Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 160


__ADS_3

Tak lama kemudian, Gara dan Airin pun akhirnya tiba di rumah sakit, kali ini, Gara langsung membawa Airin ke UGD agar ia tidak ikut antrian. Dan benar saja, dokter pun langsung menangani Airin meskipun sempat meminta Gara dan Airin untuk ikut antri di bagian poli.


***


"Selamat siang Bu Airin, Pak Gara. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter yang sudah kenal dengan Airin dan juga Gara.


"Selamat siang juga dokter, saya kesini mau membawa istri saya untuk periksa," jawab Gara sembari terus memegang erat tangan Airin.


"Periksa? Apa Ibu Airin hamil lagi?" tanya dokter tersebut mencoba menerka-nerkanya.


"Kalau untuk hamil rasanya tidak mungkin dokter, soalnya saya masih menggunakan kontrasepsi di rahim saya," jawab Airin menyangkal ucapan sang dokter.


"Lalu, apa keluhan Ibu sekarang?" tanya dokter tersebut menatap Airin.


"Keluhan saya sekarang ini pusing-pusing dokter. Selain itu, perut saya rasanya gak enak banget dok. Sebenarnya sih yang saya rasain ini udah beberapa hari terakhir, cuma saya tidak ambil pusing dokter. Kira-kira saya kenapa ya dok?" jawab Airin menjelaskan keluhannya.


"Apa? Kamu sudah pusing semenjak beberapa hari yang lalu? Kenapa tidak bilang aku sih Airin? Kamu tidak menganggap aku suami mu lagi ya?" protes Gara di saat dokter yang ada di hadapan mereka akan menjawab pertanyaan Airin.


"Apaan sih mas? Kenapa ngokongnya gitu sih? Malu tau sama dokter dan juga susternya," ucap Airin setengah berbisik.


Sedangkan dokter dan suster yang ada di hadapan mereka hanya tersenyum menyaksikan pasangan suami istri itu tengah berdebat.


Sudah hal biasa bagi sang dokter karena dokter tersebut merupakan salah satu dokter yang menangani Airin saat hamil si kembar dulu.


"Kenapa harus malu hmmm? Kamu itu istri ku, wajar dong aku marah kalo kamu sakitnya diam-diam kaya gini," jawab Gara tanpa rasa malu sedikitpun.

__ADS_1


"Apa kalian masih mau berdebat dulu? Jika ya, maka saya akan panggil pasien lainnya," sela dokter yang sedari tadi hanya diam menyaksikan Gara dan juga Airin.


"Tidak..Tidak.. Kita lanjutkan sja pemeriksaanya dokter," balas Gara menghentikan debatnya dengan Airin.


"Baiklah, kalau begitu, mari ikut saya, kita akan memeriksa Ibu Airin dulu," perintah dokter tersebut sembari berdiri dari tempat ua duduk.


Airin pun akhirnya berbaring di atas ranjang rumah sakit tersebut. Disaat itu juga, dokter paruh baya tersebut memeriksa Airin dengan alat kedokterannya.


"Bagaimana dokter? Apa yang terjadi dengan istri saya?" tanya Gara tampak cemas.


Dokter tersebut tidak menjawab pertanyaan Gara. Ia hanya tersenyum sembari menatap Gara dan juga Airin bergantian.


"Kenapa dokter tersenyum? Airin sakit apa dokter?" tanya Gara sekali lagi. Ia heran karena sehabis memeriksa Airin, dokter tersebut hanya senyam senyum sembari merapikan alat-alat medisnya lagi.


"Hhhhhhh, selamat ya pak Gara, Ibu Airin, si kembar akan memiliki seorang adik," jawab dokter tersebut membuat Gara dan juga Airin ternganga. Ia tak percaya jika si kembar akan memiliki seorang adik


"Iya dokter. Bagaimana istri saya bisa hamil sedangkan istri saya masih menggunakan alat penunda kehamilan," tambah Gara membenarkan ucapan Airin.


"Kejadian seperti ini bisa saja terjadi Bu, Pak. Yang namanya rezeki, meskipun sudah di elak kan, jika tuhan sudah berkehendak, maka kita tidak dapat berbuat apa-apa lagi," jelas dokter tersebut kepada Gara dan juga Airin.


"Dokter benar. Saya senang sekali jika Airin hamil lagi..," ucap Gara tampak berbinar-binar.


"Tapi dokter, bagaimana dengan kontrasepsi yang saya gunakan saat ini. Apakah tidak akan berpengaruh sama kehamilan saya?" tanya Airin sedikit khawatir.


"Itu dia Bu, kita akan membukanya sekarang juga. Apa ibu siap?" tanya dokter tersebut langsung mendapat anggukan dari Airin.

__ADS_1


.


"Sayang, selamat ya atas kehamilan mu. Aku senang sekali akan memiliki anak lagi," ucap Gara di saat mereka sudah berada di mobil jalan mau pulang.


"Aku juga senang mas. Tapi bagaimana dengan si kembar? Bahkan mereka masih terlalu kecil untuk memiliki adik," ujar Airin memikirkan nasib putra putri kembarnya.


"Ya gak harus gimana-gimana sayang. Malah bagus dong buat si kembar. Mereka akan memiliki teman lagi untuk bermain," ucap Gara mengusap perut Airin yang masih rata.


Disaat Gara dan Airin tengah bahagia-bahagianya, Liona juga sedang menjalani kehidupan barunya sebagai seorang istri dari kiyai pemilik pondok pesantren. Siapa lagi kalau bukan Kiyai Sodikin.


Liona menyangka jika saat ini, ia sudah sah menjadi istri dari Kiyai kondang tersebut.


Liona kini benar-benar sudah insaf. Ia sama sekali tidak memiliki niatan untuk mengambil kembali harta mantan suaminya.


Di saat acara akad nya telah selesai, Liona pun tampak duduk di depan meja rias di kamar pengantin yang telah di siapkan sebelumnya.


Fikirannya jauh melayang entah kemana, hingga Kiyai Sodikin masuk ke dalam kamar sehingga membuyarkan lamunan Liona atau Aluna.


"Apa yang kamu pikirkan saat ini? Apa kamu menyesal menikah dengan saya?" tanya Kiyai Sodikin yang sudah berdiri di belakang Aluna.


"Hhhhhh, saya sama sekali tidak menyesal Kiyai. Malah saya bersyukur sekali bisa di peristri oleh laki-laki seperti Kiyai. Hanya saja, saya sebenarnya memiliki sebuah rahasia. Saya takut, Kiyai akan kecewa dan menceraikan saya jika saya memberi tahukannya kepada Kiyai nantinya," jawab Aluna dengan kepala yang ia tundukkan. Aluna tak mampu jika harus berhadap-hadapan langsung dengan Kiyai Sodikin.


"Rahasia? Rahasia apa? Kita ini sudah menikah, jadi sebaiknya jangan ada rahasia di antara kita berdua. InsyaAllah saya tidak akan marah padamu. Dan satu lagi, jangan panggil saya Kiyai. Panggil saja Abah, dan saya akan memanggilmu dengan sebutan Umi," ucap Kiyai Sodikin membawa Aluna duduk ke tepi tempat tidur, agar ia juga bisa duduk dan mendengarkan rahasia apa yang di sembunyikan Aluna dari dirinya.


"Hhhh, baiklah Abah. Bismilah, Abah, sebenarnya nama bukanlah Aluna, nama saya sebenarnya adalah Liona. Saya dulunya memang pernah menikah dengan seorang laki-laki, laki-laki yang juga merupakan kakak ipar saya, namun kami telah bercerai beberapa bulan yang lalu sebelum mantan suami saya itu meninggal dunia. Saya ini bukan seorang perawat, tapi saya adalah seorang napi yang kabur dari penjara di saat saya tengah berobat ke rumah sakit, dan hingga saat ini, status saya masih buronan polisi. Tapi saya bersumpah jika saya benar-benar sudah insaf Bah. Saya benar-benar sudah bertaubat. Maafkan saya Bah, saya telah membohongi kalian semua," jawab Liona seketika membuat Kiyai Sodikin terperangah sembari memegang dadanya.

__ADS_1


"Ja.. Jadi . Jadi kamu adalah buronan polisi?" tanya Kiyai dengan terputus-putus.


__ADS_2