Hate Is Love

Hate Is Love
Piala Sudirman


__ADS_3

Keriuhan nampak di GOR tempat dilangsungkannya pertandingan piala Sudirman. Para penonton sudah banyak yang datang di pagi hari untuk menyaksikan pertandingan antara Tiongkok melawan Malaysia. Tiongkok sukses melaju ke babak Final setelah mengalahkan tim Malaysia dengan skor ketat 3-2. Sebentar lagi akan digelar pertandingan Indonesia versus Thailand.


Supporter yang berasal dari keluarga Hikmat dan Ramadhan sudah berada di tempatnya masing-masing. Spanduk panjang pun sudah digelar, begitu juga dengan stand banner yang memasang wajah-wajah para pahlawan olahraga yang memperkuat tim Sudirman. Tim official Indonesia terkejut sekaligus senang melihat banyaknya dukungan yang diberikan untuk tim Indonesia. Mereka berharap para pemain semakin bersemangat untuk berjuang mendapatkan piala Sudirman.


Para pemain kedua tim sudah masuk ke dalam ke lapangan diiringi sorak sorai penonton. Untuk partai pertama, yang akan bermain adalah ganda campuran. Pertandingan kali ini cukup sulit karena lawan mereka tidaklah mudah. Ganda campuran Thailand adalah pemain nomor tiga dunia.


Ervano terus membakar semangat supporter yang dipimpinnya untuk memberikan dukungan semangat. Sambil menepukkan balon, mereka juga terus meneriakkan yel-yel untuk menambah semangat para pemain.


“In.. do..ne.. sia.. ayo kamu bisa… karena kita In.. do.. ne.. sia. Hancurkan lawanmu, libas habis, karena kita In.. do.. ne.. sia..”


“Huuuuu… eaaa..”


“Huuuu… eaaaa..”


Suara-suara terus terdengar dari penonton yang hadir. Mereka seolah terhipnotis dengan apa yang dilakukan Arya cs. Selain tepukan balon, suara terompet juga ikut terdengar. Apalagi jika tim Indonesia mendapat poin, maka gemuruh suara langsung terdengar. Pertandingan ketat yang memakan waktu tiga set, akhirnya berhasil dimenangkan tim Indonesia. Suara kemenangan bergema di seluruh GOR.


Kali ini giliran pemain kedua yang tampil. Pemain tunggal putra nomor dua Indonesia akan berhadapan dengan tunggal putra Thailand. Monathan Dipsy sudah bersiap di lapangan. Jika di atas kertas, pemain itu memiliki ranking lebih baik dari pada Thothongkolan, tunggal putra Thailand. Semoga saja Monathan Dipsy bisa memenangkan pertandingan.


Kembali yel-yel dan teriakan semangat membahana ketika permainan mulai berlangsung. Set pertama dimenangkan dengan mudah oleh Monathan Dipsy. Sepertinya Thothongkolan sedikit terintimidasi dengan para supporter yang hebohnya cetar membahana. Pertandingan di set kedua berlangsung lebih sengit. Kejar mengejar angka terus terjadi, hingga akhirnya Monathan Dipsy dapat memenangkan pertandingan lewat deuce 24-22.


“Siap-siap.. sekarang yayang gue yang tampil,” seru Arya pada anggota suporternya.


Cahaya lampu langsung menyorot pada Shifa yang memasuki lapangan. Wanita itu berhenti sejenak di depan para penonton, lalu melemparkan tiga buah kaos yang dibawanya, khusus untuk para penonton. Dia melanjutkan langkahnya menuju sisi lapangan tempatnya akan bertanding.


Azriel memberikan instruksi pada Shifa, apa yang harus dilakukannya ketika menghadapi tunggal putri nomor satu Thailand. Sambil menggerak-gerakkan tangan dan kakinya, Shifa terus mendengarkan apa yang dikatakan ayahnya. Dia membenarkan tali sepatunya sebelum masuk ke lapangan untuk melakukan pemanasan.


“YAYANG SHIFA!!!”


Teriak Arya menggunakan toa. Refleks Shifa menolehkan kepalanya pada pria yang tak pernah lelah memberikan dukungan padanya. Tangan Arya melanbai, kemudian melayangkan fly kiss ke arah wanita itu.


Usai melakukan pemanasan, pertandingan pun segera dimulai. Sejak awal pertandingan, Arya tak pernah letih berteriak memberikan dukungannya. Dia selalu berjoged jika calon istrinya itu berhasil mendapatkan angka. Rangorok Panon yang menjadi lawannya terus berusaha mengimbangi permainan Shifa yang terus menyerang sejak awal babak.


“Go Shifa.. Go, Go Shifa.. Go.. Go Shifa, jangan kasih kendor… Kalahkan musuh, kasih kolor aja. Kami selalu mendukungmu. Terutama bang Arya yang ganteng ngga kaleng-kaleng.”


“Kalau bukan biar Shifa menang, males banget gue nyebut yel-yel kaya gini,” Zar.


“Harus ya pake kata ganteng. Geli gue nyebutnya,” Irzal.


“Karena ngga ada yang nyebut dia ganteng, makanya ngaku-ngaku sendiri,” Daffa.


Komentar-komentar dari para supporter setelah meneriakkan yel-yel untuk Shifa terus terdengar. Tapi Arya mengabaikan itu semua. Yang menjadi fokusnya adalah kemenangan Shifa. Jika kekasihnya menang, maka Indonesia otomatis akan masuk ke babak final.


“Huuuu.. eaaaa..”


“Huuuu.. eaaaa..”


Pertandingan babak pertama cukup sulit dimenangkan Shifa. Awalnya dia tertinggal lima angka, namun berhasil menyusul dan merebut kemenangan. Wanita itu sekarang sedang beristirahat untuk memulai babak kedua. Azriel kembali memberikan pengarahan. Saat sedang menegukkan minuman, matanya melihat pada Arya yang selalu memanggil namanya menggunakan toa. Nampak pria itu tengah membentuk tanda love dengan kedua tangannya. Tak ayal senyum Shifa terbit melihatnya.


Pertandingan di babak kedua kembali digelar. Untuk babak ini, Shifa sama sekali tidak menemui kesulitan. Permainannya berkembang pesat, serang-serangan tajamnya sudah diperlihatkan sejak awal babak. Di pertengahan set, dia unggul cepat 11-5 meninggalkan lawannya. Memasuki akhir set, wanita itu tidak mengendorkan serangannya. Dia akhirnya bisa memenangkan pertandingan sekaligus membawa Indonesia ke final.


Gemuruh tepuk tangan dan sorakan langsung terdengar setelah Shifa memenangkan pertandingan. Arya langsung turun ke bawah, mendekati Shifa yang masih berada di lapangan. Tanpa merasa malu, pria itu langsung memeluk Shifa. Karuan saja hal tersebut membuat penggemar Shifa, terutama kaum lelaki keki dibuatnya. Wanita itu memang memiliki banyak penggemar pria.

__ADS_1


“Selamat ya, sayang. Kamu benar-benar hebat,” seru Arya seraya melepaskan pelukannya.


“Makasih.”


Di antara para supporter, ada satu orang yang melihat keki pada Arya. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Zar. Selama beberapa hari ini dia terus mengikuti pergerakan sepupunya itu. Melihat hubungannya dengan Shifa yang semakin dekat, Zar khawatir kalau Arya berhasil menyalipnya.


“Biasa aja tuh mata, segitunya ngeliatin Arya,” Irzal menepuk bahu kakak iparnya.


“Waspada itu perlu. Gue punya feeling tuh curut pengen nyalip gue.”


“Lo pikir nikah itu ngga butuh persiapan? Sejauh ini elo yang persiapannya ada di depan.”


“Iya, juga. Tapi bisa aja dia akad dulu kaya si Daffa.”


“Ya ngga mungkinlah. Shifa itu kan atlit terkenal. Pasti Arya bakal gelar pesta besar buat pernikahannya.”


Kepala Zar mengangguk-angguk tanda setuju. Apa yang dikatakan suami dari adik kembarnya ini ada benarnya. Perasaan Zar sedikit lega. Dia tidak perlu mengkhawatirkan Arya yang sepertinya belum melakukan persiapan apapun untuk pernikahannya.


🍁🍁🍁


Hari yang ditunggu seluruh masyarakat Indonesia akhirnya tiba. Partai final piala Sudirman, di mana tim Indonesia akan berhadapan dengan tim Tiongkok, musuh bebuyutan mereka. Jika kemarin para tetua dibagi di beberapa titik, tidak kali ini. Abi mengusulkan semua berkumpul di satu titik, yakni di dekat lapangan, di bawah komando Arya. Arya menyetujui usulan tersebut. Pandawa lima, ditambah Anfa, Gurit, Radix, Dimas dan Rena ada bersamanya.


Seperti pertandingan kemarin, tim pertama yang akan bermain adalah ganda campuran. Lawan Indoesia cukup berat, karena harus berhadapan dengan pemain nomor satu dunia. Sejak awal set, jalannya pertandingan berjalan sangat ketat. Kejar mengejar poin terjadi. Tim Indonesia mengalami kekalahan 21-19.


Masuk ke babak kedua, keadaan semakin sulit. Pertahanan Indoneisa terus dibombardir oleh tim Tiongkok. Mereka harus mengakui kemampuan lawan yang di atas mereka. Untuk nomor ganda campuran, poin berhasil didapatkan oleh tim Tiongkok.


Pertandingan berlanjut, kali ini tunggal putra Indonesia, Gantoni Gunting akan melawan tunggal putra Tiongkok, Shi Shiuk. Kembali sorakan semangat diberikan pada para supporter. Pandawa lima bersama antek-anteknya menepuk alat yang mereka bawa. Ada yang memukulkan balon tepuk. Pandawa lima memukul gong kecil dengan kentungan. Dimas, Rena, Anfa, Gurit dan Radix menepuk rebana yang entah didapat dari mana.


Pemain ketiga keluar, kali ini ganda putra yang akan bermain lebih dulu. Tentu saja Indonesia menurunkan gandra putra terbaiknya, pemain nomor satu dunia saat ini. Pasangan Pijar dan Byan memasuki lapangan diiringi sorak sorai penonton. Di belakang mereka, ganda putra Tiongkok menyusul.


Sesuai dugaan pertandingan ketiga ini berlangsung ketat. Jual beli pukulan terjadi. Tak jarang kedua pasangan menyuguhkan reli-reli panjang yang mengundang decak kagum. Pandawa lima akan membunyikan gong ketika tim Indonesia mendapatkan poin. Tentu saja hal tersebut sedikit mengganggu konsentrasi lawan.


Permainan ciamik Pijar dan Byan, ditambah dukungan supporter plus intimidasi dari pandawa lima, membuat pasangan Tiongkok harus menyerah kalah. Keunggulan saat ini dimiliki Indonesia, 2-1. Pemain keempat masuk ke lapangan, pemain yang menentukan apakah pertandingan akan berlanjut ke nomor kelima atau berhenti di sini.


Dari arah dalam, keluar seorang wanita cantik mengenakan kostum model terusan sebatas paha. Tak lupa sebuah legging berwarna hitam melapisi kaki jenjangnya. Rambutnya dicepol sederhana, namun tetap bisa memperlihatkan kecantikan pemain tersebut. Shifa, satu-satunya atlit wanita yang selalu mengenakan legging panjang untuk menutupi kakinya, masuk ke dalam lapangan.


“SHIFA… MY LOVELY ONE!!!” seru Arya, lagi-lagi memakai toa.


Di belakangnya menyusul, salah satu musuh bebuyutan Shifa, pemain nomor dua dunia, Chi Ching Sia. Saat melintasi deretan penonton, mata wanita itu menangkap pandawa lima ada di sana, dengan gong di tangan mereka. Tatapan mereka berlima nampak tajam saat melihat padanya. Wanita itu sampai bergidik sendiri. Belum apa-apa, dia sudah terintimidasi oleh Abi dan kawan-kawan.


“Go Shifa.. Go, Go Shifa.. Go.. Go Shifa, jangan kasih kendor… Kalahkan musuh, kasih kolor aja. Kami selalu mendukungmu. Terutama bang Arya yang ganteng ngga kaleng-kaleng.”


Kembali terdengar teriakan yel-yel, saat Shifa mulai bertanding. Ajaibnya bukan hanya supporter dari keluarga Hikmat dan Ramadhan saja yang mengucapkan yel-yel tersebut. Hampir semua penonton yang ada di GOR juga menucapkan yel-yel yang sama. Usut punya usut, sebelum pertandingan, Gilang dan Ervano membagikan kertas berisikan yel-yel tersebut pada penonton yang lain. Tentu saja Arya semakin senang sekaligus bersemangat, hampir satu GOR mengakui kegantengannya.


“Go Shifa.. Go, Go Shifa.. Go.. Go Shifa, jangan kasih kendor… Kalahkan musuh, kasih kolor aja. Kami selalu mendukungmu. Terutama bang Arya yang ganteng ngga kaleng-kaleng.”


Shifa hanya menggelengkan kepalanya ketika mendengar kembali yel-yel tersebut. Namun berkat itu, dia bisa memenangkan pertandingan dengan mudah di set pertama. Lawannya berhasil dibuat takluk dengan skor 21-14.


Lanjut ke babak kedua, pandawa lima semakin menunjukkan intimidasinya. Apalagi kini Chi Ching Sia berada di sisi lapangan di dekat para tetua itu berada. Selain memberikan semangat, mereka juga berteriak melancarkan intimidasi pada pemain Tiongkok itu.


“Chi Ching Sia, nyerah aja!” Jojo.

__ADS_1


“Chi Cing Sia.. Kalau sampe menang, kualat nanti!” Juna.


“Chi Ching Sia, ngajedog we!” Cakra.


“Chi Ching Sia.. rrrrrrr…” Kevin menggeram sambil melihat tajam pada pemain itu.


“Chi Ching Sia, mau pulang utuh apa berantakan?!” Abi.


Walau tidak mengerti apa yang dikatakan pandawa lima, namun Chi Ching Sia yakin kalau kata-kata yang didengarnya bukanlah teriakan semangat tapi ancaman. Pelatih wanita itu sampai menolehkan kepalanya, melihat pada pandawa lima dengan mata melotot. Namun Abi tidak kalah gertak. Dia membalas tatapan pria itu seraya menggerakkan dua jarinya, mengarah pada matanya dan mata pria itu.


“Go Shifa.. Go, Go Shifa.. Go.. Go Shifa, jangan kasih kendor… Kalahkan musuh, kasih kolor aja. Kami selalu mendukungmu. Terutama bang Arya yang ganteng ngga kaleng-kaleng.”


Yel-yel kembali terdengar diiringi dengan tepukan balon ketika Shifa berhasil menorehkan angka ke dua puluh. Hanya tinggal satu poin lagi, maka dia akan memenangkan pertandingan, sekaligus membawa pulang piala Sudirman untuk Indonesia.


Dengan penuh konsentrasi, wanita itu melakukan service. Kok yang dipukulnya melambung tinggi. Chi Ching Sia menyambutnya memberikan pukulan balasan, membuat kok berada di dekat net. Shifa berhasil mengembalikan kok, lawannya juga berhasil mengembalikan lagi. Reli panjang langsung terjadi.


“Eaaaa… huuuuuu..”


“Eaaaa… huuuuuu..”


Suara supporter terus mengiringi ketika kedua pemain berbalas pukulan. Chi Ching Sia memberikan pukulan tipis di depan net. Shifa bergerak cepat dan berhasil mengembalikan kok di depan net lagi. Chi Ching Sia masih bisa mengembalikan. Namun dikarenakan pukulan Shifa begitu tipis, pengembalian pemain Tiongkok itu menjadi tanggung. Shifa tak menyia-nyiakan kesempatan, dia melompat lalu memberikan pukulan smash yang tidak bisa dikembalikan oleh Chi Ching Sia. Skor berubah menjadi 21-17.


Semua bersorak menyambut kemenangan Shifa. Seluruh pemain Indonesia memasuki lapangan, menghambur pada pemain tunggal itu karena sudah memberikan kemenangan pada Indonesia. Arya juga tak kalah bahagia, dia berjingkrak-jingkrak kesenangan. Sang kekasih hati berhasil memenangkan pertandingan, itu artinya, pernikahannya akan segera terjadi.


Lagu Indonesia Raya langsung terdengar ketika seluruh pemain beserta pelatih dan tim official menerima piala Sudirman dari ketua BWF. Mereka langsung menaruh sebelah tangan di pelipis sambil menyanyikan lagu kebangsaan tersebut. Semua penonton juga mengikuti apa yang dilakukan oleh mereka. Satu GOR menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama.


Usai menyerahkan piala dan acara seremonial lainnya, pemain, pelatih dan official melambaikan tangannya pada para penonton. Mereka berterima kasih atas dukungan semuanya. Arya berlari memasuki lapangan. Shifa terjengit ketika tubuhnya digendong tiba-tiba oleh pria itu.


“Arya, turunin! Arya!”


Setelah puas menggendong Shifa, Arya menurunkan wanita itu. Kemudian dia berlutut di depannya, sambil menyodorkan kotak beludru di tangannya. Semua pemain, tim pelatih, tim official dan para penonton yang bersiap meninggalkan lapanaan langsung mengalihkan perhatiannya pada pasangan tersebut.


Beberapa kali Shifa meminta Arya untuk berdiri, namun pria itu tidak mengindahkannya. Dia tetap berada di posisi semula. Wajah Shifa sampai memerah saking malunya. Arya berdehem sebentar sebelum mengeluarkan kata-katanya.


“Shifa.. sejak awal melihatmu aku sudah jatuh cinta padamu. Dan sekarang aku semakin yakin menjadikanmu makmum hidupku selamanya. Shifa.. will you marry me?”


“TERIMA… TERIMA.. TERIMA…”


Terdengar semua orang mengatakan hal tersebut. Arya semakin percaya diri saja. Shifa tak bisa berkata apa-apa. Arya terus berada di posisinya, walau pegal. Akhirnya penderitaannya berakhir ketika Shifa menganggukkan kepalanya.


“YESS!!”


Arya langsung mengeluarkan cincin dari kotak beludru tersebut lalu memasangkannya ke jari manis Shifa. Gemuruh tepuk tangan pun langsung terdengar. Pria itu segera berdiri kemudian memeluk wanita pujaan hatinya itu. Cakra dan Jojo tak kalah senang melihatnya, begitu pula dengan Azriel dan Yossie. Hanya satu orang saja yang berwajah masam, dan itu sudah pasti Zar. Pria itu masih was-was kalau Arya akan menyalipnya lagi.


🍁🍁🍁


**Zar.. Waspadalah.. Waspadalah😂


Berhubung tim kita keok di perempat final, aku melanjutkan pertandingan di sini aja ya🤣


Maaf untuk ketidak nyamanannya di bab sebelumnya. Kalau pun aku tetap up 1 bab langsung, pasti bakal ditolak neneng entuun krn lebih dari 3000 kata🙏**

__ADS_1


__ADS_2