
"Sepertinya Ibu Liona mengalami gangguan jiwa. Kami telah menyuruh dokter kejiwaan untuk memeriksanya. Jika memang Ibu Liona terkena gangguan jiwa sungguhan, maka ia akan di pindahkan ke rumah sakit jiwa secepatnya," jelas polisi tersebut.
***
"Apa? Gangguan jiwa? Maksud dokter gila?" tanya Paman Sam sedikit terkejut.
"Iya pak. Kurang lebih seperti itu," jawab polisi tersebut.
"Mba? Mba kenapa? Apa yang mba rasakan?" tanya Airin tiba-tiba saja mendekati Liona.
"Airin jangan. Bahaya," ucap Gara memperingati istrinya itu.
Bukannya menjawab pertanyaan Airin. Liona malah menatap Airin dengan tatapan tajam. Bahkan siapapun yang melihat tatapan Liona kepada Airin akan mengira jika Liona akan menyerang Airin saat itu juga. Namun justru sebaliknya. Setelah menatap Airin dengan tatapan tajam dan mematikan, sesaat kemudian Liona malah menangis dan langsung memeluk Airin tiba-tiba.
Meski sempat kaget, Airin mencoba untuk tetap tenang dan membalas pelukan Liona.
Puas menangis di dalam pelukan Airin, Liona tiba-tiba saja tertawa dan mendorong Airin sedikit kuat, alhasil Airin pun hampir terjerembab ke lantai. Untung saja ada suaminya Gara yang sudah siap siaga sebelumnya.
"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Gara kepada Airin.
"Nggak.. Kamu nggak boleh manggil wanita itu sayang Gara. Akulah sayangmu satu-satunya. Kamu nggak boleh memanggil wanita murahan ini sayang. Dia itu jahat. Dia telah merebut mu dariku. Aku tidak suka wanita itu. Gara kamu jahat. Kamu jahat," teriak Liona histeris.
Saat ia akan kembali menyerang Airin, para polisi dan tenaga kesehatan yang bertugas di rumah sakit itu langsung memeganginya dengan kuat.
"Mas," ucap Airin shock.
"Tidak apa-apa. Ada aku sayang," jawab Gara memeluk istrinya itu.
"Pak, langsung saja bawa Liona ke rumah sakit jiwa. Dia benar-benar sudah gila. Bapak lihat kan, dia hampir melukai istri keponakan saya," ucap Paman Sam berinisiatif membawa Liona ke rumah sakit jiwa.
"Baik pak. Setelah hasilnya keluar, jika memang beliau terkena gangguan jiwa, maka kami akan segera membawanya ke rumah sakit jiwa," jawab polisi tersebut.
"Tidak. Aku tidak mau ke rumah sakit jiwa. Aku ini tidak gila. Kalian lah yang gila," teriak Liona lagi.
Karena keadaan Liona semakin parah, para petugas medis memutuskan untuk memberi wanita cantik itu suntik penenang.
Setelah Liona tertidur, Paman Sam, Gara dan juga Airin pamit untuk pulang ke rumah mereka masing-mansing.
__ADS_1
"Paman, kita berpisah di sini ya. Aku dan Airin pamit pulang dulu," ucap Gara kepada Pamannya itu.
"Ok. Kalau begitu Paman juga mau pulang. Kamu dan Airin hati-hati di jalan," jawab Paman Sam lalu masuk ke mobilnya.
Saat di perjalanan pulang, Paman Sam mendapatkan panggilan telepon dari Kamelia.
Hampir satu Minggu Kamelia tidak menghubunginya. Ada rasa malu dan juga senang yang di rasakan oleh Paman Sam. Ia kemudian menepikan mobilnya untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Ha.. Halo," jawab Paman Sam gugup.
"Halo.. Sa. Saya tidak tau harus memanggilmu apa. Tapi. Tapi saya mau menyampaikan bahwa bayi yang saya kandung sudah saya gugurkan kemarin. Bayi itu memang tidak bersalah. Namun, alangkah kasihan jika bayi itu tetap hidup dan lahir nantinya.
Jujur saya masih belum bisa menerima kenyataan ini. Rasanya seperti mimpi buruk saja. Saya akui sampai detik ini saya masih mencintaimu. Namun ikatan darah yang mengikat, membuat kita tak akan bisa bersatu sampai kapanpun juga.
Saya hanya ingin mengatakan itu. Jika suatu hari nanti kita bertemu kembali, anggap saja kita tidak saling mengenal satu sama lain. Biarkan saya dan Ibu hidup seperti semula. Untuk kartu dan rumah yang anda berikan kepada saya, silahkan di ambil kembali. Saya kembalikan kartu itu dan meletakkannya di rumah yang penuh kenangan buruk itu. Terima kasih telah melahirkan saya ke dunia ini," ucap Kamelia dengan suara bergetar pilu. Jelas sekali jika Kamelia menahan rasa sakit yang teramat sangat akibat ulahnya itu. Kini Kamelia benar-benar menyesali kelakuannya dan benar-benar berniat untuk memperbaiki dirinya.
"Kamelia, rumah dan kartu itu adalah hak kamu. Anggap saja itu saya berikan untuk kamu dan ibumu sebagai pemberian dari seorang ayah untuk anaknya. Nanti setiap bulannya saya akan menambahkan saldo di kartu tersebut. Saya mohon jangan menolak. Bagaimanapun juga, kamu adalah anak saya. Maka saya harus bertanggung jawab padamu sampai kapanpun juga," balas Paman Sam yang menolak Kamelia mengembalikan rumah dan juga kartu yabg pernah ia berikan sebelumnya.
"Baik kalau begitu saya akan mengatakannya kepada ibu. Kalau begitu saya sudahi dulu," ucap Kamelia mematikan ponselnya.
"Sudah Bu. Dia bilang rumah dan kartu ini untuk kita sebagai bukti tanggung jawabnya sebagai Ayah. Nanti setiap bulannya kartu tersebut akan diisi kembali. Menurut Ibu bagaimana? Apakah kita akan menerima atau tetap mengembalikannya?" tanya Kamelia kepada Ibunya.
"Baiklah Bu. Ibu sekali lagi maafkan Kamelia ya," balas Kamelia memeluk Ibunya.
"Ibu juga minta maaf nak. Seharusnya Ibu memberi tahu mu lebih awal siapa Ayahmu yang sebenarnya," jawab Yuni mengusap kepala anaknya.
.
.
"Mas, aku gak nyangka mba Liona akan jadi seperti ini. Padahal dia cantik lo," ucap Airin menjahili suaminya.
"Ya, Liona memang cantik," jawab Gara spontan.
Ia tak sadar jika Airin tengah mencari perkara dengannya.
"Kamu dulu cinta gak sama Liona?" tanya Airin kepada Gara yang sedang fokus menyetir mobilnya.
__ADS_1
"Cinta," jawab Gara spontan.
Ia tak sadar Airin sudah memberinya tatapan tajam.
Beberapa detik kemudian....
"Opsss," ucap Gara menutup mulutnya menggunakan sebelah tangan. Ia baru sadar jika Airin sengaja menanyakan perkara Liona kepadanya.
'Dasar Gara oon. Kenapa gak nyadar sih jika Airin sengaja nanya kayak gitu,' batin Gara merutuki dirinya sendiri.
"Kenapa mas? Kamu keceplosan ya?" tanya Airin menatap Gara sinis.
"Ah.. Enggak kok. Siapa yang keceplosan. Kamu tau kan, aku itu hanya mencintai kamu," jawab Gara membela diri.
"Ngaku aja kenapa sih mas. Itukan hanya masa lalu," balas Airin sewot.
"Hhhhh iya.. Iya.. Aku memang mencintainya dulu," jawab Gara mengalah.
"Oh," jawab Airin singkat.
"Oh doang?" tanya Gara kali ini protes.
"Terus apalagi? Kamu mau aku bilang wah, suamiku hebat bisa memiliki pacar cantik seperti Liona," jawab Airin kesal.
'Tuh kan serba salah,' batin Gara menghembuskan nafasnya kasar.
Di apartemen, bulan madu antara Leon dan Gauri kembali gagal. Pasalnya, Clara selalu tidak mau tidur dengan Tantenya Selin.
Meskipun sedikit kesal, Leon hanya bisa mengurut dada saat hasratnya lagi-lagi tak dapat ia salurkan.
"Kak Leon, aku mau bawa Clara main ke luar boleh gak. Kasihan Clara di rumah terus," ucap Selin tiba-tiba datang menghampiri Leon yang sedang sibuk dengan laptopnya.
Beberapa hari ini, ia sengaja memilih bekerja dari rumah saja, karena ia masih ingin terus bersama dengan Gauri.
'pucuk di cinta ulam pun tiba. Akhirnya aku punya waktu berdua dengan Gauri,' batin Leon senang.
"Oh boleh. Silahkan. Nanti kakak transfer uang ke rekening kamu untuk jajan ya. Silahkan beli apa aja yang kamu dan Clara suka," jawab Leon senang bukan main.
__ADS_1
"Oke kak. Aku pergi dulu ya," pamit Selin lalu pergi membawa Clara ikut bersamanya.
"Yes," ucap Leon menutup laptopnya lalu menyusul Gauri di kamarnya.