Hate Is Love

Hate Is Love
Drama Pengantin Baru


__ADS_3

“Biar suasana ngga mellow. Bapak punya pantun buat kalian. Siap, kang, neng?”


Hanya anggukan pelan yang diberikan oleh Renata. Sedang Zar mulai waspada. Irzal hanya memberinya satu buah pantun, dan sudah dipakai tadi. Tidak menyangka ternyata penghulu veteran itu punya banyak stok pantun.


“Diikuti ya, neng. Sekarang coba duduknya berhadapan. Dipegang tangan si akang.”


Renata mengubah posisi duduknya berhadapan dengan Zar, kemudian memegang tangan pria itu. Jantung wanita itu berdegup kencang, menanti apa yang akan keluar dari mulut Rahman. Apa yang menimpa Stella dan Vanila, kini dialaminya juga.


“Akang Zar yang neng cintai. Neng punya pantun buat akang,” ujar Rahman.


“Akang Zar yang neng cintai. Neng punya pantun buat akang,” Renata mengikuti.


“Di sana gunung di sini gunung. Di tengah-tengah lembah nirwana.”


“Di sana gunung di sini gunung. Di tengah-tengah lembah nirwana.”


“Akang Zar jangan ragu, jangan bingung. Gua neng Rena dijamin tiada duanya.”


Mulut Renata ternganga mendengar pantun Rahman. Sontak wanita itu melihat pada sang penghulu. Tawa sudah terdengar dari orang-orang di sekelilingnya. Dengan bahasa tubuhnya, Rahman mendesak Renata mengikuti apa yang dikatakannya tadi. Namun Renata menggelengkan kepalanya.


“Ayo neng, biar cepat beres ini acaranya. Bapak udah laper,” kelakar Rahman.


“Hahaha..”


“Iyain aja Ren, biar cepet,” bisik Zar.


“Ngga mau. Kamu aja.”


“Aku mana punya gua. Aku punyanya pentungan.”


Sontak apa yang dikatakan Zar membuat wajah Renata semakin merona. Mimpi apa dirinya semalam, suaminya dan sang penghulu sama absurdnya. Wanita itu kembali melihat pada Rahman yang masih menunggu kalimat darinya.


“Lupa lagi pak, pantunnya,” kilah Rena.


“Sok ikutin lagi. Di sana gunung di sini gunung. Di tengah-tengah lembah nirwana.”


“Di sana gunung di sini gunung. Di tengah-tengah lembah nirwana.”


“Akang Zar jangan ragu, jangan bingung. Gua neng Rena dijamin tiada duanya.”


“Akang Zar jangan ragu, jangan bingung. Gua neng Rena dijamin tiada duanya,” ulang Renata dengan suara pelan.


“Hahaha… uhuy.. travelotak lagi si Zar,” seru Daffa.


“Akang Zar ngga mau ngomong apa gitu sama neng Rena yang udah siapin gua?” goda Rahman.


“Ngomong apa, pak?” seketika otak Zar blank.


“Duh neng Rena. Akang jadi tambah cinta sama neng. Akang juga punya pantun buat neng. Sok bilang kitu,” ujar Rahman.


“Duh neng Rena. Akang jadi tambah cinta sama neng. Akang juga punya pantun buat neng. Sok bilang kitu,” Zar mengikuti.


“Eta nu terakhir ngga usah diulang.”


“Hahaha…”


Zar hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Penghulu di depannya ini memang tidak ada duanya. Ada saja bahan untuk membuatnya mati kutu. Kali ini Renata yang tertawa melihat wajah dongkol suaminya.


“Hayu, sekarang akang balas pantunnya neng Rena. Di sana senang di sini senang. Di mana-mana hatiku senang.”


“Di sana senang di sini senang. Di mana-mana hatiku senang.”


“Neng Rena jangan bimbang, jangan meradang. Bandulan akang Zar pasti bikin ketagihan.”


“Neng Rena jangan bimbang, jangan meradang. Bandulan akang Zar pasti bikin ketagihan,” dengan sangat terpaksa, Zar mengikuti pantun Rahman.


“Wew.. bandulan apa tuh?” seru Arya.


“Jam dinding, bhuahaha..” sambar Irzal.


“Wuanjiiirr gede beud punya lo, Zar,” Aidan.


“Hahaha..”


Kampret lo pada, girang banget lihat gue mati kutu.


Senyum tercetak di wajah Rahman. Pria itu terlihat senang melihat Zar mati kutu dibuatnya. Pengalamannya malang melintang sebagai penghulu selama dua puluh lima tahun memang sudah tidak perlu diragukan lagi. Meskipun mulut pengantin pria seperti petasan banting, tetap tidak bisa mengalahkannya.


“Hayu.. kang diikuti lagi pantunnya.”


“Masih ada?” tanya Zar.


“Masih atuh.”


Pria itu hanya pasrah mengikuti permainan Rahman. Sudah kadung basah, tidak masalah nyebur ke empang sekalian.


“Beli mangga ke pasar Kemis. Mangga ngga dapat, nemunya cempedak.”


“Beli mangga ke pasar Kemis. Mangga ngga dapat, nemunya cempedak.”


“Duhai neng Rena anu geulis. Itu sawahnya sedang banjir atau tidak?”

__ADS_1


“Duhai neng Rena anu geulis. Itu sawahnya sedang banjir atau tidak?” tak ayal senyum Zar terbit setelah mengatakannya.


“Uhuy.. jeritan hati pengantin pria tuh!” celetuk Ervano.


“Pantun ngena banget buat Idan!” Irzal.


“Kampret,” rutuk Aidan.


Walau malu, tapi Zar cukup senang mengikuti pantun buatan Rahman. Setidaknya Aidan juga kembali dibuat mati kutu. Sekarang Rahman meminta Renata mengikuti kata-katanya. Hatinya kembali was-was. Pasti dirinya akan kembali dibuat malu oleh penghulu itu.


“Pergi ke pasar beli buah pir. Jangan lupa membeli kentang.”


“Pergi ke pasar beli buah pir. Jangan lupa membeli kentang.”


“Akang Zar tidah usah khawatir. Sawah neng Rena, kering kerontang.”


Renata tak langsung mengikuti apa yang dikatakan oleh Rahman. Dia melihat pada Zar yang sedang cengar-cengir menunggu sang istri mengikuti pantun penghulu itu.


“Hayu, neng,” ujar penghulu.


“Akang Zar tidah usah khawatir. Sawah neng Rena, kering kerontang,” Renata mengikuti ucapan Rahman, kembali dengan suara pelan.


“Beneran kering kerontang, Ren?” tanya Zar spontan.


Tentu saja pertanyaan Zar langsung dibalas cubitan di lengan pria itu. Semua yang melihat dan mendengar apa terjadi dengan penganti baru tersebut langsung tertawa senang. Kembali teriakan ledekan terdengar untuk pasangan pengantin tersebut.


“Aamiinin yang keceng, Zar!” Arya.


“Zar langsung travelotak lagi!” Irzal.


“Gasskeun! Langsung jebol gawang!” Ervano.


“Uhuy bandulan jam ketemu sawah kering kerontang,” Daffa.


“Sawahnya langsung dapet irigasi, hahaha..” Aqeel.


“Zar jadi nyemprot. Idan doang yang merana, hahaha..” Tamar.


Akhirnya suami dari Stella itu membuka mulutnya juga. Aidan kembali dibuat kesal oleh sahabatnya itu. Dia langsung menghadiahi tepakan di kepala Tamar. Suasana seketika menjadi riuh. Zar melihat pada Renata sambil menaik turunkan alisnya, membuat sang istri semakin menundukkan kepalanya.


Usai membuat gaduh, Rahman mulai memberikan tausyiahnya tentang hukum-hukum pernikahan. Suasana kembali menjadi tenang, kedua mempelai mendengarkan semua yang dikatakan Rahman dengan sungguh-sungguh. Zar menggenggam tangan Renata dengan erat. Dalam hatinya berjanji akan menjadi suami yang baik untuk istrinya ini.


“Kalau ada persoalan dibicarakan baik-baik. Jangan pake perang urat leher, malu sama tetangga. Apalagi kalau sampe ada tawuran, segala piring, gelas, panci, wajan dibawa-bawa. Kasihan mereka ngga punya dosa apa-apa. Kalau bisa selesaikan dengan pertempuran gaya cicak di atas kasur. Diam-diam merayap langsung hap dan sembur,” ujar Rahman menutup tausyiahnya.


“Hahahaha…”


Akhirnya akad nikah yang dipenuhi keabsurdan dan acara berbalas pantun dari pengantin dan penghulu selesai juga. Rahman mempersilahkan kepada kedua pengantin meminta restu dan mendapatkan nasehat dari para orang tua. Suasana yang tadi penuh gelak tawa, berubah menjadi penuh haru.


Zar menghapus airmata di wajah istrinya dengan tisu. Matanya juga berkaca-kaca mendengarkan nasehat bijak dari kedua orang tuanya dan juga para tetua yang lain. Setelah acara yang penuh dengan keharuan selesai, Raisya mempersilahkan semua yang hadir mencicipi hidangan yang sudah disediakan.


“Akhirnya si Zar sold out juga. Tampuk kepemimpinan sekarang pindah ke elo ya, Van,” Arya menepuk pundak sepupunya ini.


“Enak aja, si Farzan tuh.”


“Si Farzan masih kuliah, masih kinyis-kinyis. Lo kan udah wisuda, bentar lagi masuk kantor.”


“Enak aja kinyis-kinyis, dia masih sekolah karena ambil kedokteran, makanya lama. Mukanya mah udah tua,” sewot Ervano.


“Buset tuh mulut sekate-kate. Muka gue masih imut gini,” protes Farzan.


“Udah.. gimana kalau gelar presiden jomblo kita hibahkan sama Gilang. Kan lumayan, dia bisa pegang tampuk kepemimpinan lebih lama, hahaha…” usul Azzam.


“Weh jangan julid lo, bang. Gue itu jomblo karena pilihan. Mending bang Sam aja. Dia jomblo karena takdir, bhuahahaha…” balas Gilang tak mau kalah.


Sam tak menanggapi celotehan adiknya. Dia hanya tenang saja menikmati makanannya. Baginya tidak penting jabatan jomblo dan sebagainya. Jika sudah saatnya nanti, pasti akan menemukan pasangan yang tepat juga. Begitu juga Azzam, yang terlihat santai saja. Sifat kedua pria itu memang mirip, padahal berasal dari benih yang berbeda.


“Zam.. kamu udah selesai pendidikannya?” tanya Irzal.


“Belum, bang. Masih enam bulan lagi. Kalau udah beres, baru ditugaskan sesuai bidang yang dipilih. Kalau aku ambil spesialis pesawat tempur, ya pasti ngga jauh dari itu tugasnya. Menjaga perbatasan lewat udara. Ada rencana juga masuk tim pelatihan gabungan dengan RSAF (Republic of Singapura Air Force).”


“Wah keren ya. Semoga lancar.”


“Aamiin.”


“Aku juga pengen daftar ke Kontingen Garuda buat jaga perdamaian dunia. Tapi seleksinya ketat banget.”


“Semangat, Zam. Kamu pasti bisa. Yang penting terus berusaha, belajar dan berdoa,” Irzal menyemangati adik iparnya itu.


“Aamiin.. In Syaa Allah, bang. Doain aja.”


“Pasti dong.”


Senyum tercetak di wajah Azzam. Yang ada di kepalanya saat ini adalah menyelesaikan pendidikan dan menjadi prajurit TNI AU yang bisa dibanggakan. Bergabung menjadi kontingan Garuda adalah keinginan terbesarnya saat ini. Menjelajahi negara luar sambil menjaga perdamaian.


“Pengantin pria udah selesai belum makannya? Buruan ganti baju,” seru Arya.


“Ayo gua anter, kak.”


Azzam bangun dari duduknya, lalu merangkul bahu sang kakak. Mereka harus melewati dulu kolam renang sebelum menuju ruang ganti yang disiapkan untuk pengantin pria. Ketika mereka berada di sisi tengah kolam, dengan sengaja Azzam menyenggol tubuh sang kakak sampai tercebur ke kolam renang.


BYUURR!!

__ADS_1


“Bhuahahaha…”


Tawa semua yang ada di sana langsung meledak melihat sang pengantin terjun bebas ke kolam renang. Azzam sang pelaku juga tak bisa menahan tawanya, dia berjongkok di tepi kolam sambil terus tertawa.


“Hahahaha…”


“Kampret! Dasar adek durhakim. Bantuin gue!”


“Hahahaha..”


Arya, Ervano, Gilang dan Farzan mendekati kolam renang. Bahkan Farzan merekam Zar yang masih berada di kolam dengan ponselnya. Zar mengulurkan tangannya pada Azzam. Sang adik meraih tangan Zar. Namun saat akan menariknya, Zar justru menarik tangan Azzam hingga pria itu kehilangan keseimbangannya.


Sebelum jatuh ke dalam kolam, Azzam menarik tangan Arya. Ditarik tiba-tiba oleh Azzam, Arya kehilangan keseimbangan, refleks dia menarik tangan Ervano. Anak dari Ezra itu mencoba bertahan. Dia memegangi celana Gilang. Karena posisi Gilang yang tidak ajeg, pemuda itu kehilangan keseimbangan juga.


Berturut-turut Azzam, Arya, Ervano dan Gilang masuk ke dalam kolam. Beruntung Farzan langsung berlari begitu melihat adegan tarik menarik tadi. Tawanya langsung meledak melihat empat orang sepupunya masuk ke dalam kolam, menyusul sang pengantin pria. Suasana kembali riuh. Irzal, Tamar, Aidan, Daffa, Rakan dan Aqeel bergegas mendekati kolam. Tawa tak lepas dari kelima pria tersebut.


“Woi bantuin!” teriak Zar.


“Ogah! Naik aja sendiri, hahaha…” Irzal.


“Kepala si Arya aja lelepin buat penyangga, hahaha..” Tamar.


“Galah mana galah,” Daffa.


Zar segera berenang sampai ke ujung, kemudian menaiki tangga yang ada di sana. Di belakangnya, Azzam, Arya, Ervano dan Gilang menyusul keluar dari kolam. Dengan tubuh basah kuyup, mereka segera menuju ruang ganti untuk berganti pakaian. Dari meja yang ditempatinya, Rahman hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah cucu keluarga Hikmat yang ajaib.


“Pak Rahman masih ada acara lain sesudah ini?” tanya Abi.


Ternyata penghulu fenomenal itu tengah duduk bersama pandawa lima. Sebuah kebanggaan tentu bagi Rahman bisa duduk bersama dengan lima orang pria hebat dan juga tampan pada masanya.


“Tidak ada, pak. Jadwal saya hari ini hanya satu. Menikahkan Zar dan Renata saja.”


“Tumben pak, jadwalnya minimalis,” celetuk Cakra.


“Iya, pak. Saya memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk penghulu pemula mendapatkan pengalaman yang sebanyak-banyaknya menikahkan pasangan pengantin. Siapa tau mereka ketemu jodohnya di sana, buat yang masih jomblo.”


“Hahaha… betul juga.”


“Yang kemarin nikahin Geya, yang gagap tuh, siapa namanya?”


“Resnu. Dia sebenarnya ngga gagap. Cuma kalau grogi, gagapnya kumat plus keringetan. Makanya saya kasih dia jadwal menikahkan lebih banyak. Biar gagapnya hilang, hahaha..”


“Di mana-mana yang grogi tuh pengantinnya. Ini malah penghulunya, sambung Jojo.


“Namanya juga penghulu jomblo, hahaha..”


Jawaban Rahman langsung disambut tawa yang lainnya. Keberadaan Rahman langsung klop dengan pandawa lima. Karena mereka satu server. Mereka senang melihat bagaimana Rahman bisa membuat Zar mati kutu.


“Pak Rahman nih jago banget ya buat pantun,” ujar Juna.


“Jago sih, ngga. Cuma nyocokin aja plus maksain biar cocok, hahaha.. prinsipnya gini. Calon pengantin itu bakal tambah tegang kalau penghulunya serius terus. Jadi harus diselingi humor.”


“Tapi ada yang bengek juga kan?”


“Banyak, pak. Tapi mereka harus dibuat tahan malu supaya bisa mengucapkan ijab dengan lancar. Nanti juga kalau sudah ketemu pasangannya, malah malu-maluin hahaha..”


“Bener juga.”


Sambil menunggu waktu resepsi tiba, mereka terus berbincang. Rahman banyak menceritakan pengalamannya saat menikahkan pasangan pengantin. Kevin yang jarang bicara terlihat antusias saat berbincang dengan Rahman.


“Coba pak Rahman, ajari besan saya yang irit bicara ini pantun,” seru Abi.


“Gini-gini aku juga bisa bikin pantun,” jumawa Kevin.


“Buktikan!” seru Cakra.


Kevin menatapi wajah sahabatnya satu per satu. Sepertinya para pria di dekatnya ini tidak percaya dengan perkataannya. Sebelum memulai pantunnya, Kevin berdehem beberapa kali. Mengatur nada agar suara enak terdengar saat membacakan pantun.


“Jeng Kelin jalan-jalan ke Brastagi. Tidak lupa pergi ke Danau Toba. Seorang Kevin tidak perlu diragukan lagi. Pesonanya memang luar biasa.”


“HOEK,” Cakra.


“Halu,” Juna.


“Narsis,” Jojo.


“Kok kupeng kaya ada yang mampet nih,” Abi mengorek telinganya.


“Hahaha.. ternyata pak Kevin bisa juga buat pantun,” puji Rahman, yang tentunya mendapat senyuman dari Kevin.


“Heleh.. gitu aja bangga. Saya juga bisa buat pantun,” ujar Abi.


“Bales, Bi,” sahut Juna.


“Ceu Entin jualan lotek. Bahan-bahannya dipilih selektif. Aslinya Kevin itu irit bicara dan tidak kreatif, hahahaha..”


Gelak tawa langsung menyambut ucapan Abi. Kevin hanya melihat kesal pada besannnya itu. Dia harus membuat pantun lain untuk bisa membungkam mulut bon cabe Abi. Rahman pun tak bisa berhenti tertawa. Berkumpul dengan pandawa lima, ternyata menyenangkan. Ada saja celetukan mereka yang membuatnya terpingkal.


🍁🍁🍁


**Wah acara Zar belum kelar juga. Maklum aja, penderitaan petasan banting itu cukup lama sebelum SAH🤣

__ADS_1


Ngga sabar nunggu adegan MP? Sabaaarr.. Bikin MP di novel ini lebih syulit dari pada bikin adegan berantem🤭**


__ADS_2