
Beberapa saat kemudian, Ibu Lena dan suaminya sudah duduk di meja makan. Tak hanya mereka, Zaki dan Ibunya juga telah ada di sana. Di tambah lagi dengan Leon dan Clara beserta Ayah dan Ibunya Airin. Mereka semua berkumpul layaknya keluarga besar yang bahagia.
Tak lama setelahnya, Gara pun ikut menyusul di tambah lagi dengan Airin yang baru saja keluar dari kamarnya.
***
Gara pun menyalami calon mertuanya tersebut.
"Gara, Airin, kebetulan kita semua sudah berkumpul disini. Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Emanuel menatap Gara dan Airin bergantian.
"Iya nak, kapan kalian akan menikah?" tambah Ibu Hany, orang tua Airin.
"Kita akan menikah secepatnya. Kalau bisa hari ini, kita akan menikah hari ini juga," jawab Gara mantap.
"Ha.. Hari ini? Lalu bagaimana dengan persiapannya?" tanya Airin tak menyangka akan secepat ini.
"Persiapan apa? Airin kau tau, Gara telah melakukan semua persiapannya jauh sebelum hari," jawab Leon mewakili Gara.
"Oh ya?" tanya Mama Lena sedikit terkejut.
"Rupanya putra kita ini sudah tidak sabar lagi untuk memperistri Airin ma," ejek Emanuel mengedipkan matanya kepada Gara.
Airin hanya malu dan menunduk kala Emanuel mengatakan hal seperti itu kepada sang istri.
"Papa tau aja. Jadi bisa kan pa Gara menikah hari ini. Kebetulan Gara hari ini tidak masuk kantor pa," jawab Gara dengan wajah yang berseri-seri.
"Lalu kapan pestanya?" tanya Mama Lena menatap Gara.
"Pestanya akan di adakan setelah Airin lahiran nanti. Bagaimana menurut kamu Airin?" jawab Gara lalu bertanya kepada Airin.
"Kalau aku terserah saja. Tidak pakai pesta pun juga tidak masalah," jawab Airin menunduk.
"Airin, kamu itu akan menjadi istri seorang Gara Emanuel, nggak mungkin gak ada pesta. Aku setuju dengan Gara. Kalian adakan saja pesta nya setelah Airin lahiran nanti," ucap Leon lagi-lagi mewakili sahabatnya Gara.
"Leon benar Airin," ucap Mama Lena membenarkan ucapan Leon.
__ADS_1
Akhirnya pernikahan mereka di langsungkan gari itu juga di kantor urusan agama setempat.
Mereka telah sepakat jika saat ini yang terpenting bagi Gara dan juga Airin adalah sah terlebih dahulu.
Mereka semua telah sampai di depan kantor urusan agama. Airin telah tampil cantik dengan busana nikahnya yang longgar.
Airin saat ini benar-benar tegang dan gugup. Ia tak menyangka jika hari ini dirinya akan melangsungkan pernikahan dengan laki-laki yang telah membeli kesuciannya waktu itu.
Di sana juga hadir Liona sebagai perwakilan dari Paman Sam yang saat ini sedang bertugas ke luar kota.
Terlihat jelas dari wajah Liona, bahwa ia sangat tidak suka dengan pernikahan yang akan di langsungkan Gara dan juga Airin tersebut.
'Kenapa Gara harus pakai acara selamat sih waktu itu,' batin Liona melihat Gara yang tak hentinya menggenggam tangan Airin.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Airin Putri Aidil binti Aidil Hermawan dengan mas kawin uang sebanyak satu juta seratus sepuluh ribu rupiah dan seperangkat alat solat dibayar tunai," ucap Gara dalam satu kali tarikan nafas.
"Bagaimana saksi? Sah?" tanya penghulu yang menjadi ujung tombak pernikahan tersebut.
*SAH
*SAH
*SAH
Liona begitu kesal saat semua tamu tengah berbahagia. Ia kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan hati dan perasaan panas.
"Kurang ajar kalian. Bisa-bisanya kalian mengumbar kebahagiaan di hadapanku. Lihat saja. Aku pasti akan membalas ini semua. Akan aku pastikan kebahagiaan kalian tak akan berlangsung lama," ucap Liona kesal saat berada di dalam mobilnya.
Sementara di dalam kantor urusan agama tersebut, semua orang tengah memberikan selamat kepada pengantin baru tersebut dan kini tuba di giliran Leon yang sedari tadi menggendong Clara.
"Wahhhh selamat ya Gara. Sekarang kamu telah sah menjadi suaminya Airin. Ngomong-ngomong nanti malam kamarnya jangan dikunci ya," ucap Leon bercanda.
"Kenapa memang?" tanya Gara serius. Ia belum sadar jika Leon saat ini sedang bercanda.
"Nanti susahlah Gara, itu aja kok kamu gak tau sih," jawab Leon tersenyum smirk menatap Gara yang masih saja belum mengerti.
__ADS_1
"Susah? Susah kenapa? Ngomong yang jelas dong Leon," ucap Gara penasaran.
"Sudah lah, lupakan saja. Kamu gak akan mengerti," jawab Leon sengaja membuat Gara semakin penasaran.
"Kau jangan membuatku penasaran Leon. Cepat katakan," desak Gara yang benar-benar penasaran dengan maksud perkataan Leon.
Sementara itu, Airin hanya diam menyaksikan kedua sahabat itu sedang berdebat seperti biasanya.
Ia lebih sibuk merayu Clara agar mau tertawa.
"Kau yakin mau tahu?" tanya Leon menatap Gara lekat.
"Iya, apa. Buruan kasih tau," jawab Gara tak sabar.
"Sini, aku bisikkan," ucap Leon melambaikan jarinya agar Gara mendekatkan telinganya ke wajah Leon.
"Jadi maksud ku itu, nanti malam kamu jangan kunci pintunya, supaya saat kamu akan malam pertama dengan Airin, aku bisa leluasa masuk tanpa sepengetahuan Airin. Kalo kamu capek atau gak kuat, aku kan bisa gantiin posisimu. Tapi ya gak usah terlalu dipikirkan, kalau gitu aku mau ke mobil dulu ya, mau ganti popok Clara sebentar," bisik Leon lalu memilih untuk pamit keluar sebelum Gara mengumpat dan memberikan sumpah serapahnya kepada laki-laki satu anak tersebut.
Mendengar ucapan Leon, Gara seperti masih termenung tak mengerti. Ia mencoba mencerna apa yang Leon bisikkan di telinganya sambil terus menggaruk-garuk kepalanya yang tak terasa gatal tersebut.
"Maksud si Leon barusan apaan ya?" gumam Gara bertanya pada dirinya sendiri.
Ia masih saja berusaha berfikir hingga di persekian detik matanya mulai terbelalak dan dadanya mulai kembang kempis karena telah mengerti dengan apa yang di bisikkan sahabatnya itu.
"Kurang ajar kau Leon. Bajingan, dasar tua bangka gak ada otak. Cassanova gak laku-laku. Banci kau. Awas saja kau nanti kalo ketemu," umpat Gara kasar dengan nafas teraengal-sengal tanpa menyadari bahwa sedari tadi Airin tercengang memperhatikannya.
"Kenapa?" tanya Airin heran.
"Ah.. Itu, tidak ada apa-apa kok. Kita pulang yuk?" ajak Gara berusaha meredam kesal dan amarahnya kepada sahabatnya Leon.
"Ya udah ayo. Aku panggil Ibu dulu ya," jawab Airin kemudian berjalan kursi tempat Ibu dan mertuanya duduk.
"Hmmm Ibu, Ibuk, Airin sama mas Gara mau pamit pulang duluan boleh gak?" tanya Airin dengan lembut.
Ya sudah, ayo sekalian saja. Oh ya Airin, mulai sekarang kamu jangan panggil Ibuk lagi ya, panggil saja mama, sama seperti Gara," jawab Lena memegang Airin yang kini telah resmi menjadi menantunya tersebut.
__ADS_1
"Iya baik Ma. Makasih ya Ma udah anggap Airin seperti anak mama sendiri," jawab Airin kemudian memeluk mertuanya tersebut.