
Sinta benar-benar telah kehilangan akal sehat saat bertemu dengan Gara.
Ia tetap bersikap manis meskipun Gara telah menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Kamu mau menanyakan apa Gara? Aku akan senantiasa menjawabnya dengan senang hati," ucap Sinta menatap Gara.
"Kenapa kamu mau menculik bayi kembar ku?" tanya Gara mencoba meredam emosinya.
***
"Haha, kamu jangan cemas dan takut, aku menculiknya bukan untuk mencelakainya, hanya saja, aku menculiknya untuk menjadikan mereka sebagai sandera," jawab Sinta tanpa rasa bersalah.
"Sandera? Untuk apa?" Gara balik bertanya.
"Sandera agar kamu mau menikah dengan ku," ucap Sinta membuat Gara mulai mengerti penyebab Sinta melakukan semua ini.
Mendengar pengakuan Sinta, Leon dan Gara hanya bisa saling tatap satu sama lain. Ia tak menyangka, jika Sinta, yang selama ini tidak pernah mengusik rumah tangganya, tiba-tiba saja datang dan membuat kekacauan seperti ini.
"Baiklah Sinta, aku rasa semuanya cukup. Sekarang, selamat menikmati status baru mu sebagai napi," ucap Gara lalu ia pergi meninggalkan Sinta yang sedang memakai seragam oranye tersebut.
"Gara kamu mau kemana? Gara jangan pergi," teriak Sinta dengan mata yang mulai berkaca-kaca, namun sayang sekali, Gara tidak memperdulikan wanita itu, ia dan Leon terus berjalan meninggalkan kantor polisi tersebut menuju kantor miliknya.
"Kalo di lihat-lihat, kasihan juga ya si Sinta," ucap Leon tetap fokus mengemudi.
"Kasihan? Kasihan kenapa?" tanya Gara yang duduk di sebelah Leon.
"Iya, padahal dulunya dia itu gak pernah bilang kalo dia suka sama kamu, andai saja Sinta jujur dengan perasaannya, pasti dapat tuh kesempatan sama kamu, ya, minimal di bawa tidur lah," jawab Leon enteng.
__ADS_1
"Kamu kalo bicara kadang suka benar ya.. Tapi sebenarnya dulu si Sinta itu pernah jujur dengan perasaannya, hanya saja, waktu itu aku masih menjalin kasih dengan Liona, kamu tau kan, seberapa cintanya aku sama Liona. Aku lalu menolak Sinta dan memilih setia kepada Liona, tapi yah, mungkin bukan jodoh, dia menikah dengan Paman Sam dan aku di pertemukan dengan pujaan hatiku," jawab Gara membayangkan wajah anggun istrinya.
"Tapi, apa kamu tidak berniat buat mencabut laporannya? Aku dengar-dengar, Om Emanuel mengambil alih rumah sakit XX dengan cara membelinya kepada kedua orang tua Sinta," ucap Leon membuat Gara benar-benar terkejut.
"Apa? Papa membeli rumah sakit XX dari orang tua Sinta? Tapi untuk apa?" tanya Gara mengekerutkan keningnya.
"Entahlah, aku tidak tau, tapi menurutku, jika Om Emanuel sudah turun tangan seperti itu, itu artinya ada sesuatu yang penting yang membuat beliau benar-benar harus melakukan hal tersebut," jawab Leon yang sudah mengerti dengan sikap Emanuel.
"Kamu benar, ini pasti ada apa-apanya. Aku akan menanyakan langsung kepada papa nantinya," balas Gara mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sementara itu, di apartemen milik Leon, Selin yang sedang mencuci pakaian keluarga kecilnya itu tiba-tiba saja merasakan pusing dan penglihatannya mulai tidak baik. Sadar akan jatuh pingsan, Selin yang sudah terduduk lemas di kursi dekat mesin cuci nya, segera mengambil ponsel dan menghubungi suaminya.
"Halo Selin kenapa?" tanya Leon saat panggilan mereka sudah terhubung.
Saat ini Leon masih di perjalanan menuju kantornya bersama dengan Gara. Karena jalanan yang cukup padat, mereka jadi terkena macet yang cukup panjang.
"Kak, kakak dimana?" jawab Selin bertanya dengan suara lemahnya.
"Kak, kepalaku pusing sekali, sepertinya aku akan pingsan, tolong hubungi satpam apartemen untuk segera menjaga Clara, dari tadi aku menelponnya, tapi tidak di angkat," jawab Selin dengan suara semakin lemah dan hilang.
"Selin kamu kenapa? Selin kamu bisa dengarkan aku?" ucap Leon mulai panik karena istrinya itu tidak mengeluarkan suara lagi.
"Selin kenapa Leon?" tanya Gara yang juga ikutan panik saat melihat Leon panik seperti itu.
"Entahlah, Selin bilang, kepalanya pusing dan dia akan pingsan, dia menyuruhku untuk menghubungi satpam apartemen untuk menjaga Clara.
"Memangnya tadi sewaktu berangkat, kamu tidak tau jika istrimu sakit atau lain sebagainya?" tanya Gara kepada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Tadi waktu berangkat, aku sempat bertanya kenapa wajahnya pucat seperti itu, tapi Selin bilang dia hanya kelelahan dan kurang enak badan. Aku juga bodoh, kenapa gak peka sih jadi laki-laki," umpat Leon pada dirinya sendiri.
"Sudah, sudah, sekarang mending kamu telpon satpam apartemen dan suruh dia ke unit mu sekarang juga. Kasihan Clara," perintah Gara menghela nafas kasar.
"Aku sudah menghubunginya, tapi tidak di angkat. Gara, kamu gak papa kan ke kantornya sendirian, aku akan pulang sekarang juga," pinta Leon membuka sabuk pengamannya.
"Tidak apa-apa, aku akan ke kantor pakai taksi saja," jawab Gara juga melepas sabuk pengamannya.
"Tidak-tidak, kamu pakai mobil ini saja, aku akan naik ojek online biar cepat," balas Leon lalu turun dari mobilnya.
"Tapi Leon," ucap Gara terputus karena sahabatnya itu sudah turun dan menaiki ojek kosong yang ada di depan mobil mereka.
Di sepanjang perjalanan, Leon tampak menghubungi Selin berkali-kali. Karena tidak di angkat, ia kemudian mencoba menghubungi satpam apartemen, namun hasilnya tetap sama.
"Buruan pak, kondisinya gawat darurat ini," ucap Leon mendesak tukang ojeknya untuk mempercepat laju kendaraannya.
Saat di perempatan jalan, tepatnya di lampu merah, Leon sengaja menyuruh tukang ojek tersebut untuk menerobos lampu merah. Awalnya ia keberatan, namun karena desakan dari Leon dan pertanggung jawabannya jelas, tukang ojek tersebutpun akhirnya menuruti kemauan Leon.
"Maaf pak, saya terburu-buru, istri saya sedang pingsan di rumah. Ini ada kartu nama saya, bapak bisa hubungi saya nanti, jika urusan saya sudah selesai," ucap Leon kepada polisi tersebut saat mereka tengah di interogasi oleh polisi tersebut.
Karena masih ternganga, polisi tersebut pun hanya diam saat motor Leon sudah pergi jauh dari tepat razia berlangsung.
Beberapa saat kemudian, Leon bergegas menuju unit apartemen miliknya, ia kemudian mendapati Clara yang menangis di sebelah Selin yang tak sadarkan diri di lantai laundry room nya.
Clara sayang, ini Dady nak, Clara jangan menangis ya, Dady akan angkat mommy mu ke ranjang dulu," ucap Leon bergegas mengangkat tubuh Selin ke kamar mereka.
Karena tidak mungkin meninggalkan Clara, Leon kemudian menghubungi dokter dan untuk memeriksa keadaan Selin ke apartemennya. Setelah menunggu tiga puluh menit, dokter wanita itu akhirnya tiba di unit apartemen Leon lalu memeriksa keadaan Selin.
__ADS_1
"Bagaimana dokter?" tanya Leon penasaran.
Ia trauma jika harus berurusan dengan dokter lagi. Ia tak mau, Selin mempunyai nasib seperti Gauri, mantan istrinya yang berakhir dengan gelar almarhumah.