
BYUR!!
Arsy tersadar dari pingsannya ketika seember air menimpa tubuhnya. Gadis itu mengerjap-ngerjap mata dan mulutnya beberapa saat. Daus melemparkan ember yang digunakan untuk menampung air untuk membangunkan Arsy. Pria itu berjongkok di depan Arsy kemudian memegang dagunya.
“Siapa kamu?” tanya Arsy.
“Aku.. orang yang akan membawamu ke surga.”
“Cuih..”
Daus terkejut ketika tiba-tiba Arsy meludahi wajahnya. Dengan kesal dia mengusap air liur Arsy di wajahnya kemudian melayangkan tamparan keras ke pipi gadis di depannya.
PLAK!!
Sudut bibir Arsy sampai mengeluarkan darah mendapat tamparan keras dari Daus. Pria itu memberi kode pada Diki. Pria yang tengah menyamar jadi anak buah gank margarita itu mendekat kemudian memberikan jarum suntik pada Daus. Dengan asal Daus menancapkan jarum suntik ke lengan Arsy, membuat wanita itu meringis kesakitan.
“Hei gadis sombong… sebentar lagi kamu akan menjadi gadis liar. Kamu akan memohon padaku untuk memuaskanmu. Kalau kamu mau menyalahkan seseorang, maka salahkan saudara kembarmu yang mencari masalah denganku.”
Susah payah Arsy berdiri kemudian berjalan menjauh dari Daus. Tangannya meraba lengan yang tadi disuntik oleh pria itu. Punggung Arsy merapat ke dinding di belakangnya, kepalanya sedikit mendongak, matanya terlihat sayu.
Senyum licik tercetak di wajah Daus. Dia yakin sekali kalau Arsy sudah berada di bawah pengaruh obat perangsang yang disuntikkan olehnya. Dengan gayanya yang menyebalkan Daus menghampiri Arsy. Dia berdiri tepat di depan gadis itu seraya melemparkan seringaian liciknya.
“Apa kamu sudah ingin dipuaskan, sayang?”
“Iya.. tapi.. dalam mimpimu brengsek!!”
BUGH!
Sebuah tendangan mendarat di perut Daus, membuat pria itu mundur ke belakang beberapa langkah. Dia terkejut melihat Arsy yang tidak terpengaruh sama sekali dengan suntikan yang diberikan olehnya.
“Hey bodoh! Harusnya kamu menyuntikku dengan benar!”
Daus hanya terhenyak mendengar penuturan Arsy. Setahunya dia sudah menyuntik dengan benar, bahkan cairan tadi sudah habis masuk ke dalam tubuh gadis itu. Tapi yang dia tidak tahu kalau Diki sudah menggantinya dengan vitamin. Tiga orang yang menculik Arsy langsung menyerang gadis itu.
Tubuh Arsy meliuk menghindari pukulan dan tendangan dari para penyerangnya. Bahkan wanita itu melayangkan pukulan dan tendangan balik. Sang ketua memerintahkan Diki untuk ikut membantu. Pria itu berteriak kencang hendak memukul Arsy, namun gadis itu menendanganya dengan cepat. Diki jatuh tersungkur, dia pura-pura batuk sambil memegangi perutnya.
Kesal anak buahnya masih belum bisa mengalahkan Arsy, sang ketua maju untuk membantu. Arsy mulai terdesak melawan empat orang sekaligus. Diki dilema melihat anak majikannya yang tengah kesulitan. Mau membantu tapi penyamarannya akan terbongkar nanti.
Sementara itu, Irzal yang sudah sampai di gudang kosong yang dijadikan tempat untuk menyekap Arsy bergegas menuju gudang kosong tersebut.
BUGH!
Sebuah tendangan mendarat di perut Arsy, gadis itu jatuh tersungkur. Ringisan terdengar dari mulutnya merasakan rasa nyeri di ulu hatinya. Tepat di saat itu Irzal masuk ke dalam gudang. Pria itu segera berlari ketika melihat sang ketua hendak menendang calon istrinya lagi. Dia melompat, kakinya memijak kursi yang ada di dekatnya, kemudian melayangkan tendangan pada sang ketua.
BRAK!
Tubuh sang ketua melayang bebas menabrak tumpukan kayu di belakangnya. Irzal mendarat sempurna di hadapan Arsy. Dia berjongkok untuk memeriksa keadaan gadis itu. Matanya langsung melihat sudut bibir Arsy yang terluka dan juga pipinya yang merah serta ada bekas tapak tangan di sana. Irzal mengepalkan tangannya erat.
“Kamu ngga apa-apa?” tanya Irzal dengan suara menahan amarah.
Arsy hanya menganggukkan kepalanya. Irzal berdiri kemudian berbalik dan melihat pada tiga pria yang ada di depannya. Diki perlahan bangun, dia harus pura-pura membantu musuh supaya tidak dicurigai. Kini empat orang sudah siap untuk menghajar Irzal, sedang sang ketua masih belum bisa bangun dan mengerang kesakitan.
Dengan gerakan cepat, Irzal melayangkan tendangan dan pukulan pada empat orang yang mengepungnya. Diki terkena tendangan di daerah wajahnya, dia langsung memutuskan pingsan saja dari pada babak belur dihajar Irzal yang sudah dikuasai amarah.
Buset… kenceng banget tendangannya, muka gue pasti ada tapak sepatunya nih. Mending pura-pura pingsan aja. Bisa semaput beneran gue kena hajar singa edan.
Melihat Diki yang pingsan, ketiga anggota gank margareta kembali menyerang Irzal. Namun kemampuan beladiri pria itu yang sudah memegang sabuk hitam bukan lawan mereka. Dengan mudah Irzal membuat ketiganya jatuh tersungkur dan tidak bisa bangun lagi.
Melihat kelima orang yang membantunya sudah tidak berdaya, Daus mencoba untuk kabur. Irzal meraih kaleng cat kosong kemudian melemparkannya pada Daus. Kaleng kosong tersebut tepat mengenai punggung pria itu dan membuatnya terjatuh. Irzal mendekat lalu menarik leher kaos yang dikenakan Daus. Dilemparkannya tubuh pria itu di lantai lalu menginjak dadanya.
“Am.. ampun.. ampuni saya,” mohon Daus.
“Ampun? Setelah kamu berani melukainya kamu meminta ampun? Dasar brengsek!!”
BUGH!!
Sebuah tendangan keras mengenai pinggang Daus. Tubuh pria itu terdorong ke belakang hingga membentur tembok. Tak cukup sampai di situ, Irzal kembali mendekatinya. Lagi dia menarik kaos Daus hingga pria itu berdiri. Arsy yang sedari tadi hanya melihat aksi calon suaminya hanya bisa menahan nafas. Tangan Irzal terkepal dan siap menghujam wajah Daus.
“Mas..”
“Bie!!”
Gerakan tangan Irzal tertahan mendengar suara Arsy dan Aidan. Zar, Aidan, Fathir dan Imron datang tepat waktu. Irzal melepaskan pegangannya, perlahan tubuh Daus melorot jatuh ke lantai. Rembesan air terlihat keluar dari celana yang digunakannya. Zar hanya terbengong melihat semua musuh dibuat terkapar tak berdaya oleh Irzal. Calon adik iparnya itu benar-benar ganas saat mengamuk.
Fathir, Aidan dan Imron segera mengumpulkan anak buah gank margarita. Zar memberikan kode pada Diki. Pria itu bangun, kemudian menarik sang ketua keluar dari gudang. Irzal segera menuju Arsy yang sekarang sudah berdiri.
“Ayo pulang.”
Arsy langsung mengikuti langkah Irzal keluar dari gudang dengan kepala tertunduk. Zar cukup kaget melihat adik kembarnya menurut begitu saja pada Irzal. Kemudian matanya melihat pada anggota gank margarita yang sudah tak berdaya termasuk Daus yang sampai kencing di celana.
“Si Irzal serem juga ya kalo ngamuk.”
“Gue bilang apa. Untung elo calon kakak iparnya, kalo ngga udah dibuat samsak hidup,” celetuk Aidan.
“Semuanya mau dibawa ke markas?” tanya Imron.
“Tiga orang ini bawa ke markas. Daus biar jadi urusan gue. Tapi gantiin dulu celananya, bau pesing.”
Sekeluarnya dari gudang, Irzal terus berjalan menuju mobilnya. Di belakangnya, Asry masih mengekorinya. Pria itu berhenti di depan pintu mobil lalu membalikkan badannya, melihat pada Arsy.
“APA KAMU GILA?!! Kenapa kamu mau dijadikan umpan??!!”
Arsy terkesiap mendengar teriakan Irzal. Wajah Irzal terlihat begitu menyeramkan, belum pernah dia melihat Irzal semarah ini.
“Ma..af,” jawab Arsy pelan.
“Kenapa kamu selalu membuatku cemas?!”
Irzal membalikkan tubuhnya lalu berpegang pada bodi mobil dengan kepala tertunduk. Sebisa mungkin dia meredam amarah yang masih mengungkungi dirinya sambil mengucapkan istighfar dalam hati. Kemudian tangannya bergerak membukakan pintu untuk Arsy.
“Masuklah..”
__ADS_1
Gadis itu masuk ke dalam mobil lalu memasang sabuk pengaman di tubuhnya. Irzal naik kemudian duduk di belakang kemudi. Pria itu mulai menjalankan kendaraannya. Arsy tak berani melihat pada Irzal. Dia terus menundukkan kepalanya sampai akhirnya mereka tiba di rumah. Tangannya bergerak membuka pengait sabuk pengaman.
“Besok kamu tidak usah ke rumah sakit.”
“Tapi…”
Kata-kata Arsy tak berlanjut begitu melihat rahang Irzal mulai mengeras. Sorot matanya yang mulai biasa kembali menunjukkan kemarahan.
“Iya..” jawab Arsy pelan.
Tanpa berkata-kata lagi, Arsy turun dari mobil. Baru saja Arsy menutup pintu, Irzal sudah menjalankan kendaraannya. Gadis itu hanya mengehela nafas panjang melihat Irzal yang masih marah padanya.
“Arsy.. kamu baik-baik aja?”
Kenzie segera menyambut kedatangannya ketika pintu terbuka. Melihat papanya, Arsy langsung menghambur ke dalam pelukan Kenzie.
“Papa… hiks.. hiks..”
“Kenapa sayang? Apa kamu terluka? Mana yang sakit.”
Arsy tak menjawab pertanyaan Kenzie. Dia terus menangis sambil memeluk pinggang sang papa. Nara yang mendengar kedatangan Arsy, bergegas keluar dari kamar. Dia langsung mendekati anak gadisnya. Arsy berpindah ke dalam pelukan Nara sambil terus menangis.
“Kamu kenapa? Mana yang sakit? Siapa yang sudah melukai kamu?”
Nara mengurai pelukannya lalu mendongakkan kepala Arsy. Matanya membulat melihat sudut bibir anak gadisnya terluka, pipinya juga merah dan bengkak.
“Siapa yang melakukan ini, bilang sama mama!” Nara nampak emosi.
“Awas aja Zar, kalau kamu pulang, habis kamu..” lanjut Nara.
“Zar ngga salah, ma. Aku yang mau jadi umpan. Luka ini juga ngga sakit.”
“Terus kamu nangis kenapa?”
“Mas Irzal, hiks.. dia marah sama aku, ma. Hiks.. hiks.. aku dimarahin sama dia.. Dia marah, aku selalu bikin dia cemas hiks.. hiks..”
Nara yang awalnya emosi mendadak ingin tertawa mendengar penuturan anaknya. Biasanya Arsy akan bersikap lebih galak dari orang yang memarahinya. Tapi kini dia malah menangis.
“Ya wajar kalau dia marah. Mama juga bakalan marah kalau jadi dia. Ayo ke kamar, biar mama obati lukamu.”
Kenzie hanya memandangi istri dan anak gadisnya yang beranjak menuju lantai dua. Dalam hatinya bersyukur Irzal yang menjadi calon suami anaknya. Setidaknya dia bisa mengendalikan Arsy yang kadang bersikap gegabah.
🍁🍁🍁
Kendaraan milik Zar berhenti di depan kediaman Jojo. Pria itu turun dari mobilnya kemudian membuka pintu belakang mobilnya. Ditariknya Daus dari dalam mobil. Sambil menyeret pria itu, dia masuk ke dalam rumah. Jojo dan Adinda yang tengah bersantai di depan televisi, terkejut melihat kedatangan cucunya.
“Rena..” panggil Zar.
Pintu kamar Renata terbuka. Wanita itu terkejut melihat kedatangan Zar bersama dengan seorang pria yang tidak bisa dilihat wajahnya karena terus menunduk. Zar berjalan mendekati Renata kemudian mendorong Daus hingga jatuh tersungkur di bawah kaki Renata. Mata wanita itu membelalak melihat pria yang ada di bawahnya adalah Daus.
“Rena… maafkan aku Rena.. tolong maafkan aku..”
“Maafkan aku Rena.. maaf… huhuhu…”
Tangisan Daus semakin kencang, dia meraung memohon maaf pada wanita yang pernah dilecehkan olehnya. Mata Renata menatap nanar pada Daus. Terbayang kembali apa yang telah dilakukan pria itu padanya.
“Maaf? Kamu minta maaf padaku? Ini maaf untukmu!”
BUGH
BUGH
BUGH
Renata menendang tubuh Daus berkali-kali. Baik Zar maupun yang lain tidak ada yang menghentikan wanita itu. Mereka membiarkan Renata melampiaskan kemarahannya selama ini. Sampai akhirnya wanita itu jatuh terduduk sambil menangis.
“Setelah menghancurkan hidupku, dengan seenaknya kamu meminta maaf!!!”
“Katakan kamu ingin aku melakukan apa? Aku aka melakukannya,” ujar Zar.
“Buang saja dia ke pulau tidak berpenghuni. Biarkan dia mati kelaparan atau dimakan binatang buas!!”
Hanna mendekati Renata. Wanita itu membantu Renata berdiri kemudian membawa masuk ke kamarnya. Zar mendekati Daus kemudian menarik pria itu hingga berdiri.
“KiJo, Ninda, om.. aku pulang dulu.”
Tangan Zar menarik kaos yang dikenakan Daus, lalu menyeretnya keluar dari kediaman Jojo. Dia akan membawa Daus ke markas.
🍁🍁🍁
Di pagi hari yang cerah ini, Abi tengah bersantai menghirup udara segar di taman belakang seraya menikmati secangkir teh hijau buatan sang istri. Dari arah dalam rumah, Zar dan Duta datang untuk melaporkan kejadian kemarin. Zar mencium punggung tangan Abi kemudian duduk di sampingnya.
“Jadi misi kemarin berhasil?” tanya Abi pada Zar.
“Berhasil kek.. tapi Arsy..”
“Dia terluka?”
“Ngga parah, kek. Tapi dia nangis terus ngadu ke mama gara-gara dimarahin Irzal. Nih lihat kek, kupingku merah habis dijewer sama mama,” Zar memperlihatkan kedua telinganya yang merah.
“Hahaha… terus Irzal dan Arsy gimana?”
“Ngga tau. Masih marah kayanya Irzal sama Arsy.”
“Arsy di mana sekarang?”
“Di rumah. Katanya ngga boleh ke rumah sakit sama Irzal. Tumben nurut.”
“Hmm.. bagus. Akhirnya ada juga yang bisa kendaliin si kuda liar hahaha…”
Duta menundukkan kepalanya, menyembunyikan tawanya begitu mendengar ucapan Abi. Putri Kenzie satu-satunya memang sikapnya terlalu bar-bar sebagai seorang perempuan. Dan sekarang dia sudah menemukan pawang yang tepat.
__ADS_1
“Soal Daus bagaimana?”
“Rena bilang suruh buang Daus ke pulau tidak berpenghuni,” jawab Zar.
“Ya sudah lakukan saja,” jawab Abi tenang.
“Serius, kek?”
“Hmm.. Duta.. buang Daus ke pulau tidak berpenghuni. Biarkan dia di sana selama seminggu. Siapkan anak buahmu untuk mengawasi. Jangan sampai dia mati dimakan binatang buas atau mati bunuh diri. Setelah itu kirim ke pulau Rinca, biar dia belajar bahasa komodo.”
“Bhuahahaha… bahasa komodo seperti apa kek?”
“Tanya Duta… dia kan guru lesnya.”
Duta melihat keki pada Abi. Pria itu menganggukkan kepala pada Abi kemudian keluar dari rumah pria tua itu. Biar usia Abi sudah tidak muda lagi, tapi pria itu tetap disegani oleh seluruh tim keamanan keluarga Hikmat termasuk dirinya.
“Kamu sudah berhasil menangkap satu. Bagaimana sisanya?”
“Aku udah punya rencana, kek. Tapi kita diemin aja dulu sebentar, pasti sekarang tingkat kewaspadaan mereka lagi tinggi. Setelah pernikahan Arsy, kita jalankan rencana kedua.”
“Bagus.. itu baru cucu kakek.”
Abi menepuk pundak cucunya dengan bangga. Rencana penjebakan kemarin murni rencana Zar. Dia sebenarnya kesal karena Arsy sampai terluka, tapi pria itu juga senang karena Irzal mampu melindungi cucunya dengan baik. Hanya tinggal menunggu waktu saja dua orang itu bersatu dalam ikatan pernikahan.
🍁🍁🍁
Dengan pakaian kerja yang melekat di tubuhnya Irzal turun dari lantai dua. Pria itu segera menuju ruang makan. Di sana Elang dan Azkia sudah menunggunya. Dia menarik kursi di samping Elang. Azkia meletakkan kotak bekal di dekat anak bungsunya.
“Apa ini, bun?”
“Itu bubur untuk Arsy. Kamu antarkan untuknya.”
Irzal tak menanggapi perkataan Azkia, dia mengambil makanan kemudian meletakkan ke atas piring. Elang melirik Irzal yang tengah menikmati sarapan dengan tenang. Semalam Kenzie menghubunginya dan mengatakan semua yang terjadi saat penangkapan Daus. Termasuk soal pertengkaran Irzal dan Arsy.
“Tadi mamanya Arsy telepon bunda. Arsy ngga mau makan, dia juga ngga mau keluar kamar. Coba kamu tengok. Sekarang dia calon istri kamu, kamu harus lebih peduli padanya.”
“Bie…” Azkia memanggil anaknya yang tak kunjung menanggapi ucapannya.
“Iya, bunda.”
Usai menghabiskan sarapannya, Irzal berpamitan pada kedua orang tuanya. Tak lupa dia membawa kotak bekal yang tadi dititipkan Azkia padanya. Setelah menaruh kotak bekal di kursi sebelah, pria itu mulai menjalankan kendaraannya menuju kediaman Kenzie.
Kedatangan Irzal disambut hangat oleh Nara. Wanita itu langsung mempersilahkan Irzal menuju kamar Arsy yang ada di lantai dua. Dia juga menitipkan nampan yang di atasnya terdapat gelas berisi air putih, susu dan sendok pada Irzal. Pria itu melangkahkan kakinya menuju kamar Arsy.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Irzal masuk ke dalam kamar Arsy yang tidak tertutup. Dengan sebelah kakinya dia menendang pintu agar terbuka lebih lebar. Diletakkan nampan dan kotak bekal di atas nakas lalu menarik kursi ke dekat ranjang.
Matanya memperhatikan pipi Arsy yang masih bengkak, sudut bibirnya yang terluka dan matanya yang sembab. Diperhatikan begitu intens oleh Irzal, Arsy menundukkan kepalanya. Melihat keadaan Arsy, menyesal rasanya sudah memarahi gadis itu semalam.
“Pipimu… masih sakit?”
“Sudah ngga.”
“Kata mama kamu ngga mau sarapan. Kenapa?”
“Ngga apa-apa.”
Irzal mengambil kotak bekal kemudian membukanya. Diambilnya sendok yang diberikan Nara lalu mulai menyendokkan bubur dan mengarahkan ke mulut Arsy.
“Aku belum lapar.”
“Makan. Kamu bisa sakit kalau ngga makan. Ayo makan.”
Perlahan Arsy membuka mulutnya. Rahangnya masih sedikit sakit atas tamparan Daus. Melihat Arsy yang kesulitan membuka mulut, Irzal tahu kalau calon istrinya itu masih kesakitan.
“Setelah sarapan kita ke rumah sakit.”
“Katanya aku ngga boleh ke sana.”
“Bukan untuk bekerja. Tapi rahangmu harus diperiksa. Aku ngga mau terjadi sesuatu yang buruk sama kamu. Maaf kalau semalam aku membentakmu. Aku benar-benar khawatir padamu. Tolong jangan membuatku selalu mencemaskanmu.”
“Maaf..”
Arsy memandangi Irzal yang masih menyuapkan bubur padanya. Hatinya benar-benar terharu melihat perhatian pria itu padanya. Apalagi saat mengingat bagaimana ganasnya dia menghajar semua orang yang sudah melukainya. Arsy benar-benar merasa terlindungi oleh pria itu. Tanpa sadar gadis itu kembali menangis.
“Kenapa? Mana yang sakit?” tanya Irzal yang melihat Arsy menangis. Tapi gadis itu hanya menggelengkan kepala seraya menghapus airmatanya.
“Jangan menangis. Aku tidak akan memarahimu lagi, jadi jangan menangis.”
Irzal menarik tisu kemudian memberikannya pada Arsy. Andai bisa, ingin rasanya memeluk wanita di depannya. Namun dia sadar kalau sekarang dirinya belum memiliki hak untuk melakukan itu. Irzal mengambil boneka yang ada di dekat Arsy kemudian memberikan pada gadis itu.
“Ini.. peluk ini. Anggap saja aku yang memelukmu.”
“Ini kan kecil,” ujar Arsy seraya mengambil boneka teddy bear dari tangan Irzal.
“Nanti aku belikan yang besar.”
“Ish.. apaan sih.”
Senyum tercetak di wajah Irzal melihat Arsy yang tengah tersenyum padanya. Gadis itu memeluk teddy bear yang tadi diberikan Irzal dan meneruskan makannya. Nara yang diam-diam mengintip mereka hanya bisa tersenyum bahagia.
Ya ampun lihat mereka kok aku yang baper. Mas Ken.. Aaaahh aku jadi kangen mas-ku.
🍁🍁🍁
**Awas ya kalian jangan ikutan baper kaya mama Nara😜
Diki pinter ya, pura² pingsan biar ngga kena bogem lagi🤣**
__ADS_1