
Pesta pernikahan digelar setelah acara akad nikah. Resepsi masih dilangsungkan di tempat yang sama, ballroom hotel Yudhistira. Setelah pasangan pengantin berganti pakaian, keduanya dipersilahkan naik ke atas pelaminan. Mereka didampingi oleh Reyhan, Ayunda, Viren dan Alisha.
Pintu ballroom dibuka, para tamu yang sudah datang dipersilahkan masuk untuk memberikan ucapan selamat. Satu per satu tamu undangan yang berasal dari kedua mempelai masuk dan naik ke panggung pelaminan. Pasangan pengantin beserta kedua orang tua bersiap menerima ucapan selamat.
Perlahan ruangan besar itu mulai dipenuhi tamu undangan yang datang. Pasangan pengantin tidak henti menerima ucapan selamat dan melakukan foto bersama tamu yang datang. Pihak keluarga yang sejak awal sudah berada di ballroom ikut berbaur dengan para tamu yang datang.
Wajah Arya nampak berseri ketika melihat Shifa juga datang bersama kedua orang tua dan adiknya. Mereka segera naik ke atas pelaminan untuk memberikan ucapan selamat. Reyhan memeluk Azriel ketika pria itu menghampirinya.
“Selamat, bang. Akhirnya Rakan melanjutkan hidupnya juga.”
“Terima kasih, Ziel.”
“Ay.. sekarang kamu ngga usah sedih lagi. Rakan sudah menemukan wanita yang mencintainya. Dan aku yakin Shafa juga bahagia melihatnya sekarang.”
“Aamiin.. terima kasih, Ziel. Kamu kapan mejeng di pelaminan?”
“Nunggu Shifa aja. Calonnya sih udah ada, cuma anaknya masih malu-malu meong,” Azriel melirik pada putrinya.
“Calon aku siapa?”
“Itu yang pertandingan di Senayan kemarin bawa supporter paling heboh.”
Merona wajah Shifa mendengarnya. Pertandingan terakhirnya di Indonesia kemarin memberikan kenangan yang luar biasa untuknya. Baru kali ini dia bertanding dengan supporter super heboh seperti Arya yang membawa rombongan para kakek yang masih berjiwa muda. Tak ingin mendapat ledekan dari Reyhan dan Ayunda, wanita itu bergegas menuju pasangan pengantin.
“Selamat ya, bang. Akhirnya sold out juga.”
“Makasih, Fa. Abang tunggu undangannya.”
“Ck.. undangan apaan sih?”
“Ngga usah kura-kura dalam perahu. Soal kamu sama Arya udah jadi rahasia umum.”
“Oh jadi calonnya bang Arya, ini toh,” Vanila menyambung pembicaraan.
“Belum calon, masih bakal calon,” ralat Rakan.
Shifa buru-buru turun dari panggung pelaminan. Berada di atas sana bisa menimbulkan efek bengek berkepanjangan. Baru saja Shifa menjejakkan kakinya di lantai, tiba-tiba Arya sudah berada di depannya.
“Miss you,” ujar Arya.
“Apaan sih,” Shifa melewati Arya begitu saja. Namun pria itu terus mengikuti Shifa tanpa menyerah.
“Kamu ngga mau bilang miss you too gitu?”
“Ngarep.”
“Oh iya, dong. Ngarep banget aku. Kamu kok tambah cantik sih.”
“Baru sadar aku cantik?”
“Udah lama aku sadarnya, tapi sekarang kamu terlihat jauh lebih cantik. Apa karena mau ketemu aku ya, kamu dandan cantik kaya gini.”
“Idih fatonah tuh.”
Arya terus mengikuti langkah Shifa menelusuri deretan stall yang rata-rata memiliki antrian panjang. Wanita itu berhenti di depan stall yang menyuguhkan sate ayam. Arya dengan setia menemani Shifa dan tidak ada penolakan pula darinya. Shifa mengambil lontong dan sate yang sudah disediakan lalu memberi bumbunya. Dia mengambil dua buah piring, satu lagi untuk Arya.
“Makasih calisku.”
“Calis apaan?”
“Calon istri.”
Wajah Shifa langsung merona mendengarnya. Refleks dia menundukkan kepalanya, Arya semakin dibuat gemas melihatnya. Tangan pria itu menarik tangan Shifa lalu membawanya ke meja yang dihuni pendawa lima. Karuan saja Shifa terkejut, namun dirinya juga sudah tidak bisa menolak lagi. Arya menarik kursi untuknya, mau tak mau Shifa mendudukkan diri di sana.
“Bagaimana kabarmu, Shifa?” tanya Abi.
“Alhamdulillah baik, kek.”
Shifa kembali bangun dari duduknya untuk menyalami semua pria yang ada di sana. Wanita itu mencium punggung tangan para tetua keluarga Hikmat. Cakra mengusap puncak kepala bakal calon cucu menantunya.
“Kemarin di Jerman open kamu kenapa kalah?” tanya Cakra.
“Ya namanya pertandingan, eyang. Kadang menang, kadang kalah.”
“Kamu kurang semangat kayanya, soalnya ngga ada Arya,” goda Juna.
“Ngga, grandpa. Selain lawan lebih bagus mainnya, kondisiku juga kurang fit waktu itu.”
“Oh fix itu sakit karena malarindu,” sambar Jojo.
“Nanti opa kirimin banner gambar Arya setiap kamu tanding, biar kamu semangat.”
Sontak semuanya langsung menoleh pada Kevin. Tumben sekali ucapan pria itu tidak nyeleneh dan tepat sasaran. Dengan jumawa Kevin mengangkat bahunya, wajahnya menunjukkan kesombongan hakiki.
__ADS_1
“Heleh baru sekali doang udah bangga,” ledek Abi.
Shifa hanya mengulum senyum saja melihat tingkah pandawa lima. Walau usia sudah tidak muda lagi, namun candaan dan sikapnya masih menunjukkan jiwa muda. Arya bangun hendak mengambilkan makanan lagi. Shifa ikutan bangun, dia memilih ikut berburu makanan dari pada harus tinggal bersama pandawa lima. Wanita itu takut tidak kuat menghadapi kejahilan para lansia tersebut.
Sepeninggal Arya dan Shifa, perbincangan padawa lima terus berlanjut. Kini mereka membahas soal Rakan dan Vanila. Mereka sudah mendengar soal ide nyeleneh Vanila yang ingin tinggal terpisah dari Juna. Tentu saja mereka kaget sekaligus kesal.
“Soal Ila gimana, kak? Itu anak masih pengen tinggal terpisah?” tanya Abi.
“Iya. Tapi waktunya sudah dipangkas dari sebulan jadi 3 hari.”
“Ada-ada aja. Turunan Kevin sih,” celetuk Abi.
“Kenapa nyalahin aku?”
“Kan itu cucumu sama kak Juna,” sambar Cakra.
“Nah bener. Kalo yang jelek-jelek pasti benihnya dari dia, hahaha..”
Kevin hanya menghembuskan nafas kasar mendengar ledekan para sahabatnya. Dia juga sama terkejutnya saat mendengar soal ide Vanila. Pria itu meminta Viren untuk bertindak tegas pada anaknya.
“Idenya Zar gimana?” tanya Cakra.
“Tenang aja. Sebentar lagi artisnya datang.”
“Rey sama Yunda udah dikasih tahu?”
“Udah, tenang aja.”
Dari arah pintu masuk, muncul seorang wanita cantik mengenakan dress panjang berwarna maroon. Dengan langkah anggun dia naik ke atas panggung. Dengan senyum merekah, wanita itu menghampiri Ayunda.
“Tante.. lama ngga ketemu.”
“Bagaimana kabarmu Sasha?”
“Alhamdulillah baik, tante. Ngga nyangka bang Rakan bakal nikah secepat ini. Tante jahat, kan aku udah booking duluan jadi calon menantu tante.”
Suara wanita yang bernama Sasha itu menarik perhatian Vanila. Sontak dia melihat pada Sasha yang masih berbincang dengan Ayunda. Hatinya cemburu melihat wanita itu yang terlihat begitu akrab dengan mama mertuanya.
“Itu siapa, bang?”
“Itu Sasha, teman abang. Kenapa?”
“Emang dia dekat banget ya sama mama Yunda?”
“Ya gitu deh.”
“Selamat ya mas Rakan. Aku sedih loh mas Rakan nikahnya bukan sama aku. Nih bocil beneran bisa jadi istrinya mas Rakan?”
Sasha melihat Vanila dengan mata mengejeknya. Mata Vanila membulat mendengar apa yang dikatakan wanita itu. Dan yang membuatnya dongkol, Rakan hanya menjawabnya dengan senyuman saja. Melihat senyum Rakan, tentu saja membuat Sasha semakin bertambah senang.
“Eh jangan ngomong sembarangan ya. Siapa yang bocil?” seru Vanila keki. Sasha tak mempedulikan protesan istri dari Rakan tersebut.
“Mas Rakan foto bareng, yuk.”
Tanpa menunggu jawaban Rakan, Sasha langsung berpindah di samping Rakan. Bahkan dengan sengaja dia mendorong Vanila hingga posisi wanita itu digantikan olehnya. Vanila tentu saja bertambah kesal. Kalau tidak ingat dirinya sedang berada di atas pelaminan, sudah dijambaknya rambut wanita itu lalu memaksanya turun dari panggung.
Dari bawah panggung, tamu yang baru datang juga ingin memberikan selamat. Sasha langsung berpindah ke samping kanan Rakan. Kini pria itu diapit oleh dua orang wanita sekaligus. Sasha ikut menerima ucapan selamat dari para tamu dan membuat Vanila semakin dongkol. Kedua orang tua pasangan pengantin sebisa mungkin menahan tawa melihat wajah Vanila yang terlihat kesal.
“Eh kamu ngapain di situ? Sana turun. Tar disangkanya laki gue punya bini dua. Turun sana!”
“Jangan marah-marah terus, tar cepet tua. Mas Rakan, aku ke bawah dulu, ya. Bye..”
Dengan genit Sasha mengedipkan matanya pada Rakan seraya melayangkan kiss bye pada pria itu. Darah Vanila mendidih melihat Sasha yang begitu berani menggoda Rakan di depan matanya.
“Itu siapa sih, bang? Rese banget.”
“Teman aku.”
“Teman kok kelakuannya kaya pelakor. Beraninya dia goda abang di depan aku.”
“Sasha emang seperti itu. Jangan diambil hati.”
“Ngga diambil hati gimana?” sewot Vanila.
Sungguh gadis itu tidak menyangka, di acara pernikahannya sendiri dia harus melihat ada wanita lain yang terang-terangan menggoda suaminya. Mempelai wanita itu tidak sadar, di bawah, Zar dan juga para sahabatnya sedang menertawakan dirinya yang tengah kebakaran jenggot. Sasha adalah teman Aidan yang ditugaskan untuk menggoda Rakan dan memancing rasa cemburu Vanila. Pria itu juga sudah menyiapkan rencana lain untuk sepupunya itu.
🍁🍁🍁
Jam dua siang resepsi selesai digelar. Dikarenakan pasangan pengantin memutuskan untuk tinggal terpisah, keduanya kembali ke kediamannya masing-masing. Vanila pulang ke kediaman Juna bersama dengan orang tuanya. Begitu pula dengan Rakan yang pulang ke rumah orang tuanya.
Awalnya semua baik-baik saja. Tapi selepas maghrib, Vanila dibuat uring-uringan saat melihat insta story sepupunya, Zar. Di sana Zar memposting kebersamaan dirinya bersama dengan para sahabatnya, termasuk Rakan. Pria itu mengadakan pesta bujang untuk mempelai pria di kediaman Irzal.
Yang paling membuat Vanila keki, ketika tanpa sengaja kamera Zar menangkap keberadaan Sasha di sana. Wanita itu nampak anteng berbincang dengan Rakan. Wajah Vanila mengeras, tangannya mengepal erat. Dengan cepat dia menghubungi suaminya itu.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Abang di mana?”
“Lagi ngumpul sama Bibie, Zar dan yang lain. Kenapa?”
“Di mana?”
“Di rumah Bibie.”
“Itu ngapain si Sasha di sana?”
“Dia emang suka ikut kumpulan.”
“Masa? Kok aku baru tahu. Kemarin-kemarin ngga pernah kelihatan.”
“Dia baru pulang dari Singapura. Makanya kamu ngga pernah lihat. Emang kenapa?”
“Aku ngga suka sama dia.”
“Kamu ngga percaya sama abang?”
“Aku ngga percaya sama dia.”
“Ya udah kamu ke sini aja.”
“Ngga bisa, kita kan lagi tinggal terpisah. Besok kan kita baru ketemu sekalian kencan.”
“Ya udah terserah kamu aja. Udah dulu ya, ngga enak sama yang lain.”
Tanpa menunggu persetujuan Vanila, Rakan langsung mengakhiri panggilannya. Vanila mencoba menghubungi Rakan lagi tapi tidak diangkat. Hati wanita itu resah, apalagi ada Sasha di sana. Dia takut Rakan tergoda oleh rayuan wanita itu. Vanila lalu menghubungi Arsy, dia ingin kakak sepupunya itu menjadi mata-mata untuknya.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Kak.. tolongin aku.”
“Tolong apa?”
“Ada bang Rakan di rumah?”
“Iya, kenapa?”
“Itu ada cewek gatel yang mepetin bang Rakan mulu. Coba kakak lihat deh.”
“Bentar.”
Suara Arsy tidak terdengar lagi, hanya ada suara langkah kaki wanita itu saja. Sayup-sayup Vanila bisa mendengar perbincangan para pria. Dan di antara mereka, terdengar suara Sasha yang tengah menggoda Rakan.
“Mas Rakan kok ngumpul di sini sih? Bukannya sama istri.”
“Mereka tinggal terpisah sementara waktu. Katanya sih mau pacaran dulu,” celetuk Zar.
“Ya ampun kasihan banget, mas. Resiko ya nikah sama bocil ya gitu. Ngga jadi malam pertama dong.”
Ucapan Sasha langsung disambut gelak tawa lainnya. Hati Vanila semakin geram mendengar perkataan Sasha. Beberapa kali dia menggigiti kuku jarinya. Masih belum terdengar suara Arsy, wanita itu seperti sengaja ingin membuat Vanila mendengar percakapan para pria di rumahnya.
“Mas.. gimana kalau malam pertamanya aku aja yang gantiin, hihihi..”
“Ila.. lo dengar ngga? Wah parah tuh cewek, mana dia duduknya mepet-mepet bang Rakan terus. Yakin lo mau lanjut tinggal jauhan?” Arsy mulai mengompori.
Tak ada jawaban dari Vanila. Tiba-tiba saja wanita itu mengakhiri panggilannya. Dengan hati diliputi amarah dan kecemburuan, dia kembali menghubungi Rakan. Untuk beberapa saat, pria itu tidak menjawab panggilannya. Namun tak lama kemudian terdengar suara Rakan menjawab panggilan.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Abang pulang.”
“Pulang kemana?”
“Pulang ke rumah abang. Ngga usah ikutan nongkrong di rumah bang Irzal lagi. Pokoknya abang pulang sekarang!”
“Ngga enak sama Bibie dan yang lain. Setengah jam lagi abang pulang.”
Lagi-lagi Rakan memutus panggilannya sebelum sempat Vanila membalas ucapannya. Dengan kesal Vanila melempar ponsel ke kasur. Dia menghempaskan bokongnya di sisi ranjang. Gadis itu mengusak rambutnya dengan kasar. Di malam pengantin, hatinya justru tidak tenang.
Padahal bukan seperti ini yang diinginkannya. Dia membayangkan menghabiskan malam pengantin dengan melakuka. Video call. Bercerita tentang apa saja, layaknya orang pacaran. Namun ternyata kenyataan tak sesuai impian.
🍁🍁🍁
Sesuai janjinya, setengah jam dari waktu terakhir Vanila menelponnya, Rakan pulang ke rumah. Jarak rumahnya dan Irzal hanya berselang satu rumah saja. Pria itu berjalan santai menuju rumahnya. Keadaan rumah nampak sepi ketika dia masuk ke dalamnya. Kedua orang tuanya pasti sudah masuk ke dalam kamar. Aqeel yang kembali sepuluh menit lalu dari kediaman Irzal juga sudah masuk ke kamarnya. Hanya Daffa yang masih bertahan di sana.
Sebelum naik ke kamarnya, Rakan lebih dulu ke dapur untuk membasahi kerongkongannya dengan air putih. Setelah meneguk satu gelas air putih, pria itu segera naik ke lantai dua. Dia segera menuju kamarnya. Saat Rakan membuka pintu, dia dikejutkan dengan teriakan seorang wanita.
“Aaaaaaa!!”
__ADS_1
🍁🍁🍁
Nah loh, siapa yang teriak tuh?