Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 144


__ADS_3

"Sialan kalian. Kalian bertiga juga, kenapa kalian harus membawa polisi untuk menemui ku ha? Kalian ini memang bodoh, tak bisa di andalkan," teriak Selin kepada ketiga orang suruhannya itu.


"Maaf Bu, kami terpaksa melakukannya, karena kami sudah tertangkap lebih dulu. Mau tak mau, kami harus memberi tahukannya karena Ibu tiba-tiba menelpon ke nomor saya," jawab salah satu dari dari ketiga maling itu.


***


"Sia-sia aku bayar kalian mahal-mahal. Dasar bodoh," umpat dokter Sinta lalu ia langsung di giring ke kantor masuk ke dalam mobil polisi.


Tak lama kemudian, Sinta dan para maling itu akhirnya tiba di kantor polisi, disitu sudah ada Emanuel yang sudah menunggu kedatangan Sinta.


Saat Sinta di bawa turun dari mobil. polisi, ia langsung di pertemukan dengan Emanuel, papanya Gara.


"Selamat sore pak, ini Sinta. Beliaulah yang memerintahkan ketiga tersangka tadi untuk menculik cucu kembar bapak," ucap polisi tersebut kepada Emanuel.


"Oooo, jadi ini, anak dari pemilik rumah sakit XX yang terkenal itu. Apa jadinya ya jika saya memberi tahukan kepada media tentang kelakuan anak dari rumah sakit yang memiliki citra sangat baik di negara ini?" ucap Emanuel membuat Sinta kesal.


"Silahkan saja, keluarga saya bisa membayar media untuk membungkam mulut mereka," jawab Sinta tanpa rasa bersalah.


"Oh ya? Haha.. Sinta.. Sinta.. Masih muda saja sudah licik, bagaimana tua nya nanti.


Pantas saja anak saya menolak cinta mu waktu itu," ejek Emanuel membuat Sinta semakin kesal.

__ADS_1


"Itu namanya bukan licik. Itu adalah kelebihan orang yang banyak uang. Anda lihat saja, dalam hitungan jam, saya akan keluar dari rumah sakit ini," jawab Sinta yang dengan sombongnya. Ia tak tau, sehebat apa Emanuel dulunya.


"Haha, Sinta.. Sinta.. Saya, Emanuel, saya sendiri yang akan memastikan jika kamu membusuk di dalam penjara ini. Kamu ini baru anak kemarin sore yang hidup dengan harta orang tua. Lalu, apa yang akan terjadi pada dirimu jika orang tua yang kamu bangga-banggakan itu tidak dapat lagi di andalkan?" tanya Emanuel dengan tatapan dinginnya.


"Kita lihat saja nanti," jawab Sinta kesal.


Tak lama kemudian, kedua orang tua Sinta datang menemui anaknya tersebut. Mereka tau, karena di beri tahukan oleh polisi mengenai penangkapan putrinya itu.


Dengan langkah tergesa-gesa, pasangan suami istri yang sudah cukup berumur itu kemudian masuk dan menghampiri Sinta. Saat Sinta akan memeluknya, mamanya lebih dulu melayangkan tamparannya kepada gadis cantik tersebut.


"Awww sakit. Kenapa mama menamparku?" tanya Sinta sembari menggosok pipinya yang terasa panas dan juga perih.


"Itu karena kamu telah membuat ulah Sinta. Kamu tau, akibat kelakuan kamu itu, kami kehilangan rumah sakit yang menjadi kebanggaan dalam keluarga kita selama bertahun-tahun," jawab Ningsih, mamanya Sinta.


Sinta tidak tau, Emanuel telah bergerak cepat untuk mencari tau semua tentang Sinta. Emanuel bahkan juga mempunyai video-video panas Sinta dengan beberapa orang dokter yang bekerja di rumah sakit milik nya itu.


Emanuel juga tau jika Sinta sengaja menjebak dokter-dokter tersebut untuk kepentingan dirinya sendiri.


Dari video-video itulah, Emanuel menekan kedua orang tua Sinta untuk segera menjual rumah sakit XX kepada dirinya. Ia mengancam akan menyebar luaskan video panas putrinya yang merayu seluruh dokter-dokter tersebut untuk melakukan hubungan badan dengan dirinya.


Karena tak mau menanggung malu, kedua orang tua Sinta terpaksa menuruti keinginan Emanuel demi reputasi dan nama baiknya.

__ADS_1


"Jangan pura-pura bodoh Sinta, papa tau kamu merayu setengah dari dokter yang bekerja di rumah sakit kita untuk melakukan hubungan badan dengan dirimu dan merekam perbuatan tak senonoh mu itu, lalu menggunakan video tersebut untuk kepentingan pribadi mu. Iya kan Sinta?" ucap Suardi, papanya Sinta yang sudah di kuasai amarah dan emosi.


"Itu semua gak benar pa. Papa jangan percaya dengan laki-laki ini," jawab Sinta menunjuk wajah Emanuel. Ia masih saja mencoba berbohong untuk menutupi semua kesalahannya agar kedua orang tuanya bisa membantu dirinya untuk bebas dari penjara.


"Kamu tidak usah berbohong lagi. Papa sudah melihat semua buktinya dengan mata kepala papa sendiri," jawab Suardi menatap tajam putrinya.


"Maafkan aku pa. Aku janji gak akan mengulanginya lagi. Pa sekarang aku mohon pa, tolong bantu aku keluar dari kantor polisi ini. Aku mohon pa. Aku gak mau membusuk di penjara ini," mohon Sinta yang akhirnya mengakui semua kesalahannya.


"Hhhh, papa sama mama tidak akan membantumu untuk bebas di dari sini, biarkan saja, kamu membusuk dan mempertanggung jawabkan semua kelakuan mu selama ini. Kami sebagai orang tua benar-benar telah salah mendidik mu," jawab Suardi hendak pergi meninggalkan Sinta di kantor polisi.


"Pa, Ma tunggu, jangan pergi. Tolong lepasin Sinta dari sini pa, ma," teriak Sinta hendak mengejar kedua orang tuanya, namun sayang, dengan cepat polisi langsung memeganginya.


"Sudahlah Sinta. Saya bilang apa, kamu akan membusuk di penjara ini. Jangan pernah main-main dengan saya ataupun dengan keluarga saya," ucap Emanuel menampakkan taringnya lalu ia pergi meninggalkan Sinta di kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan kelakuannya.


Sementara itu, Leon baru saja tiba di apartemen miliknya. Sebenarnya ia sudah pulang sedari tadi, namun ia tiba-tiba teringat dan rindu sekali dengan mendiang mantan istrinya Gauri. Leon kemudian memutuskan untuk mengunjungi Gauri dan menabur mawar di atas pusaranya. Leon juga menyempatkan waktunya untuk bercerita sejenak dan tak lupa juga mengirimkan doa untuk Gauri, cinta sejatinya.


"Selin," panggil Leon kepada istri kecilnya itu.


Karena tak mendapat jawaban, ia kemudian terus masuk dan ternyata, Selin tengah memandikan Clara di kamar mandi. Melihat kedekatan dan ketulusan Selin kepada Clara, Leon merasakan kehangatan dan kedamaian. Ia tak menyangka jika akan memiliki keluarga kecil yang indah seperti ini.


'Terima kasih aku ucapkan padamu Gauri, bahkan disaat detik-detik kehidupan mu, kamu masih memikirkan kebahagiaan kami yang tinggal. Kamu memang wanita sempurna, dan kamu juga menjadikan adikmu yang nakal itu wanita sempurna sama seperti dirimu. Tenanglah di alam sana Gauri sayang. Kelak, suatu saat nanti kita akan kembali berkumpul bersama sebagai keluarga yang bahagia,' batin Leon dengan mata tang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kak, kakak kenapa? Kakak menangis?" tanya Selin yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapan suaminya itu.


"Ah, tidak sayang, aku hanya teringat kepada Gauri. Aku bersyukur sekali mengenalnya dan memiliki anak dari dirinya. Dia wanita yang begitu sempurna, bahkan di saat-saat nafas terakhirnya di dunia ini, dia masih memikirkan kebahagiaan kita semua," jawab Leon tak menutupi rasa kagum dan rindunya kepada Gauri.


__ADS_2