Hate Is Love

Hate Is Love
Daffa vs Ansel


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Ansel memasuki pelataran parkir rumah sakit Ibnu Sina. Pria itu baru saja kembali setelah makan siang bersama dengan salah satu dokter senior di rumah sakit ini. Ansel turun dari mobilnya, lalu masuk ke dalam IGD. Suasana IGD sudah lebih tenang setelah kedatangan pasien gawat tadi.


Ansel segera menuju ruangnya untuk mengambil jas snelinya sambil mengecas ponselnya yang kehabisan daya. Setelahnya pria itu kembali menuju IGD. Baru saja pria itu sampai, sebuah ambulans sampai di depan pintu masuk IGD. Dua orang perawat segera menyambut pasien yang baru datang.


“Apa keluhannya?” tanya Ansel seraya mengalungkan stetoskopnya.


“Perutnya sakit, dok.”


Pasien berjenis kelamin wanita itu terus meringis seraya memegangi perutnya. Setelah dipindahkan ke atas blankar, Ansel langsung memeriksanya. Dia memerintahkan suster untuk membawa mesin USG.


“Arsy!”


Bergegas Arsy menghampiri dokter spesialis bedah umum dan kegawatdaruratan itu. Dia meminta Arsy untuk melakuka USG. Setelah mengoleskan gel, Arsy menggerakkan probe di atas perut. Mata Ansel terus memperhatikan layar.


“Apa yang kamu lihat?” tanya Ansel.


“Pasien menderita usus buntu, dan… usus buntunya sudah pecah.”


“Tindakan apa yang harus dilakukan?”


“Operasi, dok.”


“Bedah atau laparoskopi?”


“Laparoskopi.”


?


“Bagus. Terangkan pada pasien, dan berikan obat pereda nyeri untuk sementara.”


Ansel keluar dari bilik pemeriksaan kemudian menuju meja perawat. Dia mengecek ruang operasi yang ternyata masih penuh.


“Tolong dijadwalkan operasi untuk pasien yang baru datang dan minta walinya untuk menandatangani formulir persetujuan.”


“Baik, dok.”


Suster tersebut segera melakukan apa yang diperintahkan Ansel. Kening pria itu berkerut melihat laporan yang ditulis Dante tentang pasien yang datang ke IGD. Telepon di meja suster berdering, dengan cepat suster yang bertugas segera mengangkatnya.


“Dok, pasien yang tadi pagi dioperasi mengalami kejang-kejang.”


Bergegas Ansel menuju ruang ICU yang ada di lantai lima. Sebelumnya pria itu memanggil Arsy untuk ikut bersamanya. Sesampainya di lantai lima, Ansel bersama dengan Arsy segera masuk untuk memeriksa pasien.


“Apa yang terjadi?”


“Saturasinya menurun dok.”


Baru saja perawat selesai melaporkan kondisi pasien. Tiba-tiba layar yang menunjukkan alat vital pasien berbunyi.


“V-fib! (V-fib adalah irama jantung yang tidak teratur dan dapat menghentikan jantung),” teriak suster.


Tanda di layar menunjukkan detak jantung dalam keadaan lurus. Ansel segera naik ke atas bed lalu memberikan CPR. Arsy memerintahkan suster membawa defribiltor. Ansel masih memberikan pompaan di jantung pasien sementara defribilator masih mengisi daya. Pria itu langsung setelah alat siap. Arys meletakkan kedua alat tersebut di bagian dada dan area apeks.


Tubuh pasien terlonjak ke atas. Arsy segera memeriksa denyut nadi di leher pasien. Dia masih belum bisa merasakan denyut nadi. Ansel kembali naik ke atas bed untuk memberikan CPR.


“Suntikan epinephrine! Naikkan 200 joule!”


Suster segera melakukan apa yang diperintahkan Arsy. Salah seorang menyuntikkan epinephrine ke dalam selang infusan, dan satu lagi menyiapkan defribilator. Setelah siap, Ansel turun dari bed dan Arsy kembali memberi kejutan. Arsy segera memeriksa denyut pasien, sambil melihat ke layar. Tak lama kemudian grafik yang menunjukkan detak jantung pasien kembali bergerak.


“ROSC (kembalinya irama jantung setelah terjadi henti jantung.”


Arsy menghembuskan nafas lega, akhirnya mereka bisa menyelamatkan pasien. Ansel memeriksa tanda vital lainnya. Kemudian dia memeriksa catatan pasien.


“Apa dokter Daffa sudah memeriksanya?”


“Terakhir jam 11 siang, dok.”


“Kemana dia, saya sudah menyuruhnya memeriksa pasien dua jam sekali!” geram Ansel.


“Dok..” Arsy berusaha menjelaskan di mana Daffa berada sekarang.


“Hubungi Daffa sekarang!”


Dengan kesal pria itu keluar dari ruangan ICU. Karena keteledoran dokter residen tersebut, hampir saja dia kehilangan pasien yang dioperasinya tadi pagi. Arsy bergegas menyusul Ansel untuk menjelaskan tentang Daffa.

__ADS_1


Sementara itu, Daffa baru saja keluar dari ruang operasi setelah membantu Reyhan mengoperasi pasien yang terluka di bagian limpa. Pria itu melihat jam di pergelangan tangannya, lalu bergegas menuju ruang ICU. Dia seharusnya mengecek kondisi pasien yang tadi pagi dioperasi setengah jam yang lalu.


Baru saja dia sampai di lantai lima, Daffa berpapasan dengan Ansel. Wajah dokter itu nampak tidak bersahabat. Dengan gerakan tangan dia meminta Daffa menemuinya. Keduanya menuju lorong rumah sakit yang lumayan sepi.


“Dari mana saja kamu? Saya sudah bilang untuk mengecek kondisi pasien dua jam sekali!”


“Maaf, dok.”


“Maaf? Apa kamu tahu karena keteledoranmu, pasien hampir saja mati!!”


“Maaf, dok. Saya tadi diminta membantu dokter Reyhan di ruang operasi.”


“Jadi.. karena kamu sangat ingin memiliki pengalaman operasi, kamu mengabaikan pasien lain?!!”


“Maaf, dok bukan seperti itu.”


“Lalu tadi apa yang kamu lakukan di IGD? Membedah pasien di ruang tindakan. Apa kamu gila? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada pasien? Apa kamu mau menanggungnya?!!”


Suara Ansel yang cukup keras membuat beberapa petugas medis yang melintas di dekat pria itu meolehkan kepalanya. Arsy hanya bisa melihat dari kejauhan. Sebenarnya dia sudah gemas ingin menghajar Ansel, namun posisinya sebagai dokter magang tidak memungkinkannya melakukan itu.


Aqeel baru saja keluar dari ruang ICU setelah mengirimkan pasien anak yang dioperasinya tadi. Telinganya langsung menangkap suara keras Ansel disusul dengan suara Daffa yang sedang mengatakan maaf. Karena penasaran, Aqeel mencari sumber suara.


“Maaf, dok. Tadi kondisi darurat. Dokter tidak bisa dihubungi dan dokter Reyhan meminta saya melakukan tindakan untuk menghentikan pendarahan.”


“Apa kamu tidak bisa menolak?! Dasar bodoh!” Ansel menendang tulang kering Daffa, membuat pria itu mengangkat kakinya yang ditendang kemudian mengusapnya.


“Bagaimana kalau pasien itu tidak selamat? Apa kamu mau bertanggung jawab?!!”


“Tapi pasiennya selamat!”


Kepala Ansel langsung tertoleh begitu mendengar suara Aqeel. Dokter spesialis bedah anak itu berjalan mendekati Ansel. Hatinya geram melihat dokter sombong itu baru saja melakukan kekerasan pada adiknya.


“Apa kamu tidak bisa merendahkan suaramu? Satu rumah sakit ini bisa mendengar teriakanmu itu. Apa begini sikapmu pada juniormu?!!” Aqeel balas berteriak.


“Dok..” Daffa berusaha menenangkan kakaknya.


“Dokter Aqeel, aku tahu kalau Daffa adalah adikmu. Tapi apa yang sudah dilakukannya sangat keterlaluan. Dia melakukan pembedahan di ruang tindakan tanpa seijin dokter yang bertugas. Apa dokter lupa kalau dia masih berstatus dokter residen? Dan karena keteledorannya, pasienku yang baru dioperasi hampir kehilangan nyawanya.”


“Dia sudah mendapat ijin dari dokter Reyhan! Lalu di mana dirimu saat dibutuhkan? Harusnya kamu berterima kasih padanya karena menggantikan dirimu yang menghilang entah kemana saat keadaan darurat. Kalau kamu ada di tempat, dia pasti tidak akan mengabaikan tugasnya memeriksa pasienmu itu. Jangan bertindak sombong dokter Ansel,” Aqeel menunjuk-nunjuk dada Ansel.


Aqeel mendorong dada Ansel cukup kencang, hingga tubuh pria itu sedikit mundur. Kemudian meninggalkannya begitu saja. Ansel hanya memandangi kepergian Aqeel dengan seringaian di wajahnya. Jelas-jelas pria itu tidak suka dengan apa yang dilakukan Aqeel tadi.


“Saya permisi dulu, dok.”


Daffa segera meninggalkan Ansel, lalu menuju ruang ICU untuk memeriksa pasien yang ditugaskan padanya. Ansel berteriak kencang seraya menaruh tangan di pinggangnya. Dari dekat lift, Geya memperhatikan apa yang dilakukan Ansel pada Daffa tadi. Tangannya terkepal erat, ingin rasanya dia memberikan pelajaran pada dokter sombong tersebut.


🍁🍁🍁


“Rania..”


Geya menghentikan langkahnya ketika mendengar Ansel memanggilnya. Dia membiarkan pria itu mendekati dirinya.


“Mau kemana?”


“Lantai 10.”


“Biar aku antar.”


Tak ada penolakan dari Geya, gadis itu berjalan pelan di samping Ansel. Melihat sikap Geya yang melunak, tentu saja pria itu sangat senang. Keduanya segera melangkah menuju lift. Tak butuh waktu lama bagi keduanya menunggu. Mereka segera masuk ke dalam kotak besi tersebut.


Total ada delapan orang yang ada dalam lift. Geya dan Ansel berada di bagian paling belakang. Geya merapatkan tubuhnya pada Ansel, padahal ruang di sebelahnya masih cukup luas. Senyum tipis Ansel mengembang melihat gadis incarannya semakin menunjukkan sikap yang baik.


PREET


Dengan sengaja Geya melepaskan bom molotov dari bokongnya. Karuan saja Ansel dan beberapa penumpang lift terkejut mendengarnya. Dengan cepat Geya menutup hidungnya seraya menjauh sedikit dari Ansel dan melihat pada pria itu.


“Ya ampun dok, kok buang gas di sembarang tempat sih. Mana bau lagi.”


Ansel terkejut mendengar fitnah keji Geya. Dia melihat pada orang-orang yang ada di dalam lift yang tengah menatapnya dengan pandangan kesal. Bau kentut langsung menyebar ke seluruh ruang persegi yang tidak terlalu luas itu. Semuanya kompak menutup hidung dan mengibas-ngibaskan tangan untuk mengusir udara yang sudah terkontaminasi.


Rasain lo ransel. Emang enak kena fitnah. Sokooor… makanya jangan macem-macem sama ayang Daffa.


Lift berhenti di lantai tujuh, semua penumpang lift langsung keluar, mereka membutuhkan udara segar, menggantikan udara busuk yang ada di dalam kotak besi tersebut. Geya ikut keluar, namun belum sempat Ansel keluar, gadis itu dengan cepat pergi meninggalkan Ansel.

__ADS_1


Geya hendak melanjutkan perjalanan menuju lantai 10 melalui tangga. Namun gadis itu mengurungkan niatnya begitu melihat Daffa. Bergegas dia menghampiri Daffa.


“Abang..”


“Ge.. ngapain di sini?”


“Tadinya mau ke lantai 10 tapi ngga jadi.”


“Mau ngapain?”


“Mau cari papa Rey. Aku mau ngadu, ayang mbeb-ku abis dimarahin si ransel.”


“Hahaha.. ada-ada aja, kamu. Papa lagi sibuk, jangan diganggu. Mending kita ke kantin aja, yuk. Aku ngantuk, pengen ngopi.”


“Ok, bang.”


Dengan senang Geya segera mengikuti Daffa menuju lift. Ansel yang masih berada di lantai yang sama, hanya bisa memandangi kepergian Geya dan Daffa dengan perasaan kesal. Ternyata Geya bersikap lunak padanya hanya untuk mengerjainya saja.


🍁🍁🍁


Dengan membawa tas kerjanya, Ansel keluar dari IGD, matanya langsung menangkap Geya yang berada di depan lobi. Pria itu segera melangkahkan kakinya mendekati gadis tersebut. Melihat kedatangan Ansel, Geya bermaksud untuk pergi, dia masih kesal pada dokter sombong itu. Namun Ansel berhasil menangkap lengan Geya.


“Tunggu Rania..”


“Ada apa, dok?”


“Kenapa kamu melakukan hal seperti tadi?”


“Hal apa?”


“Kamu ngga usah pura-pura. Apa kamu melakukan itu untuk membalasku karena Daffa.”


“Kalau iya, kenapa?”


Dengan tatapan tajam Geya balas melihat Ansel. Kedua mata mereka beradu tapi dengan perasaan berbeda. Geya yang kesal setengah mati, sedang Ansel yang semakin dibuat gemas dengan sikap gadis itu. Ansel mengencangkan pegangannya di lengan Geya sambil menariknya sedikit, membuat tubuh gadis itu terseret mendekat padanya.


“Apa kamu pikir dengan melakukan itu, kamu akan merubah pandanganku padamu? Sama sekali tidak, gadis manis. Justru aku semakin tertantang untuk menaklukkanmu.”


“Lalu apa dokter pikir dengan melakukan ini, akan membuatku bersimpati padamu? Sama sekali tidak, dokter Ansel yang terhormat.”


Geya berusaha melepaskan diri dari pegangan Ansel, namun tidak bisa karena tenaga pria itu lebih besar darinya. Namun gadis itu tidak menyerah, dia terus berusaha lepas dan Ansel semakin kencang memegangi lengannya.


“Lepas!”


“Coba saja kalau bisa. Apa yang sudah kupegang, tidak akan kulepas dengan mudah.”


Ansel melemparkan senyum manis yang terlihat menyebalkan di mata Geya. Gadis itu belum menyerah, dia masih berusaha melepaskan diri. Kini dia menggunakan tangan sebelahnya untuk melepaskan jari-jari Ansel yang ada di lengannya. Keduanya terkejut ketika sebuah tangan mencengkerang pergelangan tangan Ansel.


“Abang..” panggil Geya melihat Daffa sudah berada di dekatnya.


“Tolong lepaskan dokter Ansel, selagi saya memintanya dengan baik,” ujar Daffa dengan nada suara yang penuh dengan penekanan.


Akhirnya Ansel melepaskan pegangan di lengan Geya. Bersamaan dengan itu Daffa melepaskan pegangannya. Ansel mengusap pergelangan tangannya yang sedikit panas, cengkeraman Daffa cukup kuat juga. Dia menatap kesal pada dokter residen di depannya.


“Apa kamu tahu apa yang baru kamu lakukan?” tanya Ansel dengan nada kesal.


“Sangat paham, dok.”


Daffa menjeda ucapannya sejenak. Dia melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima lebih dua puluh menit. Itu artinya jam kerja mereka sudah selesai dua puluh menit lalu.


“Saat ini kita sudah tidak terikat pekerjaan lagi. Posisi kita juga bukan di rumah sakit. Kita hanyalah dua pria tanpa embel-embel dokter senior dan junior. Jadi saya peringatkan pada anda untuk tidak mengganggu Geya lagi. Kalau anda masih mencoba mengganggunya, maka saya akan melupakan bahwa dokter adalah senior sekaligus atasan saya.”


“Apa kamu mengancam saya?”


“Saya tidak pernah mengancam orang. Itu adalah peringatan untuk dokter.”


Tanpa menunggu jawaban Ansel, Daffa segera membawa Geya pergi dari sana. Keduanya segera menuju mobil Daffa yang terparkir tak jauh dari pintu masuk lobi. Daffa membukakan pintu untuk Geya. Setelah gadis itu masuk, barulah dia naik ke belakang kemudi. Ansel hanya memandangi mobil Daffa yang berlalu pergi. Tangannya mengepal erat, harga dirinya tercoreng, merasa telah dilecehkan oleh Daffa, juniornya.


🍁🍁🍁


**Untuk pembaca setia NR, sekali lagi aku minta maaf kalau tidak bisa menayangkan sequel NR di sini🙏


Hayatun sudah benar² lelah. Satu²nya yang buat aku bertahan di sini hanya kalian, readers setiaku🤗

__ADS_1


Tapi mohon maaf, kesabaranku ada batasnya juga. Aku akan melanjutkan novel yang sudah tayang di sini. Untuk sequel NR, sekali lagi mohon maaf🙏**


__ADS_2