Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 164 TAMAT


__ADS_3

'Aku gak nyangka jika kehidupanku akan berubah seperti ini. Kamu benar-benar telah merubah segalanya Airin. Kamu berhasil membuatku keluar dari kehidupan kelam ku selama ini,' batin Gara sembari mengingat masa dimana ia membeli kesucian Airin pada malam itu.


Semenjak Airin mengembalikan hampir separuh dari uang yang di berikan Gara pada malam itu, di saat itulah Gara mulai kagum dengan sosok wanita yang bernama Airin itu. Di tambah lagi dengan tujuan Airin menjual kesuciannya untuk biaya berobat sang ayah. Tidak pernah Gara menemukan wanita seperti Airin selama masa hidupnya. Jadi, sangat wajar sekali jika Gara benar-benar takut kepada Airin. Takut kehilangan wanita langka seperti istrinya itu.


***


Beberapa tahun telah berlalu dengan begitu cepat. Kini, anak-anak Airin sudah tumbuh semakin besar dan juga sehat-sehat.


Begitu juga dengan anaknya Leon yang kini berjumlah tiga orang. Satu bersama Gauri dan duanya lagi merupakan anaknya dengan Selin.


.


.


"Terima kasih banyak buk atas semua pelajarannya," jawab Liona setelah dirinya dinyatakan bebas dari semua hukumannya


Begitu senang sekali hati Liona saat ini. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Kiyai Sodikin dan keluarga lainnya.


"Hmmmm, buk maaf, keluarga saya mana ya?" tanya Liona yang heran karena tidak ada satupun keluarga yang menjemputnya, padahal sebulan sebelum bebas, Liona sudah menghubunginya.


"Maaf bu, saya tidak tau, dari tadi tidak ada keluarga anda yang menemui saya," jawab petugas tersebut terlihat cuek.


'Kemana ya mereka? Apa mereka lupa dengan hari ini,' batin Liona kecewa.


"Baiklah, kalau begitu terima kasih. Saya pulang dulu," ucap Liona kecewa. Ia terus berjalan dengan langkah gontainya meninggalkan lembaga masyarakat tempat ia menjalani hukumannya selama ini.


Namun, Liona tak mampu membendung air matanya saat ia berada di depan pintu gerbang. Di sana sudah berdiri semua anggota keluarganya termasuk suami tercintanya, Kiyai Sodikin yang amat sangat ia rindukan. Tak hanya itu, mereka juga membentangkan spanduk bertuliskan selamat datang kembali Liona.


Seketika, Liona berlari menghampiri Kiyai Sodikin. Ia menyalami lalu memeluk suaminya itu. Air mata haru benar-benar menyelimuti pertemuan yang amat sangat berarti tersebut.


"Abah, aku rindu sekali," ucap Liona di sela-sela tangisannya yang tersedu-sedu.

__ADS_1


"Sama. Abah juga rindu kamu. Rindu sekali," balas Kiyai Sodikin mengusap punggung istrinya itu.


Selepas memeluk Kiyai Sodikin, ia kemudian memeluk Lyra yang kini perutnya sudah rata kembali. Liona benar-benar rindu kepada kakaknya itu, begitu juga sebaliknya.


"Kak, siapa ini?" tanya Liona kepada Lyra sembari memegang dagu seorang anak kecil yang memiliki pipi chubby.


"Dia anak kakak dek. Namanya Tsaqif. Tsaqif, kenalkan, ini tante mu, tante Liona. Dia adik mommy satu-satunya," ucap Lyra memperkenalkan Liona kepada anak berusia tiga tahun itu.


"Hay sayang. Senang sekali bisa bertemu dengan kamu," ucap Liona menggendong bocah kecil tersebut.


"Mba, aku rindu sekali sama mba. Mba apa kabar? Mana Kamelia dan juga Gibran?" tanya Liona tidak melihat kehadiran Kamelia dan juga Gibran.


"Mereka tidak bisa datang ke sini Liona. Kamelia saat ini tengah hamil muda. Tidak bisa kemana-mana. Liona kamu sehat?" jawab Yuni kemudian melepas pelukannya.


"Oo gituh.. Alhamdulillah aku sehat mba. Terima kasih sudah mau menjemputku," ucap Liona bahagia.


"Ya sudah, kalau begitu kita ke rumah ku dulu gimana. Aku sudah masak banyak untuk kita semua," ajak Lyra kepada keluarga baru adiknya itu.


Setelah berkunjung dan makan ke rumah Lyra. Keluarga baru Liona pun kembali ke pondok pesantren. Setibanya di pondok, Liona juga mendapat sambutan oleh santri dan juga Kamelia beserta Gibran.


Lagi-lagi, air mata Liona mengalir deras tak terbendung. Baru kali ini ia merasa kehadirannya sangat dihargai sekali.


"Terima kasih Kamelia, Gibran, dan terima kasih untuk kalian semuanya," ucap Liona menangis tersedu-sedu.


"Sama-sama Umy. Kami senang Umy kembali ke sini," balas Kamelia memeluk mertuanya itu.


Beberapa bulan telah berlalu begitu cepat. Pagi ini, Liona tengah berbinar-binar sekali.


Liona tak bisa menyembunyikan raut bahagianya. Liona yang berada di kamarnya di lantai dua, nampak berlari kecil menuruni anak tangga dan langsung menuju meja makan. Di sana, Kiyai Sodikin dan yang lainnya tengah duduk menikmati santap pagi bersama sembari bercanda gurau dengan Yuni dan lainnya.


"Umy, ada apa? Kenapa kelihatannya bahagia sekali?" tanya Kiyai Sodikin yang sudah memanggil Umy kepada Liona semenjak ia bebas dari penjara dulu.

__ADS_1


"Abah, aku.. Aku.. Aku senang sekali hari ini," jawab Liona sebegtu bahagianya.


"Bahkan kami semua tau kamu tengah bahagia pagi ini. Tapi kami tidak tau kamu bahagia karena apa?" tanya Kiyai Sodikin mewakili rasa penasaran anggota keluarga lainnya.


"Aku.. Aku.. Aku hamil Bah, mba," jawab Liona bahagia sekali. Saking bahagianya, suaranya sampai bergetar untuk menjawabnya.


"Alhamdulillah," ucap mereka yang ada di sana secara bersamaan.


"Kamu hamil?" tanya Kiyai Sodikin antara percaya dan tidak percaya. Pasalnya, Kiyai Sodikin sudah sangat lama sekali mendambakan keturunan dari darah dagingnya sendiri.


"Iya Bah. Aku hamil. Aku senang sekali. Sudah lama aku mendambakan seorang anak dalan rahimku ini," jawab Aluna tampak berkaca-kaca.


"Abah juga senang sekali Umy. Abah juga sudah lama menginginkan anak dari darah daging Abah sendiri. Alhamdulillah, Allah menjawab doa-doa Abah selama ini. Terima kasih Umy.. Terima kasih banyak," peluk Kiyai Sodikin erat di susul oleh pelukan dari Ustadz Gibran yang secara reflek memeluk ibu mertuanya itu.


"Ma.. Maaf Abah. Gibran terlalu senang sekali," ucap Ustadz Gibran yang baru menyadari kelakuannya.


"Tidak apa-apa nak. Abah tau kamu juga merindukan seorang adik selama ini," jawab Kiyai Sodikin memaklumi putra angkatnya itu.


Beberapa bulan kemudian, tangis bayi pun pecah di ruang bersalin. Tak hanya tangisan bayi, tangis Liona dan juga tangis Kiyai Sodikin juga pecah karena mereka baru saja di karuniai seorang bayi tampan dan juga cantik. Ya, ternyata, Liona hamil anak kembar sepasang. Lengkap sudah kebahagiaan Kiyai Sodikin dan juga Liona. Sampai saat ini, Liona benar-benar tidak menyangka jika ia akan tiba di tahap ini.


Berkali-kali Liona mengucap syukur karena ia merasa tuhan amat sangat menyayanginya karena telah memberikan kesempatan kedua untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi dari yang sebelum-sebelumnya.


***TAMAT


TERIMA KASIH YA SUDAH SETIA MEMBACA KISAH GARIS DUA SATU MALAM MILIK TUAN GARA..


TERIMA KASIH ATAS SUPPORT DAN DUKUNGANNYA. JUJUR, KALIAN LAH YANG MENAJADI PENYEMANGAT AUTHOR DALAM MENULIS DAN MERANGKAI KATA-KATA INI..


HARAP DI MAKLUMI APABILA ADA SALAH KATA ATAU ALUR YANG KURANG MENARIK ...


JANGAN LUPA MAMPIR DI KARYA BARU AUTHOR PENYESALAN SETELAH KEHILANGAN.. SEKALI LAGI TERIMA KASIHHHHHH ...🥰🥰🥰***

__ADS_1



__ADS_2