu, tolong sebagian menunggu di luar dulu ya, saya mau cek pembukaan ibu Airin dulu," ucap dokter kandungan yang akan membantu proses persalinan Airin.
Setelah mama dan papa Gara keluar, kini hanya tersisa Gara yang selalu setia menemani sang istri bertaruh nyawa untuk melahirkan buah hatinya.
Rambut Gara yang tadinya tertata rapi dan baju yang masih licin, kini semuanya sudah berantakan dan basah akan keringat.
'Airin yang akan melahirkan, tapi aku yang gregetan. Memang kalau jodoh tidak kemana-mana. Jika yang satunya sakit, pasangannya pun juga ikut merasakan seperti aku saat ini,' batin Gara.
"Pak, pembukaannya sudah lengkap. Sebentar lagi bayinya akan lahir," ucap dokter tersebut membuat Gara semangat empat lima.
"Ibu, jika anda merasakan rasa seperti akan buang air besar, jangan di tahan-tahan ya. Lepaskan saja. Tapi ingat, jika anda tidak merasakannya, jangan sekali-kali mencoba untuk mengejan nya," perintah dokter tersebut kepada Airin.
Sementara itu, para perawat dan dokter sudah bersiap-siap dalam menyambut kehadiran bayi kembar tiga buah cinta yang tidak di sengaja oleh Airin dan Gara.
Sedangkan di sisi kanan Airin, Gara tak henti-hentinya menangis dan memegangi tangan Airin sesekali menciumi kening sang istri yang sudah basah oleh peluh tersebut.
Benar saja. Beberapa saat kemudian, Airin mulai mengejan. Kepalanya terangkat pertanda begitu hebat dorongan alami yang ia rasakan.
Dokter yang membantu Airin mulai membimbing Airin dalam melakukan proses persalinan yang benar.
"Terus bu, jangan di tahan. Lepaskan saja. Tarik nafas dalam lalu hembuskan perlahan. Jika Ibu merasakannya, berusaha dorong dengan kekuatan ibu," ucap dokter tersebut memberi arahan. Sementara itu, Gara terus memberi semangat kepada sang istri yang sedang bertaruh nyawa tersebut.
"Ayo Airin, kamu pasti bisa. Aku mencintaimu, benar-benar mencintaimu," ucap Gara mengusap kepala Airin lalu menciumnya sesekali.
Gara hanya pasrah saat Airin meremas lengannya di setiap kali rasa sakit itu kembali ia rasakan. Baginya, rasa itu tak sebanding dengan apa yang Airin rasakan saat ini.
***Aduhhh... Ngetik bab satu ini Author jadi ngilu dan mules.. Kebayang dulu pas lahiran anak pertama... Sakitnya biiiiuuuhhh luar biasa.. Tapi ya itu, nikmatnya jadi seorang wanita.. Merasakan sensasi sakitnya melahirkan namun tiba-tiba sakitnya langsung hilang setelah si anaknya lahir karena rasa sakitnya di gantikan sama rasa bahagia mendengar suara tangisannya...
Oh ya Author disini juga mau bilang jika Novel baru Author udah rilis..
Judulnya Memuaskan Nafsu Kakak Ipar.. Nah yang lagi nyari cerita hot-hot serrr boleh mampir yaa***..
__ADS_1