
"Tidak masalah. Oh ya, nanti Zaki dan Ibunya akan tinggal disini untuk sementara. Apa kalian tidak keberatan?" tanya Lena menyampaikan pesan suaminya.
"Oh, sama sekali tidak kok Bu. Malah Airin senang," jawab Airin tersenyum.
"Ya sudah, kalau begitu mama pergi," ucap wanita paruh baya itu kemudian pergi dari rumah itu.
***
Setelah kepergian Lena, Airin dan juga berniat untuk pergi ke toko perlengkapan baju bayi. Namun entah mengapa Leon tiba-tiba ingin ikut dengan mereka.
"Ngapain sih Leon kamu pakai acara ikut segala," tanya Gara kesal.
"Ya pengen ikut aja. Mobilnya muat kan?" jawab Leon balik bertanya.
"Ya muat, tapi kamu itu merusak momen ku," jawab Gara masih tak terima jika Leon hendak ikut dengan dirinya.
"Ada apa?" tanya Airin yang baru saja dari kamarnya untuk berganti pakaian.
"Ini si Leon mau ikut. Kan ganggu jadinya," jawab Gara kesal dan berharap kali ini Airin ada di pihaknya.
"Kau mau ikut?" jawab Airin bertanya kepada Leon.
"Aku bosan di rumah. Dan siapa tau aku menemukan pakaian baru buat Clara," jawab Leon beralasan.
"Alasan kau saja kan," umpat Gara.
"Memang kenapa kalau Leon ikut dengan kita. Gak masalah kan?" tanya Airin kepada calon suaminya itu.
"Tapi Airin..-" jawab Gara terhenti.
"Tapi apalagi sih. Leon itu kan sahabatmu. Wajar dong kalau dia mau ikut. Lagian, dia mau nyari pakaian juga buat Clara," sela Airin membuat Gara tak berkutik.
"Makasih Airin. Ayo kita berangkat," jawab Leon dengan senang hati.
"Awas kau Leon," bisik Gara kepada sahabatnya itu.
Di rumah Paman Sam, Liona yang baru saja selesai mandi berencana akan berkumpul bersama dengan teman-temannya.
Kebetulan saat ini Paman Sam, suami Liona tengah berada di luar kota untuk meninjau perusahannya yang baru saja ia dirikan.
__ADS_1
Saat Liona melewati kamar Lyra, ia mendengar suara Lyra yang menjerit-jerit kesakitan.
"Kenapa kak? Brisik sekali," ucap Liona kesal.
"Maaf Bu, Ibu Lyra sepertinya akan segera melahirkan," jawab asisten Lyra.
"Kau yakin?" tanya Liona menatap asisten tersebut.
"Iya Bu," jawabnya dengan menunduk.
"Kak, aku akan bawa kakak ke rumah sakit. Kakak tahan sebentar ya," jawab Liona merogoh ponsel di dalam tasnya dan segera menghubungi ambulan.
Beberapa saat kemudian, ambulan pun datang dan segera membawa Lyra ke rumah sakit. Liona yang awalnya akan berkumpul dengan teman-temannya kini membatalkan semua rencananya.
"Halo ada apa sayang?" tanya Paman Sam dalam panggilan telepon.
"Mas, ini kak Lyra sekarang mau melahirkan. Aku sudah membawanya ke rumah sakit.
"Apa? Lyra akan melahirkan. Ya sudah. Kamu temani saja dia dulu. Nanti setelah urusanku selesai, aku akan segera pulang," jawab Paman Sam kemudian mematikan panggilannya.
Dokter memutuskan untuk melakukan operasi sesar untuk membantu proses persalinan Lyra. Liona yang dari tadi mondar mandir di depan ruang operasi.
Beberapa saat kemudian petugas yang menangani persalinan Lyra keluar, disusul dengan brankar yang di atasnya terdapat Lyra yang baru saja selesai di operasi.
"Operasinya berjalan lancar. Anaknya lahir dengan selamat dan juga sehat, dan berjenis kelamin laki-laki," jelas dokter muda tersebut.
"Syukurlah. Lalu kemana kakak saya itu akan dibawa?" tanya Liona penasaran.
"Oh itu, pasien akan dibawa ke ruang rawat inap. Mari ikut dengan saya," jawab dokter tersebut membawa Liona menuju ruang rawat Lyra.
Beberapa saat kemudian........
"Selamat ya kak. Anak kakak laki-laki," jawab Liona dengan senyuman smirk nya setelah semua perawat meninggalkan mereka berdua di ruangan VVIP tersebut.
"Makasih," jawab Lyra singkat.
"Oh ya kak. Kakak tenang saja. Aku akan merawat putra kakak dengan baik. Aku akan urus semua keperluannya dan satu lagi, alu akan memperkenalkan diriku sebagai orang tua kandungnya. Bagaimana? Kakak senang?" ucap Liona bertanya.
"Tidak.. Kakak tidak setuju. Dia anak kakak. Bukan anakmu. Kamu tidak boleh melakukan itu dek," jawab Lyra dengan air matanya.
__ADS_1
"Kenapa? Bukankah kakak lumpuh dan tidak bisa mengurusnya. Dia itu pewaris tunggal Mas Samuel, jadi gak mungkin dong jika dia mempunyai ibu yang lumpuh," jawab Liona membuat Lyra benar-benar sakit hati.
Ingin sekali rasanya Lyra pergi dari rumah mewah itu dan membawa anaknya pergi sejauh mungkin dari Liona dan Paman Sam. Tapi apalah daya, Kakinya yang lumpuh membuat dia tidak bisa melakukan apa-apa. Lyra hanya berharap ada keajaiban sehingga dia bisa kembali berjalan seperti semula.
"Kamu jahat Liona. Kamu jahat sekali. Kakak tidak menyangka jika kamu akan tumbuh jadi anak yang tak punya hati seperti ini," jawab Lyra lirih.
"Aku jahat? No.. No.. Kakak salah. Aku bukan jahat kak. Hanya saja keberuntungan dan garis hidupku saja yang bagus," jawab Liona kemudian meninggalkan Liona di ruangnya sendirian.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak rela jika putraku di asuh dan di besarkan oleh Liona dan juga Mas Samuel," gumam Lyra lirih.
Setelah kepergian Liona yang entah kemana, Dokter yang membantu persalinan Lyra masuk untuk memeriksa keadaan pasiennya itu.
"Anda menangis? Apakah ada yang sakit?" tanya dokter tersebut ramah.
"Ti.. Tidak dokter. Hanya saja saya bingung, bagaimana nantinya saya akan mengasuh bayi saya, sedangkan saya dalam keadaan lumpuh total," jelas Lyra menatap sendu kepada sang dokter tersebut.
"Kalau saya boleh tau? Apa yang menyebabkan anda lumpuh total?" tanya dokter tersebut.
"Waktu itu saya memergoki suami saya sedang bercumbu dengan adik kandung saya di kantornya, tepat saat saya akan memberikan kejutan kehamilan saya. Namun saya melihat suami dan adik saya tengah bermesraan dengannya. Saya lari dan akhirnya tertabrak mobil," jelas Lyra mengingat kejadian memilukan itu kembali.
"Maaf jika saya ikut campur, kalau anda tidak keberatan, anda boleh mencoba melakukan pengobatan tradisional dengan kakek saya. Semoga saja kelumpuhan anda bisa di obati olehnya," tawar dokter tersebut merasa prihatin.
"Tapi saya tidak punya uang. Dan saya yakin jika mereka pasti tidak akan mengizinkan saya melakukan pengobatan itu," jawab Lyra apa adanya.
"Anda tenang saja. Berobat sajalah dulu. Saya akan membantu anda tanpa di ketahui oleh keluarga anda tersebut. Masalah biaya, anda bisa meminjamnya dari saya dahulu. Anda boleh membayarnya kapanpun anda mempunyai uang," jawab dokter tersebut dengan tulus.
"Dokter yakin?" tanya Lyra sekali lagi. Ia tak menyangka jika masih ada saja manusia yang peduli akan dirinya.
"Iya saya yakin. Oh ya, kenalkan saya Dimas. Anggap saja kita ini berteman," jawab dokter yang bernama Dimas tersebut.
"Saya Lyra. Tapi kenapa dokter mau membantu saya?" tanya Lyra heran.
"Kita ini sesama manusia. Maaf ya, saya bukan bermaksud untuk ikut campur. Tadi tak sengaja mendengar percakapan anda dengan adik anda itu. Saya jadi tergerak untuk membantu anda sebisa saya," jelas Dimas menceritakan alasannya untuk membantu Lyra.
"Tidak apa-apa. Makasih ya dok sudah mau membantu saya. Tapi saya mohon jangan ada yang tahu. Jika saya sembuh nanti, saya akan membawa anak saya pergi jauh dari mereka semua," jawan Lyra bahagia.
"Sama-sama," jawab Dimas tersenyum.
Tak lama kemudian, Liona masuk dengan menenteng minuman dingin yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Permisi dokter, maaf tadi saya keluar membeli minum," jawab Liona kepada dokter Dimas.
"Tidak masalah, saya hanya melakukan pemeriksaan pasca operasi. Kalau begitu saya permisi dulu. Jika ada apa-apa, silahkan hubungi saya kembali," jawab dokter Dimas melihat Lyra sekilas lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.