Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 116


__ADS_3

"Ah, maafkan aku Siti. Kamu seperti tidak tau saja. Seperti biasa, aku di panggil ke ruangan Ustadz Gibran karena aku melamun di jam pelajarannya," jawab Kamelia berbohong.


"Hhhhh, Kamelia.. Kamelia.. Kenapa sih kamu hobinya melamun terus. Emang gak capek apa di panggil ke ruangan guru terus," balas Siti menggelengkan kepalanya.


***


"Selamat ya Lyra, sekarang kamu sudah resmi menjadi menantu di rumah ini. Mulai sekarang jangan panggil Ibu lagi, panggil saja mama, sama seperti Dimas," ucap Ibu Aisyah memberikan selamat kepada wanita yang kini telah resmi menjadi menantunya itu.


"Terima kasih ma," jawab Lyra juga sangat bahagia sekali.


"Selamat ya Lyra, semoga kamu menemukan kebahagiaan yang selama ini kamu cari," ucap Emanuel kepada mantan adik iparnya.


"Amin.. Terima kasih kak. Terima kasih telah bersedia hadir di acara pernikahan saya ini," jawab Lyra menyalami mantan kakak iparnya itu.


"Selamat ya Lyra, kakak senang melihat kamu bahagia seperti ini," ucap Lena memeluk Lyra.


"Terima kasih kak. Aku senang kakak bisa hadir di pernikahanku," jawab Lyra membalas pelukan Lena.


Acara pernikahan antara Lyra dan juga dokter Dimas berjalan dengan sebagai mana mestinya. Kedua pasangan pengantin itu sangat bahagia sekali. Lyra tak menyangka jika dia akan berada di titik saat seperti ini.


***


Sementara itu, Leon dan juga Selin sudah kembali pulang ke apartemen mereka, bahkan saat ini Leon sudah kembali bekerja seperti biasanya. Setiap akhir pekan, ia, Selin dan juga Clara akan pergi mengunjungi makan Gauri untuk menabur bunga.


Hubungannya dengan Selin semakin lama semakin membaik. Leon menjalankan tugasnya sebagai suami yang baik, begitu juga dengan Selin. Hanya saja, nafkah batin dan cinta yang belum mereka dapatkan satu sama lain.


Entah angin apa yang merasuki Leon, tiba-tiba saja laki-laki anak satu itu ingin sekali mengikuti pengajian yang berada di masjid yang dekat kantornya.


Saat ia mendengarkan tausiah dari sang Ustadz, Leon pun sadar jika apa yang ia lakukan kepada Selin saat ini adalah dosa dan kesalahan besar.

__ADS_1


Saat acara pengajian selesai, Leon pun memutuskan untuk berkonsultasi kepada Ustadz yang mengisi acara pengajian tersebut secara pribadi.


"Maaf Ustadz, saya mau bertanya. Apakah Ustadz punya waktu sebentar saja untuk menjawab pertanyaan saya?" tanya Leon kepada sang Ustadz. Saat itu semua jemaah telah pulang. Hanya tinggal mereka berdua yang berada di dalam masjid tersebut.


"Boleh, silahkan, anda mau bertanya apa?" jawab sang Ustadz kembali duduk berhadapan dengan Leon.


"Begini Ustadz, saya baru saja kehilangan istri tercinta saya. Dia meninggal karena sakit kanker stadium akhir. Beberapa jam sebelum kematian istri saya, dia meminta cerai dan menyuruh saya menikahi adik kandungnya. Karena dia mengatakan jika ini permintaan terakhirnya, dengan berat hati saya pun mengikuti permintaannya itu. Saya menalak dirinya dengan beberapa orang saksi dan langsung menikahi adiknya saat itu juga di hadapannya atas keinginannya. Dan benar saja, tak lama setelah itu, istri saya akhirnya benar-benar pergi meninggalkan kami semua. Pertanyaan saya, apakah saya berdosa jika sampai saat ini saya belum menyentuh istri baru saya ini? Saya melakukannya karena saya belum siap dan saya tidak mencintainya Ustadz. Bagaimana menurut Ustadz?" jawab Leon menjelaskan permasalahan dalam rumah tangganya.


"Begini, nafkah batin adalah kewajiban untuk suami dan juga kewajiban untuk istri. Nafkah batin juga merupakan hak untuk suami dan juga hak untuk istri.


Jika anda tidak mau menyentuh istri anda dengan alasan tidak cinta atau lain sebagainya, itu sama saja anda melalaikan tugas anda sebagai seorang suami. Dan hukum untuk suami yang lalai adalah dosa besar. Maka dari itu, saran saya sebaiknya perbaiki hubungan anda dengan sang istri. Perbanyak waktu untuk dekat dengannya dan tunaikan kewajiban anda memberikan nafkah batin untuk sang istri. Begitu juga dengan sebaliknya, sang istri juga akan berdosa jika dia melalaikan tugasnya sebagai seorang istri dan hukumnya dosa. Saya rasa cukup sampai disitu," jawab Ustadz tersebut menjelaskan semuanya dari segi agama kepada Leon.


"Terima kasih atas pencerahannya Ustadz. Saya akan mencoba memperbanyak waktu saya dengan istri dan akan saya segerakan nafkah batin saya untuknya. Sekali lagi terima kasih Ustadz. Saya permisi dulu," balas Leon lalu kembali ke kantornya.


.


.


"Aku baru saja menghadiri pengajian rutin di masjid dekat dengan kantor kita," jawab Leon membuat Gara terperangah.


"Apa? Pengajian? Sejak kapan laki-laki malam sepertimu ini masuk ke dalam masjid? Apa yang membuatmu melakukannya?" tanya Gara meledek sahabatnya itu. Ia sengaja melakukan itu agar Leon tidak larut dalam kesedihannya.


"Hai, kamu bilang aku laki-laki malam?" protes Leon kepada sahabatnya itu.


"Memang benar kan? Apa kamu lupa, dulu hampir setiap malam kamu keluyuran di bar-bar dan juga di diskotik untuk berburu wanita-wanita cantik," jawab Gara yang saat ini sudah berada di dalam ruangannya.


"Lalu apa kabar dengan kamu ha? Apa kamu tidak sadar, kamu itu juga laki-laki malam. Sama sepertiku," ucap Leon menghempaskan tubuhnya di sofa empuk ruangan Gara.


"Haha.. Aku ini bukan laki-laki malam," jawab Gara tertawa.

__ADS_1


"Lalu?" tanya Leon menaikkan satu alisnya.


"Aku ini laki-laki pecinta wanita. Aku hanya kasihan kepada wanita-wanita yang bekerja setiap malam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Maka dari itu, aku memutuskan untuk membantu mereka setiap malamnya," jawab Gara dengan bangganya.


"Cih.. Alasan macam apa itu?" tanya Leon smirk.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku Leon. Kenapa kamu tiba-tiba menghadiri pengajian itu?" tanya Gara kembali ke laptop, eh kembali ke topik pembicaraan mereka sebelumnya😂😂


"Hmmm itu, aku sengaja menghadirinya karena aku ingin bertanya sesuatu kepada Ustadz nya," jawab Leon meminum minuman yang sudah tersedia di atas meja tersebut.


"Bertanya apa? Apa kamu menanyakan hukumnya berpoligami?" ucap Gara menerka-nerka.


"Poligami apaan? Aku ini laki-laki setia," jawab Leon sinis.


"Lalu bertanya tentang apa?" tanya Gara benar-benar penasaran.


"Itu, apa hukumnya jika kita sudah menikah lagi, namun sampai saat ini kita belum memberikan nafkah batin kepada sang istri. Setiap hari aku selalu terpikirkan masalah itu. Aku jadi tidak tenang jadinya," jawab Leon membuat Gara tercengang.


"Apa? Jadi sampai saat ini kamu belum menyentuh Selin sama sekali?" tanya Gara memastikan apa yang baru saja ia dengarkan.


"Ya, itu benar. Aku bahkan belum mencintainya," jawab Leon menarik nafas kasar.


"Ya ampun Leon. Bagaimana bisa kamu menjadi sebodoh ini? Selin itu cantik, dan bodinya juga....," ucapan Gara terputus saat ia akan membicarakan tentang bodi Selin dengan menggambarkan gitar spanyol menggunakan gerakan isyarat.


"Apa kamu sedang membayangkan tubuh istriku?" tanya Leon merasa sakit hati.


"Hai, kenapa kamu marah? Apa kamu merasa sakit hati dan tak terima?" jawab Gara kembali bertanya.


"Jelas aku tak terima dan sakit hati sekali," jawab Leon spontan.

__ADS_1


"Itu berarti kamu sudah mencintainya. Mulai malam ini, berikan hak nya yang selama ini kamu tahan. Dia itu juga manusia, punya hasrat dan keinginan. Apa lagi dia masih muda. Pasti rasa ingin taunya sangat tinggi," jawab Gara sedikit tidak menyambung.


__ADS_2