
Leon pun berhenti memegangi Gara dan beralih memegang kedua
pipinya.
"Hey, apa-apaan kau. Malu tau dilihat banyak orang," protes Gara merasa risih.
"Gara maafkan aku. Aku janji gak akan menjadi pebinor di antara kamu dan Airin lagi," ucap Leon seperti bersungguh-sungguh.
"Baiklah, aku memaafkan mu. Tapi jangan pegamg-pegang aku seperti ini. Aku jadi malu," jawab Gara melihat orang di sekelilingnya pada memperhatikan mereka berdua.
***
"Hai lihat itu. Ternyata mereka benar-benar pasangan homo," ucap salah seorang pengunjung yang dari tadi memang memperhatikan mereka.
"Iya kau benar. Lihat itu. Mereka bahkan tak malu untuk tampil romantis di depan umum," jawab pelanggan lainnya.
"Iya, sayang banget ya. Padahal mereka berdua itu sangat tampan sekali," jawab pengunjung lainnya.
"Iya, mereka sangat tampan. Dan bahkan sepertinya orang-orang berduit ya. Dasar terong makan terong," tambah pengunjung lainnya.
Sementara Gara dan Leon tidak mengacuhkan ucapan demi ucapan yang mereka terima. Toh Gara dan juga Leon tidak merasa jika dirinya seperti yang mereka katakan.
"Kau dengar apa ucapan mereka tentang kita?" tanya Gara berbisik.
"Sudah, jangan di dengarkan," jawab Leon santai.
Akhirnya Gara dan Leon kembali melanjutkan belanja mereka tanpa menghiraukan ucapan mereka. Gara dan Leon pun akhirnya selesai dengan acara belanja-belanja mereka. Ia membeli satu karton susu formula untuk Clara. Satu karton tisu basah. Dua karton besar popok berukuran M. Dan lain sebagainya dengan jumlah yang sangat banyak seperti orang akan membuka toko sembako.
"Berapa semuanya?" tanya Gara saat barang belanjaan mereka telah tiba di kasir.
"Petugas kasir dan yang lainnya hanya bisa diam melihat Gara dan Leon berbelanja dalam jumlah yang sangat banyak.
"Total semuanya dua puluh delapan juta tiga ratus dua puluh tujuh ribu lima ratus rupiah ya Pak," jawab pelanggan tersebut ramah dan juga heran.
__ADS_1
"Baik," ucap Gara memberikan kartu kreditnya kepada pelayan tersebut.
"Banyak sekali mereka berbelanja? Apa mereka akan menjualnya lagi?" nyinyiran emak-emak yang juga berbelanja kebutuhan sehari-harinya kepada pelanggan lainnya.
"Entahlah. Mungkin saja untuk stok di rumahnya," jawab emak-emak yang memiliki otak waras.
Setelah selesai membayar, petugas supermaket tersebut memindahkan semua belanjaan Gara dan juga Leon ke dalam mobil Pajero Sport milik Leon.
"Untung saja kita belanja tidak menggunakan mobilku. Kalau saja dengan mobilku, entah bagaimana cara membawa barang-barang sebanyak ini," ucap Gara memperhatikan banyaknya barang belanjaan mereka.
Satu jam kemudian Gara dan juga Leon akhirnya tiba di rumah Airin. Ia segera memerintahkan pengawal untuk membawa semua keperluan Clara ke salah satu kamar yang ada di rumah itu.
Rencananya kamar itu akan ia jadikan kamar Clara dan juga Leon.
Sedangkan kamar Gara berada di sebelahnya, dan kamar Airin berada di lantai dua rumah itu.
Gara membawa satu dus susu dan popok berukuran M, lalu memberikannya kepada Airin di kamarnya. Sesampainya di kamar, Airin langsung menghujani Gara dengan celotehan dan juga protesnya akan kinerja asisten pribadi yang Gara utus untuk menjaga dirinya.
"Aku pokoknya tidak mau asisten yang terlalu mengekang ku seperti ini. Kau tau, bahkan saat aku ke kamar mandi pun dia harus ikut bersamaku," protes Airin dengan kesalnya saat asisten itu telah keluar di saat Gara dan juga Leon masuk ke kamar Airin.
"Aku tidak terima. Bayangkan saja jika kau yang berada di posisiku bagaimana?" jawab Airin balik bertanya.
"Maksudmu kemana-mana aku harus diikuti asisten pribadi seperti Luna? Ya gak masalah. Bahkan aku senang," jawab Gara yang langsung mendapatkan cubitan keras di pinggangnya dari Airin.
"Auuu sakit. Kenapa kau mencubit ku?" tanya Gara yang tidak sadar akan kesalahannya.
"Hahaha.. Wajarlah jika Airin mencubit mu. Kau tak sadar jika kau mengatakan senang jika kemana-mana di temani asisten pribadi seperti Luna," ucap Leon menjelaskan.
"Lalu apa salahnya?" tanya Gara masih tidak paham dengan penjelasan Leon.
Saat Leon akan kembali menjelaskan, Airin pun langsung berdiri dan meninggalkan Gara dan Leon yang masih saja berdebat. Ia pergi dengan kesal sambil membawa dus yang berisi susu keluar dari kamar itu.
Saat melewati Gara, Airin memukulkan dus susu tersebut ke bahu Gara dengan cukup kuat, sehingga Gara yang belum siap langsung terhuyung ke depan, tepatnya ke atas tempat tidur.
__ADS_1
"Hahaha.. Kasihan sekali kau Gara," ucap Leon tertawa terbahak-bahak.
"Aku salah apa lagi sih?" tanya Gara yang masih tertelungkup di atas tempat tidur.
"Kau tau, wanita hamil itu perasaannya sangat sensitif sekali. Jika kau salah bicara sedikit saja, itu akan melukai hatinya," jelas Leon sok bijak.
"Tapi aku tidak merasa salah bicara," jawab Gara masih saja pilon.
"Jelas-jelas tadi kau bilang jika kau sama sekali tidak masalah jika yang asisten pribadi yang menemanimu kemanapun itu seperti Luna. Airin beranggapan jika kau tak keberatan jika benar-benar Luna yang menemani mu," jelas Leon menaik turunkan alisnya.
"Tapi bukan itu maksudku. Maksud ku, aku tak masalah jika kinerjanya seperti Luna, bukan Luna nya," jawab Gara frustasi.
"Itukan maksud mu, tidak maksud Airin. Dan lagi tadi kau tidak mengatakan jika kinerjanya seperti Luna, hanya mengatakan jika seperti Luna. Jelas itu memiliki arti yang sangat jauh berbeda," jelas Leon sembari menggendong Clara putrinya.
"Kau benar. Lalu aku harus bagaimana?" tanya Gara bingung.
"Mana ku tau," jawab Leon menciumi putri kecilnya itu.
"Apa aku harus menjadi wanita sekarang ya. Siapa tau dengan itu, Airin mau memaafkan aku," jawab Gara lalu segera mencari baju Airin yang muat bagi dirinya.
Beberapa saat kemudian, Gara pun selesai mengubah penampilannya yang tadi kelihatan cool dan tampan, kini telah berubah seperti laki-laki ngondek yang menggunakan gaun selutut dengan rambut pendek dan jakun-jakun yang menonjol dan lengan kekar yang berotot. Ia juga tak lupa menggunakan bra milik Airin untuk menunjang performanya sebagai Amara, namanya di saat menjadi seorang wanita.
"Leon bagaimana? Apakah aku sudah kelihatan cantik?" ucap Gara dengan suara ala banci yang baru saja keluar dari walk in closet kamar Airin.
Saat Leon menoleh ke arah Gara, ia benar-benar tidak bisa menahan tawanya yang seketika pecah saat melihat penampilan Gara yabg berubah total dari yang sebelumnya. Bahkan ia terlihat lebih banci daripada penyamarannya waktu itu.
"Haha.. Mau kemana neng? Ngondek amat?" ucap Leon mempermainkan Gara.
"Ini mau mencari bini bang, eh maksudnya mau mencari laki. Kira-kira ada gak ya punya orang tercecer di jalan?" jawab Gara dengan suara ala banci dan tangan yang sedari tadi sibuk memperbaiki letak bra nya.
"Haha.. Itu toketnya kenapa neng? Kok di geser-geser mulu?" ucap Leon yang susah payah menahan tawanya.
"Iya nih bang. Kayanya mau tumbuh deh, jadi neng agak risih gitu," jawab Gara dan akhirnya mereka berdua sama-sama tertawa.
__ADS_1
Saat Gara keluar dari kamar Airin, para pengawal dan pekerja rumah itu langsung berusaha menahan tawanya saat mengetahui jika yang sedang ngondek itu adalah majikannya yang terkenal galak dan angkuh.
Gara yang sadar di perhatikan hanya melirik tajam para pekerjanya sambil berjalan ke dapur untuk mencari Airin yang sedang membuatkan susu untuk Clara.