
Dari dalam mobilnya Stella memperhatikan keadaan kantor bareskrim tempat Tamar bertugas. Gadis itu mengambil beberapa kotak pizza yang dibelinya sebelum menuju kantor Tamar. Dengan kotak pizza di tangannya, dia masuk ke dalam kantor.
“Selamat malam, pak,” sapa Stella pada petugas piket yang bertugas.
“Malam, dek. Ada perlu apa?”
“Mau antar paket, pak.”
Stella mengangkat tangannya, masing-masing terdapat lima tumpuk kotak pizza di kedua tangannya. Petugas piket tersebut bingung juga melihat sang pengantar pizza adalah gadis cantik. Apalagi gadis itu tidak mengenakan seragam toko pizza atau ojek online. Namun akhirnya dia mengijinkan gadis itu untuk masuk.
“Silahkan, dek.”
“Ini buat bapak berdua.”
Stella memberikan satu kotak pizza pada petugas piket lalu masuk ke dalamnya. Matanya langsung memandang sekeliling. Ternyata masih banyak juga petugas yang berada di kantor, padalah waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.
“Selamat malam semua.”
“Malam.”
Salah seorang petugas menghampiri Stella. Dia langsung melihat kotak pizza yang ada di tangan gadis itu. Semua yang ada di ruangan juga penasaran akan sosok Stella. Malam-malam begini ada yang datang ke kantor sambil membawa pizza.
“Ada keperluan apa, dek?”
“AKP Taufik Urahman ada?”
“Tamar? Dia lagi ada di ruangannya. Adek siapa?”
“Saya Stella, pak. Calon istrinya,” jawab Stella malu-malu.
“Wah… serius? Ngga nyangka diem-diem tuh orang udah punya calon istri, mana cantik lagi,” celetuk salah satu petugas. Dia yang awalnya duduk langsung bangun mendekati Stella. Aji yang baru saja keluar dari ruangan Tamar terkejut melihat kedatangan Stella. Bergegas dia mendekati Stella.
“Stella, kamu ngapain di sini?” bisik Aji.
“Bang Tamar mana?”
“Ada di ruangannya.”
“Ji.. kamu udah kenal sama calon istrinya Tamar?” ujar pria tadi seraya menepuk bahu Aji.
“Calon istri?” tanya Aji bingung.
Sontak Aji melihat pada Stella, namun gadis itu hanya melemparkan senyuman saja sambil mengedipkan mata. Kepala Aji langsung terasa pusing. Kalau Tamar tahu apa yang dilakukan Stella sekarang, sudah pasti pria itu akan mengamuk lagi.
“Ajak Stella ke ruangan Tamar. Kayanya mereka perlu kangen-kangenan. Udah berapa hari kalian ngga ketemu?” goda teman Tamar yang lain.
“Seminggu,” jawab Stella.
“Tuh, pasti kangen berat tuh, hahaha..”
Aji hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Stella memberikan kotak pizza pada salah satu rekan Tamar dan hanya mengambil satu kotak saja untuk dibawa ke ruangan Tamar. Mau tak mau Aji mengantar Stella ke ruang atasannya. Tanpa menunggu Aji membukakan pintu, Stella membukanya sendiri. Nampak Tamar tengah duduk di belakang meja kerjanya. Wajahnya nampak seperti benang kusut.
“Pakpolgan,” panggil Stella sambil mendekati meja Tamar lalu menaruh kotak pizza di meja.
“Mau apa kamu ke sini?”
“Antar pizza, takutnya abang kelaperan. Pasti sibuk banget, kan? Gimana kesaksian nenek, udah ada petunjuk belum? Mana gambar sketsanya?”
Stella melihat-lihat meja kerja polisi tampan tersebut. Kemudian matanya menangkap selembar kertas dengan gambar sketsa wajah seseorang. Stella mengambil kertas tersebut lalu melihat wajah dalam sketsa dengan seksama.
“Ini pelakunya?” Stella bertanya pada Tamar, tapi tak ada jawaban dari pria itu.
“Tapi kok mukanya kaya K-Pop idol ya,” gumam Stella.
“AJI!!”
Sang empu nama langsung masuk begitu namanya dipanggil. Mengerti apa yang diinginkan sang atasan, Aji segera menarik tangan Stella keluar dari ruangan. Stella bertahan di depan pintu ruangan Tamar.
“Ada apa?”
“Jangan ganggu dulu captain, dia lagi pusing.”
“Pusing kenapa? Kan tadi udah dapet saksi kunci.”
Aji menghela nafas panjang mendengar perkataan Stella. Cukup lama pria itu memandangi Stella. Akhirnya dia memilih untuk menceritakan apa yang terjadi, supaya Stella cepat meninggalkan kantor.
“Nenek itu mengalami gangguan mental. Dia tidak bisa membedakan antara kenyataan dan khayalan. Anaknya tadi ke sini untuk menjemputnya. Apa yang dia bilang pada kamu dan juga captain, itu adegan drama Korea yang dia tonton malam sebelum dia tidur. Kamu lihat kan sketsa wajah tadi. Itu aktor yang dia lihat, bukan wajah pembunuh yang sebenarnya.”
Untuk beberapa saat Stella terbengong mendengar ucapan Aji. Pria itu sampai menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Stella sampai gadis itu tersadar dari lamunannya.
“Jadi si nenek ngayal? Terus dia bilang tinggal di bangunan semi permanen yang ditunjuk tadi.”
“Itu bukan rumahnya. Itu bangunan buat naruh barang-barang bekas.”
Stella menepuk keningnya, bisa-bisanya dia dibodohi oleh nenek itu. Sebagai sesama penggemar drama Korea, kenapa dia sampai tidak sadar kalau si nenek sedang menceritakan adegan yang dilihatnya di televisi.
“Mending kamu pulang dari pada kena semprot captain, ok.”
Tanpa menunggu persetujuan Stella, Aji menarik tangan gadis itu. Saat melintasi ruangan di mana banyak petugas berada, kata-kata godaan masuk ke telinga Stella.
“Udah puas mba, kangen-kangenannya?”
“Minta Tamar cuti aja biar bisa jalan-jalan.”
“Betul, suruh dia cuti buat siapin pernikahannya.”
Stella hanya bisa melemparkan cengiran saja mendengar ledekan dari rekan kerja Tamar. Aji juga tidak berani berkomentar apapun, takut salah bicara. Setelah mengatar Stella sampai ke depan kantor, pria itu kembali masuk ke dalam. Stella pun kembali ke mobilnya. Suzy ternyata sudah ada di dalam mobil.
“Ada perkembangan?”
“Belum. Tapi aku akan ke sana lagi. Teman-temanku baru bisa ditanya malam.”
“Emangnya ngapain mereka kalo siang? Tidur?”
“Ngga.. males jawab, katanya jam kerja mereka itu malam. Siang itu buat leha-leha.”
“Astaga ada ya jin kaya gitu.”
Untuk sesaat Stella hanya diam terpaku. Kepalanya ditumpukan pada setir mobil. Sesekali terdengar hembusan nafasnya. Niat hati ingin membantu malah membuat penyelidikan jadi kacau. Dia melihat pada Suzy yang tetap berada di tempatnya.
“Suz.. lo ke dalem gih, lihat Tamar udah makan pizzanya belum.”
“Buat apa? Emang kalau ngga dimakan, mau diambil lagi pizzanya?”
__ADS_1
Mata Stella langsung melotot mendengar pertanyaan Suzy. Jin wanita itu segera menghilang melihat mata bestie-nya yang sudah seperti Suzanna saat berperan menjadi sundel bolong. Stella menyandarkan kepala ke jok mobil seraya memejamkan mata.
Tak berapa lama Suzy kembali. Dia kembali duduk di samping Stella. Gadis itu segera membuka matanya mengetahui kedatangan Suzy.
“Pizzanya belum dimakan, malah dimakan Aji kayanya. Tuh dia udah mau pulang.”
Melihat Tamar keluar dari kantor, Stella bergegas keluar dari mobilnya. Dia segera berlari mendekati Tamar. Tepat ketika pria itu hendak membuka pintu mobil, Stella tiba di dekatnya.
“Apa?” tanya Tamar malas.
“Aku laper, temanin makan yuk.”
“Aku cape mau pulang. Makan aja sendiri.”
Tak mempedulikan ucapan Tamar, Stella dengan cepat memutari body mobil lalu masuk ke dalamnya. Tamar hanya menghela nafas saja melihat Stella yang sudah duduk di sampingnya. Pria itu memakai sabuk pengamannya dan langsung menjalankan kendaraannya.
“Mau makan di mana?”
“Di mana aja, yang penting makan.”
Tamar mengarahkan mobilnya menuju daerah Tubagus Ismail, di sana ada tukang nasi goreng langganannya. Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan di antara keduanya. Stella pun tak berani memulai pembicaraan, takut disemprot oleh Tamar. Sampai akhirnya Tamar menghentikan kendaraan di dekat tukang nasi goreng langganannya.
Stella ikut setelah Tamar turun dari mobilnya. Pria itu berjalan mendekati penjual nasi goreng yang tengah membuat pesanan untuk pembelinya. Pria itu melihat pada Stella yang mengekor di belakangnya.
“Kamu mau makan apa?”
“Kwitiaw goreng, yang pedas.”
“Nasi goreng seafood satu, kwitiaw goreng satu,”
“Sip, mas. Minumnya apa?”
“Teh botol aja.”
Setelah memesan, Tamar menuju meja yang kosong dan mendudukkan diri di sana. Stella ikut menyusul dan duduk di depan pria itu. Dia sama sekali belum berani menanyakan soal kasus pembunuhan tadi.
“Kenapa belum pulang? Apa kamu ngga dicariin orang tua kamu?”
Belum sempat Stella menjawab pertanyaan Tamar, terdengar suara ponselnya berdering. Melihat nama sang pemanggil adalah ibu negara, buru-buru Stella menjawab penggilan tersebut.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Di mana kamu?”
“Lagi makan, mi. Sama bang Tamar kok.”
“Habis makan langsung pulang, udah malem ini. Anak gadis kerjaan kelayapan mulu.”
“Iya ndoro mami, abis makan aku pulang.”
Sang penjual datang membawakan pesanan, nasi goreng seafood, kwitiaw goreng dan dua buah teh botol. Tamar langsung menyantap hidangan yang dipesannya karena memang sudah sangat lapar. Begitu pula dengan Stella, dia tak menyangka rasa kwitiaw yang dipesannya benar-benar enak.
“Wah enak banget ini kwitiawnya. Aku bisa ketagihan beli di sini.”
Tak ada tanggapan dari Tamar, pria itu melanjutkan saja kegiatan makannya. Stella melirik nasi goreng yang dipesan Tamar, sepertinya juga enak. Karena penasaran, Stella langsung saja menyendok nasi goreng dari piring Tamar, membuat pria itu hanya melongo saja.
“Ehmm.. enak nasgornya.”
“Bang.. bagi lagi.”
“Udah.”
Sontak Tamar melihat pada piring di tangan Stella. Benar saja, kwitiaw itu sudah habis tanpa bersisa. Melihat Tamar yang hanya terbengong, Stella kembali menyendokkan nasi goreng lalu menyuapkan lagi ke mulutnya.
“Kamu badan kecil tapi makannya rewog.”
“Aku kan butuh tenaga ekstra.”
“Tenaga buat apa? Ngerecokin orang?”
“Jiaaahhh abang baperan. Aku kan suka diintilin makhluk halus makanya tenagaku cepat abis. Buat refilnya ya makan lah.”
“Heleh ngeles aja, bilang aja maruk.”
“Bodo.”
Tamar membiarkan saja nasi gorengnya ikut dimakan oleh Stella. Jika dihitung-hitung mungkin hanya setengah piring saja yang masuk ke perutnya. Setengah lagi masuk ke perutnya Stella.
“Bisa bangkrut yang jadi suami kamu kalau makannya segede bakul kaya gini.”
“Ngga apa-apa, bang. Nanti dipasok beras sama mami.”
Pria itu hanya menggelengkan kepalanya. Gadis itu selalu punya jawaban untuk membalasnya. Dalam waktu singkat, nasi di piring Tamar sudah tandas. Stella menghabiskan teh botolnya yang tadi tersisa setengah.
“Stel..”
“Astaghfirullah! Yaa!! Lo beneran mau bikin gue mati muda? Bisa jantungan gue kalau lo dateng tiba-tiba kaya gini. Ngga bisa apa pake aba-aba?” cerocos Stella yang kaget Suzy muncul tiba-tiba di hadapannya.
Semua yang berada di kedai nasi goreng sontak menolehkan pandangannya pada Stella. Tamar buru-buru membayar makanannya tadi, lalu membawa Stella masuk ke dalam mobilnya.
“Kamu kenapa sih? Udah kaya orang gila aja,” sembur Tamar.
“Itu si Suzy dateng tiba-tiba bikin kaget.”
Stella melihat ke arah jok belakang, karena Suzy sudah berada di sana sekarang. Jin wanita itu hanya tersenyum lengkap dengan wajah tanpa dosanya. Tamar menolehkan kepalanya ke belakang karena Stella terus melihat ke sana.
“Ada Susi ya?”
“Suzy!”
“Iya, bawel. Salah dikit doang.”
“Lo udah dapet apa?”
“Aku udah tahu pembunuhnya. Ada dua orang. Mereka bertiga komplotan maling, karena kisruh bagi hasil maling, mereka berantem. Yang dibunuh itu pimpinan mereka.”
“Kamu tahu di mana mereka sekarang?”
“Tahu. Pisau barang buktinya juga ada. Ayo kalau mau ke sana sekarang.”
“Bang..”
“Apa?”
__ADS_1
“Si Suzy udah tahu pelakunya. Ayo kita ke sana sekarang.”
“Yakin? Ngga palsu kaya si nenek tadi?”
“Ish.. valid ini. Dia boleh nanya sama komplotannya juga.”
“Kasih tau alamatnya. Aku anterin kamu pulang dulu.”
“Kelamaan langsung aja. Soal mami gampang, aku yang telepon mami nanti.”
Tamar menghembuskan nafas panjang. Percuma saja dia berdebat dengan Stella, gadis itu begitu keras kepala. Pria itu segera menjalankan kendaraannya setelah Stella memberitahu alamat sang pelaku. Dalam perjalanan, dia menghubungi Aji dan meminta pria itu beserta tim menuju lokasi yang disebutkan olehnya.
Beberapa menit kemudian, Tamar sudah tiba di lokasi yang disebutkan oleh Suzy. Bersama dengan Stella, dia berjalan menyusuri gang. Stella mengikuti langkah Suzy yang berjalan di depannya. Jin wanita itu lalu berhenti di sebuah rumah kosong.
“Di sini tempatnya,” bisik Stella.
Tamar mengeluarkan senjatanya, kemudian dengan berhati-hati masuk ke dalam rumah kosong tersebut. Dia memeriksa setiap sudut rumah, namun tak menemukan siapa-siapa. Tangan Stella menunjuk ke atas. Lalu pria itu mulai menapaki anak tangga satu per satu. Sayup-sayup dia bisa mendengar suara dua orang pria tengah bercakap-cakap.
“Kita harus segera pergi keluar kota. Sebelum polisi curiga kita pelakunya.”
“Ok..”
Kedua pria itu sibuk memasukkan uang dan beberapa perhiasan yang berhasil mereka gasak entah dari siapa. Tamar menapakkan kakinya di lantai dua, sambil mengacungkan senjata pada dua orang tersebut.
“Angkat tangan!”
Terkejut mendengar suara di belakangnya, otomatis kedua pria itu menghentikan kegiatannya. Pelan-pelan mereka berbalik dengan kedua tangan terangkat. Sambil terus mengacungkan senjatanya, Tamar memperhatikan barang-barang yang ada di dekat kedua orang tersebut, termasuk sebuah pisau yang diyakini sebagai senjata pembunuhan.
“Berlutut!”
Kedua orang tersebut menuruti saja apa kata Tamar dan segera berlutut. Tamar mendekat untuk memborgol tersangka. Salah satu pria dengan cepat mengambil pisau yang ada di saku celananya lalu mengarahkan pada Tamar. Dengan cepat pria itu berkelit, satu orang lagi bergerak cepat menendang tangan Tamar hingga pistolnya terlempar.
Perkelahian pun tak dapat terhindarkan. Stella yang ingin membantu, mencari-cari pistol Tamar yang tadi mental. Sementara itu Tamar masih menghadapi dua orang penyerangnya. Tamar menahan tangan pria yang menyerangnya kemudian menendang pria tersebut dengan kencang hingga jatuh tersungkur. Untuk penyerangnya yang satu lagi, Tamar juga melayangkan pukulan dan tendangan bertubi hingga jatuh terkapar.
Terdengar suara langkah kaki menapaki anak tangga. Aji beserta anggota timnya datang membantu. Mereka langsung membekuk dua orang yang sudah tak berdaya. Aji mengamankan barang bukti berupa uang, perhiasan dan tak lupa pisau.
“Bawa ke kantor.”
“Siap, capt.”
Setelah Aji dan yang lainnya pergi membawa tersangka, Stella mendekati Tamar. Dia menyerahkan pistol Tamar yang tadi sempat terpental.
“Makasih.”
“Akhirnya selesai juga kasusnya.”
“Ayo aku antar pulang.”
Kali ini tak ada bantahan dari Stella, gadis itu segera mengikuti langkah Tamar menuruni anak tangga. Suzy sudah lebih dulu menghilang. Sesampainya di lantai dasar, Stella terkejut melihat penampakan seorang pria. Kepalanya terbelah dan terdapat kapak di kepalanya. Refleks gadis itu berjalan mundur menjauhi pintu.
Sadar Stella tak mengikutinya, pria itu membalikkan tubuhnya. Nampak Stella begitu ketakutan, kaki gadis itu terus mundur seperti tengah menghindari sesuatu. Tamar segera mendekati Stella kemudian menarik gadis itu dalam pelukannya. Seketika makhluk menyeramkan tersebut menghilang.
Tubuh Stella menggigil dalam pelukan Tamar. Itu adalah penampakan paling menyeramkan yang pernah dilihatnya. Nafasnya juga terdengar memburu. Tak ada lagi Stella yang bawel yang kerap membuat kepala Tamar pecah.
“Tenanglah.. makhluk itu sudah pergi.”
Perlahan Stella melepaskan diri dari pelukan Tamar, matanya melihat ke tempat di mana makhluk itu ada tadi. Nampak kelegaan terlihat di wajahnya.
“Ayo pergi.”
Sambil menggandeng tangan Stella, Tamar membawa gadis itu keluar dari rumah kosong tersebut. Stella terus memandangi tangannya yang digandeng oleh Tamar. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dia masih cukup shock. Sampai akhirnya mereka tiba di mobil Tamar. Dengan cepat Tamar membukakan pintu dan menyuruh Stella masuk.
“Apa yang kamu lihat tadi?” tanya Tamar seraya menjalankan kendaraannya.
“Laki-laki, kepalanya terbelah dua dan ada kapak di kepalanya.”
Stella memejamkan matanya, berusaha menghalau bayangan makhluk menakutkan itu. Tamar melihat pada gadis itu, lalu menarik tangan Stella, menggenggamnya dengan erat hingga Stella melihat padanya.
“Kalau aku memegangmu seperti ini, dia menghilang?”
“Iya.”
“Kalau begitu terus pegang tanganku sampai kita tiba di rumahmu.”
“Makasih.”
Hanya senyuman saja yang diberikan sebagai jawaban atas ucapan terima kasih Stella. Tamar terus menjalankan kendaraannya. Mobil yang dikendarainya berbelok memasuki kompleks perumahan di mana Stella tinggal. Dia menghentikan mobil di depan kediaman Cakra.
Genggaman tangan Tamar terlepas. Pria itu melepaskan tali sabuk pengamannya lalu ikut turun untuk mengantarkan Stella sampai ke depan pintu rumahnya. Kedatangan Stella langsung disambut oleh Anya.
“Malam tante, maaf kalau saya kemalaman antar Stella. Tadi ada sedikit urusan.”
“Ngga apa-apa, yang penting anak tante utuh sampe rumah.”
“Mami..”
“Dia ngga ngerepotin atau ngerusuh kan?”
“Ngga kok tante,” jawab Tamar seraya melemparkan cengirannya.
“Syukur, deh. Mohon maaf kalau anak tante suka ngerepotin kamu.”
“Saya permisi dulu tante.”
Anya menganggukkan kepalanya. Wanita itu masih bertahan di tempatnya, melihat Tamar masuk ke dalam mobilnya lalu meluncur pergi. Setelah itu sambil merangkul anak sulungnya, Anya masuk ke dalam rumah. Stella langsung menuju kamarnya di lantai dua.
Setelah membersihkan diri dan menunaikan ibadah shalat isya, Stella naik ke atas ranjangnya. Dia mengambil ponsel di atas nakas. Nampak sebuah pesan dari Tamar masuk.
From Polisi Songong :
Makasih untuk bantuannya. Jangan lupa baca doa sebelum tidur.
To Polisi Songong :
Sama-sama. Aku titip mobilku ya, hehehe..
From Polisi Songong :
Ok..
Stella menaruh ponsel kembali ke atas nakas. Dia lalu membaringkan tubuhnya di kasur. Karena lelah, tak butuh waktu lama bagi gadis itu masuk ke alam mimpi.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Dah mulai akur ya😂