
Rencana pengantin baru menginap dua hari ternyata harus diperpanjang. Pekerjaan di perkebunan masih banyak yang harus diselesaikan oleh Nalendra. Apalagi mereka mengalami kendala saat penanaman bibit, karena kondisi tanah. Nalendra harus memberikan pengarahan pada para pekerja tentang cara mengembalikan kesuburan tanah.
Pria itu mulai mengenalkan teknologi petir pada para petani. Petir memang sesuatu yang menakutkan, bahkan bisa menjadi penyebab kematian bagi siapa saja yang terkena sambarannya. Namun di sisi lain, petir juga memberikan manfaat bagi manusia. Sambaran petir di tanah dapat meningkatkan kadar nitrogen dalam tanah dan membuat kesuburan tanah bertambah. Namun mereka tidak bisa sembarangan dalam menerapkan tekonolgi petir ini. Selain masalah keamanan, Nalendra juga harus memastikan SDM-nya siap untuk menggunakan teknik ini. Dan ini menjadi pekerjaan tambahan baginya.
Ayumi menikmati waktunya menemani suaminya datang ke perkebunan. Selama sang suami melakukan penyuluhan dan membantu membangun peralatan untuk menyuburkan tanah dengan teknik petir, wanita itu memilih berjalan-jalan mengelilingi perkebunan. Jika kemarin para pekerja baru saja memanen sayuran, kali ini giliran memanen buah. Ayumi mendatangi ibu-ibu yang sedang memanen strawberi.
“Neng Yumi, ayo ke sini,” panggil ibu Juriah.
Walau usianya sudah 65 tahun, namun ibu Juriah masih kuat bekerja di perkebunan. Wanita itu memilih terus bekerja alih-alih diam di rumah. Menurutnya tubuh justru terasa pegal kalau tinggal di rumah. Nalendra membiarkan saja ibu Juriah tetap melakukan aktivitasnya. Hanya saja pria tu tetap membatasi pekerjaan wanita tua itu.
“Neng Yumi, cobain ini strawberinya.”
Dengan wajah sumringah, Juriah memberikan buah strawberi berwarna merah dengan ukuran cukup besar. Sebelumnya dia mencuci dulu buah tersebut setelah dipetik dari pohonnya langsung. Ayumi menggigit buah tersebut, ternyata rasanya manis. Memang tetap ada rasa masam sebagai ciri khas buah tersebut, namun rasa manisnya lebih mendominasi.
“Ehmm.. manis banget, bu.”
“Iya, buah strawberi yang ditanam di sini manis semua. Sejak pak Nalen yang mengawasi, dia banyak mengajarkan bagaimana merawat strawberi yang benar. Kita juga memakai pupuk organik, pestisida yang digunakan juga pestisida organik. Kita sendiri yang membuatnya, jadi aman. Makanya rasanya manis dan hasil buahnya besar-besar.”
Setelah merasakan buah strawberi, Juriah mengajak Ayumi ke tempat lain. Wanita itu mengajak istri dari Nalendra itu ke kebun anggur. Ada banyak macam anggur yang ditanam di sini, ada anggur merah, anggur hijau dan anggur hitam.
“Ini jenis anggur baru yang dibudi dayakan, anggur sweet sapphire. Coba, neng.”
Juriah mengambil anggur yang bentuknya lonjong, berwarna hitam, lalu memberikannya pada Ayumi. Rasa manis langung memenuhi mulut gadis itu. Selain manis, ternyata anggur tersebut juga tidak ada bijinya.
“Ehhmm.. manis bangeeett.. aku suka. Mau lagi dong, bu.”
“Ini, makan aja.”
Juriah memberikan satu tangkai anggur yang isinya sekitar enam sampai tujuh buah anggur. Ayumi mendudukkan diri di tempat yang teduh. Kembali melihat jalannya panen sambil menikmati anggur di tangannya. Rasanya betah sekali berada di perkebunan ini. Selain hawanya sejuk, dia juga bisa menikmati aneka buah yang rasanya sangat manis.
Dari kejauhan nampak seorang pegawai pria datang mendekat. Dia mendapat tugas dari Nalendra untuk menjemput Ayumi. Tangan Juriah terangkat, memanggil pria itu. Sepertinya dia sudah tahu tujuan pekerja tersebut mendatangi kebun anggur.
“Bu Yumi, ditunggu pak Nalen di Ki Sunda.”
Ayumi melihat jam di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Gadis itu segera berpamitan pada semua yang ada di sana, kemudian mengkuti pria yang menjemputnya. Dengan menggunakan club car, nyonya Nalendra tersebut segera menuju rumah makan Sunda yang ada di dekat pintu masuk perkebunan.
Tangan Nalendra melambai ketika Ayumi sampai di restoran. Dia sudah duduk di salah satu saung yang ada di sana. Aneka hidangan sudah tersaji di meja ketika gadis itu sampai di saung. Nalendra menepuk ruang kosong di sebelahnya. Dengan cepat Ayumi mendudukkan diri di sana.
“Habis dari mana aja tadi?” tanya Nalendra.
“Abis lihat panen buah. Aku tadi nyicipin strawberi sama anggur. Itu anggurnya manis banget.”
“Kamu pasti bosen ya nungguin abang kerja di perkebunan.”
“Ngga, kok. Aku suka, ibu-ibunya juga baik. Aku diajak ngobrol ngalor ngidul sama mereka, hihihi..”
“Maaf ya, rencana nginap dua hari, malah nambah karena ada kerjaan mendadak.”
“Ngga apa-apa, bang. Aku suka kok di sini. Abang santai aja. Udara di sini juga sejuk. Pas banget buat bulan madu.”
__ADS_1
“Apa?” Nalendra menolehkan kepalanya.
“Eh.. maksudku udaranya dingin, ngga bikin gerah,” Ayumi merutuki mulutnya yang kembali keceplosan.
Terhitung sudah tiga malam mereka menginap di Ciwidey, tapi Nalendra masih belum membobol gawangnya. Hanya saja pria itu sudah mulai berani memeluk atau mencium bibirnya. Bahkan semalam pria itu mulai meraba-raba bagian tubuh Ayumi.
“Abis ini abang kembali ke perkebunan?” tanya Ayumi mengalihkan pembicaraan.
“Iya. Kamu mau pulang atau gimana?”
“Aku mau pulang aja deh. Istirahat di rumah.”
“Habis makan abang antar pulang.”
Tangan Nalendra bergerak mengambil sebutir nasi yang ada di sudut bibir Ayumi, kemudian memasukkan ke dalam mulutnya. Hanya hal kecil seperti itu sudah sukses membuat jantungnya berdegup tak karuan. Dia menahan nafas ketika Nalendra mendekatkan wajahnya, lalu memberikan kecupan di bibirnya. Sontak pipinya langsung memerah.
Sesekali Nalendra menyuapkan gurame bakar yang dipesannya ke mulut sang istri. Acara makan siang kali ini terasa begitu romantis. Seorang pelayan yang tanpa sengaja melihat kemesraan mereka buru-buru masuk ke dapur seraya mengibaskan tangan ke arah lehernya.
“Kenapa?” tanya salah satu rekannya.
“Eta kang Nalen, meni mesra pisan sama istrinya.”
“Biarin aja atuh. Namanya juga pengantin baru.”
“Ah bikin iri. Kapan aku bisa punya pasangan.”
“Sama aku aja gimana?”
Buru-buru pelayan wanita itu pergi. Rekannya yang tadi menggodanya hanya tertawa saja melihat wanita itu ketakutan. Dia lalu melihat pantulan wajahnya di kaca lemari yang ada di dapur. Tidak ada yang salah dengan wajahnya. Hanya saja giginya yang sedikit off side dan membuatnya susah mingkem. Selebihnya, dia memiliki wajah yang manis. Setidaknya itu menurut pemikirannya sendiri.
🍁🍁🍁
Malam semakin larut. Nalendra yang baru menyelesaikan tugas kuliahnya segera mencari keberadaan sang istri. Tadi Ayumi sempat berada di kamar menemaninya. Namun karena bosan, gadis itu keluar dan entah berada di mana. Nalendra mencari ke teras rumah, tetapi tak menemukannya di sana. Kemudian dia menuju halaman belakang.
Nampak Ayumi berdiri membelakanginya. Gadis itu seperti tengah fokus memperhatikan sesuatu, entah apa. Perlahan Nalendra mendekat, Ayumi masih belum menyadari kedatangan suaminya. Dia terjengit ketika tiba-tiba Nalendra memeluknya dari belakang. Pria itu menaruh kepala di bahu sang istri.
“Lagi lihat apa?” tanya Nalendra dengan suara berbisik di dekat telinga istrinya.
“Lihat kunang-kunang di sana.”
Tangan Ayumi menunjuk kelipan cahaya di depannya. Beberapa kunang-kunang nampak berkerumun, terbang melayang di dekat pohon yang ada di sana. Tadi tanpa sengaja Ayumi melihat hewan malam tersebut saat hendak mengambil air di dapur. Melihat kelipan cahayanya membuat gadis itu betah berlama-lama melihatnya.
“Kunang-kunangnya bagus banget. Abang sering lihat kunang-kunang?”
“Di sini emang banyak kunang-kunang, walau ngga tiap hari juga bisa lihat.”
“Kalau di kota aku ngga bisa lihat kunang-kunang kaya gini. Itu yang bikin aku betah banget di sini. Kalau abang beres kuliah nanti, bisa ngga kita tinggal di sini?”
“Kamu mau tinggal di sini?”
__ADS_1
“Iya, aku mau. Di sini damai banget. Kita bisa sesekali pulang ke kota kalau kangen dengan suasana kota. Gimana, bang?”
Ayumi menolehkan wajahnya ke belakang. dengan cepat Nalendra menyambar bibir istrinya itu kemudian mengecupnya beberapa kali. Refleks Ayumi langsung menundukkan kepalanya mendapat serangan kecupan dari suaminya. Nalendra tak menjawab apa-apa, dia mengeratkan pelukannya di pinggang sang istri. Ayumi menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
“Abang belum jawab pertanyaanku. Abang mau tinggal di sini, ngga?”
Alih-alih menjawab, Nalendra justru menciumi leher jenjang sang istri. Beberapa tubuh gadis itu bergerak tak karuan demi menahan rasa geli yang melanda. Ciuman Nalendra semakin intens saja dan membuat bulu di tubuhnya berdiri. Sambil tak melepaskan ciumannya, tangannya mulai bergerak, merambat ke atas dan berhenti di depan bulatan yang seperti melon.
“Kalau ngga tinggal di sini, terus kita tinggal di mana? Ngga mungkin abang bolak-balik Bandung-Ciwidey setiap hari,” jawab Nalendra di tengah-tengah cumbuannya.
Pikiran Ayumi sudah berhamburan kemana-mana. Dia sudah tidak fokus dengan pembicaraan mereka tadi.
"Kalau ini, apa namanya?" tanya Nalendra seraya meremat bulatan kenyal istrinya.
"Melon," jawab Ayumi asal.
Tak mau kalah, Ayumi juga ingin menjahili suaminya. Tangannya terulur memegang bandulan yang ada di bagian bawah.
"Ini apa, bang?"
"Sosis," jawab Nalendra sekenanya.
Kesenangan Ayumi memegang sosis suaminya terhenti ketika Nalendra membalikkan tubuh Ayumi, kemudian mencium bibirnya dengan lembut. Bergantian pria itu menyesap bibir atas dan bawah istrinya. Ayumi mulai membalas ciuman suaminya. Dia membuka mulutnya, membiarkan lidah Nalendra masuk ke rongga mulutnya.
Suasana di halaman belakang semakin panas saja. Bunyi decapan terdengar menandakan ciuman mereka sudah semakin dalam dan tentunya membangkitkan hasrat masing-masing. Nalendra menghentikan ciumannya, kemudian mengajak istrinya masuk. Setelah mengunci pintu belakang, keduanya segera masuk ke dalam kamar. Pelan-pelan Nalendra melepaskan kancing piyama yang dikenakan istrinya. Jantungnya berdetak tak karuan saat melihat tubuh mulus sang istri yang hanya terbalut kain berenda di bukit kembarnya.
Cumbuan Nalendra terus berlanjut. Malam ini dia sudah siap untuk memberikan nafkah batin pada istrinya. Tubuh Ayumi terbaring di atas kasur, di atasnya Nalendra masih memberikan cumbuan padanya. Tubuh keduanya sekarang sudah tidak terbalut apapun. Nalendra sudah siap untuk mencetak gol untuk pertama kalinya.
Sosis berukuran besar milik Nalendra sudah siap untuk bermain-main. Dia menunggu saat yang tepat untuk memasukkan sosis ke dalam wadah dan membuat telur gulung istimewa. Perlahan namun pasti, sosis besar itu masuk ke dalam wadah. Sosis tersebut bergerak ke kanan dan kiri, agar posisinya berada pas di tengah-tengah.
Telur dadar yang menjadi alas sosis terlihat belum mengering, masih meninggalkan basah di atasnya. Nalendra bergerak menggulung sosis agar sepenuhnya terbalut telur dadar, memutar-mutarnya di dalam wadah milik Ayumi. Butuh konsentrasi tinggi bagi Nalendra agar sosis miliknya bisa tetap berada di tengah telur.
Nalendra mengerahkan tenaganya agar sosis miliknya dapat segera sampai ke ujungnya. Perlu usaha lebih agar sosis miliknya dapat menembus gulungan telur agar proses memasaknya selesai.
Dilihatnya sang istri sudah mulai kelelahan. Butter sudah menggenangi wadahnya. Pria itu terus berkonsentrasi, sampai akhirnya sosis miliknya dapat menebus ujung gulungan telur. Mayonaise kental berwarna putih bercampur dengan saos tomat berwarna merah di ujungnya memenuhi telur gulung sosis tersebut.
Nafas Nalendra terdengar memburu setelah selesai memberikan nafkah batin untuk istrinya. Ayumi yang juga baru pertama kali merasakan nikmat dunia, tidak dapat mengatakan apapun, selain tangannya yang terus bergerak mengusap rambut suaminya yang berkeringat karena olahraga ranjang mereka.
Pria itu bangun lalu membawa istrinya ke kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa percintaan mereka. Setelah itu Nalendra memakai kaos dan boksernya lagi, begitu pula dengan Ayumi mengenakan piyamanya lagi, namun tanpa d*laman. Wanita itu segera masuk ke dalam pelukan suaminya. Setelah aktivitas panas yang mereka lakukan, kini hawa dingin kembali menyergap. Nalendra menarik selimut, lalu menutupi tubuh mereka berdua. Sebuah kecupan diberikan di kening sang istri.
“Makasih sayang,” bisiknya.
“I love you,” bisiknya lagi tepat di telinga Ayumi.
“I love you too,” balas Ayumi.
Perasaan di antara keduanya berkembang dengan cepat. Dimulai dari benih-benih yang ditebar di awal perkenalan, dan mulai berkembang, berbuah dan matang setelah pernikahan mereka. Sang pemilik hati dengan mudahnya membalikkan perasaan mereka, hingga kata cinta akhirnya terucap pula dari bibir keduanya hanya dalam hitungan hari.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Jadi pengen bikin telur gukung sosis dikasih mayonaise sama saos sambal🤤