
Tamar akhirnya diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan selama dua malam di rumah sakit. Bersama dengan Stella, pria itu langsung kembali ke apartemen miliknya. Kehidupan baru sebagai pasangan suami istri siap dijalani oleh mereka berdua.
Luka di tulang selangka Tamar masih belum benar-benar pulih. Dia masih harus menggunakan bebat di bahu dan punggungnya. Daffa juga sudah mengajarkan pada Stella bagaimana mengganti bebat di tubuh suaminya itu. Setiap hari Stella selalu membantu suaminya untuk mandi. Kali ini mereka tidak malu-malu lagi untuk mandi bersama. Wanita itu juga masih membantu suaminya menenangkan adik kecil Tamar yang selalu bangun.
Di hari kelima menyandang status sebagai suami istri, luka Tamar sudah sembuh. Dia juga tidak perlu menggunakan pembebat lagi. Tangannya sudah bisa digerakkan dengan bebas, walau masih belum bisa mengangkat barang berat.
Pagi ini, Stella sedang sibuk di dapur. Dia hendak memasak untuk makan siang mereka. Satu kilo daging ayam, kangkung dan tempe siap untuk diolahnya. Tak lupa dia membeli bumbu instan untuk membuat ayam goreng, tumis kangkung dan sambal jadi. Kalau tidak menggunakan bumbu instan, dia tidak yakin rasa makanannya layak untuk disantap.
Sambil ditemani Suzy, wanita itu menyiapkan semua bahan masakan. Lebih dulu Stella mengungkep ayam yang sudah diberi bumbu ayam goreng. Kemudian dia mengiris tempe, merendamnya dengan bumbu tempe goreng instan. Selanjutnya wanita itu mulai menyiangi kangkung.
“Dih.. semuanya pake bumbu instan,” celetuk Suzy.
“Bodo. Yang penting bisa dimakan.”
“Lo kok masih bisa lihat gue? Lo belum dijebol sama Tamar ya?”
“Belum,” jawab Stella santai sambil terus menyiangi kangkung.
“Udah lima hari jadi pengantin baru belum dijebol juga. Tapi diservis yang lain udah, aneh.”
“Kan suami gue lagi sakit, markonaaaahh.”
“Yang sakit kan bahunya, bukan otongnya.”
“Berisik lo! Tar kalau gue udah dijebol nangis guling-guling lo ngga bisa lihat gue lagi.”
Suzy hanya menjulurkan lidahnya pada Stella. Jin wanita itu langsung menghilang ketika melihat Tamar memasuki dapur. Pria itu segera menghampiri sang istri kemudian memeluknya dari belakang. Semenjak peristiwa di kamar mandi rumah sakit, Tamar memang sudah tidak sungkan lagi menyentuh sang istri. Namun dia masih menunda penjebolan gawang, menunggu sampai kondisinya benar-benar pulih.
“Masak apa?” tanya Tamar seraya meletakkan dagu di bahu sang istri.
“Ayam goreng, tempe goreng, tumis kangkung sama sambel.”
“Emang kamu tahu bumbunya?”
“Tau, dong.”
Tamar melirik pada tempat sampah yang ada di dapur. Di sana terdapat bungkus bumbu ayam goreng dan tempe goreng instan. Kemudian matanya juga menangkap bungkus sambal siap makan keluaran salah satu merk ternama. Senyum terkulum di wajahnya. Tak apa sebagai awal sang istri menggunakan bumbu instan. Lama kelamaan juga dia bisa membuatnya sendiri.
“Udah beres masaknya?”
“Ayamnya baru selesai diungkep. Tinggal digoreng sama tempenya, kangkung juga tinggal ditumis.”
“Masaknya lanjut nanti aja ya.”
“Emangnya kita mau kemana?”
“Mau ibadah,” bisik Tamar di telinga Stella.
Tanpa dikomando jantung Stella langsung berdegup kencang. Akhirnya Tamar akan melakukan tembakan penalty pertamanya di pagi hari menjelang siang. Sambil menundukkan kepalanya, Stella mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam kamar. Tamar langsung membawanya ke atas ranjang.
“Stella.. kamu siap kan?”
Kepala Stella mengangguk pelan. Wajahnya merona ketika Tamar mulai melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya. Walau ini bukan pertama kalinya Tamar melihat tubuh polosnya, namun mengetahui kalau sang suami akan mengambil mahkotanya, tak ayal membuat jantungnya berdebar kencang dan membuatnya gugup setengah mati.
Tamar langsung m*lum*t bibir Stella ketika berhasil melepaskan pakian bagian atas sang istri. Kini Stella pun sudah berani untuk membalas ciumannya. Pagutan keduanya semakin dalam saja. Tangan Stella pun mulai bergerak melepaskan kaos yang dikenakan sang suami. Setelah ciuman keduanya berakhir, Tamar mulai mencumbu Stella.
Kedua mata pengantin baru sudah terlihat sayu, terbakar oleh hasrat yang memuncak. Mereka sudah siap untuk mengarungi nirwana untuk pertama kalinya. Tamar bersiap untuk menembakkan senjata andalannya pada target. Pria itu bersiap untuk menembak. Matanya menatap lurus pada target di depannya.
Tamar mengambil nafas panjang beberapa kali sebelum mengokang senjatanya. Dia berkonsentrasi penuh agar tembakannya tepat sasaran. Stella memejamkan matanya saat Tamar bersiap membidiknya. Pria itu bersiap menarik pelatuknya, terdengar ringisan Stella saat senjata Tamar mulai masuk sedikit demi sedikit.
Kembali Tamar menarik nafas panjang sebelum dia menarik pelatuk dan melepaskan peluru menuju target. Peluru yang dikeluarkan Tamar terus meluncur hingga akhirnya berhasil menembus target tepat sasaran. Untuk sejenak dia terdiam, rasanya tak percaya kalau tembakannya berhasil dalam satu percobaan. Pria itu merapatkan tubuhnya kemudian mencium bibir Stella.
Rasa nyeri dan sakit yang dirasakan Stella perlahan mulai teralihkan saat sang suami kembali mencumbunya. Kedua tangannya memeluk punggung Tamar ketika pria itu menggerakkan senjatanya ke kanan, kiri, keluar dan masuk. Perlahan namun pasti, Stella mulai bisa menikmati percintaan mereka.
Pergulatan dua insan yang sudah sah dalam ikatan suci pernikahan terus berlangsung. Masing-masing berusaha saling memberikan kenikmatan dan meraih kepuasan. Sebagai pria, Tamar hanya perlu mengandalkan instingnya saja dan melakukan yang terbaik. Dia semakin bersemangat setelah berhasil membuat Stella sampai ke puncaknya. Kini dirinya pun ingin segera sampai ke tujuannya.
__ADS_1
Deru nafas keduanya saling bersahutan. Udara di dalam kamar pun semakin panas. Keringat sudah membasahi tubuh mereka, namun keduanya masih bersemangat untuk mendayung nirwana. Stella memeluk punggung Tamar erat ketika sampai di puncaknya untuk kedua kali. Tak berapa lama, Tamar pun menyusul. Tembakan beruntun dilepaskan senjatanya dan masuk tepat ke dalam rahim sang istri.
Usai pertempuran panjang nan panas di atas ranjang, baik Tamar maupun Stella masih berada di atas kasur. Tamar membalikkan posisinya berbaring miring kemudian menarik sang istri ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap buliran keringat di kening wanita cantik itu.
“Makasih ya sayang.”
Tak ada jawaban dari Stella, wanita itu hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia menyurukkan kepala ke dada Tamar, mencoba menghilangkan rasa lelah yang melandanya. Tamar merapihkan rambut Stella yang berantakan kemudian mendaratkan ciuman di keningnya.
“Abang.. aku tahu mungkin belum ada cinta di hati abang untukku. Tapi aku mohon sebelum abang melakukan apapun, tolong masukkan diriku sebagai bahan pertimbangan. Aku takut kejadian kemarin terulang lagi. Apa abang tahu betapa cemasnya aku saat dengar abang kecelakaan? Abang sudah menjadi suamiku, berarti abang sudah menjadi belahan hidupku sejak saat abang membayar tunai diriku.”
“Aku tahu, maafkan aku. Aku janji kejadian kemarin tidak akan terulang lagi. Dan satu lagi… siapa bilang kalau belum ada cinta di hatiku?”
Mata Stella menatap Tamar tak berkedip saat mendengar kata-kata terakhir pria itu. dengan lembut Tamar membelai wajah sang istri kemudian mendaratkan ciuman mesra di bibirnya.
“Aku sudah jantuh cinta padamu sebelum menikahimu.”
“Sejak kapan?”
“Mungkin sejak aku menyelamatkanmu dari tusukan. Aku takut terjadi sesuatu padamu. Aku terus menyangkal kalau sudah memiliki perasaan padamu, padahal sebenarnya aku sudah jatuh cinta padamu. Aku harap kamu bisa membalas perasaanku secepat mungkin.”
“Ehmm.. sepertinya aku juga udah jatuh cinta sama abang.”
“Oh ya? Sejak kapan?”
“Sejak mandiin abang, hahaha..”
“Haaiisshh..”
Terdengar tawa kecil Stella ketika Tamar mulai menggelitikinya. Bibir pria itu juga tidak berhenti menciumi wajahnya. Tubuh Stella bergerak tak tentu arah menahan rasa geli akibat ulah Tamar.
“Mandi yuk, sayang,” ajak Tamar.
“Mandi bareng?”
“Ish.. abang mesum. Maunya itu sih.”
“Ya ngga apa-apa dong. Kan udah halal. Lagian kamu yang pertama lihat punyaku sebelum mama dan dokter sunat. Hahaha..”
“Dokter sunatnya laki-laki atau perempuan?”
“Ya laki-laki. Mana ada dokter sunat perempuan.”
“Ya kali aja ada, hahaha..”
Tamar bangun dari tidurnya, kemudian pria itu mengangkat tubuh Stella. Refleks tangan Stella memeluk leher suaminya. Dia memajukan bibirnya, meminta sang suami untuk menciumnya. Sambil melangkahkan kaki menuju kamar mandi, Tamar kembali m*lum*t bibir istrinya.
🍁🍁🍁
Setelah menyelesaikan ritual acara pembobolan gawang, Stella kembali ke dapur untuk melanjutkan acara masaknya. Tamar juga ikut membantu istrinya memasak. Pria itu diminta menggoreng tempe dan ayam, sementara Stella membuat tumis kangkung.
Saat menggoreng tempe, keadaan aman terkendali. Namun saat menggoreng ayam, Tamar sibuk mencari tutup panci untuk menutupi wajahnya agar tidak terkena cipratan minyak. Stella hanya tertawa saja melihat suaminya yang tidak berhenti bergerak menghindari cipratan minyak.
Setelah melalui perjuangan yang cukup berat dan menguras tenaga, akhirnya acara memasak selesai juga. Ayam goreng, tempe goreng, tumis kangkung dan sambal sudah tersaji di meja. Tamar memandangi dengan puas hasil masakan sang istri walau semuanya memakai bumbu instan.
“Nasinya mana, Yang?”
“Astaga!”
Stella menepuk keningnya. Saking sibuknya memasak, dia sampai lupa untuk memasak nasi. Tamar hanya bisa melongo melihatnya. Dengan cepat Stella mengambil wadah magic com kemudian mengisinya dengan beras. Setelah mengisi beras dengan bersih, wanita itu mencolokkan magic com.
“Tunggu setengah jam lagi ya, hehehe…”
Tamar menjatuhkan tubuhnya dengan lunglai di atas sofa. Perutnya sudah keroncongan dan tenaganya sudah habis dipakai bergulat dengan sang istri. Dan sekarang dia harus menunggu lagi untuk bisa mengisi perutnya. Stella mendekati suaminya itu, kemudian memeluk lengannya.
“Maaf ya, bang. Jangan marah.”
__ADS_1
“Ngga kok. Aku juga udah ngga punya tenaga buat marah.”
“Ish..”
Terdengar kekehan Tamar melihat wajah cemberut istrinya. tangannya terentang kemudian meraih bahu Stella. Dia menarik sang istri ke dalam pelukannya.
“Kita belum bulan madu. Kamu mau bulan madu kemana?”
“Emang masih bisa? Bukannya cuti abang udah mau beres? Lagian Sabtu besok Aya nikah. Kita kan harus dateng.”
“Nanti aku coba nego ke atasan, siapa tahu aku dikasih cuti lagi.”
“Ngga usah bulan madu juga ngga apa-apa, kok. Kita habiskan waktu berdua di sini juga udah romantis.”
“Masa?”
Stella menganggukkan kepalanya. Tamar membenamkan kepala sang istri ke dadanya kemudian mendaratkan ciuman beberapa kali ke puncak kepalanya. Stella memeluk pinggang suaminya dengan mesra. Matanya menatap ke layar televisi, tak sengaja dia menangkap pantulan Suzy.
“Suzy..”
Stella menolehkan kepalanya ke belakang. Nampak Suzy berdiri di belakangnya juga Tamar. Sosok Suzy terlihat samar di matanya, tidak sejelas dulu. Tapi dia masih bisa melihat jin wanita itu tersenyum padanya.
“Stella.. kamu udah melakukan kewajiban kamu sebagai istri. Berarti pertemanan kita cuma bisa sampai di sini.”
“Suzy…”
Mendengar Stella memanggil nama Suzy dan melihat ke arah belakang, refleks pria itu menolehkan kepalanya. Dan tetap saja dia tidak bisa melihat apapun. Tamar lalu melihat pada Stella, wajah istrinya itu nampak sedih.
“Terima kasih kamu mau berteman denganku. Banyak kenangan yang kita lalui bersama. Aku harap kamu dan Tamar bahagia. Jangan lupa kasih aku keponakan yang banyak. Dan semoga keturunanmu tidak ada yang bisa melihat makhluk astral seperti dirimu. Aku harap kamu, suamimu dan calon anak-anakmu hidup dengan tenang dan bahagia.”
“Suzy..”
Mata Stella nampak berkaca-kaca. Wanita itu tak bisa menahannya lagi dan buliran bening itu jatuh membasahi pipinya. Tamar mendekati Stella kemudian memeluknya. Suzy tersenyum melihat bagaimana Tamar memperlakukan Stella dengan baik. Sosok Suzy semakin memudar di mata Stella.
“Jangan sedih. Aku masih ada di sekitar kamu, cuma bedanya kamu ngga akan bisa lihat dan ngobrol sama aku lagi.”
“Kalau gue kangen gimana?”
“Kamu tinggal ke pos satpam yang ada di kompleks rumah orang tua kamu. Di mana ada Johan, pasti ada aku di situ. Selamat tinggal Stella. Kamu teman manusia terbaik yang aku punya.”
“Suzy..”
Tubuh Suzy berubah menjadi lembaran tipis dan kemudian menghilang. Stella mulai menangis setelah sahabatnya dari dunia lain sudah meninggalkannya. Tamar mengeratkan pelukan di tubuh istrinya.
“Jangan nangis, sayang. Sekarang ada aku yang selalu menemanimu.”
Kepala Stella hanya mengangguk saja. Doa semakin mengeratkan pelukannya di tubuh sang suami. Dia pasti akan merindukan masa-masa bersama Suzy, ketika sama-sama menangkap penjahat atau berdebat dengan jin wanita itu.
CETEK
Terdengar suara tuas magic com, pertanda kalau nasi yang dimasak sudah matang. Stella segera melepaskan diri dari pelukan Tamar, kemudian melihat nasi di dalamnya.
“Udah mateng?” tanya Tamar.
“Udah. Tapi kok lembek banget ya, kaya bubur.”
Lagi-lagi Tamar hanya bisa melongo. Kalau yang memasak nasi bukan istrinya, mungkin dia sudah melontarkan kalimat pedas. Namun berhubung ini adalah pertama kalinya Stella memasak nasi, maka dia membiarkannya saja.
“Ngga apa-apa. Kan masih bisa dimakan. Ayo kita makan. Aku udah lapar.”
Sudah ditinggal Suzy, masak nasi juga kelembekan, membuat mood Stella bertambah ambyar. Namun Tamar segera menghibur istrinya itu. Tanpa protes, pria itu memakan lauk beserta nasi yang bentuknya sudah seperti nasi tim.
🍁🍁🍁
Tamar udah jadi suami tetiba berubah jadi lolipop ya😁
__ADS_1