
"Kenapa dia bisa berubah dalam satu malam begini? Dan.. Ini.. Ini darah apa?" Kanaya yang seketika kaget melihat seprai putih yang menjadi saksi bisu permainan panasnya dengan Zilgwin ternoda bekas darah.
***
Di saat Kanaya masih larut dalam tanda tanyanya, Zilgwin pun keluar dari kamar mandi. Zilgwin tampak mengernyitkan keningnya saat ia tidak melihat pakaian yang biasa Kanaya siapkan untuknya setiap hari.
"Nay," panggil Zilgwin kepada Kanaya yang sibuk melepaskan seprai yang menjadi saksi bisu malam pertama mereka setelah dua tahun tertunda.
"Ya kak," jawab Kanaya menerawang seprai yang ada bekas noda darahnya.
"Kamu ngapain?" tanya Zilgwin tampak heran dengan tingkah laku istrinya itu.
"Kak, ini darah apa? Apa kakak terluka?" tanya Kanaya tidak mengetahui jika itu adalah darah keperawanannya.
Zilgwin tak menjawab pertanyaan konyol Kanaya. Ia hanya tertawa terkekeh sehingga membuat Kanaya tambah penasaran.
"Kakak kenapa ketawa? Apa yang lucu?" tanya Kanaya lagi.
"Haha.. Tidak ada yang lucu Kanaya. Kamu benar-benar tidak tau itu darah apa?" Zilgwin balik bertanya. Ia tak menyangka jika Kanaya tidak tau dengan darah perawan nya sendiri.
"Sumpah kak, aku benar-benar tidak tau ini darah apa," jawab Kanaya lagi.
"Itu darah kamu Kanaya," jawab Zilgwin membuat Kanaya menautkan kedua alisnya.
"Darahku? Darah apa? Aku sama sekali tidak merasa sakit hari ini," ucap Kanaya lagi yang masih belum sadar.
"Benarkah?" tanya Zilgwin lagi berjalan ke arah Kanaya.
__ADS_1
"Ya," singkat Kanaya.
"Itu darah perawan mu Nay. Akulah yang merobeknya semalam. Kamu ingat?" jawab Zilgwin kemudian melemparkan pertanyaan yang membuat Kanaya bergidik ngeri saat mendengarnya.
"Aku.. Aku.. Aku mau ke bawah dulu kak," jawab Kanaya berlari meninggalkan Zilgwin yang masih berdiri menatap Kanaya dengan senyuman jahilnya.
"Nay.. Nay, aku masih gak percaya jika kita telah melakukan malam pertama setelah dua tahun menikah," gumam Zilgwin geleng-geleng kepala.
"Loh, Kanaya, kamu kenapa berlari ketakutan begitu?" tanya si mbok heran.
"Ah, itu. Tadi ada kecoa mbok. Iya, ada kecoa," jawab Kanaya berbohong. Kanaya tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya kepada si mbok.
Sementara itu, karena di tinggal kabur oleh Kanaya, Zilgwin terpaksa menyiapkan sendiri pakaian yang akan ia kenakan untuk berangkat ke kantor.
Di saat Zilgwin akan keluar kamar, matanya teralihkan kepada seprai putih yang ditaruh di atas ranjang mereka. Zilgwin kemudian mengambilnya lalu melihat bercak noda merah tersebut.
"Hhhhhhh, Nay.. Nay," gumam Zilgwin melipat dan menyimpan seprai bekas tersebut ke dalam lemarinya. Zilgwin sengaja menyimpannya untuk di jadikan kenang-kenangan kelak. Sebelumnya Zilgwin tak pernah seperti ini kepada Laura, karena sewaktu ia dan Laura malam pertama, Zilgwin tak melihat adanya bekas darah di seprai pengantinnya dengan Laura dulu. Waktu itu, Zilgwin masih polos dan belum tau apa-apa. Namun, seiring berjalannya waktu, Zilgwin mulai sadar, menurut artikel dan informasi yang ia dapat, ia mendapati Laura sudah tidak perawan lagi. Namun, karena rasa cinta dan sayang yang berlebihan, Zilgwin pun tidak mempermasalahkannya dan menutup mulutnya dengan rapat.
"Selamat pagi den," sapa si mbok semabari menyenggol pelan tubuh Kanaya.
"Selama pagi mbok. Masak apa mbok hari ini?" jawab Zilgwin lalu melemparkan pertanyaan kepada wanita yang telah lama bekerja di rumah Zilgwin .
"Ini, mbok dan Kanaya hari ini masak nasi goreng udang. Bisa di katakan, Kanaya lah yang memasaknya, karena mbok hanya membantu mengupas bawangnya saja," jalas si mbok membuat Kanaya malu.
"Oh ya? Apa kamu yang memasak ini?" tanya Zilgwin kembali bersikap dingin seperti biasanya.
"Iya kak," jawab Kanaya tampak heran dengan perubahan sikap suaminya itu.
__ADS_1
"Baik, kalau begitu, tolong siapkan juga untuk makan siang ku nanti. Aku akan membawa bekal ke kantor hari ini," perintah Zilgwin yang tak pernah membawa bekal ke kantor selama ini.
"Baiklah, aku akan siapkan segera," jawab Kanaya yang sedikit terkejut dengan keinginan Zilgwin
Beberapa lama kemudian, Zilgwin pun tiba di kantornya dengan menenteng bekal yang disiapkan Kanaya untuknya. Ini adalah momen langka bagi staf-staf kantornya. Tak biasa-biasa nya Zilgwin mau menenteng kotak makan ke kantor, apalagi kotaknya berwarna pink dan bermotifkan hello kitty.
"Zilgwin!" panggil Lee setengah berteriak. Ia tampak ngos-ngosan berjalan ke arah sahabatnya itu dan langsung mengambil kotak makan yang Zilgwin pegang, namun sayang, Zilgwin segera menjauhkannya dari tangan sahabatnya itu.
"Idih, tumben amat lo ke kantor bawa kotak bekal, mana warnanya pink lagi," ledek Lee membuat Zilgwin tak bergeming dan meneruskan langkah kakinya menuju lift menuju lantai ruangannya.
"Suka-suka gue dong. Makanya lo buruan nikah, biar bisa bawa bekal ke kantor kayak gue," balas Zilgwin dengan wajah datarnya.
"Dih, sombong banget lo. Perasaan selama ini lo juga udah nikah, tapi kenapa baru sekarang lo bawa bekal ke kantornya?" tanya Lee membuat Zilgwin sedikit kesal. Bagaimana tidak, Zilgwin dan Kanaya sudah menikah dua tahun lamanya. Dan saat ini Zilgwin baru menyadari kehadiran sosok Kanaya sebagai istrinya. Sewaktu menikah dengan Laura, Laura tak pernah mau jika Zilgwin meminta di bawakan bekal ke kantor. Laura beralasan ia capek dan hanya bikin malu saja.
"Serah gue dong. Oh ya, lo udah siapin keperluan gue buat berangkat besok kan? Jangan bilang semuanya belum rampung, gue paling gak suka itu," tanya Zilgwin mengalihkan pembicaraan mereka.
"Udah.. Lo tau, gue juga udah nyiapin kamar yang paling romantis buat lo dan juga Kanaya. Gue yakin, sepulangnya lo dari Sidney, Kanaya bakal hamil," jawab Lee sembari mengusap perutnya.
"Apa hubungannya? Gak perlu jauh-jauh ke Sidney, gue juga bisa bikin Kanaya hamil walaupun itu di ranjang kamar gue," sewot Zilgwin.
"Haha? Mana buktinya? Ini aja lo udah nikah dua tahun, tapi Kanaya belum hamil-hamil juga tuh. Makanya gue siapin kamar romantis buat lo di sana agar Kanaya bisa segera hamil," sindir Lee yang tau bagaimana kisah kehidupan sahabat karibnya itu.
"Lo nyindir gue?" ucap Zilgwin dengan tatapan tajamnya.
"Emang lo ngerasa tersindir gitu?" Lee membalikkan pertanyaannya.
"Kalo iya kenapa? Mau ribut lo?" sewot Zilgwin tak terima.
__ADS_1
"Nah, berarti apa yang gue ucapin itu bener dong. Terus ngapain lo protes?" jawab Lee santai.
Merasa tak terima, Zilgwin pun langsung mengajak Lee gelut. Ia melingkarkan tangan kekarnya ke leher Lee dan menjitak-jitak kepala sahabatnya itu. Tak mau kalah, Lee pun juga memberikan perlawanan hingga tanpa mereka sadari, pintu lift pun terbuka dan ada beberapa karyawan yang menyaksikan kelakuan mereka berdua.