
Vanila menghempaskan bokongnya di sisi ranjang. Gadis itu mengusak rambutnya dengan kasar. Di malam pengantin, hatinya justru tidak tenang. Dia berdiri kemudian menuju lemari pakaiannya. Dibukanya pintu lemari, kemudian mengeluarkan pakaian dari dalamnya. Vanila harus pindah malam ini juga ke rumah mertuanya. Dia tidak mau ada wanita lain yang merebut pria yang belum ada sehari menjadi suaminya.
Dengan cepat Vanila memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Dia juga memasukkan kosmetiknya ke dalam tas dan menaruhnya di koper. Setelah menutup koper, wanita itu mengambil tasnya, dimasukkannya dompet, ponsel dan juga alat charger. Sambil menggeret kopernya, Vanila keluar dari kamar. Dia berhenti di depan kamar Alden, adiknya.
TOK
TOK
TOK
“Al!”
Tak berapa lama pintu terbuka. Mata Alden langsung tertuju pada koper yang ada di dekat pintu kamarnya. Lalu melihat pada Vanila yang berdiri di depannya mengenakan dress selutut.
“Lo mau minggat ke mana?”
“Anterin gue ke rumah bang Rakan.”
“Serius? Katanya mau tinggal terpisah dulu.”
“Ngga jadi, batal! Ngga usah banyak tanya, buruan anterin gue. Sekalian bawain koper gue.”
Tanpa menunggu jawaban dari Alden, Vanila bergegas turun ke bawah. Alden masuk ke kamarnya. Dia meletakkan dua buku yang tersisa lalu memasukkannya ke dalam koper. Pria itu hendak menyumbangkan buku-buku yang tidak digunakannya lagi pada pemilik panti. Alden sengaja menaruhnya di koper. Koper milik ibu panti sudah rusak, dan pria itu bermaksud memberikan koper padanya.
Setelah selesai dengan buku-bukunya, Alden menutup koper lalu membawanya keluar kamar. Warna dan model kopernya sama persis dengan milik sang kakak. Tanpa berpikir dua kali, dia segera membawa kedua koper tersebut ke bawah dan memasukkannya ke bagasi mobil.
“Ma.. aku pergi dulu,” Vanila berpamitan pada mamanya.
“Kamu mau kemana?”
“Ke rumah bang Rakan.”
“Katanya tiga hari lagi.”
“Ngga jadi, aku mau sekarang aja. Pa, grandpa, grandma, aku pergi dulu.”
Vanila menyalami kedua orang tuanya dan kakek neneknya. Dia terlalu malu untuk menjelaskan apa alasannya tiba-tiba berubah pikiran. Bergegas gadis itu keluar dari rumah lalu masuk ke dalam mobil. Dia harus tiba sebelum Rakan pulang ke rumah. Tentu saja untuk memberi kejutan pada suaminya itu.
“Akhirnya Ila pergi sendiri tanpa dipaksa,” ujar Alisha begitu anaknya pergi.
“Baguslah. Seorang istri memang sudah seharusnya tinggal bersama suaminya. Ide pacaran tinggal terpisah, benar-benar aneh,” lanjut Juna.
“Yang penting sekarang Ila sudah sadar,” sambung Nadia.
“Idenya Zar bagus juga,” celetuk Viren.
“Oh jelas, pelakor itu jenis virus yang meresahkan dan membahayakan. Wajar aja kalau anak itu ketakutan.”
Jawaban Alisha disambut tawa yang lainnya. Mereka lega Vanila akhirnya mau tinggal bersama Rakan. Berkat ide Zar, mereka bisa terhindar dari rasa malu pada keluarga Ramadhan.
🍁🍁🍁
Setelah berkendara kurang lebih sepuluh menit, Alden menghentikan kendaraannya di depan kediaman Reyhan. Vanila melepas sabuk pengamannya lalu turun dari mobil. Dengan asal dia mengambil salah satu koper yang ada di bagasi. Dengan gerakan tangan, gadis itu meminta adiknya untuk pergi.
Sambil menggeret kopernya, Vanila menuju teras rumah mertuanya. Ditariknya nafas panjang beberapa kali, baru kemudian tangannya bergerak memijit bel. Tak butuh waktu lama untuk Ayunda membukakan pintu. Wanita itu terkejut melihat menantunya berdiri di depan pintu dengan koper di sebelahnya.
“Ila..”
“Mama..” Vanila mencium punggung tangan Ayunda.
“Kenapa ngga bilang mau ke sini? Biar dijemput Rakan.”
“Ngga apa-apa, ma. Aku mau kasih kejutan buat bang Rakan.”
“Ayo masuk, sayang. Rakan masih kumpul-kumpul di rumah Bibie.”
Mendengar suara istrinya berbicara dengan seseorang, Reyhan keluar dari kamarnya. Sama sepeti halnya Ayunda, pria itu juga terkejut melihat kedatangan Vanila. Padahal menantunya itu bersikeras untuk tinggal terpisah dulu selama tiga hari.
“Ila..”
Vanila segera menghampiri Reyhan, kemudian mencium punggung tangannya. Pria itu melihat pada sang istri yang hanya dibalas senyuman saja. Tak disangka keputusan Vanila untuk tinggal bersama Rakan lebih cepat dari dugaan mereka. Pasti Vanila sangat ketakutan Rakan akan tergoda oleh Sasha.
“Aku boleh nunggu bang Rakan di kamar? Mau kasih surprise buat bang Rakan.”
“Ayo papa antar.”
Reyhan meraih koper Vanila lalu membawanya naik ke lantai dua. Vanila dan Ayunda mengikuti pria itu dari belakang. Reyhan membuka pintu kamar lalu memasukkan koper ke dalamnya.
“Mau papa hubungi Rakan?”
“Ngga usah, pa. Aku tunggu bang Rakan di kamar aja.”
“Baiklah.”
Reyhan memeluk pinggang istrinya kemudian keluar dari kamar sang anak. Vanila menutup pintu lalu memandangi isi kamar suaminya itu. Ini kali kedua dia menjejakkan kaki di kamar Rakan. Vanila mendudukkan diri di sisi ranjang. Setelah terdiam sejenak, dia melepaskan dress yang dikenakannya.
“Aku harus pake baju jahanam nih, biar bang Rakan ngga kegoda sama si buluk Sasha.”
Dengan hanya mengenakan pakaian dalam saja, Vanila mendekati koper. Dia segera membuka koper miliknya. Matanya membulat melihat isi koper bukanlah baju-baju miliknya, melainkan buku-buku milik Alden.
__ADS_1
“What?? Kopernya ketuker, oh my God. Aldeeeeennn..” gemas Vanila.
Vanila segera mencari tasnya, lalu mengambil ponsel dari dalamnya. Dengan cepat dia menghubungi sang adik, namun Alden tak menjawab panggilannya. Baru saja dia hendak mengubungi kembali, ponselnya lebih dulu berdering.
“Halo..”
“Kak.. lo salah ambil koper. Buset malu banget gue. Ini gue udah di panti.”
“Balikin koper gue!”
“Ah elo ngerjain aja. Lo yang salah ambil, bikin ribet.”
“Balikin ke sini, gue ngga ada baju ini.”
“Iya, nanti gue anterin. Gue mau ke rumah teman dulu bentar.”
“Sekarang, Al.. halo.. halo…”
Vanila berteriak kesal karena Alden langsung memutuskan sambungan. Dengan frustasi dia menutup kembali koper dan menaruhnya di dekat lemari. Wanita itu terpaksa harus memakai kembali dressnya.
Sementara itu Rakan yang baru kembali dari rumah Irzal, segera naik ke lantai dua setelah membasahi kerongkongannya. Pria itu tidak tahu kalau sang istri sudah menunggunya di kamar. Dengan cepat dia membuka pintu kamar.
“Aaaaaaa!!!”
Vanila yang hendak memakai kembali dressnya terkejut melihat pintu terbuka. Rakan tak kalah terkejutnya melihat sang istri berada di dalam kamar hanya mengenakan dalaman saja. Refleks dia menutup pintu kembali. Pria itu berdiri di depan pintu kamar.
Eh ngapain juga aku di sini. Ila kan istriku, aku sudah halal melihatnya seperti tadi.
Tangan Rakan kembali bergerak membuka pintu. Vanila baru saja selesai memakai dressnya, namun belum sempat menarik resleting yang ada di bagian belakang. Dengan tenang Rakan mendekati istrinya itu, walau sebenarnya jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
“Kamu kapan datang?”
“Baru aja, bang.”
“Kenapa ngga bilang mau ke sini? Kan aku bisa jemput.”
“Surprise buat abang.”
Rakan berjalan mendekati istrinya, lalu memeluk wanita itu. Tangannya menarik resleting dress Vanila hingga menutup sempurna. Perlahan pria itu mengurai pelukannya. Dia menarik tangan Vanila untuk duduk di sampingnya.
“Katanya tiga hari lagi.”
“Ngga jadi.”
“Kenapa?”
“Ngga apa-apa.”
Kepala Vanila terdongak, dia melihat Rakan tanpa berkedip. Sejujurnya Sasha memang alasan utamanya langsung pindah ke rumah mertuanya. Dia takut kalau Rakan sampai tergoda pada wanita itu.
“Sasha itu temannya Aidan, abang juga ngga kenal sama dia.”
“Loh katanya itu teman abang.”
“Bukan. Abang juga baru ketemu tadi. Itu cuma akal-akalan Zar aja biar kamu cemburu.”
“Ish.. bang Zar.. awas aja, bakal aku kerjain balik.”
“Sekarang kamu udah tahu soal Sasha. Apa kamu berubah pikiran?”
“Ngga, aku mau tinggal sama abang mulai malam ini. Maaf ya, bang, aku udah bersikap egois. Abang udah jadi suamiku, sudah seharusnya aku tinggal sama abang. Aku bersyukur kalau Sasha ternyata cuma pura-pura aja. Tapi aku harus menjaga suamiku, supaya tidak diambil perempuan lain. Selain itu, aku juga udah punya kewajiban sebagai istri. Abang maafin aku, kan?”
“Iya, abang udah maafin kamu.”
Senyum terbit di wajah Vanila. Rakan mendekatkan wajahnya, lalu mencium kening sang istri dengan lembut. Dipeluknya kembali tubuh wanita yang sudah berhasil membuatnya jatuh cinta lagi. Tangan Vanila memeluk pinggang Rakan dengan erat. Perlahan Rakan melepaskan pelukannya, lalu mengecup bibir Vanila.
Rona pipi Vanila kemerahan mendapat kecupan pertama dari suaminya. Jari Rakan mengusap pipi sang istri yang kemerahan. Dia kembali mendekatkan wajahnya dan mencium lagi bibir istrinya. Kali ini ciumannya lebih lama, tak sekedar menempelkan bibir saja. Dengan lembut pria itu menyesap bibir Vanila bergantian.
Ciuman keduanya terus berlangsung, mata Vanila terpejam menikmati pagutan demi pagutan yang diberikan suaminya. Tangannya meremat kaos yang dikenakan Rakan. Jiwanya melayang entah kemana merasakan sensasi yang baru pertama kali dirasakannya. Rakan mengakhiri ciuman panjangnya. Jarinya mengusap sisa saliva di bibir sang istri.
“Sudah malam, sebaiknya kita tidur. Kamu mau ganti baju, kan?”
“Koperku ketuker sama punya Alden. Itu isinya buku semua.”
“Kamu bisa pakai kaosku.”
Rakan bangun dari duduknya, lalu membuka lemari. Diambilnya kaos dari dalamnya lalu memberikannya pada sang istri. Vanila berdiri lalu menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian dia kembali keluar, masih mengenakan dress yang sama. Gadis itu menghampiri Rakan dengan kepala tertunduk.
“Kenapa, sayang?”
“Abang mau antar aku ke mini market?”
“Ada yang mau kamu beli?”
“Iya. Aku mau beli pembalut.”
Mendengar itu tentu saja Rakan terkejut. Malam pertamanya harus tertunda karena istri tercinta kedatangan tamu bulanan. Pria itu bangun dari duduknya, sambil menggandeng tangan Vanila, dia keluar dari kamar.
“Mau naik mobil atau mau jalan?”
__ADS_1
“Jauh ngga, bang?”
“Ngga, di depan kompleks mini marketnya.”
“Ya udah jalan aja. Sekalian cari udara segar.”
Sambil bergandengan tangan, pasangan pengantin baru itu berjalan menyusuri jalanan kompleks yang mulai sepi. Vanila memandangi tangannya yang digenggam erat oleh Rakan. Diam-diam dia tersenyum, hatinya bahagia bisa bersama suaminya. Berjalan-jalan di malam hari sambil bergandengan tangan.
Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di mini market milik Akhtar. Mini market tersebut sekarang memang buka 24 jam. Rakan segera mengajak Vanila masuk ke dalamnya. Karyawan yang memang mengenal Rakan langsung menegurnya.
“Malam mas Rakan.”
“Malam.”
“Cari apa, mas?”
“Biasa, keperluan perempuan.”
Vanila segera menuju rak yang memajang pembalut dari berbagai merk. Dia mengambil salah satu merk yang biasa dipakainya. Rakan mendekati Vanila.
“Mau beli apa lagi?”
“Apa, ya? Es krim aja deh.”
Gadis itu bergegas menuju boks es krim. Dia mengambil dua buah es krim kesukaannya. Setelah tak ada lagi yang hendak dibelinya, Rakan segera membayar barang belanjaan. Keduanya segera keluar dari mini market tersebut. Mereka kembali bergandengan tangan kembali ke rumah sambil memakan es krim.
“Besok kamu mau kemana?”
“Jalan-jalan, kita nonton yuk, bang.”
“Boleh. Kemana aja kamu mau, aku ngikut aja.”
“Abang ambil cuti, ngga?”
“Belum. Kamu mau abang cuti sekarang?”
“Jangan, nanti aja kalau aku udah siap.”
Vanila menundukkan kepalanya saat mengatakan itu. Rakan hanya mengulum senyumnya saja. Pria itu mempercepat langkahnya agar tiba di rumah lebih cepat. Setelah menutup pintu, keduanya naik ke lantai atas. Vanila langsung masuk ke dalam kamar mandi setibanya di kamar. Ponsel gadis itu berdering ketika dia masuk ke kamar mandi. Melihat nama sang pemanggil adalah Alden, Rakan menjawab panggilan tersebut.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Bang Rakan, ya?”
“Iya. Ada apa, Al?”
“Koper kak Ila yang ketuker tadi, besok abis shubuh aku antar ke sana.”
“Iya, ngga apa-apa. Maaf sudah merepotkan.”
“Ngga apa-apa, bang. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Rakan menaruh kembali ponsel di atas nakas. Bersamaan itu, Vanila keluar dari kamar mandi mengenakan kaos Rakan yang panjangnya sampai sebatas paha. Dengan kepala menunduk, dia mendekati Rakan.
“Tadi Al telepon. Katanya dia antar kopernya besok shubuh.”
“Ngga bisa malam ini?”
“Ngga bisa, sayang. Lagi pula kamu bisa pakai pakaianku, kan?”
Senyum Rakan terkulum melihat sang istri yang terlihat seksi. Sayang dia belum bisa beradu gulat di atas kasur. Diraihnya tangan Vanila lalu mengajak gadis itu naik ke atas kasur. Jantung Vanila berdetak tak karuan ketika keduanya merebahkan tubuh di atas kasur. Rakan membelai lembut wajah sang istri.
“Abang beneran cinta sama aku, kan?”
“Iya, sayang. Kenapa? Kamu ngga percaya?”
“Aku takut abang suka sama Sasha.”
“Kan tadi aku udah jelasin soal Sasha. Kamu ngga usah khawatir soal dia. Kamu, perempuan pertama yang membuat jantungku berdebar lagi setelah kepergian Shafa.”
“Apa abang masih mencintai kak Shafa?”
“Shafa punya kenangan indah di hatiku. Tapi dia hanyalah masa laluku. Sedang kamu masa depanku. Kita hidup untuk masa depan, bukan masa lalu.”
Senyum Vanila merekah mendengarnya. Sikap Rakan yang hangat, tutur katanya yang lemah lembut membuat hati gadis itu cepat berlabuh padanya. Rakan menarik pinggang Vanila, membuat tubuh mereka tak berjarak. Diciumnya kembali bibir yang sudah menjadi candu untuknya. Bibir pertama yang dicium olehnya, bibir milik seorang wanita yang sudah halal menjadi miliknya.
“I love you, Ila.”
“I love you too, bang.”
Sebuah kecupan mendarat di kening Vanila. Rakan mengeratkan pelukannya. Vanila menyurukkan kepalanya ke dada Rakan. Dapat dia dengar degupan jantung pria itu yang sama kerasnya seperti dirinya. Perlahan namun pasti kedua insan itu menutup matanya dan bersiap masuk ke alam mimpi.
🍁🍁🍁
**Malam pertamanya kepending gaaaeess😂
Jangan lupa mampir ke karya baruku ya, SUDDENLY MARRIED. Kisah Evan dan Alya yang harus menjalani pernikahan karena perjodohan. Langsung klik aja profilku, atau ketik judulnya di kolom pencarian terus klik covernya yang ini ya**
__ADS_1