
Dokter dan perawat yang melihat Gara berbicara pada layar monitor itupun hanya tersenyum geleng-geleng kepala sembari menatap Airin.
"Mas ngapain? Mereka ada di perutku, bukan di dalam layar itu," ucap Airin menegur Gara yang masih saja berbicara dengan calon bayi kembarnya itu.
***
"Oh iya, maafkan aku sayang," jawab Gara cengengesan.
Sementara itu, Leon yang masih berjuang untuk mencari alpukat kocok tiba-tiba saja ponsel miliknya berdering. Seketika ia menepikan untuk mengangkat panggilan dari nomor baru tersebut.
"Halo? Siapa ini?" tanya Leon saat panggilan itu telah terhubung.
"Ini aku, Ibu kandung Clara," jawab suara wanita dari seberang telepon.
"I.. Ibu... Ibu kandungnya Clara? Berarti kau.. Kau kenal denganku?" tanya Leon kaget.
"Haha.. Leon.. Leon.. Kau ini memang bodoh sekali. Jika aku tidak kenal kamu, mana mungkin bisa ada Clara di antara kita berdua," jawab wanita tersebut menertawai Leon.
"Ahh, iya. Kau benar. Siapa kamu sebenarnya? Bisakah kita bertemu? Aku janji akan bertanggung jawab atas semua kelakuanku," ucap Leon tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berbicara dengan ibu kandung Clara.
"Kau bilang apa? Kau mau bertanggung jawab?" tanya wanita itu memastikan.
"Ya, aku akan bertanggung jawab," jawab Leon yakin.
"Haha.. Leon.. Leon.. Bagaimana caranya kau akan bertanggung jawab?" ucap wanita itu tertawa dan memberikan Leon pertanyaan.
"Aku akan menikahi mu dan kita akan sama-sama membesarkan Clara," jawab Leon tanpa pikir panjang.
Leon memang berkata apa adanya. Ia telah berjanji jika suatu saat nanti dirinya bertemu dengan ibu kandung Clara, maka ia akan menikahi wanita itu, dan benar saja. Ternyata Leon menepati janjinya.
"Aku sama sekali tidak yakin jika kau akan mau menikah denganku," jawab wanita itu membuat Leon semakin penasaran dengan ibu kandung Clara tersebut.
"Kenapa? Bukankah kau adalah ibu dari anakku? Sudah seharusnya aku menikahi dan kita akan merawat Clara bersama, hingga kita hidup menua nanti dan melihat Clara menikah dengan laki-laki pilihannya," ucap Leon dengan yakin sekali.
Saat Leon mengatakan hal tersebut, kilas-kilas terdengar seperti suara seorang wanita yang menahan tangisnya. Hal itu membuat Leon tak tahan untuk bertanya apa yang sedang di tangis kan oleh wanita itu.
"Apa aku salah bicara? Kenapa aku mendengar jika kau berusaha menahan tangis mu? Apa yang terjadi?" tanya Leon semakin penasaran dengan wanita itu.
"Tidak.. Tidak ada apa-apa. Ya sudah, aku akan mematikan teleponnya. Aku akan menghubungimu lain kali. Tolo jaga Clara baik-baik," ucap Ibu kandung Clara kemudian mematikan panggilannya sepihak.
"Halo.. Halo..," ucap Leon masih berharap jika panggilan tersebut masih terhubung.
"Sial. Wanita itu benar-benar membuatku gila," ucap Leon lalu melajukan mobilnya kembali.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, akhirnya perjuangan Leon ada hasilnya.
Ia berhasil menemukan alpukat kocok pesanan Airin.
Tak pikir panjang, Leon langsung menepikan mobilnya dan membeli alpukat kocok dengan berbagai macam toping.
"Sepertinya enak juga nih makanan, aku juga mau ah," ucap Leon memesan dua buah alpukat kocok.
Satu untuknya dan satu untuk Airin.
Setelah pesanannya jadi, Leon segera ke rumah sakit untuk menjemput Gara dan juga Airin, sekalian memberikan pesanan Airin.
"Wah, makasih Leon, enak nih kayaknya," ucap Airin mengambil alpukat tersebut dari tangan Leon.
"Satu lagi buat siapa Leon? Buatku ya?" ucap Gara saat akan mengambil satu cup alpukat kocok dari tangan Leon.
"Enak saja. Ini milikku. Aku membelinya dua karena kelihatannya sangat enak," jawab Leon menjauhkan makanannya dari Gara.
"Sialan kau Leon," ucap Gara kesal.
"Sudah, jangan berebut. Ini minta punyaku saja," jawab Airin menyodorkan miliknya.
"Tapi ini punyamu sayang," jawab Gara menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Apa? Kalau tau begitu, aku tidak akan membelinya jauh-jauh," ucap Leon kesal.
"Haha.. Rasain, emang enak," balas Gara mencemooh.
.
.
.
Dibelahan dunia lainnya, seorang wanita kini tengah terbaring lemah di rumah sakit. Tak hanya wajahnya, bahkan seluruh tubuhnya pucat seperti mayat hidup.
Wanita yang sebenarnya kelihatan cantik itu terus menatap keluar jendela kamar rawat inapnya itu.
"Mami merindukanmu nak. Bagaimana keadaanmu sekarang?" ucap wanita itu sambil terus meneteskan air mata.
"Jangan menangis kak. Dia pasti akan baik-baik saja bersama daddy nya. Kakak fokus saja dulu pada kesehatan kakak. Ingat kakak harus bertahan demi nya," ucap seorang adik yang sedang berusaha menguatkan kakaknya.
"Tapi sampai kapan? Kamu tau? Tadi kakak telah menghubunginya, dia bilang, jika kita bertemu, maka kita akan menikah dan hidup menua bersama membesarkan Clara. Kenapa baru sekarang dia mengatakan itu? Kenapa di saat kakak sehat dan tergila-gila padanya, dia begitu benci dan acuh pada kakak? Apa yang harus kakak lakukan? Kenapa penyakit ini mesti ada di dalam tubuh kakak?" ujar Gauri berlinangan air mata.
__ADS_1
"Baik, kalau begitu kuncinya hanya satu, kakak harus sembuh agar impian kakak untuk bersama Leon bisa terpenuhi. Aku yakin kakak pasti akan sembuh," ucap Selin menyemangati kakaknya itu.
"Tapi kakak tidak yakin dek," jawab Gauri menangis.
'Aku harus ambil jalan sendiri. Ini semua demi kebaikanmu kak. Maafkan aku,' batin Selin menatap pilu sang kakak yang kini tengah menderita kanker otak
"Hmmmm kak.. Aku mau keluar sebentar membeli makan. Kakak tidak apa-apakan jika aku tinggal sebentar," ucap Selin berbohong.
"Iya tidak apa-apa. Pergilah dan cepat kembali," jawab Gauri memberi izin. Ia sama sekali tidak curiga kepada adik satu-satunya itu.
Setelah meninggalkan ruangan kakaknya, Selin segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Leon melalui panggilan telepon.
"Maafkan aku kak," gumam Selin sebelum panggilan itu terhubung.
"Halo, ini aku Selin, Tantenya Clara, adik dari Ibu Clara," ucap Selin dengan nada dingin.
"Selin? Tante Clara?" ucap Leon yang saat ini baru saja tiba di rumah.
"Ya, apa aku bisa bicara denganmu?" tanya Selin masih di dalam telepon.
"Bisa.. Bisa. Sangat bisa. Bahkan aku juga ada yang ditanyakan kepadamu," jawab Leon cepat.
"Baiklah. Kau duluan. Apa yang mau tanyakan kepadaku?" tanya Selin memberikan kesempatan kepada Leon dahulu karena ia sendiri bingung harus memulainya dari mana.
"Begini, aku ingin tau siapa sebenarnya ibu kandung Clara. Dimana aku bisa menemuinya? Aku mohon beritahu aku. Aku ingin menebus semua kesalahan dan perbuatan ku kepadanya," ucap Leon tak menyia-nyiakan kesempatan.
"Apa kau benar ingin menemui dan bertanggung jawab atas semua perbuatan mu itu?" tanya Selin memastikan.
"Ya, aku sangat yakin," jawab Leon cepat.
"Apa kau akan menerima apapun keadaannya saat ini?" tanya Selin memastikan. Ia takut jika Leon akan mundur jika sudah mengetahui sebenarnya bagaimana keadaan kakaknya Gauri.
"Aku janji, aku akan menerima apapun keadaannya. Bagaimanapun kondisinya," jawab Leon sangat yakin.
"Baiklah, akan aku katakan sekarang juga. Maminya Clara saat ini ada di salah satu rumah sakit di Singapore. Jika kau ingin menemuinya, kau bisa mengabari ku dan aku akan senang hati untuk mengantarmu menemuinya," ucap Selin sangat-sangat berharap jika Leon akan menemui kakaknya di rumah sakit.
"Baik, besok aku akan berangkat ke Singapore. Setelah tiba di sana aku akan menghubungimu," jawab Leon setelah berfikir sesaat.
"Baik, aku akan menunggumu di sini. Tapi, jangan lupa bawa Clara. Aku yakin kakakku pasti akan sangat senang jika bertemu dengan Clara," ucap Selin mengingatkan Leon.
"Baik, dengan senang hati," jawab Leon yang merasa lega karena sudah mulai ada titik terangnya.
"Ternyata Maminya Clara bekerja di rumah sakit Singapore. Hebat juga dia," gumam Leon pada dirinya sendiri.
__ADS_1