Hate Is Love

Hate Is Love
Pasangan Romantis


__ADS_3

“Aku pengen makan telor ceplok kaya yang Geya buatin kemarin.”


“Ya udah aku buatin,” Geya hendak bangun dari duduknya.


“Tapi mas Rafa yang buat.”


Geya mengehentikan pergerakannya begitu mendengar ucapan Dayana selanjutnya. Dia melihat pada Rafa yang juga tengah melihat padanya.


“Telor kaya gimana, Ge?” tanya Rafa.


“Ayo aku ajarin, bang.”


Rafa bangun dari duduknya lalu mengikuti langkah Geya menuju dapur. Rakan, Daffa dan Zar yang berada di dapur penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Geya. Apalagi di belakangnya Rafa menyusul. Mereka penasaran apa bisa Rafa yang biasa menggunakan pisau bedah kini harus memegang pisau dapur.


“Aku saranin ya, bang. Selama kak Aya hamil, stok telor jangan sampai habis. Aku ajarin cara buat saosnya ya.”


Dengan cepat Geya menyiapkan semua bahan yang diperlukan. Dengan seksama Rafa memperhatikan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat saos. Geya mengambil pisau dan talenan.


“Bawang putihnya digeprek terus dicincang. Sama bawang bombaynya juga diiris kotak-kotak.”


Setelah bawang putih dan bombay dikupas. Geya memberi contoh bagaimana memotong bawang bombay sebentar, lalu menyerahkan pekerjaannya pada Rafa. Dokter bedah jantung itu melanjutkan pekerjaan Geya mengiris bawang bombay. Lalu dia menggeprek bawang putih dan mencincangnya.


“Ok, sekarang ditumis bawangnya. Ditumisnya pake minyak wijen ya, bang. Secukupnya aja, ditumis sampe harum. Terus tambahin saos tiram, saos sambel, kecap Inggris, kecap asin, gula, penyedap sama irisan cabe rawit merah terus tambah sedikit air.”


Rafa melakukan apa yang diperintahkan Geya. Dia menambahkan bahan yang tadi disebutkan gadis itu. Tangannya terus bergerak mengaduk-aduk saosnya sampai sedikit kental kemudian mematikan apinya.


“Sekarang bikin telor ceploknya.”


Sebuah pan sudah tersedia di atas kompor. Rafa menaruh sedikit margarin ke atasnya. Setelah semua permukaan pan diolesi margarin, diam membuka dua telur dan dimasukkan ke dalam wajan. Geya mengecilkan kompor, dia juga menaburi sedikit garam di atas kuning telur.


“Ngga usah dibalik, kuning telurnya harus utuh aja kaya gini. Kak Aya suka yang pinggirannya kering.


Semua arahan Geya dilakukan dengan baik oleh Rafa. Terliaht telur sudah mulai matang, dan pinggirannya sudah kering, hanya bagian tengahnya masih utuh berwarna kuing.


“Nah sekarang masukin nasi ke piring, taro telor ceploknya di atas nasi terus tambah saosnya. Selesai..”


Rafa memandang puas hasil karyanya. Walau hanya telor ceplok, tetap membutuhkan usaha juga, terutama saat membuat saos. Rafa membawa piring berisi makanan pesanan sang istri dan kembali ke ruang tengah. Mata Dayana berbinar melihat makanan pesanannya jadi.


“Mau disuapin?” tawar Rafa.


“Mau.”


Rafa memotong telur kemudian mengambil nasi dengan sendok lalu meyuapkannya pada Dayana. Kedua jempol wanita itu terangkat, memuji hasil masakan suaminya. Sementara itu di dapur, seperginya Rafa, Daffa mendekati pan lalu mencicipi saos yang tadi dibuat oleh Rafa.


“Ehmm.. enak saosnya.”


“Siapa dulu gurunya, Geya,” bangganya.


“Eh abang. Mau aku bawain makanan ngga ke rumah sakit?” lanjut Geya.


“Kapan?”


“Kapan aja abang mau. Besok gimana?”


“Besok aku shift malem.”


“Selasa paginya aja deh aku bawain sarapan, mau kan? Pasti mau dong?”


“Ya bolehlah.”


“Maksa banget sih. Lo naksir ya sama Daffa?” ceplos Zar.


“Emang kenapa kalo iya? Bang Daffa kan mau ngelamar aku abis beres residensi.”


Uhuk.. uhuk..


Kembali Daffa dibuat terbatuk mendengar ucapan Geya. Zar malah terbahak mendengarnya. Dia yakin seratus persen kalau apa yang dikatakan Geya adalah keinginan dari sepupunya, bukan keinginan Daffa. Rakan pun tak bisa menahan senyumnya. Ternyata sang adik tengah dipepet gadis yang tergila-gila padanya.


“Maaf ya, Ge. Aku ngga akan nikah sebelum bang Rakan. Aku ngga mau dikutuk jadi sandal jepit sama dia.”


Sebuah toyoran mendarat di kepala Daffa. Pria itu hanya terpingkal saja melihat sang kakak yang melakukannya. Zar mendekati Geya lalu merangkul adik sepupunya itu. Dengan wajah serius dia berkata.


“Kuliah aja yang bener. Dapet nilai bagus dan jangan malu-maluin daddy Nan. Kamu mau magang kan? Mending konsen magang aja dulu. Kamu mau magang di mana? Di kantor aja sama abang.”


“Ngga. Aku mau magang di rumah sakit Ibnu Sina.”


“Ngapain magang di sana? Mo jadi tukang ngepel?”


Geya mencebikkan bibirnya pada Zar. Ucapan kakak sepupunya itu sama saja seperti kakeknya. Daffa berpikir sejenak. Kalau Geya magang di rumah sakit tempatnya bekerja, bisa dipastikan dia akan dibuat pusing oleh gadis itu.


“Bang, di rumah sakit ada bagian humas juga kan? Aku mau magang di bagian humasnya aja.”


“Ge.. mending magang di kantor daddy aja atau sama abang.”


“Ngga mau.”


“Kamu jangan malu-maluin.”


“Bodo. Pokoknya aku mau magang di Ibnu Sina. Aku mau bilang ke papa Reyhan,” dengan cepat Geya meninggalkan dapur.


“Papa?” gumam Zar bingung.


“Hahaha… selamat ya, Daf.”


Rakan memeluk pundak adiknya ini. Daffa hanya bisa melemparkan cengirannya saja. Zar menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya Geya langsung memanggil Reyhan dengan sebutan papa, padahal belum tentu pria itu mau dipanggil seperti itu oleh Geya.


“Sepupu siapa sih itu,” gumam Zar.


“Elo!!” kompak Daffa dan Rakan sambil tertawa.


Sesampainya di ruang tengah, Geya langsung mencari keberadaan Reyhan. Lalu matanya menangkap Reyhan dan Ayunda tengah berbincang dengan mommy dan daddy-nya. Dengan cepat gadis itu mendekat. Dia mendudukkan diri di sisi Kenan. Matanya menatap pada calon mertua yang ada di depannya seraya melemparkan senyuman.


“Ngapain kamu ke sini?” tanya Kenan curiga.

__ADS_1


“Ish daddy, gitu amat nanyanya. Ehm.. kalau di Ibnu Sina ada bagian humasnya ngga?” Geya melihat pada Reyhan.


“Ada. Kenapa?” jawab Reyhan.


“Aku boleh ngga magang di sana? Boleh ya, pa.”


Mata Kenan langsung membulat mendengar Geya memanggil Reyha dengan sebutan papa. Zahra memalingkan wajahnya ke arah lain, malu bersitatap dengan Reyhan dan Ayunda. Reyhan hanya melongo saja mendengar Geya memanggilnya papa, sedang Ayunda sebisa mungkin menahan senyumnya.


“Kamu mau magang di sana? Kapan?” tanya Reyhan kembali setelah hilang keterkejutannya.


“Ngga usah, mas. Biar dia magang di kantor aku aja,” sela Kenan.


“Ish daddy, aku ngga mau nepotisme. Aku mau magang di Ibnu Sina aja, titik. Boleh ya, pa.”


“Boleh. Nanti coba om eh papa tanya ke bagian humasnya.”


“Asik.. makasih papa. Mama ngga keberatan kan aku magang di sana?” Geya melihat pada Ayunda.


“Ngga kok,” jawab Ayunda sambil tersenyum.


“Mama sama papa baik banget, makasih ya.”


Geya bangun dari duduknya. Sebelum pergi dia mencium pipi Ayunda dan Reyhan dulu, lalu segera meninggalkan kedua orang tua dan calon mertua versinya. Kenan hanya mampu menepuk keningnya melihat kelakuan sang anak.


“Aduh, maafin anak kita, mas Rey, mba Yunda,” ujar Zahra.


“Ngga apa-apa, Zahra,” jawab Ayunda sambil tersenyum.


“Geya sepertinya suka sama Daffa ya,” tebak Reyhan.


“Iya, mas. Aduh tuh anak malu-maluin aja,” ujar Kenan.


“Maklum aja, namanya anak muda.”


“Ya mending kalau Daffanya mau. Yang ada tuh anak sawan lihat kelakuan Geya.”


“Hahaha.. ada-ada aja kamu, Nan.”


“Mas Rey sama mba Yunda punya anak laki tiga, high quality semua. Habis Aqeel nikah, sekarang Rakan yang lagi pedekate sama Ila dan Daffa yang dipepet Geya.”


“Anakmu juga cantik, Ra. Aku suka Geya,” jawab Ayunda.


Senyum kelegaan nampak di wajah Zahra. Ternyata Ayunda sama sekali tidak mempersalahkan sikap Geya yang ajaib. Bahkan mereka juga tidak menolak dipanggil mama dan papa oleh anaknya itu.


🍁🍁🍁


Acara syukuran kehamilan Dayana sudah berakhir. Calon orang tua itu juga sudah kembali ke kediamannya. Semua yang hadir juga sudah meninggalkan kediaman Kevin satu per satu. Rakan berinisiatif mengantar Vanila pulang ke rumah. Pria itu mengajak Vanila naik ke mobilnya.


“Abang akhir-akhir ini sibuk banget ya,” tanya Vanila saat mereka dalam perjalanan.


“Lumayan. Emangnya kenapa?”


“Ngga apa-apa.”


Vanila mengarahkan kepalanya ke jendela samping. Dia masih kesal pada Rakan yang masih belum melamarnya sampai saat ini. Padahal sudah dua bulan berlalu sejak pernikahan Dayana dan Rafa. Sejak kepulangan pria itu dari Singapura, hubungan mereka semakin dekat tapi Rakan belum ada tanda-tanda untuk melamarnya.


“Kita jalan-jalan aja ke taman. Aku mau menghirup udara segaaaaarrr,” jawab Vanila setengah kesal.


Tanpa bertanya lagi, Rakan segera melajukan kendaraannya menuju salah satu taman. Sesampainya di sana, dia mengajak Vanila untuk turun. Mereka mengelilingi taman sambil menikmati udara sore. Terlihat beberapa anak yang bermain di taman ditemani orang tua mereka. Rakan lalu mengajak Vanila duduk di salah satu kursi.


“Kamu kenapa? Dari tadi kelihatannya bête.”


“Abang pikir aja sendiri.”


“Kamu marah sama abang?”


“Iya, aku keseeeeel banget sama abang. Abang tuh nyebelin, ngga peka, bikin orang bête!”


Rakan menggaruk kepalanya, dia sama sekali tidak mengerti apa yang menyebabkan Vanila marah padanya. Dipandanginya Vanila yang masih memasang wajah cemberut. Otaknya bekerja keras memikirkan kesalahan apa yang sudah dibuatnya.


“Kamu marah kenapa? Abang salah apa? Coba ngomong deh, abang ngga ngerti.”


Vanila masih duduk membelakangi Rakan. Dia benar-benar kesal, lelaki di sampingnya ini benar-benar tidak peka akan apa yang dirasakannya. Perlahan dia menolehkan kepalanya pada Rakan. Dengan sabar pria itu masih menunggu Vanila membuka mulutnya. Akhirnya gadis itu membalikkan tubuhnya. Kini mereka duduk berhadapan.


“Abang tuh serius ngga sama aku?”


“Ya serius dong. Kenapa?”


“Abang tuh deketin aku buat apa coba? Katanya ngajakin pacaran halal tapi ngga ada actionnya!”


Untuk sejenak Rakan masih terdiam memikirkan ucapan Vanila. Tapi kemudian dia mengerti maksud gadis di depannya. Wajahnya menyunggingkan senyuman, ternyata Vanila menunggu dirinya melamar.


“Kamu sudah siap abang lamar?”


“Siap ngga siap ya harus siap.”


“Ya ngga bisa gitu. Abang mau kamu siap dulu, baru abang ngelamar. Abang ngga mau kamu terpaksa terima abang.”


“Siapa juga yang merasa terpaksa? Abang niat ngga sih lamar aku?”


“Ok, minggu depan abang bakal lamar kamu. Bilang sama orang tuamu, ya.”


Sebuah senyum terbit di wajah Vanila. Gadis itu menundukkan kepalanya setelah sadar kalau dirinya baru saja memaksa Rakan untuk melamarnya. Rakan hanya tersenyum melihat sikap Vanila yang menggemaskan. Sepulang mengantar Vanila, dia akan membicarakan soal lamaran pada kedua orang tuanya.


🍁🍁🍁


Sambil bersenandung kecil, Stella memasukkan pakaian kerja suaminya yang baru selesai disetrika olehnya. Sepulang dari rumah Kevin, wanita itu langsung menyiapkan pakaian kerja suaminya yang akan dikenakan besok. Tamar baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuhnya sudah lebih segar setelah terkena guyuran air. Dia mendekati Stella yang berdiri di depan lemari. Dipeluknya tubuh sang istri dari belakang.


“Sayang..”


“Hmm..”


“Akhir pekan besok kita jalan-jalan yuk, nginep di luar.”

__ADS_1


“Tumben. Emang abang ngga kerja?”


“Akhir pekan kan aku libur.”


“Oh iya.”


Stella melepaskan pelukan Tamar kemudian membalikkan tubuhnya. Wanita itu berdiri di depan Tamar sambil mengalungkan kedua tangannya. Kedua tangan Tamar langsung melingkari pinggang istrinya.


“Abang mau liburan kemana?”


“Kemana aja, yang penting berdua sama kamu.”


“Ok, bang.”


“Kamu udah selesai datang bulan?”


“Udah. Emang abang ngga lihat aku tadi shalat?”


“Cuma mastiin aja, sayang.”


Stella mendongakkan lehernya ketika Tamar menciumi leher jenjangnya. Tangannya meremat rambut sang suami dan ******* keluar dari mulutnya. Dia tahu kalau Tamar sudah sangat ingin menjamahnya. Mungkin pria itu juga ingin segera memiliki momongan seperti Dayana dan Rafa.


Stela memekik pelan ketika Tamar mengangkat tubuhnya. Pria itu memagut bibir istrinya sambil berjalan menuju ranjang. Dia mendudukkan diri di sisi ranjang dengan Stella berada di pangkuannya. Pertautan bibir mereka masih terus berlangsung. Tangan Tamar mulai bergerilya melepaskan pakaian yang melekat di tubuh istrinya.


Kemudian dengan perlahan dia membaringkan tubuh Stella di atas kasur. Dibukanya kaos yang menutupi tubuh bagian atasnya. Stella tersenyum ke arah suaminya ketika Tamar mulai mendekatkan tubuh padanya. Tak berapa lama, keduanya memulai adegan percintaan. Suasana kamar perlahan namun pasti mulai menghangat akibat aktivitas keduanya.


🍁🍁🍁


Sekeluarnya dari ruang kerja pribadinya, Irzal mencari keberadaan istrinya. Dia mendapati Arsy tengah duduk melamun di balkon. Wanita itu duduk di sofa sambil memeluk kedua lututnya. Matanya menatap lurus ke depan. Memandangi kelap kelip lampu di depan sana. Pikirannya melayang pada acara syukuran keluarga tadi siang. Tak dapat dipungkiri, hatinya sedikit iri melihat kebahagiaan Dayana.


Terdengar hembusan nafas panjangnya. Dia segera mengusir perasaan iri yang sempat melandanya. Apa yang terjadi pada Dayana adalah berkah yang diberikan Tuhan pada wanita itu. Sedang yang terjadi padanya, merupakan suratan takdir yang harus diterima dan dijalaninya. Dia yakin Tuhan sudah menyiapkan kebahagiaan lain untuknya.


Arsy terjengit ketika Irzal datang lalu mendudukkan diri di samping wanita itu. Tangannya merengkuh bahu sang istri. Arsy mendaratkan kepalanya ke pundak suaminya. Sebuah kecupan mendarat di puncak kepala Arsy.


“Apa yang kamu pikirkan?”


“Ngga ada, mas.”


“Kamu pasti ingin seperti Aya.”


Kepala Arsy terdongak mendengar ucapan suaminya. Irzal menolehkan kepalanya pada sang istri lalu mendaratkan ciuman di bibir Arsy. Tangannya mengusap pipi Arsy dengan lembut. Matanya terus memandangi kedua netra istrinya.


“Kalau sudah waktunya, kita pasti akan mendapatkan kebahagiaan seperti mereka. Kamu hanya perlu bersabar.”


“Iya, mas.”


“Kapan kamu akan kembali ke rumah sakit? Tadi Daffa menanyakanmu.”


“Apa mas mengijinkan aku kembali ke rumah sakit?”


“Tentu saja. Menjadi dokter adalah passionmu, kamu juga masih harus menyelesaikan magangmu. Kenapa mas harus melarangmu? Bukannya kamu mau mengambil residensi?”


“Mas masih mendukungku?”


“Tentu saja, sayang. Mas akan selalu mendukung impianmu. Jangan bersedih lagi. Sekarang mas akan lebih banyak meluangkan waktu untukmu. Kita nikmati waktu kita berdua lebih lama lagi. Setelah masa rehatmu selesai, kita akan promil lagi. Bagaimana?”


“Iya, mas.”


Senyum Arsy terbit mendengar perkataan suaminya. Tangannya memeluk pinggang Irzal seraya menyurukkan kepala ke dada bidang sang suami. Melihat sikap Irzal yang selalu lembut, penuh kasih sayang dan selalu mendukungnya, membuat Arsy yakin kalau kesedihan akan segera pergi darinya.


“Mas punya hadiah buat kamu.”


“Hadiah apa?”


“Sebentar.”


Irzal mengurai pelukannya, lalu masuk ke dalam. Tak lama dia kembali sambil membawa gitarnya. Pria itu kembali mendudukkan diri di samping sang istri. Dia mulai menyetem gitarnya. Mata Arsy berbinar melihat Irzal yang hendak bernyanyi untuknya. Sejak menikah, pria itu belum pernah bernyanyi khusus untuknya. Pertama kali dia melihat sang suami bernyanyi saat acara suksesi Infinity Corp.


“Kamu mau dinyanyikan lagu apa, sayang?”


“Apa aja, yang penting mas yang nyanyi.”


“Ok.”


Irzal memainkan gitarnya sebentar, memastikan kalau sudah tidak ada nada sumbang lagi di gitarnya. Dipandanginya sejenak wajah sang istri sebelum mulai memainkan gitarnya. Sebuah lagu berirama sedang dimainkan olehnya. Sambil memandangi wajah Arsy, Irzal memulai nyanyiannya.


“Sambut aku dengan senyummu. Bila aku pulang. Peluk aku usap keningku


Ringankan beban dipundakku. T’lah jauh kuberjalan. Mengarungi sang waktu.


Hanya untukmu. Coba kupetik bintang. Lalu kubawa pulang. Itu hanya untukmu. Ku ingin kau jadi tempat. Dimana aku bersandar dari penat letihku. Ku ingin kau jadi tempat. Dimana aku berhenti tuk tenangkan jiwaku. Wou o uwo wo wo. Wou o uwo.”


Senyum Arsy mengembang mendengar suara merdu suaminya. Kepalanya bergerak-gerak mengikuti irama lagu yang dimainkan Irzal lewat petikan gitarnya. Irzal terus bernyanyi sambil tak lepas memandang wajah cantik istrinya. Sebuah kecupan diberikan pria itu ketika dirinya masih memainkan gitarnya.


“Ku ingin kau jadi tempat. Dimana aku bersandar dari penat letihku. Ku ingin kau jadi tempat. Dimana aku berhenti tuk tenangkan jiwaku. Ku ingin kau jadi tempat. Dimana aku bersandar dari penat letihku. Ku ingin kau jadi tempat. Dimana aku berhenti tuk tenangkan jiwaku.”


Lagu yang dinyanyikan Irzal berakhir. Arsy bertepuk tangan, hatinya bahagia mendapatkan lagu yang sarat akan makna untuk dirinya. Wanita itu langsung memeluk tubuh suaminya. Irzal mendaratkan ciuman di puncak kepalanya.


“Lagunya bagus, mas. Aku suka.”


“Itu arti kamu bagiku, sayang. Jangan bersedih lagi. Bersama kita bisa melewati ini semua. Kalau kamu masih merasa sedih, jangan sungkan untuk berbagi kesedihan bersamaku.”


“Iya, mas.”


“Kamu mau request lagu apalagi? Malam ini aku jadi tukang ngamen spesial buat kamu.”


Tawa kecil Arsy terdengar. Dia berpikir sejenak, kemudian wanita itu membisikkan sebuah lagi di telinga suaminya. Irzal menganggukkan kepalanya. Dia lalu mulai memetik gitarnya. Menyanyikan sebuah lagi bertema cinta, permintaan khusus sang istri. Matanya menatap penuh cinta pada sang istri.


“Always said I would know where to find love. Always thought I'd be ready and strong enough. But some times I just felt I could give up. But you came and you changed my whole world now. I'm somewhere I've never been before. Now I see, what love means. It's so unbelievable. And I don't want to let it go. Something so beautiful. Flowing down like a waterfall. I feel like you've always been. Forever a part of me. And it's so unbelievable. To finally be in love. Somewhere I'd never thought I'd be.”


Mendengar Irzal menyanyikan salah satu lagu kesukaannya, membuat Arsy juga ikut bernyanyi. Irzal mengehentikan nyanyiannya, memberikan kesempatan pada sang istri menyanyikan lagu tersebut. Dia terus mengiringi Arsy bernyanyi sampai lagu tersebut selesai.


🍁🍁🍁

__ADS_1


**Aduh pasangan² ini bikin ngiri aja ya😍


Yang mau kepoin lagunya, lagu pertama dari Naff, judulnya Bila Aku Pulang. Lagu kedua dari Craig David, judulnya Unbelievable. Semoga kalian suka ya😉**


__ADS_2