Hate Is Love

Hate Is Love
Positif


__ADS_3

Dayana masuk ke dalam kamar lalu merapihkan pakaian yang dikenakan suaminya. Setelah merapihkan bagian belakang kemeja yang dikenakan Rafa, wanita itu mengajak suaminya untuk sarapan. Semangkok bubur lengkap dengan topingnya sudah tersaji di meja makan.


“Kamu beli bubur di mana, sayang?” tanya Rafa seraya mendudukkan diri.


“Aku bikin sendiri, mas.”


“Pasti enak.”


Rafa mengambil sendok dan mulai mencicipi bubur buatan sang istri. Sesuai dugaan rasanya memang enak dan kalah dari penjual bubur langganannya. Pria itu menambahkan kecap dan sambal ke dalam mangkok dan mulai mengaduknya.


“Kamu makan juga.”


“Iya, mas.”


Senyum di wajah Dayana terbit melihat suaminya yang begitu lahap memakan bubur buatannya. Baru dua bulan menikah, berat badan Rafa sudah bertambah dua kilo. Semua karena rasa masakan Dayana yang lezat dan membuat nafsu makan pria itu bertambah. Bahkan Rafa juga sering minta dibawakan makan siang ke rumah sakit.


“Sayang, hari ini mas pulang agak malam. Ada operasi besar siang nanti. Kemungkinan operasi bisa enam sampai delapan jam.”


“Operasi apa, mas? Kok selama itu.”


“Pemasangan jantung buatan.”


“Mudah-mudahan lancar ya, mas. Pasiennya sudah tua?”


“Belum, masih umur tiga puluhan.”


“Ya ampun. Laki-laki atau perempuan, mas?”


“Laki-laki.”


“Namanya penyakit bisa menimpa siapa saja. Mas juga harus jaga kesehatan. Apalagi pekerjaan mas berat.”


“Iya, sayang.”


Rafa mearih tangan Dayana lalu mengusapnya pelan. Walau baru dua bulan menjalani biduk rumah tangga bersama dengan Dayana, pria itu merasa sangat bahagia. Dia berharap Tuhan akan secepatnya memberi mereka anak.


“Kamu ngga kuliah hari ini?”


“Ngga, mas. Hari ini cuma ngumpulin tugas aja. Aku udah kirim via e-mail.”


“Kalau bosan, kamu main aja ke rumah orang tuamu.”


“Geya mau ke sini katanya.”


“Syukurlah kalau Geya mau datang.”


Setelah menghabiskan buburnya, Rafa meneguk air putih lalu menghabiskan jus jeruk yang dibuatkan Dayana untuknya. Dayana bangun dari duduknya, kemudian mengantar sang suami sampai ke depan mobilnya. Rafa memeluk sang istri seraya mendaratkan ciuman di kening.


“Mas pergi dulu, ya.”


“Iya, mas. Semoga operasinya sukses.”


“Aamiin... Makasih, sayang.”


Sebuah ciuman diberikan Rafa di pipi sang istri. Pria itu masuk ke dalam mobilnya. Kendaraannya mulai bergerak, tangan Rafa melambai ketika mobil yang dikendarainya meninggalkan kediamannya. Setelah mobil Rafa tak terlihat, Dayana segera masuk ke dalam rumah.


Wanita itu membereskan wadah kotor bekas sarapan mereka berdua lalu membawanya ke dapur. Sebenarnya Rafa sudah menawarkan asisten rumah tangga untuk istrinya. Namun Dayana menolaknya dengan alasan masih sanggup mengurus rumah sendiri. Setelah mencuci peralatan kotor, Dayana membuka kulkas. Dia berpikir sejenak, apa yang akan dimasaknya untuk makan siang.


Tubuh Dayana terhuyung ketika merasakan pusing di kepalanya. Dia menutup pintu kulkas, kemudian menuju ruang tengah. Wanita itu membaringkan tubuhnya di sofa, mencoba mengusir rasa pusing yang melanda.


🍁🍁🍁


“Assaamu’alaikum!”


Dayana terbangun dari tidurnya ketika mendengar sebuah suara mengucapkan salam. Karena pusing, Dayana membaringkan tubuhnya dan jatuh tertidur. Wanita itu bangun lalu menuju ruang depan. Nampak Geya berdiri dibalik pintu setelah dia membukanya.


“Geya..” panggil Dayana dengan suara pelan.


“Kakak kenapa? Mukanya kok pucat gitu.”


“Masa?” Dayana meraba wajahnya.


“Kakak sakit?”


“Kepalaku tiba-tiba aja pusing.”


“Ya ampun, ayo kakak tiduran aja.”


Geya membimbing Dayana kembali ke ruang tengah, lalu mendudukkannya di sofa. Gadis itu segera menuju dapur untuk mengambilkan minuman hangat untuk kakak sepupunya itu. Perlahan Dayana meneguk air yang diberikan Geya.


“Dari kapan kakak sakit?”


“Ngga lama abis mas Rafa pergi.”


“Oh itu pusing karena malarindu kali, hehehe..”


“Ada-ada aja kamu.”


“Kak, udah mau jam makan siang. Mau aku buatin apa?”


“Aku mau telor ceplok aja.”


“Hah serius? Mau makan itu aja?”


“Iya. Telor ceplok pake saos di atasnya pasti enak.”


“Tenang aja, aku buatin. BTW nasinya udah ada belum?”


“Udah kok.”


Geya bangun dari duduknya lalu bergegas menuju dapur. Geya, anak kedua dari Kenan memang malas untuk bangun pagi dan beberes rumah. Tapi dia mewarisi bakat mama dan neneknya yang pandai memasak. Gadis itu lebih memilih masak untuk satu batalyon dibanding membereskan rumah.


Dengan cepat Geya mencincing bawang putih dan bawang bombay. Ditumisnya bawang putih bersama bawang bombay menggunakan minyak wijen. Kemudian ke dalamnya ditambahkan kecap manis, kecap asin, saos sambal, saos tiram dan kecap Inggris. Setelah menambahkan sedikit gula, penyedap, irisan cabe rawit merah serta air, dia merasakan dulu rasa saosnya.


Geya mengambil pan dan memberi sedikit margarin di atasnya. Dia memecahkan dua buah telur ke atas pan dan memasaknya dengan api kecil. Gadis itu membiarkan telur matang tanpa dibalik, membuat kuning telurnya tetap utuh. Setelah matang dan mematikan kompor, Geya mengambil piring, lalu diisi nasi. Geya menaruh telur ceplok di atas piring kemudian menambahkan saos yang dibuatnya tadi di atasnya.


“Kak Aya, ini telor ceplok spesialnya udah jadi.”


Dayana bangun dari posisi berbaringnya. Wanita itu meneguk ludahnya kelat melihat isi piring yang dibawa Geya. Dengan lahap Dayana memakan telor ceplok buatan adik sepupunya. Rasanya benar-benar lezat, ditambah dengan saos di atasnya. Melihat Dayana yang makan dengan lahap, membuat Geya lapar. Dia kembali ke dapur dan membuat telor ceplok lagi. Tak lupa dia menambahkan saos di atasnya.


“Enak, Ge.. kamu tambah pinter masaknya.”


“Siapa dulu, Geya. Aku kan pengen jadi istri yang baik kalau udah nikah.”


“Nikah.. beresin aja dulu kuliahnya. Lagian kamu udah punya calon?”


“Udah, dong.”


“Siapa?”


“Bang Daffa.”


Wajah Geya menyunggingkan senyuman saat menyebut nama pria yang digadang-gadang menjadi calon imamnya. Dayana hanya diam saja mendengar ucapan Geya, setahunya Daffa belum ada ikatan dengan wanita manapun, termasuk Geya.


“Bukannya Daffa masih jomblo, ya.”


“Ngga, kak. Dia udah punya calon, aku calonnya.”


“Masa sih? Kok aku ngga pernah dengar,” Dayana masih meragukan ucapan sepupunya.

__ADS_1


“Ck.. kakak lupa apa? Pas syukuran kak Arsy hamil, bang Daffa kan panggil aku sayang.”


Kembali Geya mesem-mesem ketika mengingat Daffa memanggilnya dengan sebutan sayang. Padahal dia tahu Daffa melakukan itu untuk mengalihkan perasaan cemburu Rafa padanya. Namun tetap saja membuat Geya baper, dan akhirnya jatuh cinta pada pria itu. Apalagi wajah Daffa tampan dan sikapnya juga ramah.


“Emang Daffa udah setuju?” Dayana masih penasaran.


“Kakek udah setuju mau jodohin aku sama bang Daffa.”


“Masa?”


Kepala Geya mengangguk dengan mantap. Dayana memilih percaya saja apa yang dikatakan adik sepupunya, dari pada kepalanya bertambah pusing. Wanita itu bangun lalu menuju dapur untuk menaruh piring kotor. Tak lama dia kembali ke ruang tengah.


“Ge.. aku kok tiba-tiba pengen makan triple chocolate cake yang di More & Most Coffee.”


“Wah aku juga mau. Ayo kita ke sana kak.”


“Ayo. Abis shalat ya.”


Dengan semangat Geya kembali menganggukkan kepalanya. Sudah cukup lama dia tidak mengunjungi More & Most Coffee karena kesibukannya kuliah. Gadis itu bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu.


🍁🍁🍁


Setelah menunggu lima belas menit, pesanan Geya dan Dayana akhirnya selesai juga. Dengan senang Geya menikmati triple chocolate kesukaannya. Begitu pula Dayana. Biasanya wanita itu kurang menyukai makanan manis, tapi hari ini dia benar-benar ingin memakannya.


“Triple chocolate ditambah mango lessi emang ngga ada duanya.”


Geya menyeruput mango lessinya hingga habis setengah. Kemudian perhatiannya tertuju pada Dayana yang sudah menghabiskan dua slice cake. Dia cukup heran pada kakak sepupunya ini. Paling banyak Dayana hanya mampu satu slice saja. Tapi sekarang wanita itu mampu menghabiskan dua slice sekaligus.


“Kak Aya tumben makan cake langsung dua slice.”


“Iya, ya tumben. Tapi hari ini aku beneran lagi pengen makan yang manis-manis. Pusingku langsung hilang abis makan yang manis.”


“Jangan-jangan kakak hamil.”


Dayana yang tengah menyeruput bobba Thai tea miliknya langsung berhenti begitu mendengar kata-kata Geya. Dia kembali mengingat kapan terakhir datang bulan. Kedua tangannya langsung menutup mulutnya begitu mengingatnya.


“Kenapa kak?”


“Aku udah terlambat seminggu.”


“What? OMG berarti beneran kakak lagi hamil. Ayo kita periksa ke dokter sekarang.”


“Sekarang?”


“Iya, sekarang. Kalo tahun depan keburu brojol. Habisin dulu makanannya terus kita ke rumah sakit.”


Geya nampak bersemangat sekali mengajak Dayana ke rumah sakit. Dengan begitu dia bisa bertemu dengan Daffa. Gadis itu bangun lalu menuju meja pemesanan. Dia hendak memesan kopi dan juga camilan untuk pria pujaannya. Setelah membayar pesanan, Geya kembali ke mejanya.


“Pesan apa?”


“Kopi sama camilan buat abang Daffa.”


“Aiihhh.. yang udah bucin.”


“Biarin. Kak, nanti aku aja yang nyetir ya. Kakak lagi hamil ngga boleh nyetir.”


“Kamu kan lagi kena larangan nyetir sama daddy.”


“Sekali doang. Daddy pasti ngga akan tahu, ok.”


Tak ada jawaban yang bisa diberikan Dayana selain anggukan. Sudah pasti Geya akan bersikeras membawa mobil walau dia melarangnya. Seorang pelayan datang membawakan pesanan Geya. Setelah menghabiskan minumannya, bersama dengan Dayana, gadis itu meninggalkan café.


Selama dalam perjalanan, Dayana sedikit was-was dengan cara Geya menyetir mobil. Beberapa kali gadis itu mengerem mobil mendadak dan menjalankannya dengan kasar. Dayana memegang tali sabuk pengaman dengan erat.


“Ge.. hati-hati.”


“Tenang aja, kak.”


“Kenapa ngga parkir sendiri?” tanya Dayana saat mereka menuju lantai dua.


“Aku belum bisa parkir, hehehe..”


“Astaga Geya,” Dayana menepuk keningnya.


“Kak, nunggu antriannya masih lama kan? Aku mau kasih minuman dulu ke bang Daffa.”


“Oke.”


Sambil bersenandung, Geya turun ke lantai dasar. Gadis itu segera menuju IGD. Suasana IGD cukup sepi. Nampak Daffa sedang berdiri di depan meja perawat. Pria itu nampak seperti tengah menulis laporan. Geya segera mendekati Daffa.


“Bang Daffa,” panggil Geya.


“Eh Geya. Tumben ke sini.”


“Nganter kak Aya ke dokter sama bawain abang ini.”


Geya meletakkan minuman dan dus berisi camilan yang dibelinya tadi. Daffa melemparkan senyum manisnya pada Geya dan semakin membuat gadis itu melayang.


“Aya sakit apa?”


“Bukan sakit, dia lagi periksa ke dokter kandungan.”


“Wah udah isi?”


“Kayanya, bang.”


“Terus kalian ke sini naik apa?”


“Naik mobil kak Aya. Tapi berhubung kak Aya lagi hamil, aku yang nyetir.”


“Hah? Kamu kan lagi dilarang nyetir sama daddy kamu.”


“Terpaksa bang, darurat.”


“Terus nanti pulang kamu yang nyetir lagi?”


“Iya.”


“Kamu bisa tunggu aku? Ngga lama lagi shift-ku beres. Biar aku aja yang antar kalian.”


“Beneran, bang?”


"Iya."


“Ok. Aku tunggu di atas ya. Kak Aya periksa sama doketr Suci.”


“Ok.”


Sambil berteriak senang, Geya meninggalkan IGD. Daffa hanya tersenyum melihat tingkah Geya yang menggemaskan. Dia menyeruput minuman yang dibelikan gadis itu untuknya. Untuk camilan, dia memperbolehkan semua perawat yang ditugaskan untuk mencicipinya. Selesai menghabiskan minumannya, Daffa segera menuju ruang ganti. Shiftnya sudah selesai, pria itu bersiap untuk pulang.


🍁🍁🍁


“Gimana kak?” tanya Geya begitu melihat Dayana keluar dari ruang pemeriksaan.


“Alhamdulillah, aku udah isi lima minggu, Ge.”


“Selamat ya, kak Aya.”


Geya langsung memeluk kakak sepupunya itu. Dia turut senang mendengar kabar kehamilan Dayana. Pasti kabar ini juga akan membuat semua keluarga Hikmat bahagia setelah mereka kehilangan calon anak Arsy dan Irzal.

__ADS_1


“Ge, pulangnya aku aja yang nyetir.”


“Ngga usah, kak. Bang Daffa yang anter kita pulang. Kakak ngga mau ketemu bang Rafa dulu?”


“Mas Rafa lagi di ruang operasi.”


“Oh. Ya udah kita pulang sekarang.”


“Tapi aku tebus resep dulu.”


Sambil memeluk lengan Dayana, Geya menuruni anak tangga menuju lantai dasar. Mereka segera menuju apotik untuk menebus vitamin dan obat penambah darah yang diberikan dokter. Daffa yang sudah selesai berganti pakaian, segera menuju apotik untuk menyusul dua wanita itu.


“Udah selesai?” tanya Daffa.


“Udah.”


“Langsung pulang, kan?”


“Iya.”


“Tunggu aku depan lobi. Aku ambil mobil dulu.”


Bergegas Daffa segera menuju tempat dirinya memarkir mobil. Sambil menuju lobi, Geya menghubungi salah satu anak buah Dion, memintanya untuk mengambil mobil Dayana di rumah sakit. Tak lama mobil yang dikendarai Daffa berhenti di depan lobi, Geya membukakan pintu belakang untuk Dayana, sedang dirinya duduk di bagian depan.


“Apa kata dokter, Ay?” tanya Daffa.


“Alhamdulillah janinnya sehat. Sekarang umurnya udah lima minggu.”


“Selamat ya.”


“Makasih, Daf.”


“Bang Rafa udah tahu?”


“Belum. Dia lagi ada operasi. Nanti aja aku kasih tahu di rumah.”


“Huaaa.. aku juga pengen cepat-cepat nikah terus punya anak,” celetuk Geya.


“Emang udah punya calonnya?” goda Dayana.


“Abang kapan mau lamar aku?”


Uhuk.. uhuk..


Dayana tak bisa menahan tawanya mendengar suara batuk Daffa. Pasti pria itu terkejut mendengar pertanyaan frontal Geya. Namun Geya yang sudah putus urat malunya hanya tertawa saja sambil terus memandangi wajah Daffa.


“Daf.. yang sabar ya ngadepin jaran kepang model Geya, hahaha…”


Bibir Geya maju beberapa senti medengar julukan Dayana untuknya. Tawa Daffa meledak melihat bibir Geya yang sudah seperti Donald bebek. Melihat Daffa yang semakin tampan saat tertawa, senyum Geya kembali terbit. Dayana hanya menggelengkan kepalanya saja melihat adik sepupunya yang sedang dilanda virus eceng.


🍁🍁🍁


Rafa terkejut melihat mobil Daffa terparkir di depan rumahnya. Perasaannya langsung tak enak mengetahui rekan kerjanya mengunjungi istrinya di saat dirinya tidak ada di rumah. Bergegas pria itu masuk ke dalam rumah.


“Akhirnya bang Rafa pulang juga,” seru Geya.


“Geya,” panggil Rafa pelan.


“Mas..” panggil Dayana.


“Daffa, ngapain di sini?”


“Ya ampun bang Rafa biasa aja, jangan kaget gitu. Aku nganter Aya pulang dari rumah sakit. Soalnya bahaya kalau Geya yang bawa mobil.”


“Kamu ke rumah sakit? Ngapain?”


“Ay, kita pulang ya. ayo, Ge.”


Tak mau merusak momen spesial Dayana dan Rafa, Geya segera menyusul Daffa setelah berpamitan dengan Rafa. Dayana mengantar kedua orang itu sampai ke depan rumah. Setelah mobil yang dikendarai Daffa melaju, wanita itu kembali masuk ke dalam rumah.


“Kamu ngapain ke rumah sakit? Kamu sakit?”


“Ngga, mas. Tadi aku ketemu dokter Suci.”


“Dokter Suci?”


“Iya. Kata dokter Suci, aku udah hamil lima minggu.”


“Yang benar, sayang?”


“Iya, mas.”


Belum percaya dengan apa yang dikatakan istrinya, Rafa menarik tangan Dayana lalu memeriksa denyut nadi istrinya. Wajahnya nampak sumringah, dengan perasaan bahagia dipeluknya Dayana dengan erat.


“Kamu hamil, sayang. Terima kasih.”


Bertubi-tubi Rafa mendaratkan ciuman di wajah sang istri. Hari ini dia benar-benar bahagia mendengar kabar kehamilan Dayana. Akhirnya dia bisa menjadi seorang ayah juga. Hal yang tidak bisa didapatnya saat menikah dengan Maya dahulu. Pria itu menggendong Dayana lalu membawanya masuk ke dalam kamar.


🍁🍁🍁


Daffa mengentikan kendaraan di depan kediaman Abi. Kedatangannya dengan Geya langsung disambut oleh Kenan. Pria itu menatap tajam pada anaknya. Melihat pandangan sang ayah, refleks membuat Geya berlindung dibalik punggung Daffa.


“Malam, om. Maaf kalau agak malam antar Geya pulang. Tadi kita nunggu bang Rafa pulang dulu.”


“Makasih, Daffa. Geya, sini kamu!”


Takut-takut Geya mendekati Kenan. Gadis itu menghampiri Kenan dengan kepala menunduk. Dia berhenti tepat di depan pria itu.


“Siapa suruh kamu nyetir mobil?”


“Euungg.. i.. itu, pa. Kak Aya kan lagi hamil, jadi aku yang nyetir mobil.”


“Kamu lupa larangan daddy?"


“Inget sih, tapi kan emergency.”


“Berdiri di sana, angkat sebelah kaki kamu terus pegang dua telinga kamu.”


“Daddy..”


“Sekarang!”


Dengan langkah gontai Geya menuju sudut ruangan. Gadis itu mengangkat sebelah kakinya, kemudian kedua tangan memegang telinganya. Wajahnya nampak memerah menahan malu, karena Daffa melihat itu semua. Sebisa mungkin Daffa berusaha menahan tawanya.


“Om, aku pulang dulu.”


“Makasih ya, Daffa.”


“Sama-sama, om. Geya aku pulang dulu, ya. Fighting!”


Geya hanya memajukan bibirnya saja mendengar ucapan Daffa. Kenan mengantarkan Daffa sampai ke depan mobilnya. Pria itu masuk kembali ke dalam rumah setelah Daffa pergi. Dihampirinya Geya yang masih menjalani hukuman darinya.


“Daddy jahat.. tega banget daddy hancurin harga diri Geya di depan bang Daffa, hiks.. hiks..”


“Heleh ngga usah nangis, emang daddy ngga tau itu cuma airmata buaya. Berdiri sampai setengah jam!”


Kenan segera meninggalkan Geya yang masih berada dalam posisi yang sama. Gadis itu hanya bisa menghela nafas panjang. Ternyata ayahnya sama sekali tidak terpengaruh dengan airmata buayanya. Mata Geya terus memandangi jam di dinding di hadapannya. Berharap bisa bergerak cepat sampai tiga puluh menit ke depan.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Geya.. Geya.. Dasar jaran kepang🤣


__ADS_2