Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 103


__ADS_3

Liona sengaja berpura-pura gila agar ia dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Dengan begitu, Liona menjadi lebih mudah untuk melarikan diri lalu pergi mencari keberadaan Samuel. Liona sudah tidak tahan lagi berada di dalam penjara. Hampir setiap hari Liona selalu di pukuli oleh tahanan lainnya. Bahkan ia juga sering di keroyok dan di ambil jatah makanannya.


***


Namun sayang, menurut hasil pemeriksaan, Liona sama sekali tidak gila.


Polisi yang sudah mengetahui jika Liona hanya berpura-pura gila mulai menyusun rencana untuk membongkar akting Liona.


"Halo pak. Kami dari pihak kepolisian ingin memberi tahukan jika hasil kejiwaan Ibu Liona sudah keluar. Bapak bisa kesini untuk mengetahui hasilnya," ucap polisi tersebut di dalam panggilan telepon.


"Baik pak. Saya dan istri saya akan ke kantor polisi sore ini," jawab Gara yang mendapat kabar dari polisi.


Setelah mematikan panggilan dari polisi, Gara kemudian menelpon Pamannya Samuel untuk memberi tahukan kabar tersebut.


"Nanti kita akan bertemu di kantor polisi," jawab Paman Sam lalu mematikan panggilannya.


Setelah mendapat panggilan telepon dari Gara, Paman Sam yang sedang membuat surat perjanjian antara dirinya dan juga Lyra. Sementara itu, Lyra baru saja mendapatkan telepon dari dokter Dimas jika dia akan ke sana untuk membawa surat perjanjian yang akan Lyra tukar nantinya dengan surat yang di buat oleh Paman Sam.


"Lyra, apa dokter Dimas jadi kesini?" tanya Paman Sam kepada mantan istrinya itu.


"Jadi. Baru saja dia menelpon jika aku akan menjalani terapi mulai hari ini," jawab Lyra dingin.


"Ya sudah kalau begitu. Saya ada keperluan sebentar. Jika dia datang, langsung saja lakukan terapinya. Dan ini ada surat perjanjian seperti yang sudah saya katakan. Saya akan menanda tanganinya jika kamu juga menanda tanganinya nanti," jawab Paman Sam memberikan selembar kertas kepada Lyra.


"Baik, saya akan membaca isi suratnya dulu," jawan Lyra mengambil kertas tersebut.


Tak lama setelah kepergian Paman Sam, dokter Dimas kemudian datang dengan menenteng tas hitam miliknya.


"dokter Dimas, lama tak bertemu," sapa Lyra dengan senyuman termanisnya.


"Iya, rasanya lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu?" tanya dokter Dimas membalas senyuman Lyra.

__ADS_1


"Dokter mari masuk. Tapi sebelumnya saya mau mengatakan jika rumah ini di lengkapi cctv, lalu bagaimana caranya kita menukar surat perjanjian itu?" ucap Lyra cemas.


"Kamu tenang saja. Saya sudah menduga dan merencanakan semuanya. Ya sudah, sekarang kita mulai saja terapinya biar pak Sam tak curiga," jawab dokter Dimas.


Disaat dokter Dimas dan Lyra tengah berlatih untuk berjalan, Paman Sam pun akhirnya pulang.


"Selamat sore dokter," sapa Paman Sam melempar senyumnya.


"Ah iya, selamat sore pak. Baru pulang pak?" jawab dokter Dimas memberi salam.


"Iya saya baru pulang. Oh ya bagaimana dengan Lyra? Apa bisa di sembuhkan?" tanya Paman Sam.


"Ah, semoga saja pak. Saya akan usahakan yang terbaik," jawab doker Dimas masih menyembunyikan kesembuhan Lyra.


"Baiklah kalau begitu mohon di usahakan ya dokter, karena sebentar lagi kami akan segera menikah. Iya kan Lyra," ucap Paman Sam mengedipkan matanya kepada Lyra.


"Baik pak. Saya akan usahakan," jawab dokter Dimas.


"Hhhmmm maaf pak sebentar, maaf jika saya mengganggu. Ini ada beberapa data pasien yang harus bapak tanda tangani atas nama Ibu Lyra. Kemarin waktu anak buah bapak menjemput Ibu Lyra, beliau belum sempat menanda tangani berkas-berkas ini pak," ucap dokter Dimas memberikan beberapa lembar kertas rumah sakit, dan di antaranya terdapat surat pernyataan mengenai pengalihan seluruh harta yang dimiliki oleh Paman Sam atas nama Lyra.


"Oh tidak masalah, memang kemaren anak buah saya tergesa-gesa karena ada pekerjaan lainnya. Jadi, mana saja yang harus saya tanda tangani dokter?" jawab Paman Sam tanpa rasa curiga sama sekali.


"Ah, ini pak. Silahkan di baca dulu berkas-berkasnya sebelum di tanda tangani," ucap dokter Dimas sengaja membuat Paman Sam tidak curiga.


"Tidak usah.. Tidak usah. Hanya berkas rumah sakit saja. Toh ini sudah ada kop surat dan juga materai nya," balas Paman Sam langsung membubuhkan tanda tangannya di setiap lembar kertas tersebut tanpa membaca bagian halaman belakangnya.


'Huh,, untung saja dia tidak membaca isi suratnya,' batin dokter Dimas berkeringat dingin.


"Hehe, iya pak," jawab dokter Dimas merasa lega.


"Sudah. Kalau begitu saya permisi dulu ya," ucap Paman Sam yang sudah lelah.

__ADS_1


"Baik, terima kasih pak, selamat beristirahat," balas dokter Dimas sedikit menunduk.


"Dokter Dimas, apa Samuel sudah menanda tanganinya?" tanya Lyra khawatir.


"Sudah, semua beres. Sekarang seluruh harta mantan suamimu telah resmi menjadi milik mu. Selamat ya Lyra. Surat ini biar aku simpan dulu. Aku akan membuatkan salinannya dan menyimpan yang aslinya. Sekarang ayo berlatih lagi. Siapa tau saja suamimu tengah memantau kita dari cctv rumah ini," jawab dokter Dimas kembali fokus ke kaki Lyra.


"Baik kalau begitu. Aku akan berpura-pura untuk belajar berjalan lagi," jawab Lyra berjalan dengan tertatih-tatih.


Benar saja apa yang di ucapkan dokter Dimas, setibanya di kamar, Paman Sam langsung membuka ponselnya dan memantau seluruh pergerakan Lyra dan juga dokter itu.


"Kamu memang bisa menjaga mata dan juga hatimu Lyra. Bodohnya aku waktu itu bisa masuk ke dalam rayuan adikmu Liona," ucap Paman Sam memantau Lyra dari ponsel miliknya.


Di sana terlihat jelas jika Lyra sama sekali tak tertarik kepada dokter tampan itu. Ia selalu menundukkan pandangannya dari dokter tersebut.


Sementara itu, di kantor polisi, sesuai rencana polisi, Gara, Airin dan juga Paman Sam. Mereka akan mengikuti setiap permainan Liona. Dengan rencana yang sempurna, maka besok, pihak polisi akan membawa Liona ke rumah sakit jiwa sebagai salah satu dari rencana mereka untuk mengungkap kebohongan Liona yang berpura-pura gila.


'Yes, besok aku akan di bawa ke rumah sakit jiwa. Setibanya di sana, akan mudah bagiku untuk kabur dan mencari menemui Yuta. Aku yakin, laki-laki mata keranjang itu pasti mau membantuku dengan memberikan tubuhku sebagai bayarannya,' batin Liona merasa senang.


Keesokan harinya, Gara, Airin, dan juga Paman Sam sudah berkumpul di kantor polisi.


Tak lama kemudian, Liona yang berpura-pura gila itupun akhirnya dibawa bertemu dengan mantan suaminya Paman Sam, beserta Gara dan juga Airin.


Melihat mereka bertiga, Liona kembali berpura-pura gila dan berusaha mencakar dan menjambak rambut Airin.


'Mampus kamu Airin, emang enak dijambak,' batin Liona senang.


Setelah memisahkan Liona dan juga Airin, polisi pun memutuskan untuk segera membawa Liona ke rumah sakit jiwa. Setibanya di sana, polisi dan petugas rumah sakit sengaja memasukkan Liona ke dalam kamar yang isinya penuh dengan orang gila dan meninggalkannya sendirian.


Awalnya Liona merasa tenang saat orang-orang gila itu masih sibuk dengan aktifitasnya, namun lama kelamaan, mereka mulai mendekati Liona dan menjahilinya.


Seketika Liona berteriak histeris dan ia mengakui jika dirinya tidak gila berkali-kali.

__ADS_1


Sontak polisi dan yang lainnya mengambil kesimpulan jika Liona hanya berpura-pura gila.


__ADS_2