Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 117


__ADS_3

"Itu berarti kamu sudah mencintainya. Mulai malam ini, berikan hak nya yang selama ini kamu tahan. Dia itu juga manusia, punya hasrat dan keinginan. Apa lagi dia masih muda. Pasti rasa ingin taunya sangat tinggi," jawab Gara sedikit tidak menyambung.


***


"Apa kamu bilang? Aku mencintainya? Bagaimana mungkin? Aku baru saja kehilangan Gauri, cinta sejati ku. Kenapa kamu malah mengatakan jika aku sudah mencintai Selin?" tanya Leon yang tak habis pikir dengan jalan pikiran Gara.


"Itu kamu buktinya kamu marah saat aku menilai bodi Selin. Leon aku yakin, Gauri akan merasa sakit hati jika kamu permainkan adiknya seperti ini. Atau kamu memang mau membuat Gauri tidak senang di alam sana?" ucap Gara membuat Leon merasa jika ucapan sahabatnya itu benar.


'Gara benar, Gauri pasti akan sedih dan merasa marah jika aku mempermainkan adiknya seperti ini. Maafkan aku Gauri. Aku telah egois,' batin Leon merasa bersalah kepada istrinya.


"Baiklah. Aku akan tunaikan kewajiban ku sebagai suami. Aku akan belajar untuk mencintai Selin dan juga menerimanya dalam kehidupanku," ucap Leon menghela nafas kasar.


"Pintar. Itu baru sahabatku," balas Gara menepuk pundak Leon pelan.


.


.


"Udah pulang kak? Kakak mau mandi apa makan malam dulu?" tanya Selin kepada suaminya itu.


"Udah. Hmmmm, sepertinya aku mau mandi dulu. gerah soalnya. Clara mana?" jawab Leon kemudian menanyakan anaknya Clara.


"Baiklah, aku akan siapkan baju kakak. Clara ada, dia lagi main di depan tv," jawab Selin kemudian berlalu ke kamar untuk menyiapkan pakaian Leon. Sedangkan sembari menunggu dan beristirahat sebentar, Leon pun menghampiri putrinya yang tengah bermain dengan mainannya.


"Hai sayang, anak Dady lagi main apa ini?" tanya Leon menciumi putri gembul nya itu.


"Agi main boneta belbi Dady," jawab Clara dengan bahasa cadelnya.


"Ooo main boneka. Ya sudah, Dady mandi dulu ya sayang. Nanti kita main lagi," ucap Leon mencium Clara sekilas, lalu pergi ke kamarnya untuk mandi.


"Bajunya udah siap?" tanya Leon saat berpapasan dengan Selin di kamar mereka.


"Sudah kak. Aku tunggu di meja makan ya," jawab Selin hendak pergi meninggalkan kamar mereka.


"Hmmmm Selin," panggil Leon memegang istrinya itu.


"Ya kak," jawab Selin memutar memutar kepalanya kehadapan Leon.


"Terima kasih," jawab Leon mencium pipi istrinya itu sekilas lalu pergi bergegas ke kamar mandi untuk menghilangkan rasa malunya.


"Dia.. Dia mencium ku?" gumam Selin meraba pipinya.

__ADS_1


"Huh..Huh..Huh.. Kenapa jantungku pargoy begini? Copot gak ya?" ucap Leon meraba-raba jantungnya.


"Aman," ucap Leon menghela nafas lega.


Sementara itu, jantung Selin masih berdebar kencang saat menghidangkan makan malam untuk dirinya dan juga Leon.


Beberapa saat kemudian, Leon pun menyusul Selin ke ruang makan.


"K.. Kak, makanannya sudah selesai. Ayo makan," ucap Selin gugup.


"Terima kasih. Kamu kenapa gugup? Apa gara-gara tadi aku mencium mu?" tanya Leon yang jantungnya juga berdetak kencang saat ini. Namun ia mencoba untuk cool dan tetap tenang di hadapan istrinya itu.


"I.. Iya kak," jawab Selin gugup.


"Kenapa gugup? Kamu ingat dulu waktu kita pertama kali bertemu di bar? Kamu mencium ku duluan bukan?" ucap Leon mengingatkan kejadian waktu pertama kali mereka bertemu dulu.


"Itu aku.. Aku.. ," jawab Selin gugup. Wajahnya bersemu merah karena malu. Ia ingat, waktu dulu dia menemui Leon di bar. Saat itu Selin tengah mabuk. Selin yang dulu sangat jauh berbeda dengan Selin yang sekarang. Dulu sia suka sekali bermain di klub malam untuk menghabiskan malamnya. Namun ia mulai sadar saat melihat kakaknya yang semakin hari semakin lemah.


"Sudah lupakan. Ayo kita makan. Masakan mu ini membuat perutku lapar," ucap Leon mengalihkan pembicaraan mereka.


"Baiklah," jawab Selin merasa lega.


"Kakak makan saja. Biar aku yang membukakan pintunya," ucap Selin bangkit dari tempat duduknya.


"Permisi, apa ini rumah bapak Leon?" tanya kurir yang membawa satu dus besar paketan.


"Benar, ada apa ya?" tanya Selin mengangguk.


"Ini ada paketan untuk bapak Leon. Taruh dimana ya?" tanya kurir tersebut.


"Hmmmm sebentar, saya tanya suami saya dulu ya," ucap Selin lalu menemui Leon ke ruang makan.


"Siapa Selin?" tanya Leon di sela-sela makanannya.


"Itu kak, ada kurir yang datang mengantarkan paketan atas nama kakak. Apa kakak memesan sesuatu?" jawab Selin kembali bertanya.


"Ah iya, suruh dia taruh di dalam dekat pintu masuk itu saja," jawab Leon melanjutkan makannya.


"Memang itu paketan apa kak? Kenapa besar sekali?" tanya Selin penasaran.


"Nanti kamu juga akan tau sendiri," jawab Leon meminum air putihnya.

__ADS_1


"Baiklah," jawab Selin lalu pergi menemui kurir tadi.


"Pak paketnya di taruh disini saja ya," ucap Selin.


Setelah paket itu di taruh dan kurirnya pun pergi, Selin kembali ke meja makan untuk melanjutkan makannya.


Satu jam kemudian, Leon pun membawa paketannya itu ke kamar mereka dan langsung membukanya.


"Apa itu kak?" tanya Selin yang benar-benar penasaran sedari tadi.


"Ini kasur Selin. Aku memesannya melalui online," jawab Leon sembari membuka plastik yang membungkus kasur tersebut. Secara perlahan, kasur yang semula kempes itu kini mulai mengembang sempurna.


"Untuk apa? Bukannya kasur kita masih bagus?" tanya Selin masih penasaran untuk apa suaminya itu membeli kasur lagi.


"Untuk Clara. Mulai malam ini, Clara akan tidur di kasur yang baru saja aku beli ini. Dia akan tidur di sana," jawab Leon memindahkan kasur tersebut.


"Tapi kenapa?" tanya Selin terkejut.


"Gak kenapa-kenapa. Aku hanya ingin mengajarnya menjadi lebih berani dan juga mandiri," jawab Leon.


"Lalu kita bagaimana?" tanya Selin gugup.


"Kita? Kita kenapa? Kita akan tidur di tempat biasa. Berdua," jawab Leon lalu membuka lemarinya untuk mengambil sprei untuk kasur barunya.


Deg


Jantung Selin semakin berdebar kencang saat Leon mengatakan hal seperti itu kepada Selin.


'Ada apa ini? Kenapa kak Leon tiba-tiba seperti ini? Apa dia.. Dia sudah mulai mencintaiku?' tanya Selin dalam hatinya.


"Selesai. Hmmmm, Selin, buruan panggil Clara untuk tidur. Aku akan mengerjakan beberapa laporan untuk besok," ucap Leon mengejutkan Selin.


"Ba.. Baik kak," jawab Selin singkat lalu pergi ke ruang tv untuk menjemput Clara.


Satu jam kemudian, setelah Clara tidur, Selin juga akan bersiap untuk tidur. Namun ia bingung dan juga gugup, hingga pada akhirnya, Selin memilih untuk tidur di kasur Clara.


"Selin," panggil Leon tiba-tiba saja sudah masuk ke dalam kamar mereka.


"Ah, iya kak?" tanya Selin bangkit dari kasur Clara dan duduk di tepinya.


"Ngapain tidur di situ. Ayo sini tidur sama aku," ucap Leon menarik tangan Selin ke ranjang mereka.

__ADS_1


__ADS_2