
“Sayang..”
Arsy langsung menoleh ketika mendengar suara sang suami memanggilnya. Perlahan Irzal mendekati bed istrinya. Kenzie yang tengah memeluk Arsy, pelan-pelan mengurai pelukannya. Masih dengan airmata berderai, Arsy memanggil suaminya.
“Mas..”
Tak ada jawaban dari Irzal, dia langsung memeluk istrinya. Tangis Arsy kembali pecah dalam pelukan Irzal. Kedua tangannya memeluk erat pinggang sang suami. Semua yang ada di sana hanya bisa melihat pemandangan mengharukan di depan mereka tanpa mengatakan apapun.
“Maafin aku, mas.. aku ngga bisa menjaga buah hati kita. Maafin aku.. maafin aku..”
“Sssttt.. kamu ngga salah, sayang. Ini semua sudah ketentuan Allah. Jangan menyalahkan dirimu.”
“Aku takut mas marah padaku dan meninggalkanku. Jangan tinggalkan aku, mas..”
“Mas ngga akan meninggalkanmu. Kamu istriku, tempatmu tetap di sampingku sampai maut memisahkan. Mas juga ngga bisa hidup tanpamu. Jangan berkata seperti itu.”
Sebuah ciuman diberikan Irzal di puncak kepala istrinya. Perasaan takut dan was-was yang tadi melanda Arsy, perlahan memudar mendengar kata-kata suaminya ditambah perakuannya lembutnya. Irzal mengurai pelukannya, dia sedikit menundukkan tubuhnya. Kedua tangannya menghapus airmata di wajah sang istri.
“Jangan menangis lagi, sayang. Kita hanya perlu mengikhlaskannya. Mas sayang kamu.”
Hanya anggukan kepala saja yang mampu diberikan Arsy. Irzal memberikan kecupan di kening wanita itu lalu memeluknya kembali. Kenzie dan Nara dapat bernafas lega melihat Arsy yang sudah mulai tenang. Nara mengajak suaminya duduk di sofa bersama yang lainnya.
Irzal mendudukkan diri di kursi yang ada di dekat bed. Tangannya terus menggenggam tangan sang istri dengan erat, sesekali dia mencium punggung tangannya. Kehilangan buah hati memang menyakitkan, tapi lebih menyakitkan melihat sang istri yang terpukul seperti ini. Sebisa mungkin Irzal menekan kesedihanya dan menghibur Arsy. Wanita yang sangat dicintainya.
“Arsy sudah lebih tenang sekarang, syukurlah,” ujar Abi.
“Dia merasa sangat terpuruk. Cinta dan kasih sayang Irzal yang bisa membuatnya kuat. Di saat seperti ini dia sangat membutuhkan Irzal sebagai suami untuk terus membantunya. Kalian sudah mendidik Irzal dengan baik, El, Kia. Arsy beruntung mendapatkan suami sepertinya,” ujar Nina.
Elang dan Azkia hanya tersenyum mendengar pujian dari orang tua besannya. Dalam hati mereka sungguh bersyukur dikaruniai tiga orang anak yang soleh dan solehah. Sejauh ini ketiganya belum pernah mengecewakan mereka selaku orang tua.
Pandangan semua yang ada di dalam langsung menuju pintu begitu benda persegi itu terbuka. Dari luar muncul Zar, Renata, Rakan, Daffa, Reyhan dan Ila. Semuanya langsung menuju bed yang ditempati. Reyhan menyempatkan diri memeriksa kondisi Arsy. Daffa melihat Arsy dengan tatapan sedih. Karena membantunya Arsy kehilangan janinnya.
“Bagaimana keadaanmu, Arsy?” tanya Reyhan.
“Sudah lebih baik, pa.”
“Jangan bersedih terlalu lama. Apa yang terjadi dengan calon anak kalian adalah kehendak dari Allah. Allah lebih menyayanginya dari pada kalian, dan In Syaa Allah dia akan menjadi penyelamat kalian nanti. Kalian juga masih muda, masih banyak kesempatan untuk memiliki anak lagi. Kamu juga jangan terlalu bersedih, Bie.”
“Iya, pa. Makasih.”
“Sy.. bang.. aku minta maaf. Kalau aku tahu kondisi Arsy ngga baik. Aku pasti bakal larang dia bantu aku di IGD tadi,” ujar Daffa dengan wajah penuh penyesalan.
“Ngga apa-apa, Daf. Ini bukan salah kamu. Kandungan Arsy memang lemah,” jawab Irzal.
“Sy.. kamu yang kuat ya. Aku percaya kamu pasti kuat.”
Zar mendekat kemudian memeluk adik kembarnya. Airmata Arsy kembali mengalir dalam pelukan sang kakak. Beberapa kali Zar mengusap punggung adiknya, kemudian mengurai pelukannya. Kini Renata yang mendekat dan memeluknya.
“Sabar, Arsy. In Syaa Allah kamu akan mendapatkan gantinya dalam waktu dekat.”
“Aamiin.. makasih, Ren.”
“Kakak.. aku ikut berduka. Jangan bersedih terus, aku selalu mendoakan yang terbaik buat kakak.”
Usai Renata melepaskan pelukannya, giliran Vanila yang mendekat dan memeluk kakak sepupunya itu. Tak ada kata-kata yang dapat Arsy katakan kecuali mengaminkan dalam hati doa baik dari semua yang memberikan dukungan untuknya. Rakan mendekati Irzal, kemudian menepuk pundak pria itu pelan.
“Yang sabar, Bie. Allah memberikan kamu cobaan ini karena kamu sanggup untuk menjalaninya.”
“Aamiin.. makasih, bang.”
Zar mengajak Renata bergabung dengan yang lain di sofa. Wanita itu mencium punggung tangan sat per satu orang tua di sana. Stella dan Dayana memilih berdiri untuk memberikan tempat pada Reyhan yang juga tengah berjalan menuju sofa. Di belakangnya berjalan Rakan dan Ila.
“Bagaimana kabarmu, Rey?” tanya Abi.
“Alhamdulillah baik, om.”
“Bagaimana kabarmu, Rakan? Kakek dengar kamu sakit.”
“Alhamdulillah sudah sehat, kek,” Rakan mencium punggung tangan Abi, Jojo, Nina dan Adinda bergantian.
“Susternya cocok kayanya jadi cepat sembuh,” goda Jojo.
“KiJo..” ujar Ila malu-malu.
Hanya senyum yang diberikan oleh Jojo. Mumpung tidak ada Juna dan Kevin, dia lebih leluasa menggoda cucu dari kedua sahabatnya itu. Reyhan melihat pada Vanila. Karena fokus pada Arsy, dia tidak memperhatikan gadis yang sudah membuat anak sulungnya tergila-gila.
“Jadi ini yang namanya Vanila, yang sudah buat Rakan ngga enak tidur,” goda Reyhan dan sukses membuat wajah Vanila merona.
“Sepertinya sebentar lagi kamu bakal hajat, Rey,” Elang ikutan menggoda.
“Ngga nyangka Viren sama Al bakal cepat dapat mantu,” Kenzie ikut-ikutan menggoda.
Vanila menyembunyikan dirinya dibalik Abi, mencoba mencari perlindungan dari kakeknya itu. Rakan hanya mampu melemparkan senyuman saja atas godaan yang datang untuknya dan juga Vanila.
“Ila.. kamu udah besar, ngapain nyempil di sini, sana pindah dekat calon suami kamu.”
Mata Vanila membulat mendengar ucapan Abi. Ternyata dirinya salah melabuhkan diri. Bersembunyi dibalik Abi ternyata sama sekali tidak membantu. Renata menarik tangan Vanila dan memintanya duduk dekat dengannya.
“Kenapa aku terus yang kena? Tuh bang Zar aja suruh nikah biar ngga jadi presiden jomblo. Ngga malu apa udah dirunghal (dilewat) tiga kali. Kalau sampai empat kali bakalan dapet payung cantik tuh.”
“Eh buset lambe lo, ***.”
Vanila hanya terkikik saja melihat wajah kesal Zar. Dia berhasil menggulirkan bola panas pada kakak sepupunya yang istiqomah memanggilnya dengan sebutan Iler dari mulai dirinya kecil sampai sekarang.
“Tenang, jodohnya Zar udah KiJo jagain kok.”
__ADS_1
Jojo melirik pada Renata. Wanita itu hanya menundukkan kepalanya, tidak berani melihat pada Abi dan Nina yang tengah melihat padanya. Apalagi melihat pada Kenzie dan Nara. Dia masih belum memiliki kepercayaan diri untuk bisa bersanding bersama Zar.
“Kayanya Rena males sama Zar,” celetuk Stella.
“Kenapa?” tanya Jojo.
“Cowok kaya Zar yang modelan petasan banting, siapa juga yang kuat sama dia, KiJo. Kecuali di dunia ini udah ngga ada stok cowok lagi, baru Rena mau kayanya, hahaha…”
Stella langsung berlari ke arah bed begitu melihat Zar hendak menarik tangannya. Arsy dan Irzal yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan tak bisa menahan senyumnya mendengar ucapan Stella.
“Zarnya diruqiyah dulu aja, KiJo,” sahut Dayana. Wanita itu juga memilih mendekati Stella demi keamanan.
“Ck.. percuma jadi turunan kakek Abi dan KiJo kalau ngga bisa dapetin perempuan yang dimau,” Nina ikut memanasi.
“Bibitnya harus dipertanyakan kayanya,” sambung Adinda.
Kali ini Zar benar-benar dibuat mati kutu. Bukannya dia tidak bisa membalas, tapi bisa bahaya kalau dia sampai membalas ucapan Nina dan Adinda. Pria itu tidak mau sampai dikutuk jadi centong nasi oleh kedua neneknya.
Pintu ruangan kembali terbuka, kali ini Tamar dan Rafa yang datang. Rafa yang baru menyelesaikan operasi, baru bisa datang menjenguk Arsy. Begitu pula dengan Tamar yang tadi tengah menangani kasus. Pria itu buru-buru menyelesaikan pekerjaan dan datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan sahabatnya.
“Bie.. gue turut berduka. Yang sabar, ya. Semoga cepat dapat gantinya.”
“Aamiin.. makasih, Tam.”
Tamar memeluk sahabatnya itu, mencoba memberikan kekuatan pada Irzal. Rafa ikut mendekat lalu memeluk Irzal. Dia menepuk pelan pundak dari Arsy.
“Sabar, Zal. Akan ada waktunya kalian mendapatkan momongan.”
“Aamiin.. makasih, bang.”
Rafa dan Tamar meninggalkan bed sebentar untuk menyalami para tetua yang duduk di sofa. Zar langsung mengulurkan tangannya begitu Tamar dan Rafa selesai menyalami para tetua. Tamar menyalami tangan Zar kemudian memaksa pria itu mencium punggung tangannya.
“Bangke!” rutuk Zar yang hanya dibalas kekehan Tamar saja.
Pintu kembali terbuka, kali ini suster masuk membawakan makanan untuk Arsy. Di belakangnya nampak Ghea masuk bersama dengan Kenan. Melihat kedatangan Kenan, Arsy kembali menangis.
“Daddy..”
“Jangan menangis lagi, Sy. Daddy percaya kamu akan mendapatkan gantinya dengan cepat.”
“Zal.. kamu juga harus kuat.”
“Iya, dad.”
“Kuat apa?” goda Kenan.
“Kuat ngadon dad!” seru Zar yang langsung disambut gelak tawa lainnya.
“Hussttt jomblo emang udah tau cara ngadon,” celetuk Tamar.
“Hahaha..”
Arsy yang tengah menangis jadi tertawa mendengar perdebatan Zar dan Tamar. Irzal tersenyum melihat istrinya sudah bisa tertawa. Dia mengambil nampan berisi makanan kemudian membuka platic wrap yang membungkus wadah.
“Makan dulu, sayang.”
“Aku ngga laper, mas.”
“Kamu harus makan supaya kuat. Habis itu minum obatmu. Mas suapin ya.”
Hanya anggukan saja yang diberikan Arsy. Irzal mulai menyuapi Arsy sedikit demi sedikit. Tak jarang dia harus membujuk agar sang istri mau meneruskan makannya. Ghea yang paling muda dan belum mempunyai pasangan hanya mampu melihat kemesraan pasangan itu dengan mata penuh harap.
“Biasa aja lihatnya, sampi ngences gini,” Zar berpura-pura menyusut sudut bibir Ghea.
“Bang Zar rese!”
“Dad! Nih anak gadisnya kasihan nih, minta dikasih jodoh,” seru Zar.
“Tenang aja, dad udah siapin jodoh buat Ghea.”
“Siapa, dad?” tanya Ghea penasaran.
“Kamu naenya?” goda Kenan yang langsung disambut gelak tawa. Ghea hanya memajukan bibirnya mendengar gaya bicara ayahnya yang menyebalkan.
“Pokoknya harus ganteng, baik, soleh,” ujar Ghea.
“Kamunya aja dulu jadi anak solehah, baru nanti bisa dapet jodoh laki-laki soleh,” jawab Kenan bijak.
“Denger tuh Gehger, jadi anak solehah dulu. Lo aja masih kebluk susah dibangunin shalat shubuh. Kasihan suami lo nanti. Bisa ayan dapet istri model elo, hahaha..”
Mata Ghea membulat mendengar Zar membuka aibnya yang masih sulit dibangunkan saat shubuh. Tak jarang Zahra, sang mama harus menyemprotkan air ke wajahnya agar mau bangun shubuh.
“Sama Daffa aja. Kamu setuju, Rey?” tanya Jojo.
“Jangan. Kasihan Daffa kalau dapet Ghea. Kakek ngga rekomendasi,” celetuk Abi.
“Kakek.. tega bener sama cucunya yang paling cantik.”
“Cantik dari mana? Dilihat pake sedotan dari atas monas terus sedotannya ketutup kacang ijo, bhuahahaha…”
“Mama Nara ngidam apa sih pas hamil bang Zar. Heran jadi laki lemes banget mulutnya,” sewot Ghea.
Hanya suara tawa saja yang terdengar menanggapi pertanyaan Ghea. Arsy yang masih memakan makanannya sampai terbatuk mendengarnya. Irzal segera mengambilkan minum untuk istrinya seraya mengusap punggungnya dengan lembut.
“Kami pamit pulang dulu ya,” ujar Rafa.
__ADS_1
“Iya, Rafa. Makasih sudah mau menengok Arsy,” ujar Nara.
“Rafa.. jangan kasih kendor,” seru Abi.
Perkataan Abi sontak membuat wajah dokter itu memerah. Dayana segera mengajak Rafa berpamitan pada Arsy dan Irzal begitu melihat mulut Zar sudah terbuka. Dia segera menarik keluar Rafa dari ruangan. Keduanya langsung menuju lift untuk sampai di basement.
“Aku sedih lihat Arsy. Pasti dia kecewa banget. Padahal dia sama bang Irzal udah ngarep banget punya anak,” ujar Dayana begitu mereka berada di dalam lift.
“Namanya takdir, ngga ada yang bisa menghindar kalau sudah ditakdirkan Allah. Semoga saja mereka cepat diberikan gantinya.”
“Aamiin.. Tapi aku kok jadi takut ya, mas. Aku takut seperti Arsy kalau hamil.”
“Berpikir positif aja, sayang. Dan jangan lupa untuk berdoa.”
“Iya, mas.”
Dayana memeluk tangan Rafa seraya menyandarkan kepalanya di lengan pria itu. Sebagai seorang wanita, selain bisa merasakan kesedihan yang dialami saudara sepupunya. Dia juga takut kalau sampai mengalami hal yang sama.
Setelah Dayana dan Rafa berpamitan, satu per satu yang ada di sana juga berpamitan untuk pulang. Stella dan Tamar menyusul pulang lebih dulu. Keduanya segera masuk ke dalam mobil. Stella masih belum memakai sabuk pengamannya, wanita itu masih duduk diam sambil memandang ke depan.
“Bang.. kalau seandainya aku ngalamin seperti Arsy, apa abang bakalan tetap damping aku?”
“Jangan mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi.”
“Iya, bang. Tapi aku kepikiran aja. Setiap wanita hamil pasti ada resiko keguguran. Dan kalau sampai mengalaminya, pasti bakalan shock banget kaya Arsy. Beruntung bang Irzal sabar dan terus mendampingi Arsy. Jujur aja, aku baper lihat bang Irzal sama Arsy.”
Tamar mendekatkan tubuhnya. Ditariknya tali sabuk pengaman kemudian memasangkannya ke tubuh sang istri.
“Ella sayang.. jangan iri dengan kebahagiaan orang lain. Tiap orang punya cara sendiri untuk jadi bahagia. Seperti kita yang punya cara sendiri juga untuk bahagia. Aku mencintaimu apa adanya, aku suka semua yang ada di dirimu, sampai masakanmu yang amburadul juga aku suka.”
“Ish.. abang muji sambil ngeledek.”
Tamar terkekeh mendengar rengekan sang istri. Tangannya bergerak mengusak puncak kepala Stella yang sekarang panggilannya sudah berubah. Tamar lebih memilih memanggil istrinya dengan panggilan Ella, alih-alih Stella. Dia ingin memberikan panggilan yang lain saja pada istrinya itu.
“Kan emang bener masakan kamu masih amburadul rasanya.”
“Tapi sama abang dimakan juga.”
“Karena kamu yang masak. Apa itu ngga romantis?”
“Romantis kok.”
Sebuah senyum terbit di wajah Tamar. Dia meraih wajah Stella kemudian mencium bibir wanita itu dengan lembut. Stella langsung membalas ciuman sang suami tak kalah mesra. Setelah beberapa kali berbagi l*mat*n dan pagutan, Tamar pun mengakhirinya. Dia segera menjalankan kendaraan miliknya.
Suasana di kamar perawatan Arsy sudah sepi, semuanya baru saja membubarkan diri. Meninggalkan pasangan itu hanya berdua saja. Dokter Suci yang baru menyelesaikan operasi langsung memeriksa keadaan Arsy. Dia lega melihat juniornya itu sudah lebih tenang kondisinya.
“Keadaan Arsy baik-baik aja kan, dok?”
“Iya.”
“Saya berapa lama harus dirawat, dok?”
“Kalau kondisimu sudah stabil, besok juga sudah bisa pulang. Tapi sebelumnya kamu harus pasang KB dulu, Sy. Kalian disukusikan dulu aja mau KB jenis apa. Selama enam sampai tujuh bulan kamu belum boleh hamil dulu, ya. Setelah itu kalian bisa program hamil lagi.”
“Iya, dok.”
“Obatnya jangan lupa diminum. Sekarang kamu istirahat aja. Jangan banyak pikiran. Damping terus istrinya ya, pak Irzal.”
“Iya, dok.”
Selesai memeriksa dan memberikan nasehat pada Arsy, dokter Suci dan perawat yang mendampinginya segera meninggalkan ruang rawat tersebut.
“Mas mandi dulu ya.”
“Iya, mas. Tadi bunda udah bawain pakaian ganti buat aku sama mas.”
“Iya, sayang.”
Irzal mengambil tas berisi pakaian ganti kemudian masuk ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama bagi Irzal untuk membersihkan diri. Pria itu keluar dengan mengenakan kaos dan celana jogger.
“Mas tidur di sini ya, sama aku,” Arsy menepuk ruang kosong di sebelahnya.
Tanpa mengatakan apapun, Irzal segera naik ke atas bed lalu membaringkan diri di samping sang istri. Arsy langsung masuk ke dalam pelukan suaminya. Sebuah kecupan diberikan Irzal di kening istrinya.
“Mas.. maafin aku. Kalau tadi aku ngga maksa bertahan di IGD mungkin ceritanya akan lain.”
“Ini semua sudah takdir, sayang. Kamu jangan menyesalinya terus. Mungkin belum waktunya kita memiliki momongan. Allah masih memberikan kita waktu lebih lama untuk berdua.”
“Iya, mas. Tapi aku ingin cepat punya anak lagi.”
“Kamu dengar apa kata dokter Suci. Setelah tujuh bulan, kita bisa promil lagi.”
“Iya, mas.”
“I love you, sayang.”
“I love you too.. makasih karena mas terus mendampingiku.”
Hanya sebuah ciuman yang diberikan Irzal sebagai balasan atas ucapan istrinya. Hati Arsy menghangat mendapatkan perlakuan lembut dan penuh cinta dari suaminya. Dalam hatinya berjanji akan menjadi istri yang lebih baik lagi untuk Irzal ke depannya. Dan berharap Tuhan akan segera memberikan ganti anaknya yang sudah diambil kembali oleh-Nya.
🍁🍁🍁
**Jangan pada laper ya eh baper😂
NR ngga up ya. Hari ini aku cuma up HIL aja, ok😉**
__ADS_1