
Waktu telah menunjukkan pukul lima sore lebih sepuluh menit. Tamar tengah membereskan berkas-berkas di mejanya. Dia bersiap untuk pulang setelah jam kerjanya berakhir. Anggota timnya tidak banyak diberi kasus yang berat saat ini. Mungkin saja sang atasan sengaja melakukannya karena pria itu sebentar lagi akan melepas masa lajangnya.
Setelah semua pekerjaannya selesai, Tamar keluar dari ruangannya. Dia bermaksud pulang ke apartemennya, baru kemudian menjemput Stella untuk makan malam bersama. Ada masalah yang harus dibicarakannya dengan calon istrinya itu. Mengingat pernikahan mereka yang tinggal seminggu lagi.
Tamar memasuki mobilnya, kemudian menjalankan kendaraan dengan kecepatan sedang menuju Green Valley, nama gedung apartemen tempatnya tinggal. Tamar adalah pria yang datang dari keluarga yang berkecukupan walau masih jauh jika dibandingkan dengan keluarga Hikmat atau Ramadhan.
Penghasilan yang diterimanya sebagai ASN tidak sampai dua digit setiap bulannya. Tapi dia memiliki penghasilan sampingan dari bisnis waralaba yang dibelinya. Irzal mengusulkan pada sahabatnya itu untuk merintis usaha More & Most Coffee, bisnis besutan sang kakek yang sudah dijadikan waralaba oleh Elang sepuluh tahun lalu.
Keputusannya mendirikan usaha waralaba membuahkan hasil. Kedai kopinya yang berada di jalan Banda berkembang pesat dan banyak dikunjungi kawula muda. Dari usaha sampingannya ini, dia mendapatkan penghasilan yang lebih besar dari gajinya sebagai polisi.
Tadinya dia berpikir akan mendapatkan jodoh dari keluarga sederhana seperti dirinya. Namun ternyata takdir berkata lain. Pria itu akan menikah dengan cucu dari keluarga konglomerat yang kekayaannya masuk dalam daftar 10 orang terkaya di Asia. Hal ini tentu saja membuat Tamar harus memutar otak bagaimana caranya memenuhi kebutuhan sang istri nantinya.
Pria itu turun dari mobilnya sesampainya di basement gedung apartemen tempat tinggalnya. Dia segera menuju lantai delapan di mana unitnya berada. Setelah membersihkan diri dan menunaikan ibadah shalat maghrib, pria itu kembali keluar dari unit apartemennya. Tujuannya adalah kediaman Cakra untuk menjemput calon istrinya makan malam di luar.
Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di kediaman Cakra. Setelah memarkirkan kendaraannya dengan benar, Tamar turun lalu memasuki pekarangan rumah di mana calon istrinya tinggal. Kedatangan Tamar disambut oleh Irvin dan juga Cakra. Irvin mempersilahkan calon menantunya itu masuk ke dalam.
“Stellanya ada om?” tanya Tamar seraya mendudukkan diri.
“Ada, kayanya lagi siap-siap. Kalian mau kemana?”
“Aku mau ajak Stella makan malam, om.”
“Oh iya, soal mas kawin apa Stella sudah mengatakannya?”
“Sudah om. Aku masih nyari toples unik buat wadahnya.”
“Emang anak itu minta apa?”
“Mas kawinnya uang satu juta tapi harus koin seribuan semua, dimasukkin ke toples unik dan dikasih pita.”
“Astaga.”
Kompak Irvin dan Cakra menepuk kening masing-masing. Permintaan Stella cukup nyeleneh dan lumayan membuat calon suaminya pusing. Irvin dan Cakra hanya bisa memberikan semangat saja semoga Tamar bisa menemukan toples yang sesuai keinginan Stella.
Dari arah atas, Stella nampak menuruni anak tangga. Senyum gadis itu mengembang melihat Tamar sudah datang menjemputnya. Dia berpamitan pada papi dan eyangnya, disusul oleh Tamar. Pasangan pengantin tersebut segera menuju mobil.
“Kita mau makan malam di mana?” tanya Stella seraya memakai sabuk pengamannya.
“Kamu suka bebek ngga?” tanya Tamar.
“Suka.”
“Apa sih yang kamu ngga suka,” gumam Tamar pelan.
“Apa?!”
“Kamu sukanya bebeknya dibakar apa digoreng?”
“Apa aja.”
“Sudah kuduga.”
“Ish..”
Tamar terus melajukan kendaraannya, sampai mereka tiba di deretan warung tenda yang ada trotoar. Pria itu menghentikan kendaraannya di dekat warung tenda bertuliskan BEBEK PANGGANG BU RIKA. Dia segera turun dari mobil, disusul oleh Stella. Mereka masuk dan memilih meja yang paling sudut.
“Eh mas Tamar, udah lama ngga kelihatan,” sapa bu Rika.
“Iya, bu. Sibuk.”
“Mau pesan apa?”
“Kamu mau bebek panggang apa goreng?”
“Abang apa?”
“Aku bebek panggang.”
“Kalau gitu aku bebek goreng.”
Terdengar desisan pria itu. Sudah pasti calon istrinya itu akan mencicipi bebek panggang miliknya.
“Bebek panggangnya dua porsi, bebek goreng satu porsi. Nasinya dua, minumnya es teh manis aja.”
“Kok dua bang, bebek panggangnya.”
“Kan kamu pasti mau nyicipin juga.”
“Ya ampun calon suamiku baik banget sih..” mata Stella mengedip beberapa kali.
“Kamu sambelnya mau level berapa?”
“Level tujuh.”
“Yang saya level lima aja ya, bu. Bebek panggang yang satu samain level tujuh.”
Ibu Rika hanya tersenyum saja melihat tingkah kedua pelanggannya ini. Setelah menerima pesanan Tamar, wanita itu langsung kembali ke gerobaknya untuk membuatkan pesanan.
“Stell.. sebenarnya ada yang mau aku obrolin sama kamu.”
__ADS_1
“Soal apa?”
“Setelah menikah nanti kamu yang akan mengurus keuangan kita. Jadi kamu harus tau berapa penghasilanku setiap bulannya. Aku setiap bulannya punya dua pemasukan, satu dari gajiku, dan satu lagi dari tempat usahaku. Aku punya bisnis waralaba More & Most Coffee. Tapi itu modal gabungan dengan adikku. Aku 60%, Bima 40%. Tiap bulannya, aku dapet keuntungan bersih. Tapi hanya 50% aja yang dikirimkan kepadaku, sisanya disimpan di kas. Uang yang diterima akan dibagi dengan Bima. Nanti kamu yang akan urus itu semua.”
Stella hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja tanda mengerti. Dia tak menyangka kalau calon suaminya ini memiliki usaha sampingan. More & Most Coffee adalah kedai kopi ternama, yang memiliki banyak outlet di beberapa kota di Indonesia.
“Gajiku sebagai polisi ditambah tunjangan ngga banyak. Kurang lebih tujuh juta. Keuntungan dari usaha juga ngga tentu, tergantung ramai tidaknya pengunjung. Minimal aku terima 8 juta bersih, di luar milik Bima. Nanti kamu yang pegang semua keuangan, aku cuma minta untuk bensin dan uang saku aja. Jangan lupa buat nabung, karena ngga selamanya kita tinggal di apartemen. Aku juga punya keinginan beli rumah secepatnya. Makanya aku minta kamu belajar masak, untuk mengurangi pengeluaran kita.”
Tak ada tanggapan dari Stella. Gadis itu masih terdiam, mencerna penuturan panjang lebar calon suaminya. Sepanjang dirinya mengenal Tamar, baru kali ini pria itu berbicara dengan durasi panjang dan serius. Ternyata dibalik sosoknya yang menyebalkan, ada sisi dewasa dan penuh perhitungan dari pria itu.
“Kok bengong?”
“Aku amaze aja abang bisa ngomong panjang lebar kaya gitu, hehehe..”
“Stel.. aku serius. Pernikahan kita memang terjadi karena kecerobohan kamu yang akhirnya keluarga kita memutuskan untuk menjodohkan kita. Tapi aku serius menjalani pernikahan ini. Aku harap kamu juga seperti itu.”
“Iya, bang.”
“Kamu masih kuliah berapa lama lagi?”
“Setahun lagi.”
“Berapa biaya kuliahmu?”
“Kenapa?”
“Berapa?”
“20 juta. Tapi sekarang masih libur. Bulan depan baru mulai lagi.”
Tamar mengambil dompet di saku celananya, kemudian mengeluarkan dua buah kartu ATM dari dalamnya. Dia memberikan kartu tersebut pada Stella. Untuk sesaat Stella hanya membiarkan tangan Tamar tergantung sambil memegang kartu pipih tersebut.
“Ini apa?”
“ATM ini isinya tabunganku. Buat bayar kuliah kamu ambil dari sini. Buat beli kebutuhan lain untuk pernikahan kita ambil juga dari sini. Dan ini ATM isinya gaji dari tempatku kerja. Kalau dari tempat usaha langsung masuk ke tabungan. Kamu pegang dua kartu ini.”
“Kok aku?”
“Terus aku harus kasih siapa? Bu Rika? Kan calon istriku itu kamu.”
“Tapi kan belum jadi, bang. Masih seminggu lagi.”
“Ngga ada bedanya aku kasih kamu nanti atau sekarang. Ini ambil.”
Mau tak mau Stella mengulurkan tangannya mengambil dua kartu di tangan Tamar. Tiba-tiba saja perasaan haru merasuki hatinya. Ternyata Tamar benar-benar serius menjalani pernikahan ini.
“Abang…”
Perbincangan keduanya terputus ketika bu Rika datang membawakan hidangan. Dua potong bebek panggang, satu potong bebek goreng, dua porsi nasi dan dua es teh manis sudah tersaji di atas meja. Tamar mengambil bebek panggang dengan sambel level lima ke dekatnya dan mulai memakannya.
“Enak ngga?” tanya Tamar.
“Enak, bang.”
“Ini coba yang panggangnya.”
Tamar mengambil daging bebek kemudian mencocolnya dengan sambel dan mengarahkannya pada Stella. Gadis itu membuka mulutnya, mencicipi rasa bebek panggang yang terasa nikmat di mulutnya.
“Ehmm.. enak bang.”
Senyum Tamar terbit mendengar jawaban Stella. Dia senang melihat calon istrinya itu mau diajak makan di warung tenda pinggir jalan. Setahunya gadis dari kalangan atas biasanya hanya ingin makan di restoran atau café saja. Tapi tidak dengan Stella. Bahkan gadis itu senang diajak makan di tukang nasi goreng langganannya.
Setelah menikmati makan malam, Tamar mengajak Stella ke More & Most Coffee yang dipegangnya. Kedai kopi itu berada di jalan Banda. Suasana kedai sudah ramai didatangi pengunjung yang rata-rata terdiri dari kawula muda. Tamar memesan minuman kemudian mengajak Stella menuju lantai atas, agar perbincangan mereka tidak terganggu.
“Oh iya, buat tempat koin, bagaimana kalau yang ini. Lumayan unik kan?”
Tamar memperlihatkan sebuah gambar toples berbetuk kubus.
Stella mengamati gambar tersebut kemudian menganggukkan kepalanya. Dia mengikuti saja apa yang dipilih oleh Tamar, tak ingin membuat pria itu bertambah pusing dengan permintaannya.
“Ramai juga ya,” ujar Stella sambil melihat ke sekeliling kedai.
“Alhamdulillah. Kalau kamu mau, kamu boleh kelola langsung. Itu malah lebih bagus, jadi aku ngga pusing baca laporan keuangannya.”
“Kalau abang percaya, ya aku mau aja.”
Senyum di wajah Tamar terbit begitu mendengar jawaban Stella. Pria itu sudah berdamai dengan hatinya dan menerima pernikahan ini. Dia juga akan menjalani semuanya dengan sungguh-sungguh. Seperti yang Daffa katakan, Stella adalah gadis yang baik, cantik, pintar dan datang dari keluarga baik-baik. Rasanya tidak sulit untuk jatuh cinta padanya. Dan sekarang pun Tamar sudah mulai menaruh hati pada calon istrinya itu.
🍁🍁🍁
Irzal keluar dari kamarnya mengenakan stelan kerjanya. Matanya langsung tertuju pada Arsy yang tengah berkutat di dapur. Pria itu mendekat, mengambil celemek yang tergantung di dekat kulkas lalu memakaikannya pada sang istri. Arsy terkejut dengan gerakan sang suami.
“Pakai celemeknya, nanti bajumu kotor.”
“Makasih, mas. Masakannya sebentar lagi selesai. Kopi mas juga sudah siap.”
Pria itu mengarahkan pandangannya ke meja makan. Benar saja, secangkir kopi hitam dan segelas air putih sudah tersaji di atas meja. Irzal berjalan menuju meja makan lalu menarik salah satu kursi. Arsy memindahkan nasi goreng buatannya yang baru saja matang ke dalam dua buah piring. Dengan senyum di wajahnya dia membawa nasi goreng buatannya.
__ADS_1
“Tumben masak,” ujar Irzal saat Arsy meletakkan nasi goreng di depannya.
“Sekali-kali boleh kan?”
“Boleh sayang.”
“Mas makan duluan ya. Aku mau ganti baju dulu.”
Arsy melepaskan celemek yang dikenakannya, lalu masuk ke dalam kamar. Irzal mendekatkan nasi goreng buatan sang istri ke arahnya. Dia menyendok nasi goreng kemudian menyuapkannya ke dalam mulut. Hampir saja Irzal mengeluarkan kembali nasi goreng yang dimakannya. Rasanya terlalu manis, seperti kolak.
Setelah berganti pakaian, Arsy kembali ke meja makan. Dia heran melihat nasi goreng di piring suaminya seperti belum tersentuh.
“Kok belum dimakan, mas?”
“Bareng sama kamu.”
“Enak ngga ya?”
“Kamu tadi ngga nyicipin gitu?”
“Ngga, hehehe..”
Irzal hanya tersenyum mendengar penuturan istrinya. Dia mengambil sedikit nasi dengan sendok kemudian mengarahkannya ke mulut Arsy. Tanpa merasa curiga Arsy membuka mulutnya. Nasi goreng arsa kolak sukses masuk ke dalam mulutnya.
Uhuk.. uhuk..
Wanita itu segera berlari menuju wastafel. Mengeluarkan nasi dan membuangnya ke tempat sampah, lalu berkumur dengan air. Rasa nasi goreng hasil karyanya benar-benar membuatnya merinding. Setelah berkumur, dia kembali ke tempatnya.
“Maaf ya mas, rasa nasi gorengku amburadul,” wajah Arsy terlihat sedih.
“Ngga apa-apa, sayang. Namanya juga baru belajar.”
Irzal menarik tangan Arsy hingga jatuh terduduk di atas pangkuannya. Tangannya merapihkan rambut sang istri yang sedikit berantakan, kemudian mendaratkan ciuman di keningnya.
“Kita ke bawah aja, mas. Sarapan di bawah.”
“Ayo. Tapi senyum dulu, jangan sedih.”
Segurat senyum tipis tercetak di wajah Arsy. Wanita itu turun dari pangkuan suaminya. Irzal mengambil tas kerjanya kemudian menuju lift untuk turun ke lantai dasar. Arsy memeluk lengan suaminya. Rasa bersalahnya karena sudah menyuguhkan makanan dengan rasa amburadul masih menggelayuti hatinya.
Sesampainya di bawah, keduanya langsung menuju ruang makan. Di sana Elang dan Azkia akan memulai sarapan mereka. Mata Arsy langsung tertuju pada nasi goreng yang ada di atas meja. Ternyata ibu mertuanya itu memasak menu yang sama untuk sarapan. Tapi wanita itu yakin, rasanya pasti berbeda. Yang jelas lezat, tidak aneh seperti masakannya.
“Kenapa, Sy? Nasi gorengnya ngga enak?” tanya Azkia yang melihat wajah Arsy terlihat murung.
“Ngga, bunda. Rasanya enak kok.”
“Kenapa mukanya kaya sedih gitu?”
“Aku juga tadi buatin nasi goreng buat mas Bibie, tapi rasanya amburadul. Jauh banget sama rasa masakan bunda.”
Azkia mengulum senyum mendengar jawaban sang menantu ditambah wajahnya yang terlihat sedih. Dia meraih tangan Arsy, membuat menantunya itu melihat padanya.
“Namanya juga baru belajar, wajar kalau rasanya masih belum pas. Lama-lama juga kamu pasti bisa.”
“Bunda, kak Yumna, kak Shaina pada pinter masak. Cuma aku aja yang ngga bisa.”
“Nanti bunda ajarkan.”
“Beneran bunda?”
“Iya. Kalau kamu libur kerja, kita belajar masak.”
“Makasih bunda.”
Wajah Arsy sudah tak sedih lagi. Awan kelabu sudah sepenuhnya hilang dari wajahnya. Irzal hanya tersenyum saja melihat tingkah istrinya. Akhir-akhir ini mood Arsy turun naik dengan cepat, kadang senang, marah, sedih.
“Mas Bibie tetap cinta kan sama aku biar aku ngga bisa masak?”
Uhuk.. uhuk..
Irzal sampai tersedak mendengar ucapan istrinya. Elang dan Azkia saling berpandangan. Keduanya heran saja Arsy menanyakan hal tersebut di depan mereka. Biasanya sang menantu bersikap malu-malu jika ditanya soal hubungannya dengan Irzal. Apalagi jika sudah digoda oleh Shaina dan Yumna.
“Kamu kok nanyanya gitu?” tanya Irzal.
“Kan ada yang bilang, dari perut naik ke hati. Nanti kalau ada perempuan lain yang masakin makanan enak buat mas Bie, bisa-bisa mas jatuh cinta.”
“Hahaha.. kamu ada-ada aja, sayang.”
“Janji ya ngga akan pindah ke lain hati walau aku ngga bisa masak.”
Irzal menganggukkan kepalanya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia cukup heran melihat perubahan sikap sang istri. Azkia melihat pada suaminya sambil mengulum senyum. Sang menantu sepertinya sudah menunjukkan tanda-tanda akan memberinya cucu.
🍁🍁🍁
**Waduuhh Arsy kayanya hamidun yaa.
Tamar boldh juga ya😁
Met malming gaaaeeesss😘😘😘**
__ADS_1