
"Hhhh, baiklah Abah. Bismilah, Abah, sebenarnya nama bukanlah Aluna, nama saya sebenarnya adalah Liona. Saya dulunya memang pernah menikah dengan seorang laki-laki, laki-laki yang juga merupakan kakak ipar saya, namun kami telah bercerai beberapa bulan yang lalu sebelum mantan suami saya itu meninggal dunia. Saya ini bukan seorang perawat, tapi saya adalah seorang napi yang kabur dari penjara di saat saya tengah berobat ke rumah sakit, dan hingga saat ini, status saya masih buronan polisi. Tapi saya bersumpah jika saya benar-benar sudah insaf Bah. Saya benar-benar sudah bertaubat. Maafkan saya Bah, saya telah membohongi kalian semua," jawab Liona seketika membuat Kiyai Sodikin terperangah sembari memegang dadanya.
"Ja.. Jadi . Jadi kamu adalah buronan polisi?" tanya Kiyai dengan terputus-putus.
***
"I.. I.. Iya Bah. Maafkan saya jika telah membohongi kalian semua," Aluna hanya bisa tertunduk malu di hadapan laki-laki yang baru saja resmi menjadi suaminya itu.
"Astagfirullah, kenapa kamu tega sekali membohongi saya?" Kiyai Sodikin pun mundur beberapa jarak dari hadapan Aluna.
"Saya benar-benar minta maaf Bah. Tapi percayalah, saya benar-benar sudah insaf dan bertaubat. Saya memiliki keinginan tinggi untuk tetap melanjutkan rumah tangga ini dengan Abah hingga maut memisahkan kita. Maka dari itu, saya jujur dan mengakui semua kelakuan buruk saya di masa lalu," jawab Aluna dengan air matanya yang sudah mengalir deras.
"Hhhhhh, ke sinilah," Kiyai Sodikin membawa Aluna ke dalam pelukannya.
Tak mau melewatkan kesempatan ini, Aluna segera memeluk laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu dengan erat. Aluna melimpahkan semua tangisan dan rasa yang ia pendam selama ini di dalam pelukan Kiyai Sodikin.
Begitu nyaman, hangat, tenang, dan tentram. Itulah yang Aluna rasakan saat ini di dalam hatinya.
Jujur Aluna tak pernah merasakan rasa senyaman ini selama menjalin hubungan rumah tangga dengan Paman Sam.
Tak ingin rasanya Aluna melepaskan pelukan dari suami barunya itu. Namun, Kiyai Sodikin segera melepasnya dan menatap wanita yang baru saja ia nikahi itu.
"Sssttt, sudah-sudah, jangan menangis seperti itu. Kita cari solusi dari masalah ini bersama-sama.
Abah telah memaafkan kebohongan mu. Bagi Abah, asal kamu benar-benar sudah bertaubat, maka Abah tidak akan mempermasalahkan masa lalu mu," ucap Kiyai Sodikin memegang kedua pipi Aluna. Meskipun ada rasa sakit hati di dalam hati Kiyai Sodikin, tapi ia mampu meredamnya karena Kiyai Sodikin bisa melihat ketulusan dan kebersungguh-sungguhan dari mata dan tangisan Aluna.
"Terima kasih Bah. Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Aluna alias Liona menatap manik mata Kiyai Sodikin.
"Lanjutkan hukuman mu. Abah akan setia menunggumu hingga kamu keluar dari penjara nantinya," jawab Kiyai Sodikin telah mengambil keputusan.
__ADS_1
"Ta.. Tapi Bah? Aku takut," tangis Liona kembali pecah.
"Takut kenapa? Kamu takut kembali ke penjara lagi?" tanya Kiyai Sodikin mengernyitkan keningnya.
"Bukan Bah. Bukan itu yang aku takutkan," Liona menggeleng.
"Lalu?" tanya Kiyai Sodikin lagi.
"Aku takut jika Abah lelah menungguku dan mencari wanita lain untuk menggantikan posisi ku. Aku tidak sanggup jika itu benar-benar terjadi kepada diriku," jawab Aluna yang kini tengah memeluk Kiyai Sodikin erat sembari meluapkan kembali air matanya.
"Hhhhhhh, tenanglah. Abah tidak akan bersikap seperti itu. Jika kamu bisa menjaga diri dan menjadi lebih baik lagi di dalam sana, maka Abah akan selalu setia menunggumu keluar dari penjara," balas Kiyai Sodikin mengusap kepada Aluna yang masih di tutupi oleh hijabnya.
"Terima kasih Bah. Terima kasih. Aku janji, aku akan merubah diriku menjadi lebih baik lagi jika di dalam sana. Kalau begitu, secepatnya aku akan menyerahkan diriku kembali ke kantor polisi," ucap Aluna senang sekali.
Batin Aluna mengatakan jika ia sangat beruntung masih di beri kesempatan ke dua untuk berubah. Tak hanya itu, Aluna juga merasa beruntung karena telah di per istri oleh seorang laki-laki yang bisa dikatakan sangat sempurna untuknya.
"Hhhhmmmmm Bah," panggil Aluna sesaat kemudian.
"Ya," jawab Kiyai Sodikin yang sudah mulai berbaring di atas ranjangnya.
"Apa Abah tidak meminta hak Abah di malam ini?" tanya Aluna yang sudah melakukan beberapa persiapan sedari tadi untuk melayani suami barunya itu.
"Apa kamu tidak keberatan?" tanya Kiyai Sodikin yang berangsur duduk kembali.
"Keberatan? Untuk apa aku keberatan? Bukankah kita sudah menikah dan sah menjadi pasangan suami istri? Lalu untuk apa aku keberatan?" ucap Liona menarik menggenggam tangan Kiyai Sodikin.
"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita berwudhu dan solat sunah dahulu," ajak Kiyai Sodikin berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Beberapa saat kemudian, disaat mereka telah selesai melaksanakan solat sunahnya, Kiyai Sodikin dan Liona duduk berhadap-hadapan. Cukup lama mereka saling tatap-tatapan satu sama lain, hingga Liona menundukkan kepalanya di saat Kiyai Sodikin mulai membuka tali pengait mukena yang ia gunakan.
__ADS_1
Semenjak berkenalan dengan Liona, baru kali ini Kiyai Sodikin melihat rambut Liona. Ia cukup terkejut saat melihat rambut istrinya yang berwarna coklat pirang tersebut.
'Astagfirullah. Ya Allah, semoga saja istriku tawakal dalam bertaubat di jalan mu,' batin Kiyai Sodikin merapikan rambut Liona yang tampak berantakan. karena tidak ia ikat.
"Kamu sudah siap?" Kiyai Sodikin menata dalam manik mata istrinya itu.
"Bismillah.. Siap Bah," angguk Liona sembari menundukkan kepalanya.
Tampak jelas kegugupan di wajah Liona karena pipinya yang merah merona sehingga membuat wanita itu semakin cantik.
Kiyai Sodikin kemudian berdiri dan membimbing tangan istrinya itu ke atas ranjang. Ia mulai menatap wajah Liona lalu membelai wajah cantik sang istri.
Liona tampak menutup matanya dan membiarkan Kiyai Sodikin menjalankan tugasnya sebagai suami.
Jujur Liona saat ini tengah gugup sekali. Rasa yang ia rasakan, jauh berbeda dengan rasa yang ia rasakan saat bersama dengan Paman Sam, mantan suaminya.
Liona begitu gugup sekali, seakan-akan Liona seperti seorang gadis yang akan melepas kesuciannya di malam pertama.
"Kamu gugup?" tanya Kiyai Sodikin yang menyadari kegugupan Liona.
"I.. I.. Iya Bah," jawab Liona masih dengan kepala yang menunduk karena malu.
"Syukurlah, itu artinya, kamu menghargai ku sebagai suami mu," balas Kiyai Sodikin lalu mulai mencumbu Liona dan menjalankan tugasnya sebagai seorang suami.
Liona begitu puas meskipun durasi bermain Kiyai Sodikin tidak selama durasi Paman Sam dahulu.
"Alhamdulillah," ucap Kiyai Sodikin di saat permainan mereka telah selesai sembari ia mengecup kening Liona sekilas.
"Alhamdullah," ucap Liona setelahnya.
__ADS_1