
"Apa? Kau bilang kapanpun aku mau? Kau tau, susah sekali untuk merayu istri kecilku itu. Dia itu berbeda dengan wanita-wanita di luaran sana," balas Gara masih dengan raut muka yang masam dan kesal.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memutar waktu kembali, atau aku yang harus menggantikan mu di dalam sana?" jawab Leon membuat Gara membelalakkan matanya.
"Apa maksudmu? Kau mau menggantikan aku? Hmmm? Enak sekali kau bicaranya," jawab Gara kembali berapi-api. Ia paling tidak suka jika ada laki-laki yang menurutnya akan merebut Airin dari dirinya.
***
"Aku hanya becanda. Maafkan aku. Sudah, kau jangan marah-marah lagi. Aku pergi saja," ucap Leon berbalik meninggalkan Gara yang masih berdiri di pintu kamarnya.
"Hai kau mau kemana? Tadi kau ada keperluan apa mengetuk pintu kamarku? Cepat katakan," ucap Gara menanyakan tujuan Leon mengetuk pintu kamarnya.
"Itu, aku mau demo padamu," jawab Leon kembali berbalik ke arah Gara dan menatap sahabatnya itu dengan tatapan marah dan nafas yang menggebu-gebu.
'Aku harus tampil sangar kali ini. Akan ku tunjukkan wajah marahku pada laki-laki cassanova ini. Kalau tidak, bisa-bisa tidak bisa jajan aku malam harinya,' batin Leon yang masih menatap Gara dengan tatapan marah yang di buat-buatnya.
"Kau mau demo? Demo apa?" tanya Gara heran.
"Kau jangan pura-pura tidak tau. Kali ini aku akan benar-benar marah padamu," jawab Leon berkacak pinggang dan mata yang ia besar-besarkan.
"Marah? Harusnya aku yang marah padamu, dan lagian aku salah apa Leon?" tanya Gara mulai frustasi. Ia benar-benar tidak tau harus berbuat apalagi kepada sahabatnya yang satu ini.
"Kenapa kau? Akulah. Aku tidak terima jika kau memotong gaji ku sembilan puluh persen bulan nanti. Kau tak lihat, aku sudah memiliki anak dan itu artinya biaya hidupku jadi bertambah. Kau jangan semena-mena ya kepadaku. Aku kurang apa Gara, kenapa kau begitu tega? Hiks.. Hiks," jawab Leon dengan akting menangis dan marahnya.
Gara terdiam mendengar ocehan dan protes Leon kepadanya. Gara yang lemot kembali mencerna ucapan Leon hingga di persekian detik ia benar-benar frustasi dan kesal melihat sahabatnya itu.
"Jadi kau merusak momen ku dengan Airin karena hanya ingin protes gaji mu yang ku potong sembilan puluh persen?" tanya Gara gemas.
"Ya, kau benar. Aku tidak terima jika gaji ku kau potong sembilan puluh persen. Memangnya aku melakukan kesalahan apa? Semena-mena sekali kau," jawab Leon dengan nafas yang menggebu-gebu.
"Ya ampun Leon. Bahkan aku saja lupa jika aku pernah mengatakan hal itu kepadamu. Kau benar-benar telah merusak momen ku dengan aksi demo mu yang dama sekali tidak bermutu itu," jawab Gara kesal dengan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Jadi..? Jadi kau tidak berniat memotong gaji ku sembilan puluh persen?" tanya Leon salah tingkah. Kali ini jantungnya benar-benar berdegup sangat kencang. Ia takut jika Gara akan balik demo dan benar-benar memotong gajinya.
"Ya, tadinya aku lupa, tapi kau telah mengingatkan ku dan merusak momen paling berharga ku dengan Airin. Jadi aku sudah putuskan bulan depan tidak akan memberikan gaji mu sepersen pun. Terserah kau mau demo kek, mau nangis guling-guling kek, mau apa kek.. BODO AMAT," ucap Gara kemudian berbalik masuk ke dalam kamarnya lalu membanting pintu kamarnya.
"Huaaaaaaa tega sekali kau Gara. Aku benar-benar terzalimi.. Hiks.. Hiks..," mewek Leon sembari mengucek-ngucek air matanya yang benar-benar keluar karena gajinya yang di potong seratus persen.
Gara yang sudah masuk kamar langsung menghampiri Airin yang kini sudah berpakaian lengkap.
"Leon kenapa? Kudengar kalian sepertinya berkelahi lagi?" tanya Airin sambil menyisir rambut panjangnya.
"Kami bukan hanya berkelahi, aku bahkan memotong gajinya seratus persen untuk bulan depan," jawab Gara menghembuskan nafasnya kasar.
"Kamu memotong gajinya? Kenapa?" tanya Airin penasaran.
"Karena dia mengganggu momen berharga ku," jawab Gara bermain dengan rambut Airin.
"Ya siapa tau dia ada keperluan denganmu mas. Seperti masalah kantor gitu?" jawab Airin.
"Kenapa? Dia melakukan kesalahan? Tapi kenapa di potongnya begitu besar sekali?" tanya Airin penasaran.
"Aku saja bahkan lupa dengan potongan gaji tersebut. Karena dia mengingatkan ku dan mencari masalah denganku, ya sudah, aku potong saja gajinya seratus persen," jawab Gara menjelaskan kepada istrinya.
Mendengar penjelasan Gara, Airin hanya bisa geleng-geleng kepala. Sudah terlalu sering Airin melihat mereka berkelahi hanya karena masalah kecil seperti ini.
.
.
.
Dipekarangan rumah Gara, tepatnya di sudut taman, seorang pengawal tengah melakukan panggilan telepon dengan cara mengendap-endap.
__ADS_1
Pengawal itu tampak celingak-celinguk melihat keadaan sekitarnya. Ia takut jika seseorang akan mencurigai dan mendengar percakapannya.
Sedangkan dari lantai dua kamar itu, Gara yang sedang berdiri di balkon melihat pengawal itu.
'Pengawal itu? Mencurigakan sekali dia. Dengan siapa dia menelpon, kenapa gayanya seperti itu?' batin Gara dengan banyak pertanyaan. Ia terus saja mengawasi gerak gerik pengawal tersebut.
Saat si pengawal telah selesai menelpon dan kembali ke tempat ia berjaga, Gara segera masuk dan berjalan meninggalkan kamarnya begitu saja.
"Mau kemana kamu mas?" tanya Airin melihat Gara yang terburu-buru.
"Aku akan menemui Leon sebentar sayang," jawab Gara menghentikan langkahnya.
"Nah gitu dong. Meskipun kamu itu atasannya, jika kamu merasa bersalah, kamu memang harus meminta maaf kepada bawahan mu. Kasihan lo mas jika kamu benar-benar memotong gajinya. Apalagi dia sekarang punya Clara, pasti biaya hidupnya akan bertambah," ucap Airin membuat Gara menaikkan satu alisnya karena bingung Airin bicara apa.
"Maksud kamu aku menemui Leon buat meminta maaf gitu?" tanya Gara heran.
"Memang iya kan?" tanya Airin menaikkan kedua alisnya.
"Haha.. Airin.. Airin.. Ya nggak lah sayang. Aku menemuinya karena ada hal penting yang mau kami bicarakan," jawab Gara tertawa.
"Hal penting? Apakah masalaaah..-" tanya Airin lagi, namun belum selesai ia menuntaskan pertanyaannya, Gara sudah langsung menjawabnya.
"Ya masalah itu. Kamu memang pintar sekali," jawab Gara membuat wajah Airin tiba-tiba berubah dan matanya berkaca-kaca.
"Kamu kenapa sedih hmmm?" tanya Gara kaget melihat Airin tiba-tiba saja menangis.
"Jahat kamu mas," jawab Airin dengan air mata yang sudah keluar begitu saja.
"Aku? Aku kenapa sayang? Memang aku melakukan apa?" tanya Gara heran dan panik.
"Mentang-mentang aku sekarang lagi hamil, seenaknya saja kamu mau mengajak Leon keluar buat berburu wanita seperti dulu lagi. Ingat mas, ini anak kamu juga. Gak seharusnya kamu seperti itu," jawab Airin menangis terisak-isak.
__ADS_1
Airin menyangka jika Gara dan Leon akan merencanakan untuk keluar malam ini guna untuk bersenang-senang dengan wanita seperti kebiasaan Gara dan Leon dulunya. Maka dari itu, suaminya itu buru-buru untuk menemui sahabatnya itu.