Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 138


__ADS_3

"Tapi bagaimana jika aku tidak sembuh mas? Bagaimana jika aku....." ucap Airin langsung di putus oleh Gara.


"Jangan bicara seperti itu sayang. Kamu pasti sembuh. Kamu yakin itu. Kamu harus tetap semangat sayang. Ingat, ada aku, dan juga si kembar yang sangat mencintai dan juga menyayangimu," balas Gara memperat pelukannya.


"Terima kasih mas. Terima kasih," jawab Airin mencoba kembali tersenyum. Ia akan bertekad untuk sembuh demi suami dan juga anak-anaknya.


***


Sementara itu, sekembalinya Airin dan Gara dari rumah sakit tempat ia melakukan pemeriksaan, tepatnya di ruangan dokter tadi, seorang wanita dengan anggunnya berjalan memasuki ruangan tersebut tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.


Dia adalah dokter Sinta,anak dari pemilik rumah sakit sekaligus wanita yang tergila-gila kepada Gara semenjak SMA dulu. Dokter Sinta terpaksa memendam terus rasanya karena ia harus menempuh pendidikan kedokteran di luar negri. Begitu ia balik ke tanah air, dokter Sinta mendapati Gara tengah menjalin kasih dengan Liona. Berkali-kali ia mencoba untuk merusak hubungan mereka, namun gagal dan setelag putus dengan Liona, Gara tiba-tiba saja menikah dengan wanita yang bernama Airin. Ia tak dapat berbuat apa-apa karena tak mau citranya di depan Gara menjadi buruk. Kemarin, saat Sinta hendak pulang ke rumahnya, ia melihat Gara dan Airin tengah menunggu antrian seperti pasien lainnya di sebuah poli rumah sakit tersebut. Ia kemudian memutuskan untuk menunggu Gara dan juga Airin selesai dan pulang. Selanjutnya, Sinta masuk dan menanyakan perihal kedatangan Gara dan juga Airin kepada dokter yang pernah tidur dengan Sinta waktu itu.


Setelah mendapatkan jawaban dari apa yang ia cari, ide jahat pun muncul dari dalam bemak Sinta. Ia menyuruh dokter Adit untuk memanupulasi hasil dari pemeriksaan yang di lakukan oleh Airin.


"Apa kamu sudah melakukan perintahku?" tanya dokter Sinta menatap dokter Adit dengan penuh selidik.


"Sudah, aku sudah melakukannya, sekarang toling hapus foto dan video kitaa malam itu. Aku tak mau, anak dan istriku sampai mengetahuinya," jawab dokter Adit kepada Sinta. Terlihat jelas adanya rasa kebencian dari wajah dokter Adit saat berhadapan dengan dokter Sinta, tapi apa daya, ia tak dapat berbuat apa-apa karena terus di ancam oleh Sinta selama ini.


"Baik aku akan menghapus video kita malam itu, tapi ingat, jika sampai kamu membocorkan rahasia ini, maka video malam-malam lainnya akan aku berikan kepada istrimu," jawab Sinta tersenyum licik.


Dokter Sinta memiliki beberapa video panas antara dirinya dan juga dokter Adit. Dokter Sinta yang memiliki kelainan seksual, sengaja menjebak beberapa dokter di rumah sakit tersebut dan menyimpan vidio beserta fotonya untuk ia lihat-lihat dan ia jadikan ancaman jika suatu saat memang di butuhkan.


"Sialan kamu Sinta. Kamu yang sengaja menjebak saya, tapi kamu juga yang mengancam saya seperti ini, semoga karma menghampirimu," umpah dokter Adit yang tak dapat berbuat apa-apa.


Sebenarnya, Airin tidaklah menderita penyakit yang parah. Mimisan dan pusing yang ia rasakan itu hanyalah karena faktor kelelahan. Karena cuaca yang tak menentu, Airin jadi sering pusing dan bersin dengan kuat dan juga keras.


Disaat Airin dan suaminya akan tidur malam, Gara pun memperhatikan istrinya itu tidak seperti orang yang sedang sakit keras.

__ADS_1


"Kenapa kamu melihat aku seperti itu mas?" tanya Airin merasa risih karena terus di tatap oleh sang suami.


"Apa yang kamu rasakan saat ini sayang? Apa mimisannya masih sering terjadi?" tanya Gara mengusap kepala Airin.


"Aku tidak merasakan apa-apa. Dan mimisannya juga tidak ada lagi. Kenapa mas?" jawab Airin kembali bertanya.


"Airin, aku ragu dengan hasil pemeriksaan mu tadi. Bagaimana kalau kita mencari second opinion untuk menjadi perbandingannya?" ucap Gara membuat Airin berpikir sejenak.


"Tapi buat apa mas? Bukankah hasilnya sudah jelas? Aku takut kecewa lagi," ucap Airin menyenderkan kepalanya kepada Gara.


"Gak ada salahnya kita mencoba. Aku sedikit ragu dengan dokter itu. Besok pagi-pagi aku akan menemanimu ke rumah sakit lain. Aku akan hubungi Leon untuk menghandle semua pekerjaan ku besok.


.


.


Sementara di apartemen milik Leon............


"Biarkan saja sayang, ini lagi nanggung," jawab Leon dengan suara sayup-sayup sampai sembari terus memompa tubuh sang istri.


Selin akhirnya tak menjawab lagi. Sedangkan ponsel miliknya telah berhenti berdering. Namun beberapa detik berikutnya, benda pipih itu kembali berbunyi. Awalnya Selin dan Leon tidak menggubrisnya, namun karena terus saja berbunyi, Selin pun merasa tidak nyaman dalam menjalankan tugasnya.


"Kak di angkat saja dulu, siapa tau penting. Aku merasa kurang nyaman karena ponsel kakak yang terus berbunyi," ucap Selin pada suaminya itu.


"Arrgghhb, siapa sih yang nelpon orang berkali-kali seperti itu? Gak tau apa orang lagi memberikan nafkah batin," umpat Leon meraih ponselnya yang berada di atas meja samping tempat tidurnya itu.


"Cih, dia lagi, dia lagi. Kenapa selalu menggangguku," gumam Leon lalu mengangkat panggilan dari Gara.

__ADS_1


"Ada apa?" jawab Leon ketus.


"Kenapa sewot sekali? Kamu ada masalah apa Leon?" tanya Gara yang masih belum peka juga.


"Gak ada. Katakan, kenapa kamu menelpon ku malam-malam begini?" tanya Leon dengan kesal kepada sahabatnya itu.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya merindukan mu Leon," canda Gara semakin membuat Leon kesal.


"Apa? Kamu menelpon ku malam-malam begini hanya untuk mengatakan hal konyol itu padaku? Kamu tidak tau apa, aku dan istriku sedang......." ucapan Leon terputus karena di cubit oleh sang istri.


Seketika ia sadar untuk tidak lagi melanjutkan obrolannya.


"Sedang apa?" tanya Gara menautkan kedua alisnya. Ia sebenarnya tau maksud dari perkataan Leon yang terputus tersebut. Hanya saja, sesekali, Gara ingin merayu sahabatnya itu.


"Sudah lupakan, aku mau tidur. Jika kamu masih kangen, lihat saja fotoku, tapi ingat, kamu jangan berkhayal yang macam-macam dengan fotoku itu, aku benar-benar tidak sudi," ucap Leon hendak mematikan ponselnya.


"Eh Leon tunggu dulu, aku mau mengatakan sesuatu padamu. Besok tolong handle semua pekerjaan ku. Aku akan membawa Airin ke rumah sakit lain besok," ucap Gara buru-buru sebelum Leon mematikan panggilannya.


"Kenapa? Bukankah rumah sakit itu merupakan rumah sakit terbaik di negara ini?" tanya Leon menautkan kedua alisnya.


"Ya, aku hanya mencari second opinion saja. Siapa tau hasilnya berbeda," jawab Gara.


"Memang Airin sakit apa? Kenapa harus mencari second opinion?" tanya Leon penasaran.


"Airin di vonis mengidap leukimia, tapi ia seperti orang yang tidak sakit sama sekali. Aku jadi kurang percaya dengan dokter itu," ucap Gara membuat Leon terperangah.


"Apa Airin di vonis leukimia?" tanya Leon memekakkan kuping Gara.

__ADS_1


"Tidak usah keras-keras begitu, aku tidak tuli," protes Gara kesal.


"Maaf, tapi aku benar-benar kaget. Kalau begitu, aku akan urus semua pekerjaanmu untuk besok. Kamu jangan cemas, aku yakin Airin pasti sembuh," ucap Leon menunjukkan rasa perhatiannya sebagai sahabat.


__ADS_2