
"Ihhh, mas, kamu ini ada-ada aja. Ya udah, kalo gitu aku mau tidur duluan. Ingat, jangan tidur malam-malam ya.. Aku sayang kamu," ucap Liona mencium sebelah pipi Paman Sam sekilas, lalu pergi menuju kamarnya.
Tak lama kemudian, setelah Paman Sam puas berkirim pesan dengan Kamelia, ia segera menyusul Liona untuk tidur di kamar.
***
Sementara itu....
"Bagaimana keadaan Leon ya? Apa dia baik-baik saja? Kenapa tidak memberiku kabar," tanya Gara pada dirinya sendiri.
Airin yang juga berbaring di sebelah Gara pun langsung menatap suaminya itu lama.
"Kenapa menatapku begitu sayang? Apakah kamu menginginkannya malam ini?" tanya Gara otak mesum.
"Tidak.. Aku hanya melihat seberapa khawatirnya kamu saat tidak bersama dengan Leon," jawab Airin membuat Gara menaikkan satu alisnya.
"Maksud kamu apa? Aku mengkhawatirkan Leon gitu?" tanya Gara mengangkat kedua alisnya.
"Ya begitulah," ucap Airin mengusap-usap kepala suaminya itu.
"Hmmmm tapi benar juga sih, aku memang mengkhawatirkannya. Apa kamu cemburu sayang?" tanya Gara lagi sembari menoel-noel hidung istrinya itu.
"Nggak.. Siapa yang cemburu... Apa kamu menyukai Leon?" tanya Airin tiba+tiba membuat Gara membelalakkan matanya. Ia tak percaya jika istrinya akan bertanya hal seperti itu kepadanya.
"Astaga Airin, kamu bilang apa? Aku menyukai Leon? Jangan ngaco sayang. Kamu tidak lihat, aku ini laki-laki sejati.. Buktinya itu si kembar sudah ada di perut kamu," jawab Gara meringis.
"Aku kan hanya bertanya.. Apa kamu tersinggung?" tanya Airin santai.
"Ya jelaslah aku tersinggung. Secara kamu menuduhku yang bukan-bukan," jawab Gara sebal.
"Berarti kamu memang menyukai Leon," jawab Airin santai lalu berdiri menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Haaaahh," ucap Gara tak percaya.
"Apa iya ya aku menyukai Leon? Tapi aku memang mengkhawatirkannya sih.. Apa Airin benar ya.. Tapi mana mungkin, aku ini laki-laki sejati, buktinya udah ada si kembar di perut Airin.. Apa jangan-jangan aku menyukai laki-laki dan juga wanita?" lagi-lagi otak Gara ngehank di saat yang tidak tepat. Gara terus bertanya-tanya dan seakan-akan ia termakan omongan Airin.
"Dasar CEO oon," cibir Airin terkekeh saat melihat ekspresi dan mendengar Gara bicara pada dirinya sendiri.
"Aaaaaaaaaaa," pekik Airin saat wanita hamil itu tengah berada di dalam kamar mandi.
"Airin kamu kenapa sayang?" tanya Gara kaget saat mendengar suara teriakan Airin. Ia takut jika terjadi sesuatu pada Airin maupun pada kandungannya.
Dengan cepat Gara langsung masuk ke dalam kamar mandi yang memang tidak di kunci oleh Airin.
"Airin kamu kenapa? Apa yang terjadi? Apakah ada yang sakit?" tanya Gara bertubi-tubi saat melihat Airin sudah terduduk di lantai kamar mandi.
"Gara ini.. Ini air apa yang baru saja keluar dari tubuhku?" Tanya Airin kaget menunjuk air bening yang keluar dari V nya.
"Aku juga tidak tau sayang. Apakah sakit?" tanya Gara panik.
"Sebenarnya dari tadi perutku rasanya tidak enak. Aku sudah berkali-kali keluar masuk kamar mandi, namun tak ada hasilnya," jawab Airin yang memang sedari tadi perutnya terasa sakit, namun ia menganggap jika itu masuk angin. Alhasil Airin mencoba mengabaikannya.
"Airin apa kamu bisa menuruni tangga ini? Jika tidak aku akan menggendong mu," ucap Gara saat ini memapah Airin yang jalan tertatih-tatih.
"Aku.. Aku sepertinya tidak kuat," jawab Airin yang merasakan perutnya semakin sakit.
"Baiklah, aku akan menggendong mu," balas Gara langsung menggendong sang istri menuruni anak tangga.
Setibanya di lantai satu, para pengawal dan asisten rumah itu ikut panik melihat Airin yang meringis kesakitan.
"Airin kamu kenapa?" tanya Ibu Zaki yang kebetulan keluar mengambil minum.
"Airin tidak tau Bu, tiba-tiba saja ada cairan hangat yang keluar begitu saja," jawab Airin di sela-sela rasa sakitnya.
__ADS_1
"Apa Ibu tau itu cairan apa?" tanya Gara berhenti sejenak.
"Itu cairan ketuban Gara. Ayo buruan bawa Airin ke rumah sakit. Dia akan segera lahiran," jawab Ibu Zaki membuat Gara semakin panik.
"Aa.. Apa? Lahiran? Tapi ini belum sembilan bulan Bu, Airin tidak boleh lahiran. Dokter bilang, jika Airin lahiran sebelum sembilan bulan, akan ada banyak resiko," jawab Gara kembali mengingat pesan dokter.
"Kandungan Airin hanya kurang beberapa Minggu saja sebelum sembilan bulan, jadi semoga saja resiko itu tidak terjadi. Sekarang buruan bawa Airin ke rumah sakit. Kasihan dia pasti kesakitan," balas Ibunya Zaki mencoba menenangkan Gara.
"Tapi Bu, Gara belum siap-siap untuk menyambut kelahiran mereka," jawab Gara risih. Jika Airin lahiran nanti, Gara sudah menyiapkan segala sesuatu untuk keperluannya.. Mulai dari pakaian yang akan ia kenakan saat akan bertemu dengan bayi kembarnya, dan juga keperluan lainnya yang menunjang penampilannya. Ia tak mau jika momen berharga ini, bayi-bayinya akan melihat Daddy nya tampil awut-awutan. Begitu pikiran Gara.
"Gara, ini yang lahiran Airin, bukan kamu. Sekarang pergilah ke rumah sakit, nanti Ibu dan Zaki akan membawakan pakaian bayi kalian," perintah Ibu Zaki langsung bergegas mengambil semua pakaian bayi yang sudah ia dan Airin siapkan jauh-jauh sebelum hari.
"Baiklah, Ibu pakai mobil yang satunya lagi. Nanti biar supir yang akan mengantarnya," jawab Gara lalu pergi membawa Airi ke rumah sakit.
Saat di perjalanan, Airin terus saja meringis kesakitan. Ia mencengkram erat lengan kekar suaminya itu.
"Apakah sesakit itu?" tanya Gara. Hatinya begitu sakit melihat Airin yang kesakitan seperti itu.
"Iya mas. Sakit sekali. Ibu.. Mas tolong telpon Ibu," ucap Airin menangis kesakitan. Ia teringat akan wajah Ibunya yang teduh.
"Baik, aku akan menelpon Ibu sekarang," jawab Gara segera mengambil ponsel dan menelpon mertuanya.
"Halo Ibu, ini Gara. Airin sepertinya akan melahirkan, dan kami sekarang lagi di perjalanan menuju rumah sakit. Ibu siap-siaplah, Gara akan menyuruh orang untuk menjemput Ibu dan Ayah sekarang juga," ucap Gara mencoba untuk tidak panik.
"Baik, Ibu akan siap-siap. Tolong jaga anak Ibu," jawab Ibunya Airin lalu mematikan panggilannya.
Setelah menghubungi mertuanya, Gara langsung menghubungi Mama dan Papanya.
"Halo ma, mama sama papa dimana? Ini Gara mau ke rumah sakit. Sepertinya Airin akan segera melahirkan," ucap Gara membuat Lena dan Emanuel senang bukan kepalang.
"Baik sayang, mama akan segera ke rumah sakit sekarang juga. Jangan lupa kirim alamat rumah sakitnya ya," jawab Lena antusias.
__ADS_1
"Baik," jawab Gara kemudian mematikan panggilannya.
"Sayang, aku sudah menghubungi semua orang. Sekarang kamu tenanglah. Jika sakit, katakan padaku," ucap Gara mengusap kepala istrinya yang sudah basah dengan keringat.