Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara

Garis Dua Satu Malam Milik Tuan Gara
Bab 78


__ADS_3

Airin kembali teringat bagaimana sabarnya Gara saat menghadapi dan menemani dirinya sesaat sebelum lahiran. Ia juga teringat saat Gara menangis berkali-kali untuk dirinya.


***


'Ternyata kamu orang baik mas. Aku tidak menyangka jika aku akan memiliki suami sepertimu,' batin Airin mengelus kepala Gara.


Karena Gara merasa ada sesuatu yang menyentuh kepalanya, laki-laki tampan itu kemudian membuka matanya perlahan.


Betapa senangnya Gara saat melihat Airin sudah sadarkan diri dan tersenyum kepadanya.


Rasanya raga Gara kembali hidup dan bersemangat lagi.


"Airin, sayang, kamu sudah bangun? Aku takut sekali jika kamu tidur dan tidak bangun lagi seperti tadi," ucap Gara yang langsung memeluk sang istri tercinta dan lagi-lagi Gara meneteskan air matanya.


"Kamu bilang apa mas? Aku tidur dan tidak bangun-bangun?" tanya Airin kaget.


"Ya.. Tadi kamu telah dinyatakan meninggal oleh dokter yang menangani mu. Aku benar-benar takut sekali Airin. Rasanya seluruh tubuhku ini lemah dan duniaku runtuh," ucap Gara menceritakan apa yang ia rasakan sebelumnya.


"Berarti tadi... Pantas saja mas, aku tadi seperti berada di sebuah taman yang sangat indah. Di sana aku mendengar suara kakek dan nenekku memanggil-manggil namaku. Aku kemudian menyusulnya dan mereka membimbingku untuk pergi menaiki sebuah tangga yang sangat panjang sekali. Namun saat aku akan melangkahkan kakiku ke anak tangga yang pertama, tiba-tiba saja aku melihat tiga bocah kecil memanggilku dengan sebutan mommy. Mereka berlari ke arahku lalu menarik ku ke sebuah cahaya yang sangat terang sekali," ujar Airin menjelaskan mimpinya yang seperti nyata.


"Benarkah. Syukurlah jika kamu tidak ikut kakek dan nenekmu. Dan aku juga bersyukur bocah-bocah itu memanggilmu," jawab Gara mengusap kepala Airin.


"Oh ya, mana bayi-bayiku? Aku mau menemuinya mas," ucap Airin berusaha bangkit dari tidurnya.


"Udah kamu tenang saja. Jangan banyak gerak dulu. Nanti aku akan suruh perawat untuk membawa bayi kembar kita kesini," ujar Gara langsung menahan Airin supaya tidak banyak gerak.


"Aku maunya sekarang mas. Aku benar-benar ingin sekali melihat wajah-wajah mereka," balas Airin setengah merengek.

__ADS_1


"Iya.. Iya, baiklah, aku akan menemui perawat sekarang. Kamu jangan banyak bergerak dulu ok," titah Gara kemudian meninggalkan ruangan Airin.


"Gara.. Airin gimana?" tanya Ibunya Airin yang sedari tadi duduk di kursi tunggu bersama suami dan besannya.


"Airin baru saja sadar Bu. Dia ingin bertemu dengan si kembar. Gara pamit sebentar ya Bu," jawab Gara kemudian bergegas ke ruangan perinatologi untuk menjemput bayi-bayi mereka.


Beberapa saat kemudian, Gara keluar dengan tiga orang perawat yang masing-masingnya membawa bayi-bayi kembar milik Airin dan juga Gara.


"Sayang, ini anak-anak kita. Lihatlah, dia mereka sungguh tampan dan juga cantik," ucap Gara dengan raut wajah yang sangat bahagia.


Seketika, Airin yang kini posisinya sedang duduk di atas ranjang rumah sakit itu segera mengulurkan tangannya untuk menimang bayi-bayinya secara bergantian.


"Ini... Ini anak-anak Airin? Airin tidak mimpikan?" ucap Airin saat melihat ketiga bayi kembarnya.


"Dia bukan hanya anak kamu sayang, tapi anak-anakku juga," protes Gara tak terima.


"Iya-iya.. Semua orang juga tau jika itu anak kamu," jawab Airin malas berdebat.


"Gara apa kabar ya? Ah iya, mending aku hubungi saja dia," ujar Leon mengeluarkan ponsel pintarnya.


"Halo Gar, gimana kabarmu?" tanya Leon dari sembari menghisap sebatang rokok.


"Kabarku baik. Bahkan sangat baik. Kamu tau, Airin sudah melahirkan bayi kembarnya. Dan saat ini kami tengah di rumah sakit. Kamu sendiri bagaimana? Apa kamu sudah bertemu dengan Ibunya Clara?" jawab Gara dengan suara yang semangat dan kembali bertanya mengenai tujuan Leon ke Singapore.


"Huhhhh, aku sudah bertemu dengan Ibunya Clara, bahkan aku sudah menikahinya," jawab Leon dengan nada yang berat.


"Apa? Kamu sudah menikahinya? Apa kamu yakin itu ibunya Clara? Lalu kenapa kamu tidak memberitahukannya kepadaku jika kamu sudah menikah?" tanya Gara kaget.

__ADS_1


"Maafkan aku Gara. Keadaannya sangat mendesak sekali. Dan kamu tau? Ibunya Clara itu adalah Gauri, cinta mati ku," jawab Leon menjelaskan.


"A.. Apa? Gauri? Gauri Ibunya Clara? Bukankah dulu dia pergi meninggalkanmu begitu saja?" tanya Gara masih tidak percaya.


"Ya, tapi ini semua salah faham. Di saat dia memberi tahukan masalah kehamilannya waktu itu, aku malah meninggalkannya di taman demi menolong mantan kekasihmu yang akan bunuh diri waktu itu. Kamu ingatkan? Gauri mengira jika dia adalah selingkuhan ku yang tidak terima jika hubungannya sudah berakhir denganku. Semenjak itu, Gauri pergi dan membesarkan bayinya sendirian," jelas Leon membuat Gara bersalah.


"Oh ya.. Berarti itu semua karena aku yang tidak peduli dengan wanita itu Kamu menjadi kena imbasnya. Maafkan aku kalau begitu," jawab Gara merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Ini sudah lama dan kita juga tidak tau," jawab Leon menarik nafas kasar.


"Lalu kenapa jamu tidak pulang lagi ke Indonesia? Apa kamu akan berbulan madu di sana? Ingat ya Leon, kamu belum mengambil cuti," tanya Gara dengan sedikit kesal.


"Itulah masalahnya. Aku ingin sekali pulang ke Indonesia, tapi masalahnya Gauri belum bisa pulang," jawab Leon dengan berat hati.


"Kenapa? Apa dia masih bekerja setelah menikah denganmu?" tanya Gara penasaran.


"Bukan. Dia disini tidak bekerja. Dia harus di rawat untuk beberapa waktu di sini," jawab Leon menghela nafas kasar.


"Di.. Dirawat? Tapi kenapa? Bukankah kalian baru saja menikah? Ohhhh aku tau.. Pasti kamu terlalu semangat melakukannya sehingga Gauri kewalahan dan akhirnyaaaaa," tebak Gara langsung di sela oleh Leon.


"Jangan asal tuduh. Bukan itu penyebab Gauri masuk rumah sakit. Kamu tau, bahkan aku belum melakukannya sama sekali," jawab Leon kesal.


"Haha.. Terus kenapa?" tanya Gara penasaran.


"Huhhhhh.. Karena Gauri menderita kanker otak stadium akhir," jawab Leon menarik nafas kasar.


"Aaa.. Apa? Gauri sakit menderita kanker stadium empat? Lalu.. Kenapa kamu masih mau menikahinya? Bukankah usia penderita kanker tersebut tidak akan lama?" tanya Gara benar-benar kaget.

__ADS_1


"Ya aku tau. Tapi aku sangat mencintai Gauri. Selain itu, dia juga Ibu dari Clara. Aku hanya berharap dia bisa sembuh dan kami hidup bahagia seperti kamu dan Airin dengan memiliki banyak anak," jawab Leon dengan suara getir.


"Hhhhh, Leon.. Sabar.. Aku yakin, Gauri pasti akan sembuh. Kamu memang laki-laki hebat. Aku bangga memiliki sahabat seperti mu. Tapi, aku pernah mendengar rumah sakit khusus terbaik di Indonesia ini, cobalah bawa dia ke sana. Siapa tau setelah Gauri kembali ke Indonesia, dia akan jauh lebih baik," ucap Gara yang sangat bersimpati terhadap sahabatnya itu.


__ADS_2