
'Aku senang melihatmu tertawa seperti ini lagi Gauri. Aku hanya bisa berharap kamu di beri umur yang panjang oleh yang maha kuasa,' batin Leon menatap istrinya itu.
***
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Gauri yang sadar akan tatapan Leon kepadanya.
"Aku senang bisa melihatmu seperti ini Gauri. Aku merasa melihat Gauri yang dulu lagi. Gauri yang ceria dan periang. Teruslah seperti ini, maka kamu akan cepat sembuh," jawab Leon membelai wajah sang istri.
"Terima kasih Leon. Terima kasih karena kamu telah menerimaku apa adanya. Aku mencintaimu," jawab Gauri merasa terharu.
"Aku lebih mencintaimu," jawab Leon tak mau kalah.
"Aku juga lebih mencintaimu," balas Gauri lagi.
"Dan aku lebih-lebih mencintaimu," jawab Leon kembali tak mau kalah.
"Sudah.. Sudah.. Aku menyerah. Apa aku boleh meminta sesuatu?" tanya Gauri tersenyum.
"Katakan. Apapun mau mu, aku Leon, suami yang sangat mencintai istrinya akan degan senang hati untuk memenuhinya," jawab Leon membuat Gauri merasa terharu.
"Terima kasih. Aku hanya ingin berfoto berdua denganmu. Apa kamu bersedia?" pinta Gauri membuat Leon tersenyum lebar.
"Tentu saja. Bagaimana aku menolaknya? Aku juga menginginkan hal yang sama," ujar Leon segera mengambil ponsel miliknya dan menekan aplikasi kamera untuk berfoto dengan Gauri.
"Terima kasih Leon. Aku bahagia sekali," jawab Gauri mengusap wajah suaminya itu.
"Sama-sama sayang. Aku juga bahagia sekali. Sekarang istirahatlah. Aku akan memberi makan Clara dulu," perintah Leon mengecup kening istrinya sebentar.
Sementara itu, karena belum bisa bertemu dengan Airin maupun bayi kembarnya, Liona dan Paman Sam memutuskan kembali ke rumah mereka dan akan kembali lain waktu. Sejak mengetahui fakta jika Airin masih hidup, mood Liona menjadi berubah total. Ia lebih sensitif dan mudah marah terhadap suaminya Paman Sam.
"Liona, mulai Minggu ini, setiap akhir pekan aku akan melakukan kunjungan ke luar kota selama dua hari penuh," ucap Paman Sam saat mereka duduk berdua melepas penat di ruang keluarga.
"Setiap akhir pekan? Berapa lama?" tanya Liona mengalihkan pandangannya kepada suaminya itu.
"Aku tidak tau. Setidaknya hingga perusahaan baru kita itu benar-benar berkembang pesat," jawab Paman Sam berbohong.
__ADS_1
"Baiklah, tapi ingat, jangan macam-macam," ancam Liona menunjuk suaminya itu.
"Haha.. Baiklah sayang. Aku tidak akan macam-macam. Hmmm Bagaimana jika kamu ikut setiap Minggunya denganku. Anggap saja kita liburan akhir pekan," ajak Paman Sam basa basi.
"Enggak ah. Kamu tau kan, aku paling tidak suka bepergian jauh-jauh. Apalagi menginap," jawab Liona yang sudah bisa di tebak oleh Paman Sam. Maka dari itu, Paman Sam sengaja mengajak sang istri supaya ia tidak curiga sama sekali.
"Ayolah sayang. Sekali-kali tidak apalah," ucap Paman Sam sedikit memaksa.
"Aku gak mau. Kamu aja ya yang perginya. Aku di rumah saja. Aku janji tidak akan macam-macam," jawab Liona sekali lagi menolak sembari memeluk Paman Sam.
"Huhhh baiklah. Aku tidak akan memaksamu," ucap Paman Sam senang.
'Untung saja dia tidak mau ikut. Kalau Liona ikut, bagaimana dengan Kamelia?' batin Paman Sam lega.
"Hmmm sayang," panggil Paman Sam saat Liona masih bermanja di dalam pelukan suaminya itu.
"Ya.. Kenapa?" jawab Kamelia lembut.
"Bagaimana keadaan Lyra? Apa dia sudah boleh keluar dari rumah sakit?" tanya Paman Sam mengusap kepala sang istri.
"Haha.. Ayolah sayang, jangan seperti itu. Aku hanya bertanya. Bukankah kita akan menjadikan anaknya itu sebagai anak mu dan aku. Dengan begitu, kamu tidak perlu susah-susah hamil lagi," jawab Paman Sam tertawa.
"Iya juga sih. Ya sudah, kalau gitu nanti kita ke rumah sakit. Jika kak Lyra belum boleh pulang, kita bawa saja bayinya pulang lebih dulu," balas Liona bermain-main dengan dada bidang suaminya itu.
"Hmmm, baiklah. Kalau begitu kita ke kamar dulu yuk. Aku mau mencicipi tubuh istri tercintaku ini," ajak Paman Sam menggendong Liona ala bridal style.
Sementara Paman Sam tengah mengarungi indahnya surga duniawi dengan Liona, Lyra yang semakin hari kemajuannya semakin pesat saat ini tengah berlatih berjalan bersama Pamannya dokter Dimas.
Obat dan terapi yang di berikan Pamannya dokter Dimas benar-benar manjur. Meskipun Lyra masih belum sepenuhnya berjalan dengan benar, tetapi ini sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya.
"Dokter, kalau saya keluar dari rumah sakit ini secepatnya, saya takut jika saya tidak ada kesempatan untuk berlatih berjalan seperti ini. Masalahnya, di kamar, saya selalu di dampingi oleh orang suruhan adik saya, dan dia jugalah yang bertugas untuk memberikan saya obat-obatan tersebut," ucap Lyra saat ia sedang menguji kakinya.
"Kalau masalah itu kamu tenang saja. Saya akan memperpanjang masa rawat kamu di rumah sakit ini," ujar dokter Dimas.
"Benarkah?" Kalau begitu terima kasih dokter. Saya tidak tau harus bagaimana caranya untuk membalas kebaikan dokter," balas Lyra.
__ADS_1
"Hehe gampang saja jika kamu memang ingin membalas kebaikan saya," ucap dokter Dimas tersenyum smirk.
"Bagaimana?" tanya Lyra polos.
"Menikahlah dengan saya," jawab dokter Dimas gamblang.
Sontak, mendengar jawaban dokter Dimas, Lyra langsung terdiam dan menatap dokter Dimas tak percaya.
"Haha.. Dokter jangan bercanda. Ini tidak lucu," ucap Lyra sesaat kemudian. Ia masih tidak percaya jika dokter Dimas mengatakan hal seperti itu kepadanya.
"Saya tidak bercanda Lyra. Saya serius. Jika kamu tidak keberatan, jadilah istri saya. Saya akan menikahi mu secepatnya," jawab dokter Dimas tanpa ragu sedikitpun.
"Tapi.. Tapi saya sudah memiliki seorang anak. Saya tidak pantas," jawab Lyra menunduk.
"Siapa yang mengatakan tidak pantas. Justru kamu sangat pantas. Saya akan memberi tahu kedua orang tua saya jika kamu bersedia menikah dengan saya," ucap dokter Dimas mantap.
"Maaf dokter. Saat ini saya belum kepikiran untuk menikah lagi," jawab Lyra menundukkan wajahnya.
"Baik, kalau begitu saya akan menunggu hingga kamu mempunyai pikiran untuk menikah lagi. Dan ingat, jika kamu sudah siap, segera kabari saya," ujar dokter Dimas.
Meskipun sedikit kecewa, tapi dokter Dimas tidak akan menyerah untuk mendapatkan Lyra. Malah dokter tampan itu semakin salut dengan Lyra yang tidak gampang begitu saja mengambil sebuah keputusan.
"Terima kasih dokter," jawab Lyra kembali mencoba untuk berjalan.
.
.
Di rumah sakit yang berbeda, Airin baru saja bangun dari tidurnya. Ia mendapati Gara tengah tertidur ngorok di kursi sebelah ranjangnya.
'Ya ampun, apakah dia selelah ini sehingga tidurnya ngorok?' batin Airin bertanya.
Wanita yang baru saja resmi menjadi seorang ibu itu tersenyum saat melihat wajah tampan suaminya itu.
Airin kembali teringat bagaimana sabarnya Gara saat menghadapi dan menemani dirinya sesaat sebelum lahiran. Ia juga teringat saat Gara menangis berkali-kali untuk dirinya.
__ADS_1