
Sementara itu, Liona yang sudah pindah sel tahanan karena terus saja berkelahi dengan seniornya merasa sakit hati dan iri melihat kebahagiaan yang tengah di rasakan kakaknya Lyra. Ia tidak menyangka jika Lyra saat ini telah bisa berjalan dan terlihat sangat cantik sekali. Tak hanya itu, Liona juga merasa sakit hati karena Lyra mengambil alih semua harta Samuel, sedangkan dirinya saat ini terkurung tak bisa berbuat apa-apa di dalam jeruji besi.
***
"Sialan si Lyra, kenapa dia bisa jalan lagi sih? Lalu kenapa semua harta milik Samuel bisa jatuh ke tangannya. Ini kan gak adil. Harusnya aku yang berhak atas semua harta-harta itu," umpat Liona di balik jeruji besinya.
"Aku harus cari cara untuk mengambil seluruh harta milik Samuel lagi. Aku gak mau saat keluar di penjara, tiba-tiba saja aku sudah menjadi miskin dan tidak mempunyai apa-apa lagi. Aku gak mau. Pokoknya aku gak mau," tambah Liona mondar-mandir di dalam sel nya.
Di kota B, sekembalinya dari rumah Yuni, Lyra langsung memutuskan kembali ke Jakarta.
Sementara itu, Yuni merasa tenang karena saat ini ia tak usah bekerja keras lagi seperti sebelum-sebelumnya.
Ia bisa fokus dengan usaha yang lebih santai dan lebih memperhatikan putri semata wayangnya Kamelia.
Di pondok pesantren, Kamelia yang masih sering melamun, tiba-tiba saja di panggil ke ruangan Ustadz Gibran. Ia sadar, pasti Ustadz tampan tersebut akan menegurnya seperti guru-guru sebelumnya.
Tok
Tok
Tok
"Masuk," jawab Ustadz Gibran dari dalam ruangannya.
Kamelia pun masuk dan berjalan menuju meja tempat ustadz Gibran berada.
"Us.. Ustadz memanggil saya?" tanya Kamelia gugup.
"Waalaikumsalam. Ya, saya memanggilmu. Silahkan duduk," perintah Ustadz Gibran mempersilahkan Kamelia duduk di kursi yang ada di depan mejanya.
"Ma.. Maaf Ustadz, saya lupa," jawab Kamelia menunduk karena lupa mengucapkan salam.
__ADS_1
"Baiklah, kali ini saya maafkan. Kamelia, saya mau menanyakan sesuatu padamu," ucap Ustadz Gibran menatap Kamelia yang tengah menundukkan kepalanya.
"Me.. Menanyakan apa Ustadz?" jawab Kamelia dengan jantung yang berdetak kencang.
"Maaf Kamelia, mungkin ini sedikit pribadi. Tapi mau tak mau, saya harus menanyakan perihal ini padamu," ucap Ustadz Gibran membuat Kamelia semakin gugup.
"Baiklah Ustadz, silahkan. Ustadz mau menanyakan apa?" jawab Kamelia kembali bertanya.
"Begini, sebelumnya saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Apa benar kamu pernah menikah dan hamil sebelumnya? Dan mantan suami mu itu ternyata Ayah kandungmu sendiri," tanya Ustadz Gibran membuat Kamelia terkejut dan mengangkat kepalanya sesaat.
"Da.. Darimana Ustadz mengetahuinya?" tanya Kamelia malu.
"Saya ini gurumu, sudah sewajarnya saya tau semua tentang murid-muridnya. Sekarang silahkan di jawab," jawab Ustadz Gibran mengembuskan nafas kasar.
"I.. Iya Ustadz, semua itu benar adanya. Tapi sebelumnya saya benar-benar tidak tau jika dia adalah ayah kandung saya," jawab Kamelia dengan tetesan air matanya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Anggap saja itu sebuah pembelajaran untukmu agar tidak sembarang melangkah dalam mengambil suatu keputusan lagi. Apa itu penyebab kamu selalu melamun di tiap kesempatan? Saya sudah mendengar banyak dari guru-guru lain," tanya Ustadz Gibran membuat Kamelia terpikirkan sesuatu.
"Tidak, hanya saya dan Kiyai Sodikin saja. Sekarang silahkan jawab pertanyaan saya," ucap Ustadz Gibran kembali meminta jawaban atas pertanyaannya kepada Kamelia.
"Maafkan saya Ustadz, tapi saya selalu saja terpikirkan masa lalu saya. Saya sudah mencoba melupakannya, namun tetap saja tidak bisa. Saya bingung harus berbuat apa lagi Ustadz," jawab Kamelia menangis.
Melihat Kamelia menangis seperti itu, entah kenapa hati Ustadz Gibran terasa nyeri. Ia menjadi kasihan dan juga iba kepada gadis tujuh belas tahun itu.
"Baiklah, saya akan membantumu untuk melupakan masa lalu mu yang kelam itu. Apa kamu mau saya bantu?" ucap Ustadz Gibran menarik nafas kasar lalu menghembuskan nya kembali.
"Ma.. Mau Ustadz. Tapi, bagaimana caranya?" tanya Kamelia mengangkat sedikit kepalanya.
"Menikahlah denganku. Dengan begitu kamu akan lupa dengan masa lalu mu," jawab Ustadz Gibran gamblang.
Seketika Kamelia menatap Ustadz Gibran tak percaya. Ia bagaikan di sambar petir. Bagaimana bisa, Ustadz tampan idola santriwati itu tiba-tiba memintanya untuk menikah dengan dirinya.
__ADS_1
"Us.. Ustadz bercanda?" tanya Kamelia tak percaya.
"Bercanda? Untuk apa? Saya serius. Kita ini bukan mahram, lalu bagaimana caranya agar aku bisa membantumu untuk melupakan dia?" jawab Ustadz Gibran ada benarnya juga.
"Ta.. Tapi Ustadz, Ustadz tau sendiri masa lalu saya. Saya ini tidak pantas untuk menjadi istri Ustadz. Dan satu lagi, apa kata santriwati lainnya jika kita menikah? Bukannya aturan sekolah melarang semua muridnya untuk menikah selama menempuh masa pendidikan?" jawab Kamelia kembali bertanya.
"Semua manusia itu sama derajatnya, dan semua manusia itu punya masa lalu yang tidak baik. Jadi, tidak ada kata-kata pantas atau tidaknya. Jika kamu memiliki masa lalu yang kelam, namun memiliki niat untuk memperbaikinya, itu jauh lebih baik dari pada kamu yang terus saja larut dalam penyesalan masa lalu. Masalah izin untuk menikah, nanti saya akan bicarakan kepada Kiyai Sodikin. Saya yakin Kiyai Sodikin pasti akan mengerti. Kamu hanya tinggal memberi tau orang tuamu dan meminta restu darinya," jelas Ustadz Gibran.
Cukup lama Kamelia terdiam, ia mencoba mencerna ucapan Ustadz Gibran padanya.
Ia masih tidak menyangka, jika Ustadz tampan itu benar-benar ingin menikahinya.
"Bagaimana Kamelia? Apa kamu menerima lamaran saya?" tanya Ustadz Gibran membuat jantung Kamelia berdetak kencang.
"Saya.. Saya.. Saya akan menanyakannya kepada Ibu saya dulu Ustadz. Jika beliau setuju, maka saya akan menerima lamaran Ustadz Gibran," jawab Kamelia menundukkan wajahnya.
"Baiklah, saya tunggu jawaban kamu secepatnya," ucap Ustadz Gibran tersenyum.
"Baik Ustadz. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Kamelia undur diri.
"Silahkan. Ingat, jangan melamun lagi," jawab Ustadz Gibran mengingatkan Kamelia, dan dibalas dengan anggukan pelan dari Kamelia.
'Semoga saja keputusan yang saya ambil ini bisa membuatmu melupakan masa lalu mu Kamelia. Dan semoga juga, saya bisa mencintaimu dan membawamu kembali ke jalan yang benar hingga rumah tangga kita bisa sehidup sesurga. Amin,' batin Ustadz Gibran menghembuskan nafasnya kasar.
"Kamelia, Ustadz Gibran bicara apa sama kamu? Kenapa lama sekali?" tanya Siti, teman satu kelas sekaligus satu kamar dengan Kamelia.
'Kalau Siti tau, yang lain juga pasti akan mengetahuinya. Enggak, ini enggak boleh terjadi,' batin Kamelia.
"Kamelia? Kamu hobi banget sih melamun kayak gitu," teriak Siti membuat Kamelia tersadar dari lamunannya.
"Ah, maafkan aku Siti. Kamu seperti tidak tau saja. Seperti biasa, aku di panggil ke ruangan Ustadz Gibran karena aku melamun di jam pelajarannya," jawab Kamelia berbohong.
__ADS_1
"Hhhhh, Kamelia.. Kamelia.. Kenapa sih kamu hobinya melamun terus. Emang gak capek apa di panggil ke ruangan guru terus," balas Siti menggelengkan kepalanya.