Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 82


__ADS_3

Setelah puas menjelajahi tubuh istrinya dan meninggalkan banyak bekas tanda merah, ia kemudian mulai ke permainan intinya. Liona benar-benar kewalahan karena kali ini suami nya benar-benar bernafsu sekali, sehingga mereka melakukannya berkali-kali dan Liona tertidur dalam keadaan tanpa busana sedikitpun.


***


Sore harinya, Paman Sam bangun lalu membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa permainannya dan bersiap-siap untuk menemui Kamelia di kotanya.


"Liona, sayang. Aku mau pergi dulu. Kamu jaga diri baik-baik selama aku tidak ada di dekatmu. Ingat, jangan macam-macam dan jika ada apa-apa, segera hubungi aku oke," pamit Paman Sam kepada istrinya yang masih betah rebahan di atas kasur mereka.


"Iya mas. Kamu hati-hati ya. Jangan macam-macam. Aku sayang kamu," jawab Liona memberikan sebuah kecupan kepada sang suami.


"Ya sudah, kalau begitu, aku pergi dulu ya. Jaga Lio, anak kita," tambah Paman Sam, kemudian dia berjalan meninggalkan Liona yang masih rebahan tersebut.


.


.


"Selamat malam Ibu Airin, apakah ada keluhan yang ibu rasakan?" tanya dokter yang melakukan kunjungan rutinnya.


"Tidak dokter. Saya baik-baik saja, hanya saja saya merasa sedikit ngilu di bagian intim saya," jawab Airin menjelaskan keluhannya kepada sang dokter.


"Oh, itu disebabkan oleh jahitan di bekas robekan tempat keluarnya bayi-bayi kembar ibu. Rasa ngilu itu akan berkurang seiring berjalannya waktu. Nanti pada saat pulang, saya akan meresepkan obat untuk meredakan rasa ngilu nya," jelas dokter tersebut dengan ramah.


"Kapan istri saya akan diperbolehkan pulang dokter?" tanya Gara yang sudah tidak sabar untuk membawa Airin keluar dari rumah sakit.


"Besok pagi Ibu Airin juga sudah boleh pulang," jawab dokter tersebut tersenyum.


"Benarkah dokter?" tanya Gara memastikan.


"Ya, benar sekali. Besok, ibu Airin dan bayi-bayinya sudah boleh pulang," ucap dokter itu sekali lagi.


"Baik, kalau begitu terima kasih dokter," ucap Gara senang sekali.


"Sama-sama. Saya permisi dulu," balas sang dokter lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Sepeninggal nya dokter tersebut, Gara langsung memeluk istri tercintanya.


Ia sudah tidak sabar untuk membawa Airin dan juga bayi kembarnya untuk segera pulang ke rumah.


"Kamu kenapa mas? Girang sekali," tanya Airin yang heran dengan kelakuan suaminya itu.


"Aku senang karena besok kamu dan juga anak-anak kembali pulang ke rumah. Aku sudah tidak sabar untuk..." jawab Gara terputus.


"Untuk apa?" pungkas Airin yang seolah sudah tau apa yang akan di katakan suami nya itu.

__ADS_1


"Hmmmm, untuk.. Untuk membuatkan adik lagi untuk si kembar," jawab Gara menggaruk tengkuknya.


"Apaan sih mas, mana bisa secepat itu. Sudah cukup dengan tiga anak saja, aku tak akan menambah lagi untuk sementara waktu ini," jelas Airin memegang tangan suaminya.


"Hah? Kenapa? Bukankah banyak anak akan banyak rezeki?" pungkas Gara.


"Iya aku tau, tapi aku mau fokus untuk membesarkan si kembar dulu," balas Airin.


"Baiklah, aku menurut apa mau mu. Sekarang kamu istirahat. Besok pagi-pagi kita akan pulang. Aku mau cek laporan kantor hari ini dulu," ucap Gara mengambil laptopnya dari dalam laci meja rumah sakit tersebut.


Saat Gara sedang memeriksa laporannya, tiba-tiba ponselnya berdering dan ia langsung mengangkatnya dengan segera.


"Halo," jawab Gara meletakkan benda pipih itu ke telinganya.


"Halo selamat malam Pak. Maaf jika kamu mengganggu waktu istirahat anda. Kami dari pihak kepolisian mau memberi tahukan, jika kami telah mengetahui siapa dalang dari begal yang mengincar mertua anda waktu itu," ujar suara yang ternyata adalah seorang polisi.


"Benarkah, kalau begitu siapa Pak?" tanya Gara penasaran.


"Kami akan memberi tahukannya kepada anda besok di kantor polisi. Anda bisa mendengar langsung pengakuan dari tersangkanya," jawab polisi tersebut.


"Baik Pak, kalau begitu, besok saya akan ke kantor polisi. Tapi saya bisanya agak sedikit siang Pak, karena istri saya akan pulang dari rumah sakit besok pagi," ucap Gara membuat janji.


"Baiklah, tidak masalah. Kalau begitu sampai bertemu di kantor kami besok. Sekali lagi maaf sudah mengganggu," ucap polisi tersebut mematikan panggilannya.


Gara kembali melanjutkan pekerjaannya hingga ia tidak sadar telah tertidur di sofa kamar rumah sakit tersebut.


.


.


Sedangkan Paman Sam baru saja tiba di kota B.


"Bu, Kamelia dan Sarah pergi dulu ya. Ibu jaga diri baik-baik," pamit Kamelia kepada sang Ibu.


"Baik, hati-hati di jalan ya nak. Sarah, sampaikan salam Ibu pada kakek dan nenekmu," ucap Ibunya Kamelia memberi izin anak gadisnya itu izin untuk tidur di rumah Sarah, teman sekelas anaknya.


"Baik Bu, Sarah bawa Kamelia ya Bu," jawab Sarah kemudian menghidupkan mesin motornya dan pergi meninggalkan rumah sederhana Kamelia.


Ibu Kamelia sama sekali tidak curiga kepada Kamelia, pasalnya, Kamelia memang sering menginap di rumah Sarah, teman sekelas putrinya itu.


Saat di pertengahan jalan, Sarah kemudian menurunkan Kamelia dan pergi meninggalkan gadis itu untuk menemui suami simpanannya. Sedangkan Sarah sendiri yang juga berbohong kepada kakek dan nenek nya juga pergi menghabiskan malamnya bersama sugar daddy nya.


"Kamelia sayang. Akhirnya kita bertemu juga. Abang sudah kangen sekali denganmu," ucap Paman Sam langsung memeluk dan menciumi istri simpanannya itu.

__ADS_1


"Aku juga kangen sekali sama Abang. Sekarang kita akan kemana bang?" jawab Kamelia kembali bertanya.


"Kita akan ke rumah yang sudah Abang belikan untukmu. Sesuai janji Abang, kita akan menghabiskan akhir pekan di rumah itu," jawab Paman Sam membawa Kamelia ke dalam pelukannya.


"Baiklah. Aku menurut saja," jawab Kamelia menggenggam tangan suami tuanya itu.


Tak beberapa kemudian, Kamelia dan Paman Sam tiba di sebuah rumah mewah yang sengaja ia beli sebagai hadiah untuk istri keduanya itu.


"Ini.. Ini rumahnya bang?" tanya Kamelia tak percaya.


"Iya, ini rumah untukmu. Kenapa? Kamu tidak suka, atau rumahnya kekecilan?" jawab Paman Sam kembali bertanya.


"Tidak.. Tidak.. Ini sudah lebih dari cukup bang," jawab Kamelia masih ternganga.


'Aku tidak menyangka jika akan memiliki rumah sebesar ini,' batin Kamelia.


"Kamelia, sayang. Ayo turun. Abang sudah tidak sabar lagi untuk...." ucap Paman Sam terputus.


"Bang, sudah.. Malu di dengar supir Abang," sela Kamelia menutup mulut suaminya itu.


"Haha.. Maafkan Abang. Ayo kita masuk," balas Paman Sam memegang pinggul sang istri.


"Pak, ingat pesan saya. Jangan sampai nyonya tau mengenai Kamelia," bisik Paman Sam kepada supir pribadinya.


"Baik Pak," jawab supir tersebut menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana sayang? Kamu suka rumahnya?" tanya Paman Sam saat mereka baru saja masuk ke dalam rumah mewah itu.


"Suka sekali. Ini.. Ini benar-benar untuk ku?" tanya Kamelia memastikan untuk kesekian kalinya.


"Iya sayang. Ini untukmu. Nanti Abang akan berikan sertifikatnya. Abang sudah buatkan atas namamu," jawab Paman Sam mencium tangan sang istri.


"Makasih bang. Makasih banyak," jawab Kamelia benar-benar merasa senang.


"Sama-sama. Kalau begitu, kita langsung ke kamar yuk. Abang sudah tidak tahan," ajak Paman Sam kepada Kamelia.


"Tapi bang..," ujar Kamelia terputus.


"Tapi apa sayang?" tanya Paman Sam.


"Aku lapar," jawab Kamelia menundukkan kepalanya.


"Haha.. Kamu lapar? Sebentar, Abang akan suruh supir untuk membeli makanan untukmu," jawab Paman Sam lalu menelpon supir pribadinya tadi.

__ADS_1


__ADS_2