
"Gak usah. Biar aku saja dulu, nanti jika perlu, aku akan membawamu. Ya sudah, kau selalu bertanya, sekarang kau kasih saja makan koi-koi mu itu. Aku akan berangkat sekarang," jawab Liona berpura-pura manis di depan suaminya itu lalu mencium pipi kiri dan kanan Paman Sam. Tak lupa ia mencium bibirnya sekilas lalu pergi dengan tergesa-gesa.
"Kau memang istri kesayanganku," gumam Paman Sam menatap kepergian Liona.
***
Liona membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit milik Sinta.
"Jika yang dikatakan Sinta itu benar, maka aku tak akan segan-segan untuk melenyapkan wanita itu. Biar bagaimanapun, Gara tak boleh dimiliki wanita manapun selain aku," ucap Liona bicara pada dirinya sendiri.
Satu jam kemudian, Liona akhirnya tiba di rumah sakit milik Sinta. Ia kembali menghubungi Sinta jika dirinya telah tiba di rumah sakit tersebut.
Tak butuh waktu lama, Sinta dan Liona pun akhirnya bertemu. Mereka segera berjalan menyusuri lorong rumah sakit untuk bertemu dengan Gara dan juga Airin.
"Liona, nanti kau masuk saja sendiri ke dalam ruangan itu. Aku akan mengantarmu sampai depan pintunya saja. Jangan pernah sesekali kau memberi tahukan kepada Gara dan juga sahabatnya itu jika aku yang memberikan informasi ini kepadamu," ucap Sinta kepada Liona sembari berjalan menyusuri lorong rumah sakit tersebut.
"Baik, tapi dengan satu syarat," jawab Liona tersenyum licik.
"Syarat? Syarat apa?" tanya Sinta kesal.
"Jika yang kau katakan itu benar adanya, mau tidak mau kau harus membantuku untuk menyingkirkan wanita itu," jawab Liona tersenyum licik.
"Haha.. Jadi itu syarat mu. Oke, dengan senang hati," jawab Sinta tertawa.
'Bukan aku yang membantumu, tapi kau yang membantuku Liona. Setelah wanita itu pergi, maka giliran kau yang akan aku singkirkan,' batin Sinta bahagia.
"Bagus," jawab Liona puas.
"Ini ruangannya, aku hanya bisa mengantarmu sampai sini saja," tunjuk Sinta ke sebuah ruangan VVIP tempat Airin di rawat.
"Oke. Makasih," jawab Liona singkat.
Setelah Sinta pergi, Liona mulai melihat apa yang ada di dalam ruang rawat VVIP itu melalui kaca kecil yang ada di pintu kamar tersebut. Dan benar saja, Liona melihat ada seorang wanita hamil dan juga Gara yang sedang menyuapi wanita itu buah-buahan.
__ADS_1
"Sialan. Apa yang di katakan Sinta itu benar adanya. Aku gak akan biarkan ini terjadi. Aku harus segera menyingkirkan wanita itu secepatnya. Biar bagaimanapun, Gara hanya boleh hidup denganku. Bukan dengan wanita lain," gumam Liona mengepalkan tangannya.
Setekah membuktikan semua ucapan Sinta, Liona kemudian pergi ke ruangan Sinta untuk membicarakan rencana busuknya.
Setibanya di ruangan Sinta, Liona langsung menghempaskan tubuhnya di sofa empuk yang berada di ruangan Liona.
"Kenapa? Kau kepanasan?" tanya Sinta mengejek.
"Diam kau. Aku sedang muak sekarang. Lebih baik kau bantu aku untuk mencari cara supaya wanita itu enyah dari hidupnya Gara," perintah Liona frustasi.
"Gimana kalau kita lenyap kan dulu bayi kembarnya. Aku yakin, wanita itu akan merasa hancur dan frustasi," jawab Sinta memberi ide.
"Kau kelamaan. Kenapa tidak kau beri saja dia racun, dengan begitu, dia dan bayinya akan segera pergi dari muka bumi ini," ucap Liona tersenyum sumringah.
"Kau gila ya? Bisa-bisa rumah sakit ku ini di tutup atas kasus kelalaian," sela Sinta tidak setuju.
"Biarkan saja. Nanti aku akan bukakan kau rumah sakit abru," jawab Liona santai.
"Nggak, aku tidak setuju. Kita culik saja dia, nanti baru kita pikirkan cara selanjutnya," ujar Sinta memberikan ide baru.
"Oke, kalau begitu, aku akan merencanakan penculikannya, lalu kau akan mengeksekusi nya," ucap Sinta menaikkan satu alisnya.
"Baik, aku setuju," jawab Liona bahagia.
Sedangkan di kamar rawat Airin, Gara yang telah selesai menyuapi Airin pamit keluar sebentar untuk mengambil laptopnya yang tertinggal mobil karena ia mendapat panggilan kantor dari Leon.
"Airin kau benar-benar tidak apa-apakan aku tinggal sebentar," tanya Gara yang mencemaskan Airin.
"Tidak apa-apa. Lagian aku mau istirahat," jawab Airin memicingkan matanya.
"Ya sudah. Kalau begitu tunggulah sebentar. Aku akan segera kembali," balas Gara kemudian pergi menuju mobilnya.
Baru saja Gara menutup pintu ruang rawat Airin, tiba-tiba saja tangannya di pegang oleh seorang wanita yang dulu pernah Gara cintai sepenuh hati.
__ADS_1
"Kau.. Mau apa kau disini?" tanya Gara dingin.
"Ini tempat umum sayang. Siapapun boleh berada di sini," jawab Liona manja.
"Lepas tanganku," ucap Gara menepis kasar tangan Liona.
"Auu sakit," lirih Liona memegangi tangannya.
Gara sama sekali tidak memperdulikan Liona. Ia memilih untuk pergi tanpa menghiraukan Liona yang dari tadi memanggil-manggil namanya.
Sakit hati karena tak dihiraukan Gara, Liona memutuskan untuk mengejar Gara sampai ke mobilnya.
"Ada apa lagi Liona? Mau mu apa ha? Kau itu sudah menikah, dan aku sebentar lagi juga akan menikah, jadi lebih baik sekarang kau jangan ganggu-ganggu aku lagi," ucap Gara yang mulai kesal dengan Liona.
"Gara, tapi aku masih mencintaimu. Aku gak rela liat kamu menikah sama orang lain," jawab Liona egois.
"Ada apa denganmu Liona? Kau melarang ku menikah dengan orang lain, sedangkan kau menikah dengan paman ku sendiri. Ini tidak adil Liona," ucap Gara mengusap kepalanya.
"Gara percayalah, aku menikah dengan pamanmu bukan karena cinta. Tapi karena harta. Aku melakukan ini semua karena mu Gara. Come On percayalah," ucap Liona memegang tangan Gara.
"Sudah cukup. Aku tidak butuh itu semua. Aku sekarang sudah-sudah sangat bahagia dengan kehidupanku. Kau tau, sebentar lagi aku akan memiliki anak kembar. Dan aku juga akan menikah, jadi sebaiknya berhenti mengganggu kehidupanku, karena sampai kapanpun, aku tak akan pernah mau untuk kembali bersamamu,* ucap Gara menepis tangan Liona.
"Baik.. Baik jika itu mau mu Gara. Tapi kau perlu tau, tak ada yang boleh memilikimu selain aku. Kau lihat saja, cepat atau lambat aku akan menyingkirkan wanita itu. Jika aku tidak bisa memilikimu, maka wanita lainpun juga tak kan ada yang bisa memilikimu. Kau ingat itu," ancam Liona lalu pergi meninggalkan rumah sakit tersebut.
Gara masih terdiam mencoba mencerna ucapan Liona barusan. Ia masih bingung apa maksud dari ucapan Liona, hingga suatu saat ia tersadar jika Liona akan melakukan sesuatu pada Airin dan juga calon buah hatinya.
"Tidak.. Ini tidak boleh. Aku harus melakukan sesuatu," ucap Gara kemudian bergegas kembali ke dalam rumah sakit.
Sesampainya di ruang rawat Airin, Gara melihat Airin tengah tertidur dengan pulas.
Ia kemudian merogoh sakunya dan menghubungi Leon untuk membicarakan masalah Liona.
"Ada apa lagi dengan wanita itu?" tanya Leon yang kini sedang menyelidiki siapa ibu kandung dari anaknya.
__ADS_1
"Dia baru saja mengancam ku. Ku minta kau sekarang tolong cari kan aku beberapa orang pengawal untuk menemani Airin kemana pun ia pergi," perintah Gara melalui panggilan teleponnya.