
“Siapa namamu?” dokter tersebut melihat pada Geya.
Geya tak langsung menjawab pertanyaan. Matanya memandangi wajah dokter yang berdiri di hadapannya. Wajahnya memang tampan, tapi di matanya masih belum bisa menandingi ketampanan Daffa.
“Siapa namamu?” ulang dokter tersebut.
“Dokter ngapain nanya nama saya? Mau nuntut saya ya?”
“Hahaha…”
Dokter tersebut malah tertawa mendengar jawaban Geya. Sosok gadis di hadapannya ini langsung menarik perhatiannya. Selain cantik, dia juga suka dengan gaya Geya yang ceplas ceplos.
“Saya tidak boleh tau nama kamu?”
“Boleh, kok. Takutnya dokter penasaran dan ngga bisa tidur, jadi saya kasih tau. Nama saya, Rania.”
Tiwi mengerutkan keningnya, anak magang itu tidak memperkenalkan nama depannya, tapi mengambil nama belakang. Dia jadi berpikir kalau Rania adalah panggilan untuk Geya. Senyum di wajah dokter muda itu mengembang. Dia mengulurkan tangannya pada Geya seraya menyebutkan namanya.
“Kenalkan, namaku Ansel. Aku dokter baru di sini.”
Dengan asal Geya membalas salam Ansel. Sekali lihat, dia sudah tahu kalau Ansel adalah tipe pria mata kedondong. Matanya jelalatan, tidak bisa melihat yang bening dan sikapnya sukses membuat orang dongkol. Cocok disebut pria mata kedondong.
“Kamu pasien di sini?”
“Bukan.”
“Menjenguk teman atau saudara yang sakit?”
“Bukan.”
“Bekerja di sini?”
“Dikit lagi.”
Kening Ansel berkerut, dia seperti sedang ikut permainan Indonesia Pintar saja. Tiwi menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan senyumnya. Dia langsung menyukai Geya lengkap dengan sikap konyolnya. Biasanya anak magang suka langsung mencari perhatian dari dokter yang bertugas, tapi tidak dengan Geya.
“Maaf ya dokter Ransel, saya pergi dulu.”
Mata Ansel membelalak mendengar Geya memanggilnya dengan sebutan Ransel. Lagi-lagi Tiwi berusaha menahan senyumnya. Gadis itu segera menarik tangan Tiwi dan mengajaknya menuju IGD. Mata Ansel terus memperhatikan Geya, gadis itu benar-benar sudah memikat hatinya. Jika Arsy terlihat cuek dan sedikit garang, berbeda dengan Geya yang terlihat menggemaskan. Kedua wanita itu langsung menarik perhatiannya di rumah sakit ini.
“Nama panggilanmu siapa? Geya atau Rania?” tanya Tiwi.
“Geya sebenarnya bu.”
“Kenapa tadi bilangnya Rania?”
“Aku ngga suka sama dokter tadi, mata kedondong.”
“Mata kedondong?”
“Iya, ngga bisa lihat cewek bening langsung gatel tanya-tanya, kan bikin dongkol.”
“Hahaha.. bisa aja kamu. Tapi aku juga baru lihat dia. Emang sih ada kabar kalau ada dokter baru di IGD, mungkin dia kali.”
Percapakan keduanya tidak berlanjut ketika mereka sampai di IGD. Tiwi segera menerangkan bagian di rumah sakit yang paling sering menerima pasien selama 24 jam. Setelah IGD Ibnu Sina menjadi trauma center, maka semakin banyak pasien yang berdatangan ke sini.
Selain banyak yang datang, jumlah komplain pun lebih banyak di bagian ini. Kadang ada pasien yang tidak puas dengan pelayanan di IGD, padahal semua staf sudah memberikan yang terbaik untuk melayani pasien.
“Bulan lalu ada komplain ketika dokter langsung menangani pasien yang datang. Keluarganya marah-marah ketika tagihan rumah sakitnya cukup besar karena tindakan medis yang dilakukan. Keadaannya waktu itu darurat, nyawa pasien dalam keadaan kritis, kalau tidak langsung ditangani, nyawanya bisa melayang.”
“Waduh.. terus gimana?”
“Masalah bisa diselesaikan dengan baik. Kami menjembatani antara keluarga pasien dengan dokter yang bertugas. Kami memberi potongan biaya, dan keluarga pasien setuju tidak memperpanjang urusan. Potongan pada keluarga pasien kami ambil dari gaji dokter yang menangani.”
“Kasihan dong dokternya. Padahal kan niatnya baik. Harusnya tuh keluarga berterima kasih bukannya menuntut macam-macam.”
“Resiko pekerjaan memang seperti itu. Dokter di IGD harus berperang antara nurani atau aturan. Kalau mengikut aturan, bisa jadi nyawa akan langsung melayang. Kalau melanggar, masalah seperti kemarin bisa terjadi lagi.”
Geya hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mendengar cerita Tiwi, dia jadi teringat akan Daffa. Pasti pria itu juga berat menjalani tugasnya sehari-hari di Instalasi Gawat Darurat ini.
Mata Geya berbinar ketika melihat Daffa masuk ke IGD melalui pintu yang tersambung dengan bagian dalam rumah sakit. Tangannya langsung melambai pada Daffa. Melihat lambaian tangan Geya, pria itu langsung menghampiri.
“Sudah mulai magang?” tanya Daffa.
“Iya, bang. Baru hari ini.”
“Bu Tiwi, mohon bimbingannya ya buat Geya.”
“Iya, dok. Geya ini adiknya dokter?”
“Bukan, bu. Dokter Daffa itu calon imamku,” ralat Geya.
Tentu saja Tiwi terkejut mendengarnya. Matanya melihat pada Geya yang sedang tersenyum, lalu melihat pada Daffa. Tidak ada reaksi apapun dari pria itu, baik penyangkalan atau pembenaran, dokter ganteng itu hanya membalas ucapan Geya dengan senyum manis.
“Yang rajin kerjanya, ya. Aku periksa pasien dulu,” Daffa menepuk pelan pundak Geya.
“Iya, bang. Nanti kita makan siang bareng.”
__ADS_1
Daffa menjawabnya dengan mengangkat jempolnya, lalu meninggalkan Geya dan Tiwi. Setelah cukup melihat-lihat keadaan di IGD, Tiwi mengajak Geya kembali ke ruangan. Saat akan pergi, mereka kembali bertemu dengan Ansel.
“Ketemu lagi kita,” ujar Ansel.
“Namanya juga rumah sakit, tempatnya ngga luas kaya pulau Komodo, jadi wajar aja kalau kita ketemu lagi, dok,” jawab Geya asal.
“Nanti mau makan siang bareng?” tawar Ansel dengan percaya dirinya.
“Maaf, dok. Saya udah ada janji. Permisi, dok.”
Untuk menghindari pembicaraan lebih lanjut, Geya segera menarik tangan Tiwi keluar dari IGD. Ansel terus memandangi Geya dengan tatapan yang sulit diartikan. Daffa yang sedang berada di dekat meja perawat sempat melihat pemandangan tersebut. Kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.
“Arsy..” Ansel memanggil Arsy yang baru saja masuk ke IGD.
“Iya, dok.”
“Apa yang kamu tahu tentang pneumonia?”
“Pneumonia atau yang biasa disebut paru-paru basah adalah peradangan pada parenkrim paru dan biasanya terjadi pada anak-anak dan juga lansia.”
“Apa penyebabnya?”
“Bakteri, virus atau jamur.”
“Apa yang harus dilakukan kalau ada pasien pneumonia datang?”
“Sebenarnya orang dengan riwayat pneumonia tidak harus dirawat di rumah sakit, kecuali virus, bakteri atau jamur sudah menyerang dan mengganggu fungsi paru. Untuk penanganannya harus tahu dulu apa penyebabnya. Kalau dari bakteri, maka bisa memberikan obat pereda nyeri atau antibiotik. Kalau dari virus, dianjurkan untuk lebih banyak istirahat, makan makanan bergizi untuk membangun ketahanan tubuh dan bisa juga dengan terapi oksigen. Sedang jika penyebabnya jamur, bisa diberikan obat anti jamur.”
“Hmm.. bagus. Untuk besok, saya mau besok kamu belajar lebih banyak tentang jantung. Penderita jantung di Indonesia cukup banyak. Ada pasien yang tidak tahu menahu mengidap penyakit jantung dan tiba-tiba pingsan atau mengalami henti jantung. IGD menjadi garda terdepan untuk menangani pasien darurat seperti itu. Pelajari lebih banyak dan laporkan pada saya apa yang sudah kamu pelajari.”
“Baik, dok.”
“Saya juga akan mengajarimu bagaimana mengatasi pasien akibat trauma benda tumpul atau tajam. Menghentikan pendarahan terutama di bagian pembuluh darah.”
“Baik, dok. Terima kasih sebelumnya.”
“Arsy..”
Arsy yang baru saja hendak pergi kembali harus menghentikan langkahnya karena lagi-lagi Ansel menahannya.
“Ya, dok.”
“Nanti kita makan siang bareng. No penolakan!”
Setelah mengatakan itu, Ansel segera meninggalkan wanita itu. Sejenak Arsy hanya terdiam saja. Dia masih bingung dengan sikap Ansel padanya. Lamunan wanita itu buyar ketika tepukan suster Mira mendarat di pundaknya.
“Ngga apa-apa. Aku cuma aneh aja sama dokter Ansel. Dia bilang mau ngajarin aku banyak hal tapi ujung-ujungnya ngajakin aku makan siang, mana pake bilang tanpa penolakan.”
“Modus itu, dok.”
“Bener ya modus?”
“Iya. Dokter udah bilang kalau udah nikah?”
“Udah.”
“Hati-hati, dok. Bau-baunya mau jadi calon pebinor.”
“Coba aja kalau dia berani berhadapan dengan suamiku.”
Kedua wanita itu tertawa bersamaan. Suster Mira yang sudah lama bekerja di rumah sakit Ibnu Sina sudah paham betul siapa Irzal. Pria dingin yang tidak banyak bicara, akan mengaum keras kalau ada yang mengganggu miliknya.
“Kenapa?” tanya Daffa.
Dengan singkat Arsy mengatakan apa yang dikatakan Ansel tadi padanya. Termasuk ajakan makan siang pria itu yang terkesan memaksa. Daffa kembali dibuat tercenung. Sepak terjang dokter muda itu sudah mulai menebarkan keresahan. Padahal baru seminggu bekerja. Kemarin Dante habis disemprot untuk kesalahan sepele.
“Tadi Geya sekarang kamu,” gumam Daffa pelan.
“Apa, Daf?”
“Ngga apa-apa. Sebentar lagi ada pasien darurat, seorang anak jatuh dari tangga.”
Arsy hanya menganggukkan kepalanya. Dia mengambil stetoskop di saku baju OP yang dikenakannya, lalu mengalungkan ke lehernya. Wanita itu bersiap menerima kedatangan pasien yang tadi disebutkan Daffa.
🍁🍁🍁
“Abang udah bisa istirahat?” tanya Geya begitu sampai di IGD.
“Udah. Kamu mau makan di mana?”
“Di rooftop aja, yuk. Tadi aku minta dianterin makan siang buatan mama,” Geya mengangkat tote bag berisi kotak bekal.
“Ayo kita ke atas.”
Bersama dengan Geya, Daffa segera menuju lantai teratas di gedung ini menggunakan lift. Cukup lama juga mereka harus sampai di atas karena harus beberapa kali berhenti di lantai lain. Suasana rooftop cukup ramai juga siang ini. Untung saja mereka masih mendapatkan tempat untuk makan di salah satu kursi.
Geya mengeluarkan kotak bekal dari dalam tote bag lalu menatanya di atas kursi. Dia memberikan kotak bekal berisi nasi pada Daffa dan mengambil untuk dirinya. Sang mama membuatkan ayam goreng mentega, cah brokoli dan perkedel kentang. Geya mengambilkan lauk lalu meletakkannya di atas kotak bekal Daffa.
__ADS_1
“Makasih.”
“Sama-sama, bang.”
Keduanya langsung menyantap makan siang bersama. Rasa masakan buatan Zahra memang enak, pantas saja Geya pandai memasak, menurun dari sang mama. Sambil menikmati makanan, Daffa mengajak Geya berbincang. Gadis itu menceritakan pengalaman pertamanya magang. Termasuk perkenalannya dengan Ansel.
“Abang kenal dokter Ansel?”
“Dia dokter baru yang tugas di IGD.”
“Gayanya sok banget deh. Sebel aku lihatnya.”
“Kenapa emang?"
"Ngga apa-apa sih, cuma ngga suka aja. Tadi dia ngajakin aku makan siang, tapi aku tolak.”
“Dia juga ngajak makan siang Arsy.”
“Masa?”
Panjang umur, orang yang dibicarakan memasuki rooftop. Ansel datang bersama dengan Arsy. Mau tak mau wanita itu mengikuti keinginan Ansel. Dokter itu mengatakan akan membahas soal pelajaran medis dengan Arsy.
“Itu kak Arsy sama si Ransel,” celetuk Geya.
Sontak Daffa melihat ke arah yang ditunjuk Geya. Nampak Ansel mencari-cari tempat yang kosong untuk makan. Refleks tangan Daffa terangkat dan terlihat oleh Arsy. Dia mengajak Ansel untuk bergabung dengan Daffa. Awalnya Ansel enggan, tapi begitu melihat Geya, dokter tersebut setuju.
“Halo Rania, ketemu lagi kita,” sapa Ansel.
Kening Arsy dan Daffa berkerut mendengar panggilan Ansel untuk Geya. Keduanya saling berpandangan. Geya sendiri nampak cuek, dia meneruskan makannya tanpa menjawab sapaan Ansel. Dokter itu hanya mengulum senyumnya. Sikap Geya yang seperti ini semakin membuatnya penasaran. Pria itu mengeluarkan kotak makanan yang dipesannya tadi lalu memberikannya pada Arsy.
“Makasih.”
“Sama-sama.”
Arsy cukup lega, dirinya bisa makan bersama dengan Daffa dan Geya juga. Setidaknya dia tidak makan berdua saja dengan mentornya itu. Ansel melihat pada Geya yang tengah menikmati makanannya dengan lahap.
“Apa itu makanan buatanmu?” tanya Ansel pada Geya.
“Bukan, ini buatan mama. Aku mana bisa masak. Masak air aja gosong.”
“Hahaha.. kamu tuh lucu.”
“Topeng monyet kali, ah.”
Ansel kembali tertawa mendengar ucapan Geya. Diam-diam Daffa terus memperhatikan interaksi keduanya. Cara Ansel melihat Geya membuatnya tak nyaman. Dokter tersebut seperti tengah mengirimkan sinyal-sinyal ketertarikan pada gadis itu. Begitu pula dengan Arsy, wajah Ansel nampak begitu senang saat berbincang dengan Geya. Kemudian dia melihat pada Daffa. Sepupu suaminya itu tak bereaksi apapun, hanya menikmati makannya dengan tenang.
🍁🍁🍁
Geya baru saja mengambil data di lantai dua, tepatnya di bagian pendaftaran rawat jalan. Saat akan menuruni tangga, matanya menangkap Stella dan Tamar tengah duduk menunggu di depan ruang praktek dokter kandungan. Bergegas gadis itu menghampiri kakak sepupunya.
“Kak..” panggil Geya.
Kepala Stella langsung menoleh mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Geya sudah berdiri di sampingnya seraya melemparkan senyuman.
“Kamu lagi ngapain di rumah sakit? Lagi ngintilin Daffa?”
“Jangan fatonah. Aku lagi magang di sini.”
“Hilih magang sambil ngintilin Daffa. Sambil menyelam nangkep ikan, modus lo.”
“Biarin aja. Dulu juga kakak suka ngintilin bang Tamar.”
“Beda kasusnya.”
“Sama aja, ujung-ujungnya kalian ketemu di depan penghulu. Aku juga mau kaya gitu.”
Stella hanya menggelengkan kepalanya saja. Tamar memilih untuk diam. Berbicara dengan Geya hanya membuat kepalanya pusing. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kuatnya Daffa menghadapi Geya yang sudah seperti permen karet, terus menempel padanya.
“Kakak ngapain di sini?”
“Mau foto bareng dokter.”
“Dih, jawabannya bikin gondok. Bilang aja cebongnya bang Tamar udah ada yang nyangkut.”
Refleks Tamar menolehkan kepalanya pada Geya. Suara gadis itu cukup kencang, sehingga menarik perhatian orang-orang yang ada di ruang tunggu. Wajah Tamar langsung memerah.
“Ya iyalah. Orang tiap malem digeber, kebangetan kalau ngga ada yang namper,” jawab Stella tak kalah frontal.
Tamar hanya mampu menepuk keningnya. Ternyata jawaban sang istri tidak kalah nyeleneh dari saudara sepupunya itu. Pria itu memilih menundukkan kepalanya saja. Malu melihat tatapan orang-orang.
“Aku doain semoga anaknya ngga kaya kakak. Kasihan bang Tamar, bisa peyot mendadak kalau anaknya sama kaya emaknya, petakilan.”
Geya menjulurkan lidahnya lalu langsung kabur dari tempat tersebut. Stella baru akan menarik tangan sepupunya itu ketika suster memanggil namanya. Bersama Tamar, wanita itu masuk ke dalam ruang praktek dokter kandungan.
🍁🍁🍁
**Nih si Ransel sebenernya suka sama siapa? Geya atau Arsy atau mau dua²nya😂
__ADS_1
Daffa masih kalem² bae. Kamu cemburu ora**?