
Dengan setia, Rakan terus mendampingi istrinya yang sedang berjalan-jalan di dekat ruang persalinan. Wanita itu sedang menunggu pembukaannya komplit. Sejak semalam Vanila tidak bisa tidur, karena merasakan kontraksi. Di pagi harinya, Rakan langsung membawanya ke rumah sakit. Saat datang, ternyata sang istri baru pembukaan enam.
Selain Rakan, Alisha dan Ayunda juga sudah berada di sana. Viren ke kantor sebentar untuk membereskan pekerjaannya, baru kemudian menyusul ke rumah sakit. Sedang Reyhan ada pasien yang harus dioperasinya pagi ini. Juna, Nadia, Kevin dan Rindu diminta menunggu di rumah. Mereka akan dikabari begitu Vanila melahirkan.
Langkah Vanila terhenti ketika merasakan kontraksi kembali. Kini rasa sakitnya cukup lama, dan intensitasnya semakin sering. Suster meminta Vanila masuk ke ruang persalinan untuk diperiksa kembali. Bidan meminta Vanila tetap berada di bed partus karena sudah pembukaan sembilan. Dia segera memanggil dokter, karena sebentar lagi pembukaan akan komplit.
Sepuluh menit berselang, pembukaan sudah benar-benar komplit. Dokter Suci sudah bersiap untuk membantu kelahiran. Rakan berdiri di samping sang istri, tangannya terus menggenggam tangan Vanila. Terdengar teriakan Vanila yang tertahan di dalam mulut, ketika wanita itu mengejan.
Beberapa kali Vanila menarik dan menghembuskan nafas. Dia masih mengisi tenaganya untuk mengeluarkan sang buah hati. Ketika kontraksi kembali melandanya, dia kembali mengejan, genggamannya di tangan Rakan semakin kencang saja. Tubuhnya terkulai ketika percobaan kali ini masih belum membuahkan hasil. Tanpa lelah, Rakan terus memberikan semangat.
Vanila kembali mengejan, sekuat tenaga dia berusaha mengeluarkan anak yang sudah dikandungnya selama sembilan bulan lebih. Kali ini berhasil, bayi mungil keluar dengan selamat. Bidan yang membantu langsung mengambil bayi tersebut. Untuk sesaat tidak terdengar suara tangisnya. Bidan menepuk-nepuk bokong anak itu, hingga akhirnya terdengar juga tangisan kencangnya.
Rakan dapat bernafas dengan lega mendengar suara tangis anaknya. Begitu pula dengan Vanila, perjuangannya akhirnya membuahkan hasil. Beberapa kali Rakan mendaratkan ciuman di puncak kepala istrinya. Suster segera membawa bayi perempuan itu untuk dibersihkan dan ditimbang.
Di luar ruangan, Alisha dan Ayunda tidak henti mengucapkan syukur. Akhirnya cucu mereka dapat lahir dengan selamat. Alisha segera menghubungi suami dan kedua orang tua dan mertuanya. Kini mereka hanya tinggal menunggu anak dan cucunya keluar dari ruang persalinan.
🍁🍁🍁
Suasana ruang perawatan VVIP kembali dipenuhi oleh keluarga Hikmat dan Ramadhan. Bergantian mereka mendatangi ruangan tersebut untuk menjenguk anggota baru keluarga yang baru saja lahir. Bayi mungil cantik hasil pabrikan Rakan dan Vanila nampak sedang tertidur pulas di boks bayi. Dia sama sekali tidak terganggu dengan kebisingan di dalam ruangan.
Senyum tidak lepas dari wajah Rakan dan Vanila, menandakan kebahagiaan yang mereka rasakan setelah menjadi orang tua. Juna dan Kevin tidak jemu memandangi wajah cantik cicit mereka. Dari Dayana dan Vanila, Kevin mendapatkan dua orang cicit cantik. Dia berharap dua cucunya yang lain bisa memberinya cicit laki-laki.
“Cantiknya cicit kita,” ujar Juna.
“Mirip sama aku,” celetuk Kevin.
“Mirip dari mananya, Vin? Lihat tuh, lagi tidur aja dia masih bisa senyum, ngga kaya uyutnya yang asem terus mukanya.”
Juna terkekeh melihat wajah masam Kevin. Abi, Cakra dan Jojo yang baru datang, segera menghampiri boks bayi. Sama seperti Juna dan Kevin, mereka juga mengagumi wajah bayi cantik yang belum mereka ketahui namanya.
“Siapa yang mirip Kevin?” tanya Abi yang tadi sempat mendengar percakapan kakak dan besannya.
“Anak ini mirip Kevin kayanya.”
“Emang mirip kok,” seru Jojo. Tentu saja jawaban pria itu menarik perhatian semuanya.
“Mirip apanya?” tanya Cakra.
“Gusinya, hahahaha…”
“Dasar mantan teh celup expired,” ujar Kevin pelan.
“Hahaha..”
Jojo cuek saja mendengar ledekan Kevin. Pria itu kemudian mendudukkan diri di sofa, disusul oleh keempat sahabatnya. Sepeninggal pandawa lima, Zar, Arya dan Aidan mendekat. Calon bapak itu juga kagum dengan wajah cantik keponakannya.
“Halo sayang,” ujar Zar pelan.
OEK
OEK
OEK
Ketiganya terjengit ketika terdengar suara tangis bayi cantik itu. Rakan bergegas mendekat kemudian menggendong anaknya. Zar kembali mendekat untuk menghentikan tangis keponakannya, namun tangis bayi mungil itu bertambah kencang. Rakan segera membawanya pada Vanila untuk disusui. Dia menutup bed dengan tirai, kemudian menghampiri yang lain.
“Dih.. tuh anak punya dendam apa sama gue,” celetuk Zar.
“Dia tau omnya modelan petasan banting, makanya udah nangis duluan pas dideketin, hahaha,” jawab Aidan.
“Dia dendam soalnya ibunya dipanggil Iler mulu,” sambung Arya.
“Hahaha..”
“Bang.. udah dikasih nama belum?” tanya Zar.
“Udah.”
“Siapa?”
__ADS_1
“Mau tau aja apa mau tau banget?”
“Jiaaaahhhh… bapaknya minta dikarungin nih.”
“Hahahaha…”
Rakan tak langsung menjawab pertanyaan Zar. Dia berjalan menuju sofa, lalu mendudukkan diri di samping sang mama. Pria itu menyandarkan kepalanya di bahu Ayunda. Tubuhnya letih, sejak semalam tidak bisa tidur dengan nyenyak karena sang istri yang mengalami kontraksi.
“Bang.. namanya siapa? Malah tidur,” cecar Zar.
“Lo penasaran banget sih?”
“Ya biar enak manggilnya. Masa iya mau gue panggil Kaleni.”
“Apaan Kaleni?”
“Rakan-Iler junior hahaha..”
“Dasar somplak,” Aidan menepuk kepala sahabatnya.
“Namanya siapa, Kan?” kali ini Juna yang bertanya.
“Divya Estiana Vaughan.”
“Nama yang bagus,” puji Juna.
“Pasti ngga ada sumbangsih dari uyutnya kan?” celetuk Abi.
“Hahaha.. kakek ada aja.”
Rakan tak bisa menahan tawanya. Apalagi ketika melihat wajah Kevin yang terlihat keki. Nina hanya menggelengkan kepalanya saja melihat sang suami yang sampai sekarang masih senang mengganggu Kevin.
Keramaian di ruang perawatan semakin bertambah ketika Irzal datang bersama dengan Arsy. Di belakang mereka, menyusul Daffa dan Aqeel. Kedua istri mereka belum bisa datang. Masih menyiapkan makanan untuk ibu menyusui katanya. Mereka harus bersabar untuk bisa melihat sang bayi, karena masih menyusu dari sumbernya langsung.
Abi melambaikan tangannya, meminta Arsy untuk mendekat. Diusapnya perut sang cucu yang mulai membesar. Di bagian tengahnya terlihat perutnya yang membelah, tanda kalau Arsy sedang hamil anak kembar. Dengan suara pelan, Abi mendoakan sang cucu yang masih berada di perut mamanya.
🍁🍁🍁
“Mal.. kita ke rumah sakit, yuk,” ajak Ayumi.
“Ngapain?”
“Kak Ila baru aja ngelahirin. Ayo kita ke rumah sakit sekarang. Eh beli kado dulu aja kali, ya. Menurut kamu kita beli apa nih?”
“Ngga tau,” jawab Kemal malas.
“Ish.. kamu tuh ngga ada inisiatifnya banget. Kasih saran apa, kek.”
“Aku kan belum punya anak. Mana kutahu mau kasih apa,” kilah Kemal.
Terdengar hembusan nafas kasar Ayumi. Calon suaminya ini selalu sukses membuatnya naik darah. Kalau tidak ingat sudah ada pembicaraan serius antara kedua orang tua mereka, ingin rasanya dia membatalkan pernikahan mereka. Tapi apa daya, pernikahan kurang dari dua minggu akan segera dilaksanakan. Dia tidak mau mempermalukan semua keluarga. Apalagi usulan menikah datang darinya.
Langkah Ayumi menuju toko yang menjual perlengkapan bayi dan anak terhenti ketika tahu Kemal tak mengikutinya. Pria itu berdiam di tempatnya, sambil mengutak-atik ponselnya.
“Kemal!” panggil Ayumi.
“Yum.. sorry aku pergi dulu, ya.”
“Mau kemana?”
“Barusan Deri wa, aku ditunggu di rumahnya.”
“Deri lagi, Deri lagi. Kamu lebih mentingin dia dari pada aku!” kesal Ayumi.
“Maaf, Yum. Lain kali deh, ngga apa-apa ya, sayang,” rayu Kemal.
“Terserah!”
Ayumi menghentak kakinya dengan keras, kemudian meninggalkan Kemal. Mengetahui Ayumi marah, alih-alih menyusulnya, Kemal malah langsung pergi begitu saja. Karuan saja hal tersebut membuat gadis itu bertambah kesal.
__ADS_1
“Dasar rese!”
“Aduh.”
Tanpa sengaja Ayumi menabrak seseorang. Karena kesal, dia jadi tidak memperhatikan jalan. Gadis itu mengangkat kepalanya, dia terkejut melihat orang ditabraknya adalah Nalendra.
“Bang Nal,” panggil Ayumi.
“Kamu kenapa, Ay.. marah-marah kaya gitu.”
“Maaf, bang. Aku lagi kesal sama Kemal. Aku ajakin nengok kak Ila, ada aja alasannya.”
“Ya udah, nengoknya bareng aku aja. Tapi anter beli hadiah dulu, ya.”
“Boleh, bang. Aku juga mau beli hadiah.”
Perasaan Ayumi sedikit membaik setelah bertemu dengan Nalendra. Keduanya segera menuju toko perlengkapan bayi dan anak. Cukup lama mereka berkeliling memilih hadiah yang cocok untuk keponakan mereka. Nalendra membeli tas perlengkapan bayi, sedang Ayumi membeli gendongan bayi. Setelah membungkus dengan kertas kado, keduanya segera meninggalkan mall tersebut.
Kamar yang dihuni Vanila sudah sepi dari para penjenguknya. Hanya tinggal Rakan, Vanila dan sang bayi saja. Nalendra memeluk Rakan seraya mengucapkan selamat. Ayumi menghampiri Vanila yang berada di bed.
“Selamat ya, kak Ila, bang Rakan. Mana baby-nya?” tanya Ayumi.
“Itu, lagi tidur di boks.”
Ayumi segera berjalan menuju boks bayi. Senyum Ayumi mengembang melihat wajah cantik keponakannya. Di belakangnya menyusul Nalendra. Wajah Divya perpaduan antara wajah Vanila dan Rakan. Yang pasti bayi mungil itu begitu cantik.
“Namanya siapa, bang?” tanya Nalendra.
“Divya.”
“Cantiknya, sama kaya anaknya,” sahut Ayumi.
“Kalian kok bisa dateng barengan? Janjian?” tanya Rakan.
“Ngga, bang. Aku ketemu Ayumi di mall. Dia lagi nangis di pojokan gara-gara ditinggal pacarnya,” Nalendra terkekeh setelahnya.
“Enak aja,” mata Ayumi hampir keluar.
“Kalian kayanya cocok, udahlah nikah aja.”
“Ayumi udah punya calon, bang. Kan bentar lagi mau nikah dia,” jawab Vanila.
“Cowok ngga punya komitmen kaya calon kamu tinggalin aja. Cari yang pasti-pasti aja.”
Ayumi hanya terdiam saja mendengar nasehat Rakan. Soal Kemal yang selalu mangkir jika diajak bertemu keluarga besarnya memang sudah tersebar ke seluruh keluarga. Barra juga sebenarnya kesal melihat tingkah Kemal. Namun dia menahan diri demi sang anak.
Diam-diam gadis itu melirik pada Nalendra. Nampak pria itu duduk tenang di sofa. Matanya terus menatap layar ponsel di tangannya. Sesekali tangannya seperti mengetikkan sesuatu. Tak lama kemudian dia berdiri dari duduknya.
“Bang, aku pergi dulu, ya.”
“Mau kemana?”
“Aku harus ke perkebunan. Udah selesai panen, hasilnya lagi disortir. Aku harus ngawasin penyortiran.”
“Ya, udah. Makasih ya udah datang.”
“Sama-sama. Ay.. kamu mau pulang sekarang atau nanti? Kalau sekarang, ayo aku antar dulu.”
“Sekarang aja, deh.”
Ayumi mengambil tasnya, kemudian menghampiri Vanila. Dia berpamitan pada kakak sepupunya itu, kemudian keluar dari ruang perawatan. Sepeninggal Ayumi dan Nalendra, Rakan naik ke atas bed, lalu membaringkan diri di samping sang istri. Sebuah kecupan diberikan di kening wanita itu.
“Makasih ya, sayang. Sudah memberiku anak yang cantik.”
“Sama-sama, bang. Terima kasih juga, abang selama ini udah sabar sama aku.”
Rakan meraih tangan Vanila, kemudian mencium punggung tangannya dengan mesra. Vanila menyurukkan kepalanya ke dada sang suami. Matanya sudah memberat, sejak melahirkan, dia belum memejamkan matanya. Rakan mengusap lembut punggung sang istri. Mengantar sang istri ke alam mimpi.
🍁🍁🍁
__ADS_1
**Pandawa lima dapet cicit lagi, selamat.
Yang mau lihat visual karakter di Hate is Love, langsung aja ke IG-ku ya, ichageul9563😉**