
Stella menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Sampai tiga hari ke depan, kuliahnya libur dan kini dia hanya luntang lantung ngga jelas di rumahnya. Kerjanya hanya merecoki sepupunya yang tengah berbulan madu, tapi itu juga tidak mendapat tanggapan dari Arsy. Stella memeriksa ponselnya, siapa tahu ada pesan dari sang sepupu, tapi ternyata tidak ada.
“Dasar sepupu durhalim. Dulu aja pas kangen nangis-nangis, gue yang nolong. Sekarang udah bahagia, gue dicuekin. Dasar monyet lupa sama kacangnya,” gerutu Stella pelan.
Gadis itu memilih berselancar dengan ponselnya. Dia benar-benar gabut, tidak ada yang bisa diajaknya main atau yang bisa direcokinya. Dayana sedang sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti program kemanusiaan bersama yayasan Qurota ‘Ayyun. Dia akan menjadi tenaga sukarelawan yang bertugas menjadi guru sementara.
Begitu pula dengan Suzy, jin itu entah menghilang kemana. Sejak pernikahan Arsy, dia tak lagi menunjukkan wujudnya. Mungkin saja jin wanita itu sedang mengincar gebetan lain sebagai pengganti Ferdi yang sudah pergi untuk selamanya. Karena kesal, Stella bangun dari tidurnya kemudian turun ke lantai bawah.
Terlihat di meja makan, papinya sedang duduk menikmati sarapan bersama dengan sang mami dan juga Dipa. Kedua eyangnya tidak terlihat sama sekali. Stella berdiri di belakang kursi Irvin, kemudian memeluk leher pria itu dari belakang.
“Eyang mana?”
“Eyang lagi kumpul sama bestie-nya di rumah KiJo,” jawab Anya.
“Cie.. eyang gaul kumpul ama bestie yang udah mulai ompong giginya, hihihi..”
Terdengar cekikikan Stella mendengar kata-katanya sendiri. Eyangnya itu memang senang berkumpul dengan para sahabatnya. Mereka kumpul bergiliran. Dan sekarang mereka berkumpul di rumah Jojo.
“Papi.. hari ini aku ikut sama papi ya ke kantor.”
“Tumben, ngapain?”
“Heleh paling mau ngerecokin. Kalau ngga mau gangguin audisi,” celetuk Dipa.
“Emang ada audisi, pa?”
“Ada.”
“Wah, aku ikut ya ke kantor. Aku kan juga mau lihat audisi.”
Stella bersemangat membujuk papinya. Siapa tahu saat audisi dia bisa bertemu laki-laki yang pas untuk menjadi kecengannya. Gadis itu sudah bosan menjomblo. Apalagi ketika melihat Arsy yang sudah bahagia bersama Irzal, dia juga ingin merasakan punya pasangan. Sayang belum ada lelaki yang bisa menarik perhatiannya.
“Jangan dibolehin, pi. Nanti dia malah ngerecokin aja.”
“Dipa diem lo!”
“Udah.. udah kalian ini ribut terus,” lerai Anya.
“Pokoknya aku ikut. Aku lagi LLGJ nih.”
“Apaan tuh?” tanya Irvin.
“Luntang-lantung ngga jelas.”
“Hahaha… ada-ada aja kamu.”
“Aku ikut ya, pi. Aku mau ganti baju dulu, tungguin.”
Sebelum meninggalkan ruang makan, Stella mendaratkan ciuman di pipi Irvin, kemudian bergegas naik ke lantai atas. Gadis itu memilih-milih pakaian apa yang akan dikenakannya. Dia ingin tampil cantik, dan tak kalah dari peserta audisi.
Stella memilih celana jeans dengan blouse warna peach dengan model cold shoulder. Setelah berganti pakaian, dia memoles wajahnya dengan make up tipis, dan tak lupa menyemprotkan parfum. Rambutnya yang panjang sebahu dibiarkan tergerai begitu saja. Setelah selesai, dia mengambil tas selempangnya. Dimasukkan dompet, ponsel, bedak dan lispstik ke dalamnya. Kemudian keluar kamar sambil bersenandung kecil.
Irvin yang sudah selesai sarapan, kembali ke kamarnya untuk mengambil tas kerjanya. Dari belakang Anya mengikuti. Dia merapihkan dulu dasi Irvin yang terlihat miring. Hari ini pria itu akan bertemu dengan investor yang akan mendanai produksi film terbaru mereka. Sedang di kantor akan diadakan audisi para pemerannya.
“Semoga sukses ya, a,” ujar Anya.
“Doain ya, sayang.”
“Pasti. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik buat aa.”
Irvin melingkarkan kedua tangannya ke pinggang wanita yang sudah mendampinginya selama 23 tahun. Diciumnya kening Anya cukup lama, kemudian ciumannya berlanjut ke bibir. Baru saja pasangan itu berbagi l*m*tan dan pagutan. Ketukan di pintu disusul suara stella mengganggu aktivitas mereka.
TOK
TOK
TOK
“Papi ayo pergi. Mesra-mesraannya lanjut nanti malam aja.”
“Anak itu,” kesal Anya.
“Hahaha… itu anakmu loh. Jahilnya ya turunan dari kamu,” Irvin menjawil hidung istrinya.
Sambil merangkul pinggang sang istri, Irvin keluar dari kamar. Di depan kamar, Stella menyambut mereka dengan cengiran khasnya. Melihat wajah masam Anya, dia tahu sudah mengganggu kemesraan kedua orang tuanya.
“Mami jangan marah.. nanti malem aku janji ngga akan ganggu,” Stella mengedipkan sebelah matanya.
“Dasar gendeng. Sana cari pacar, biar ngga gangguin orang terus.”
“Mana ada yang mau sama cewek ajaib kaya dia, mi. Palingan juga makhluk astral yang mau jadi pacarnya, hahaha…”
Dipa segera berlari keluar ketika melihat Stella yang sudah siap untuk menjitak kepalanya. Pemuda itu segera naik ke tunggangannya dan berangkat menuju kampus. Anya terus mengantarkan sang suami sampai ke depan pintu mobil. Stella langsung masuk ke dalamnya.
“Aa pergi dulu ya.”
“Iya, a. Awas jangan ngelirik-lirik daun muda.”
“Eeee.. mana pernah aa ngelirik. Paling melototin aja, hahaha.. aduh.. sakit sayang.”
Sebuah cubitan mendarat di pinggang Irvin. Pria itu memeluk sang istri kemudian mengecup bibirnya sekilas lalu masuk ke dalam mobilnya. Perlahan kaca jendela mobilnya terbuka, dia melambaikan tangan ketika kendaraan yang dikemudinya bergerak meninggalkan rumah.
“Ish papi bikin baper anak gadisnya pagi-pagi,” protes Stella.
“Makanya cari pacar sana, biar ngga jomblo terus.”
“Belum ada yang sreg.”
“Emang kamu mau yang kaya gimana sih?”
“Yang kaya papi pastinya,” Stella memeluk lengan Irvin sambil mengerling manja.
__ADS_1
Irvin hanya melemparkan senyuman saja mendengar ucapan sang putri. Anak gadisnya itu sering sekali berdebat dengan Anya, namun sangat manja padanya. Seperti kebanyakan anak perempuan yang memang sangat dekat dengan ayahnya dan menganggap sang ayah adalah cinta pertamanya.
“Kamu masih suka lihat penampakan ngga?”
“Masih, pi. Tapi seperti kata eyang, aku ngga boleh takut. Ya walau kadang aku takut juga, soalnya mereka serem-serem penampakannya. Tapi ada satu jin yang suka ngintilin aku.”
CIIITTT
Irvin mengerem mobilnya mendadak. Mendengar ucapan Stella, dia takut kejadian seperti Anya terulang lagi pada putrinya. Pria itu langsung menoleh pada Stella yang nampak bingung melihat sikap sang papi.
“Ada jin yang ngikutin kamu?”
“Iya, pi. Tenang aja, jinnya udah jinak kok. Dia malah nurut pas aku suruh pake penampakan Bae Suzy, hihihi..”
“Stella..”
“Beneran pi, aku ngga apa-apa. Lagian dia baik kok, dia sering ngusir hantu yang gangguin aku. Dia itu jin perempuan, aku ketemu pas lagi ke apartemen teman. Dia penunggu salah satu unit di sana. Dan orang yang ditaksirnya meninggal bunuh diri katanya. Terus..”
Stella menceritakan awal pertemuannya dengan Suzy. Selama ini memang dia merahasiakan tentang Suzy dari kedua orang tuanya dan kedua eyangnya. Hanya Dipa dan Arsy saja yang tahu soal Suzy.
“Stella, berteman dengan jin itu tidak baik.”
“Aku tahu, pi. Tapi dia beneran baik, kok. Lagian aku juga tahu kalau aku udah nikah, kemampuanku akan hilang dengan sendirinya. Jadi, selama aku masih bisa melihat makhluk astral biarin aku berteman dengannya ya, pi,” Stella menangkupkan kedua tangannya.
“Papi cuma ngga mau kamu kenapa-napa, sayang.”
“Iya, papi sayang. Stella janji akan baik-baik aja.”
“Kalau dia berusaha menyakitimu, kamu harus bilang sama papi.”
“Iya, papi sayang. Ayo jalan lagi, nanti papi terlambat.”
Irvin kembali menjalankan kendaraannya. Mendengar penuturan sang putri, hatinya sedikit tidak tenang. Dia akan membicarakan masalah ini dengan Anya dan Cakra. Irvin harus segera mencari pria untuk dinikahkan dengan anaknya. Pria itu tidak mau anaknya bergaul terlalu lama dengan makhluk astral.
🍁🍁🍁
Baru satu jam Stella berada di kantor J&J Entertainment, tapi gadis itu sudah merasa bosan. Dia mendapat kesempatan melihat langsung audisi atas ijin Barra, tapi tak ada yang menarik perhatiannya. Banyak lelaki tampan yang mengikuti audisi tersebut, tapi tak satu pun yang menarik perhatiannya.
Stella pamit untuk ke toilet, mendadak gadis itu mengantuk dan hendak membasuh wajah. Beberapa kali dia mengusapkan air ke wajah. Saat Stella mengangkat kepalanya dan menghadap ke cermin, dia terkejut melihat Suzy sudah ada di sampingnya.
“Astaghfirullah!!”
Bukan hanya Stella yang kaget, tapi seorang gadis yang bersamanya juga kaget mendengar teriakannya. Dia hanya melemparkan cengiran saja. Stella menunggu gadis yang bersamanya keluar dari toilet sebelum menyemprot Suzy yang hampir membuatnya terkena serangan jantung.
“Heh!! Lo bikin gue mati muda gara-gara serangan jantung?!” sembur Stella.
“Maaf.”
“Maaf.. maaf.. enak aja lo bilang maaf udah bikin gue kaget setengah mampus. Lo tuh udah kaya jailangkung datang ngga diundang.”
Stella mengeringkan wajahnya dengan tisu lalu memoles wajahnya dengan bedak. Suzy hanya melihat saja apa yang dilakukan bestie-nya itu, menunggu Stella selesai dengan riasannya.
“Stel..”
“Stel.. tolongin gue.”
“Tolong apa lagi? Kan pembunuh Ferdi udah ketangkep.”
“Ada anak disekap.”
“Anak siapa?”
“Ngga tau. Aku lagi jalan-jalan keliling perumahan terus aku dengar suara anak minta tolong. Kasihan Stel, anaknya disiksa sama orang tuanya terus dikurung di dalam lemari.”
Stella terdiam sebentar, dia iba juga mendengar cerita Suzy. Gadis itu kemudian melihat pada Suzy. Rasanya tidak ada salahnya mencari tahu lebih dulu tentang anak tersebut.
“Dia ada di mana?”
“Dia tinggal di perumahan Istana Regency, bloknya aku ngga tau. Tapi aku hafal rumahnya.”
“Ck.. ya udah, ayo.”
Bersama Suzy, Stella keluar dari kamar mandi. Dia berpamitan pada Barra untuk pulang dan meminta ijin pada pria itu meminjam supir perusahaan untuk mengantarnya. Barra menyetujui saja permintaan keponakannya itu.
Menggunakan mobil perusahaan, Stella meminta sang supir mengantarnya ke perumahan yang dimaksud Suzy. Istana Regency adalah salah satu perumahan mewah di kota Bandung. Banyak pejabat publik yang tinggal di sana. Sang supir terus menjalankan kendaraannya mengikuti arahan Stella, sampai akhirnya berhenti di depan rumah berpagar hitam.
“Lo yakin ini rumahnya?” tanya Stella seraya memandangi rumah besar di depannya.
“Iya. Di rumah ini ada penunggunya juga. Bentar aku cari dulu.”
Setelah mengatakan itu, Suzy menghilang. Stella memandangi rumah besar di depannya. Pasti pemilik rumah ini adalah orang penting. Rasanya tak mungkin saja kalau mereka melakukan penyiksaan dan penyekapan anak.
Tak lama Suzy kembali dengan makhluk penunggu rumah tersebut. Stella menutup wajahnya melihat penunggu rumah yang bentuknya seperti genderuwo. Menyadari itu, Suzy meminta sang penunggu untuk pergi.
“Penghuni rumah ini namanya Bertrand, istrinya Astrid. Dia punya anak angkat namanya Yogi, umurnya baru lima tahun. Tapi katanya Yogi ngga pernah dibawa keluar rumah. Di rumah sebesar ini cuma ada satu asisten rumah tangga aja.”
“Ngapain dia adopsi anak kalau ngga dibawa keluar, ngga diperkenalkan ke orang-orang. Mereka normal ngga sih?”
Suzy hanya mengangkat bahunya saja. Stella semakin dibuat penasaran saja. Dia meminta Suzy memperlihatkan sosok Yogi padanya. Suzy berubah menjadi Yogi. Stella memperhatikan sosok anak kecil di depannya, wajahnya pucat, bibirnya kering.
“Ini Yogi yang kamu lihat?”
“Iya.”
Sejenak Stella berpikir bagaimana caranya menolong Yogi. Dia tidak mungkin mengatakan mengenal Yogi, karena anak itu tidak pernah dibawa keluar oleh orang tuanya. Gadis itu mengambil ponselnya kemudian memesan taksi online.
“Ayo,” ajak Stella.
“Kita mau kemana?”
“Ke kantor polisi, ketemu sama si Tamara Belepotan. Minta tolong sama dia buat ngegeledah rumah.”
__ADS_1
Suzy hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia ikut masuk ke dalam taksi online yang dipesan oleh Stella. Tujuan mereka adalah kantor bareskrim, tempat Tamar bertugas.
🍁🍁🍁
“Capt ada yang nyari.”
“Siapa?”
“Ngga tau, cewek cantik,” ujar salah satu anak buah Tamar yang belum pernah bertemu Stella.
Sejenak Tamar terdiam. Pria itu mencoba menebak siapa wanita cantik yang dimaksud anak buahnya. Setelah menyelesaikan laporan, Tamar segera keluar dari ruangannya. Terdengar helaan nafasnya ketika melihat Stella yang menunggunya.
“Ngapain kamu ke sini?”
“Aku mau ngelaporin KDRT dan penyekapan anak.”
“Siapa korbannya?”
“Namanya Yogi, umurnya lima tahun. Dia sering disiksa orang tuanya dan disekap di lemari baju. Kamu harus geledah rumahnya, sebelum terjadi sesuatu dengannya.”
“Kamu yakin?”
“Iya.”
“Di mana alamatnya?”
“Perumahan Istana Regency Blok B nomer 18.”
Tamar memanggil anak buahnya, menyuruh pria itu mencari tahu siapa pemilik rumah yang disebutkan oleh Stella. Melihat sikap Tamar yang kooperatif, Stella nampak lega. Tak lama kemudian anak buah Tamar kembali.
“Itu rumah milik bapak Bertrand Subrata, anaknya bapak Reksa Subrata. Pak Reksa itu salah satu direktur BUMN, capt.”
“BUMN apa?”
“Bidang pertahanan,” bisik pria itu pada Tamar.
Stella bisa menangkap keterkejutan di wajah Tamar saat mendengar siapa pemilik rumah tersebut. Perasaan gadis itu langsung tidak enak. Pasti Tamar akan mempertanyakan dari mana dia mendapat kabar tersebut.
“Kamu yakin pemilik rumah itu melakukan KDRT pada seorang anak? Pak Bertrand belum mempunyai anak,” Tamar menatap curiga pada Stella.
“Iya, mereka memang belum punya anak. Tapi dia adopsi anak.”
“Dari mana kamu dapat kabar ini?”
“Euung.. itu.. aku..”
“Dari makhluk astral lagi? Apa dia yang memberitahumu?”
“Iya. Aku tahu dari Suzy.”
“Yaaa!!!”
Stella terkesiap mendengar teriakan kencang Tamar. Nampak pria itu menarik nafas beberapa kali. Dia berusaha meredam amarahnya karena lagi-lagi Stella memberinya informasi dari makhluk halus.
“Apa kamu tidak punya teman? Kenapa kamu senang sekali berteman dengan makhluk astral. Dengar, aku tidak punya waktu untuk ini. Mending kamu pulang.”
Tamar segera berdiri dari duduknya. Dia bermaksud kembali ke ruangannya. Namun Stella bergerak cepat dan menahan kepergian Tamar. Dia berdiri di depan pria itu, menatapnya dengan mata penuh permohonan.
“Minggir.”
“Tolong sekali ini aja. Kamu datang ke sana terus geledah rumahnya. Kamu pasti akan menemukan Yogi di sana.”
“Hey.. di mana otakmu?” Tamar menunjuk kepala Stella dengan jarinya.
“Apa kamu pikir menggeledah rumah orang tidak dibutuhkan surat perintah?” lanjut Tamar.
“Ya tinggal minta.”
“Atas tuduhan apa? Siapa pelapornya? Temanmu itu, si Susi?”
“Suzy bukan Susi.”
“Bodo amat! Lebih baik kamu pulang. Pusing kepalaku setiap ketemu kamu.”
“Ngga mau. Ayo kamu ikut aku, kita ke sana sekarang.”
Entah keberanian dari mana, Stella menarik tangan Tamar keluar dari kantor bareskrim. Tamar langsung menghentikan langkahnya, membuat langkah Stella juga berhenti. Gadis itu berbalik lalu melihat pada Tamar.
“Please ikut aku. Kamu harus nolong anak itu.”
“Dengar, untuk menggeledah rumah, aku butuh surat perintah. Surat perintah turun kalau ada pelapor dan saksi. Apa kamu bisa memberikannya? Bagaimana kamu bisa menghadirkan si Susi.. Susi itu?”
“Suzy.”
“Stella.. kamu memang cucu keluarga Hikmat, tapi bukan berarti kamu bisa melakukan sesuatu seenaknya. Kamu bisa mendapat tuntutan dari keluarga Subrata kalau seperti ini. Lebih baik kamu pulang.”
Tanpa menunggu jawaban Stella, Tamar segera masuk ke dalam kantornya. Stella berteriak kencang, lagi-lagi dia dibuat kesal dengan sikap Tamar. Gadis itu berjalan mondar-mandir memikirkan bagaimana cara mendapatkan bukti tentang keberadaan Yogi.
“Jadi gimana, Stel?”
“Ngga ada cara lain. Kita harus masuk ke rumah itu.”
“Kamu yakin?”
“Ehm.. aku akan bawa bukti soal Yogi dan lempar ke muka si songong itu. Ayo..”
Bergegas Stella meninggalkan kantor bareskrim tersebut. Tak lupa gadis itu memesan taksi online untuk membawanya kembali ke kediaman Bertrand.
🍁🍁🍁
**Tinggalin bentar yang lagi bulan madu ya. Kita intilin dulu yang lagi nanganin kasus baru😂
__ADS_1
Mohon maaf kalau kemarin adegan MP nya malah jadi dagelan. Cuma itu yang bisa aku buat gara² genre TEEN. Kenapa Tsubasa, keinget aja pas ngetik wkwkwk**...