Hate Is Love

Hate Is Love
Kumpul Keluarga


__ADS_3

Kelahiran anak kembar Arsy tentu saja memberikan kebahagiaan bagi seluruh keluarga. Yang paling berbahagia tentu saja Jojo. Di antara pandawa lima, hanya dirinya yang belum mendapatkan cicit. Akhirnya pria itu pecah ketuban juga ketika Arsy melahirkan anaknya. Dia bersikeras mengadakan syukuran di rumahnya.


Kenzie dan Elang mengalah, dan membiarkan syukuran diadakan di kediaman Jojo. Nantinya juga Elang akan mengadakan pengajian di kediamannya. Yang penting sekarang membuat hati Jojo senang dulu. Tiga hari setelah kelahirannya, acara aqiqah dan potong rambut digelar.


Irzal sudah menyiapkan empat ekor kambing untuk disembelih dalam rangka aqiqah. Acara dilangsungkan di kediaman Jojo. Sedang makanan olahan kambing tersebut akan dibagikan ke panti asuhan yang berada di bawah naungan keluarga Hikmat dan Ramadhan.


Bagi majelis taklim yang diundang untuk menggelar pengajian dan tamu undangan, Jojo menyiapkan hidangan sendiri. Tentu saja Nara dan Azkia yang menyiapkannya. Naya dan Anya juga ikut membantu. Apalagi kediaman Cakra memang dekat dengan Jojo. Hari Sabtu ini, kediaman Jojo sudah ramai didatangi keluarga dan juga tetangga dekat.


Arsy dan Irzal duduk berdampingan, dengan kedua anak mereka berada di gendongan masing-masing. Mereka mengikuti jalannya pengajian dengan khidmat. Setelah acara pengajian selesai, acara dilanjutkan dengan pemotongan rambut. Arsy dan Irzal berdiri, kemudian berkeliling, membiarkan orang-orang memotong rambut anak-anak mereka sedikit demi sedikit.


Setelah acara pengajian dan pemotongan rambut selesai, hanya tinggal keluarga saja yang berada di kediaman Jojo. Pria itu sudah memanggil pemangkas rambut langganannya untuk merapihkan rambut cicitnya. Kepala Arsyad dan Irsyad dibotaki agar tumbuhnya merata nantinya.


Tanpa bosan, semua sepupu Arsy terus memperhatikan bayi tampan tersebut. Azzam yang sudah datang dan ada di antara keluarga terus merengek agar bisa menggendong keponakannya itu.


“Tangannya jangan kaku, Zam. Dilemesin aja,” ujar Arsy.


Wajah Azzam nampak sumringah saat melihat Arysad yang ada dalam gendongannya. Di sebelahnya Irzal tengah menggendong Irsyad. Stella datang mendekat, lalu memperhatikan wajah keponakannya bergantian.


“Mereka kembar identik, gimana cara bedainnya? Yang mana Ars? Yang mana Irs?”


“Ayo coba tebak, kak,” ujar Azzam.


“Kamu tahu bedanya?”


“Ngga, hahaha..”


“Kalau Irsyad yang ada tahi lalat di pipi kanannya,” Irzal menunjuk titik hitam kecil di pipi kanan anak yang ada dalam gendongannya.


“Wah tahi lalatnya kecil banget. Susah lihatnya kalau dari jauh.”


“Namanya juga tahi lalat, pasti kecil. Kalau gede, tahi gajah namanya, hahaha..”


“Dasar PEA.”


Dengan kesal Stella menoyor kepala adik sepupunya ini. Setelah selesai mengikuti pendidikan sebagai TNI Angkatan Udara, otak Azzam semakin bergeser saja. Dia juga tidak sekaku dan sedingin dulu. Mungkin pergaulannya di asrama mempengaruhi dirinya sedikit demi sedikit.


Matanya kemudian memandangi sekeliling. Ternyata banyak sekali hal yang terlewatkan olehnya. Sejak menghadiri pernikahan Zar, baru sekarang dia pulang ke rumah. Dan ternyata sudah banyak yang terjadi. Vanila sudah melahirkan. Sekarang juga Renata, Shifa dan Adisty sedang mengandung. Bahkan Ayumi sudah menikah dengan adik sepupu dari kakak iparnya.


“Kamu sudah mulai tugas?” tanya Irzal.


“Udah, bang. Sepulang dari sini aku langsung ke Pekan Baru. Aku tugas di skuadron 16.”


“Wah keren kamu, Zam. Kirain kamu bakalan tugas di lanud Husein.”


“Ngga, bang. Tiap lanud itu punya tipe sendiri. Kalau korps pesawat tempur itu adanya di lanud tipe A atau lanud utama. Kalau lanud Husein masuk tipe B. Pemimpinnya juga beda pangkat. Yang jelas penanggung jawab tipe A lebih tinggi pangkatnya.”


“Kamu bakalan terus di Palembang atau gimana?”


“Tetap ada rotasi, bang. Tapi berapa lamanya tergantung putusan dari atas juga sih.”


“Kalau tipe A, di mana aja lanudnya?”


“Jakarta, di Halim Perdana Kusumah. Di Pekan Baru, Pontianak, Bogor, Malang, Magetan, Makassar, Subang sama Yogya. Tapi kalau pesawat tempur adanya cuma di Pekan Baru, Pontianak, Magetan sama Makassar. Aku paling ngider di empat tempat itu aja.”


“Belum ada niatan nikah?”


“Hahaha.. belum lah, bang. Aku masih 22 tahun. Kasihan istriku kalau nikah sekarang. Nanti aku tinggal-tinggal terus. Kan kadang kita dikirim buat ikut latihan gabungan. Lagian belum ada calon juga sih.”


Azzam mengusap tengkuknya saat mengatakan itu. Saat ini dia memang belum memiliki seseorang yang istimewa dalam hatinya. Dia masih fokus untuk memulai karirnya sebagai pilot pesawat tempur. Masih banyak yang harus dipelajarinya, dan pria itu belum mau terikat dalam pernikahan.


“Memangnya kamu pengen calon yang seperti apa sih?”


“Perempuan yang dekat denganku cuma mama dan kak Arsy. Ya paling ngga jauh dari mereka lah tipenya, hahaha..”


Irzal ikut tersenyum mendengar ucapan adik iparnya. Azzam memang sangat berbeda dengan sang kakak Zar. Jika Azzam cenderung pendiam dan sikapnya lebih dingin, berbeda dengan Zar yang mulutnya mirip petasan renteng. Pria itu terkejut ketika Irsyad menangis. Dia segera bangun mencari keberadaan istrinya. Sepertinya Irsyad ingin menyusu.

__ADS_1


Di halaman belakang, Jojo tengah berkumpul dengan para sahabatnya. Senyum sedari tadi menghiasi wajahnya. Tentu saja pria itu senang sudah memiliki cicit, menyusul keempat sahabatnya. Apalagi cicit pertamanya kembar identik, memiliki wajah tampan, mewarisi gen ayahnya.


“Nanti gimana cara bedain Arsyad sama Irsyad?” tanya Juna. Baru kali ini di keluarganya memiliki anak kembar identik.


“Kata Irzal, Irsyad punya tahi lalat di pipi kanan.”


“Kalau dari jauh ngga akan keliatan. Atau dibikin gede aja pake spidol, biar kaya tompel,” celetuk Kevin dengan wajah tanpa dosa.


Tentu saja ucapan pria itu mengundang kekesalan Jojo dan Abi selaku uyut dari dua bayi tampan tersebut. Namun bukan Kevin namanya kalau peduli dengan respons kedua sahabatnya. Cakra dan Juna tidak berhenti tertawa, membayangkan wajah Irsyad digambar tompel di pipinya.


“Gimana kalau rambutnya udah tumbuh, dibuat beda. Kalau Arsyad dicepak, Irsyad di Mohawk,” usul Cakra.


“Dicat aja. Irsyad merah, Arsyad biru,” usul Kevin tambah nyeleneh.


“Emang cicitku gulali,” protes Jojo kesal.


“Awas aja kalau bapaknya dengar, aku ngga akan bantuin kalian kalau sampai disemprot sama Irzal,” ancam Abi.


Semua hanya terkekeh mendengar ucapan Abi. Kelima pria itu kembali memikirkan bagaimana cara membedakan cicitnya nanti. Dan tentu saja tidak menggunakan ide konyol dari Cakra maupun Kevin.


“Gini aja, untuk sementara, gimana kalau pake bajunya beda warna. Arsyad biru, Irsyad kuning. Jadi kita bisa bedain,” usul Juna.


“Kaya Upin, Ipin dong,” celetuk Abi.


“Ya dari pada gambar tompel.”


“Bener juga. nanti kalau udah tumbuh rambut, dibedain aja nyisirnya, Arsyad belah pinggir, Irsyad belah tengah atau dikebelakangin rambutnya,” seru Abi.


“Nah ini lebih bener. Apaan gaya mohawk sama diwarnain. Kalian berdua ngga ada kreatifnya sama sekali,” ketus Jojo.


Kompak Cakra dan Kevin hanya mengendikkan bahunya saja. Kedua pria itu tidak pernah memiliki anak atau cucu kembar. Jadi wajar saja kalau tidak bisa memberikan ide bagus untuk membedakan.


Di depan rumah, sebuah kendaraan berhenti. Pasangan yang baru menikah tiga bulan, Nalendra dan Ayumi turun dari dalamnya. Kedatangan mereka disambut hangat oleh semua yang sudah datang lebih dulu. Stella menarik tangan sepupunya. Tentu saja dia ingin mendengar pengalaman pengantin baru yang sering bolak-balik Ciwidey – Bandung.


“Yum.. tambah seger aja nih. Disuntik mulu ya sama Nalen,” Stella terkiki geli.


“Langsung dari sumbernya, gimana ngga nyegerin tuh, hahaha…”


Ucapan Arsy langsung disambut gelak tawa lainnya. Ayumi hanya menggelengkan kepalanya. Ternyata para sepupunya yang sudah berstatus sebagai istri, bertambah oleng. Mulutnya sudah dol tanpa rem lagi.


“Yum.. itu ukuran melon tambah besar. Cocok ya pupuknya,” goda Vanila yang melihat ukuran bukit kembar adik sepupunya bertambah besar.


“Pupuknya pupuk organik plus pijatan, makanya tambah besar bin kenceng,” sambung Geya.


“Hahaha..”


Memerah sudah wajah Ayumi dijadikan bulan-bulanan oleh para sepupunya. Wanita itu hanya bisa mengatupkan mulutnya. Lebih baik diam dari pada salah bicara dan membuka peluang ledekan untuknya terus berlangsung.


Sementara nasib Nalendra tidak jauh berbeda. Pria itu juga terus digoda oleh para calon bapak. Irzal yang sudah kembali bergabung, juga ikut meledek sepupunya itu. Azzam memilih menyingkir, telinganya tidak mau terkontaminasi oleh obrolan yang menjurus omes dan mesum.


“Nal.. tambah seger nih. Tiap hari minum minuman sehat mulu ya,” Arya mulai memercikkan api.


“Apaan tuh minuman sehat?” timpal Aidan.


“Susu gantung, hahahah…” jawab Zar.


“Ada rasanya ngga, Nal?” tanya Irzal.


“Mana ada rasanya, itu susu murni dari sumbernya langsung. Bikin nagih lagi dan lagi, hahaha..” jawab Aqeel.


“Yang pengalaman pasti tahu itu,” sambung Rakan seraya menyindir adiknya.


“Kita tahu sama tahulah, bang. Tapi sekarang abang lagi puasa ngenyot ya. Takut yang tambah sehat nanti bapaknya, bukan anaknya, hahaha…”


“Asem.. sendirinya juga lagi puasa, hahaha..”

__ADS_1


Nalendra menggaruk kepalanya yang tak gatal. Habis sudah dia dijadikan bulan-bulanan. Tapi apa yang dikatakan para sepupunya tidaklah salah. Setelah menikah, dia memang senang sekali memainkan bukit kembar istrinya menjelang tidur. Kurang afdol rasanya kalau belum memegang, meremat atau menyesap bulatan kenyal yang sering dimainkan layaknya squishy.


Di ruang tengah, Daffa nampak tengah berbincang serius dengan Kenan dan juga Reyhan. Pria itu hendak membicarakan rencananya untuk mengambil program fellowship di Amerika. Dia mendapat tawaran beasiswa program bedah kegawatdaruratan di salah satu universitas terkenal di negeri paman Sam.


“Jadi apa rencanamu, Daf?” tanya Reyhan.


“Rencananya aku akan ambil tawaran itu, pa. Dua bulan lagi Geya udah wisuda. Aku bisa berangkat setelah itu.”


“Bagaimana dengan Geya?” tanya Kenan.


“Aku akan bawa Geya, pa. Papa ngga keberatan, kan?”


“Kalian sudah menikah. Sudah seharusnya seorang istri mengikuti kemana sang suami membawanya pergi. Apa Geya sudah tahu?”


“Belum, pa. Baru nanti malam aku mau ngobrol sama Geya.”


“Berapa lama kalian di sana?”


“Paling cepat dua tahun, paling lama tiga tahun, pa.”


Kenan hanya terdiam mendengar jawaban Daffa. Kalau boleh, sebenarnya dia tidak ingin Geya pergi jauh darinya. Geya adalah putri satu-satunya, pasti dirinya akan rindu kalau tidak bertemu dengan sang putri terlalu lama.


“Aku tahu, pasti berat buat papa ngelepas Geya. Tapi aku akan usahakan sering pulang kalau libur.”


“Tidak usah pikirkan papa. Kalau papa kangen, papa pasti akan datang mengunjungi. Di kota mana kalian tinggal?”


“Boston, pa.”


“Kamu kuliah di Harvard?”


“Iya, pa.”


“Belajarlah dengan baik. Papa akan selalu mendoakanmu. Semoga begitu pulang nanti, kamu bisa memberikan kontribusi untuk banyak orang. Menggunakan ilmu yang kamu miliki untuk kepentingan orang banyak.”


“Aamiin.. makasih, pa.”


“Papa titip Geya. Semoga dia bisa menjadi istri yang baik dan juga mandiri.”


“Aamiin..”


Walau berat, namun Kenan harus merelakan anak perempuan satu-satunya diboyong oleh suaminya ke Amerika. Sejatinya. Reyhan pun merasa berat melepas putra bungsunya pergi. Tapi kepergian Daffa seperti menebus impiannya dulu yang sempat ingin mengambil program fellowship di Jerman. Demi sang istri, dia harus meredam impiannya dan melanjutkan studi di Indonesia.


Dengan Arsyad berada dalam gendongannya, Irzal menghampiri Arsy yang masih asik berbincang dengan para sepupunya. Setelah Irsyad, kini giliran Arsyad yang ingin menyusu. Bersama sang istri, mereka segera menuju kamar yang dulu ditempati Renata. Irzal membaringkan sang anak di kasur.


Lebih dulu Arsy melepas hijabnya, sebelum menyusui sang anak. Tak lama kemudian, Irzal ikut membaringkan diri di belakang sang istri. Kedua tangannya memeluk pinggang Arsy. Sesekali dia mendaratkan ciuman di tengkuk istrinya.


“Kangen kamu, Yang,” bisik Irzal.


“Sabar ya, mas. Masih tiga puluh tujuh hari lagi,” Arsy terkikik setelahnya.


“Kalau aku pengen gimana dong?”


“Tenang, mas. Banyak jalan menuju Roma. Mas lagi pengen, ya?”


“Hem..”


“Nanti di rumah ya, mas. Kalau anak-anak udah tidur, aku kasih service mas sampai puas.”


“Tapi kamunya jangan ikutan tidur.”


“Mudah-mudahan.”


Kembali tawa Arsy terdengar. Jika sudah menyusui anaknya, terkadang dia ikut tertidur. Jika sudah begitu, Irzal hanya bisa pasrah saja menahan hasratnya seorang diri. Tapi yang terpenting melihat anaknya tumbuh sehat, begitu juga dengan istrinya, sudah membuat pria itu bahagia.


🍁🍁🍁

__ADS_1


**Maaf ya kemarin sengaja ngga up. Tetiba entuun error, aku takut reviewnya mandeg.


Untuk Azzam aku bakal bikin lapak sendiri. Tapi kasih aku break buat istirahat dulu ya. Kelanjutan kisah Daffa dan para jomblo yang belum sold out juga bakal ada lapaknya sendiri, oke😉**


__ADS_2