
Tiga orang gadis tengah sibuk berkutat di dapur rumahnya masing-masing. Mereka sibuk memasak untuk makan siang seseorang yang sudah dijanjikan oleh ketiganya. Jika Dayana dan Stella memasak untuk calon suaminya, berbeda dengan Vanila. Gadis itu memasak untuk Rakan, pria yang akan mengenalkannya pada chef favoritnya.
Dayana menyiapkan ayam, udang dan cumi untuk diolah menjadi makanan sederhana. Untuk menu makan siang, gadis itu akan membuat chicken katsu, udang dan cumi goreng tepung. Setelah melumuri ayam dengan garam dan merica bubuk, dia mendiamkannya sebentar.
Selanjutnya dia membuat balutan tepung basah untuk udang dan cumi. Kemudian gadis itu memotong kol dan wortel yang akan dibuat salad sebagai teman makan. Setelah memotong tipis kol dan wortel, dia merendam irisan sayur dengan air hangat yang diberi garam, sedikit gula dan cuka.
Gadis itu mulai menggoreng ayam lebih dulu yang sudah dibalur tepung basah dan diberi tepung roti. Sambil menunggu ayam matang, dia meletakkan selembar selada bokor di atas kotak bekal sebagai alas ayam. Usai menggoreng ayam, dia menggoreng udang dan cumi yang sudah dilumuri tepung basah dan dibalur tepung kering. Tak lupa dia membuat saos dari demiglass yang diberi black pepper bubuk dan menyiapkan mayonnaise. Keduanya dimasukkan ke dalam tempat berbeda.
Dayana meniriskan irisan kol dan wotel baru kemudian menambahkan thousand island saos ke dalamnya. Setelah sayuran dan saus tercampur rata, dia memindahkan salad ke kotak bekal. Berturut-turut dia memasukkan chicken katsu yang sudah dipotong di atas salada bokor, juga udang dan cumi goreng tepung.
Tak lupa Dayana memasukkan nasi ke dalam kotak bekal untuk mereka berdua. Terakhir dia memasukkan irisan melon dan pepaya ke dalam kotak bekal yang tersisa. Setelah kotak bekal siap, Dayana bergegas menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Dia bersiap menuju rumah sakit tempat calon suami bekerja.
Sama seperti halnya Dayana, Vanila juga berjibaku dengan wajan dan peralatan dapur lainnya untuk menyiapkan menu spesial untuk Rakan. Setelah memotong buncis dan mengupas telor puyuh untuk salah satu menunya, Vanila mulai menggoreng tahu yang dilumuri tepung basah dan kering.
Setelah semua tahu digoreng, Vanila menggoreng bawang putih cincang dan cabe rawit merah yang sudah diiris tipis. Dia lalu memasukkan tahu yang sudah digoreng dan menaburkan garam serta penyedap ke dalamnya. Menu pertama, tahu cabe garam siap dan dimasukkan ke dalam kotak bekal.
Menu kedua adalah oseng buncis dengan telor puyuh. Tak butuh waktu lama bagi Vanila menyiapkan menu kedua. Sayuran hijau itu sudah masuk ke dalam kotak bekal. Selanjutnya Vanila bersiap membuat menu ketiga, ayam mentega. Gadis itu mencincang bawang putih dan mengiris bawang Bombay kemudian menumisnya hingga harum. Dimasukkannya daging ayam yang sudah dicuci bersih lalu menambahkan sedikit air.
Setelah ayam setengah matang, dia menambahkan garam, gula, penyedap, kecap inggris, saos tiram dan saos tomat ke dalam masakannya. Setelah mengoreksi rasa, Vanila menambahkan perasan jeruk purut ke dalam masakan. Menu ketiga siap dan masuk ke dalam kotak bekal.
Senyum Vanila mengembang melihat makanannya sudah siap. Sebagai menu pembuka, dia membuatkan salad buah dalam porsi kecil. Gadis itu berharap Rakan menyukai makanannya dan memberikan ulasan positif tentang dirinya pada Gavin, chef terkenal yang juga anak dari Dimas.
Selain Dayana dan Vanila, Stella juga sibuk berkutat di dapur. Walau kemampuan memasaknya masih jauh di bawah Dayana dan Vanila, namun semangat wanita itu tak kalah besar dari kedua sepupunya. Di meja dapur sudah siap, telur, wortel, kol, sawi hijau, tomat, daun bawang, baso, sosis, nugget ayam dan dua bungkus mie instan goreng.
Pertama-tama Stella memarut wortel, mengiris kecil-kecil tomat dan bawang daun. Dia lalu mengocok tiga buah telur dan memasukkan semua sayuran tadi. Beberapa kali dia memasukkan garam dan penyedap dalam kocokan telur, kemudian disisihkan. Nanti gadis itu akan membuat telur gulung seperti di drakor.
Pekerjaan selanjutnya memotong sawi hijau, kol, baso dan sosis. Stella kemudian merebus mie instan, mengangkatnya setelah matang dan dibumbui. Stella mulai memasukkan irisan bawang merah untuk ditumis, setelah matang ditambah telor dan diorak-arik. Dia lalu memasukkan kol, sawi hijau, baso dan sosis ke dalam wajan. Terakhir Stella memasukkan mie yang sudah dibumbui. Dia menambahk sedikit garam dan kecap dan mengaduknya rata.
Setelah mie goreng masuk ke dalam kotak bekal, Stella mulai menggoreng nugget. Terakhir dia membuat telur gulung dan memotongnya setelah matang. Gadis itu terlihat puas dengan masakan buatannya. Terakhir dia memasukkan nasi ke dalam kotak bekal. Untuk buahnya dia membawa dua buah pisang sunpride sebagai menu pembuka. Seperti sunnah Rasulullah, memakan buah lebih dulu sebelum makanan berat.
Stella bergegas menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan memoles wajahnya setelah semua makanan buatannya siap. Tak butuh waktu lama bagi gadis itu untuk bersiap. Dengan mengenakan pakaian casual, Stella keluar dari kamarnya. Dia mengambil kotak bekal berikut pisang, memasukkan ke dalam tote bag, lalu membawanya menuju mobil yang akan digunakan olehnya.
🍁🍁🍁
Rumah Sakit Ibnu Sina
Dengan tas berisi kotak bekal di tangannya, Dayana memasuki gedung rumah sakit Ibnu Sina. Dia langsung menuju lantai tiga, di mana ruangan calon suaminya berada. Ruangan masih kosong ketika Dayana masuk ke dalamnya. Dia segera menyiapkan makanan di atas meja.
Selesai memeriksa pasien terakhirnya, Rafa bergegas menuju ruangannya setelah mendapat pesan dari Dayana. Ini pertama kalinya gadis itu memasak untuknya. Pria itu memilih menggunakan tangga untuk sampai ke lantai tiga dari pada mengantri di depan lift. Tak lebih dari lima menit, dia sudah sampai di lantai tiga.
Begitu Rafa membuka pintu, kedatangannya sudah ditunggu oleh Dayana dan juga masakan calon istrinya. Rafa mendudukkan diri di samping Dayana. Matanya melihat menu yang tersaji di atas meja.
“Ini semua kamu yang buat?”
“Iya, mas. Cuci tangan dulu.”
Rafa bangun dari duduknya lalu menuju wastafel yang ada di dekat toilet. Setelah mencuci tangannya, dia kembali mendudukkan diri di samping Dayana. Gadis itu menyodorkan buah untuk dikonsumsi lebih dulu. Setelahnya, bersama dengan Rafa mereka menyantap makanan yang tadi dimasaknya.
“Enak ngga mas?”
“Enak. Kamu beneran pintar masak.”
“Makanan kesukaan mas apa? Nanti aku coba belajar buat.”
“Rendang.”
“Oh mas Rafa suka rendang. Nanti aku minta diajari mama buat rendang. Masakan rendang mama enak loh. Resep dari nenek Nina.”
“Wah ngga sabar deh pengen nyicipin rendang buatan kamu.”
“Aku harus belajar dulu. Nanti kalau kita udah nikah, aku buatin.”
Senyum Rafa mengembang mendengarnya. Dirinya sungguh merasa beruntung mendapatkan calon istri seperti Dayana. Walau usianya masih muda, namun sikapnya sudah menunjukkan kedewasaan. Bukan hanya cantik, ternyata gadis itu juga pintar memasak.
“Kamu kapan mulai kuliah?” tanya Rafa disela-sela makannya.
“Habis pernikahan kita, aku baru mulai aktif kuliah.”
“Kamu mau bulan madu ke mana?”
“Kemana ya? Terserah mas aja deh. Emang mas bisa cuti berapa hari?”
“Sekitar lima hari. Kamu mau bulan madu di dalam negeri atau mau keluar?”
“Kita bulan madu di dalam negeri aja mas. Di sini juga banyak tempat honeymoon yang ngga kalah cantik dari luar negeri.”
“Kamu benar. Coba kamu searching tempat wisata yang bagus.”
“Tenang aja, mas.”
Dayana menarik tisu yang ada di atas meja, kemudian mengusap sudut bibir Rafa yang terkena noda saos. Rafa menangkap tangan Dayana, kemudian mengecup lembut punggung tangannya. Tanpa dikomando, jantung Dayana langsung berdebar kencang mendapat perlakuan manis dan romantis dari calon suaminya.
🍁🍁🍁
Kantor Rakan Putra Group
TOK
TOK
TOK
Pintu ruang kerja Rakan terketuk. Setelah terdengar suara pria itu dari dalam, barulah Renata membukakan pintu untuk Vanila. Wanita itu mempersilahkan Vanila masuk ke dalam ruang atasannya. Senyum Rakan mengembang menyambut kedatangan Vanila. Dia segera bangun dari duduknya.
“Aku ngga kecepatan kan datangnya?” tanya Vanila.
“Ngga. Pas di jam istirahat.”
“Yess.”
__ADS_1
Dengan cepat Vanila mengeluarkan kotak bekal yang dibawanya. Dibukanya satu per satu kotak bekal tersebut, kemudian menatanya di atas meja. Tak lupa dia membukakan dua wadah kecil berisi salad buah sebagai makanan pembuka.
“Wah.. ini semua kamu yang buat?”
“Iya, bang.”
Rakan mengambil wadah berisi salad buah kemudian memakannya. Ternyata salad buah buatan Vanila rasanya lezat. Dia menghabiskan salad tersebut tanpa bersisa. Baginya tidak ada salad buah seenak buatan mamanya, namun kali ini dia harus mengakui kemampuan Vanila yang hampir setara dengan mamanya.
“Saladnya enak. Sayang kamu buatnya cuma sedikit.”
“Sengaja, bang. Kalau banyak nanti malah ngga mau makan. Sia-sia dong kerja kerasku bikin makanan ini.”
Rakan tersenyum mendengar ucapan Vanila. Dia mengambil kotak bekal yang sudah diisi nasi, beserta lauknya dan mulai memakannya. Lagi-lagi Rakan dibuat terkejut dengan rasa makanan gadis itu. Semuanya terasa pas di lidahnya.
“Gimana, bang?”
“Enak. Kayanya kamu ngga usah ketemu om Gavin lagi. Rasa makananmu udah pas.”
“Oh ngga bisa, aku tetap harus ketemu chef Gavin. Jadi, tolong ya bang Rakan. Pertemukan aku dengan chef Gavin,” Vanila menangkupkan kedua tangannya.
“Karena kamu udah buatin aku makanan enak. Aku pasti bakal ketemuin kamu sama om Gavin.”
“Yess.”
Wajah Vanila nampak berbinar. Dia pun menikmati makanan hasil olahannya dengan semangat. Sambil makan, mereka banyak berbincang. Vanilla menceritakan kegiatannya selama menjadi pengangguran setelah lulus kuliah.
“Jadi rencana kamu sekarang apa?”
“Nikah, hahaha…”
“Hah?”
“Bercanda, bang. Tapi sebenernya aku ada keinginan nikah muda sih, kaya kak Arsy, kak Stella atau Aya. Mama juga dulu nikah muda sama papa. Tapi sayangnya aku belum punya calon, hihihi..”
“Emang kamu mau calon yang seperti apa?”
“Yang penting dia setia, bertanggung jawab dan mau terima aku apa adanya. Bukan karena aku anak Virendra Adhitama atau cucu dari Perwira Arjuna. Tapi karena aku, Vanila Benita.”
“Memang ada laki-laki yang mendekati kamu karena papa atau kakek kamu?”
“Ehmm.. waktu aku kuliah. Ada kating yang deketin aku. Jujur aja aku juga suka sama dia. Kita sempat dekat beberapa bulan. Tapi terus aku tahu kalau dia dekat aku karena ada maksud tertentu, ngga tulus. Habis itu aku ngga mau dekat-dekat lagi sama cowok.”
“Tapi ngga semua laki-laki sama. Salah kalau kamu menyamaratakan semuanya.”
“Aku tahu, bang. Tapi aku cuma lebih waspada aja sekarang. Abang sendiri, ada yang marah ngga aku bawain makan siang?”
“Siapa yang mau marah?”
“Istri mungkin.”
“Hahaha… aku belum nikah.”
“Ngga punya.”
“Kak Rena bukan pacar abang?”
“Bukan.”
“Abang sepupunya bang Irzal kan?”
“Iya.”
“Ehmm.. ganteng, mapan, ramah. Tapi kok betah menjomblo? Abang normal kan?”
“Hahaha…”
Hanya tawa lepas saja yang diberikan Rakan mendengar pertanyaan nyeleneh Vanila. Sejak bertemu dengan gadis di depannya ini, dia selalu bisa tertawa lepas. Sosok Vanila sangat unik di matanya. Selain ceria, gadis itu juga sangat percaya diri dan tampil apa adanya.
“Oh iya, gimana kalau kamu abang jodohin sama Daffa, adikku.”
“No.. aku ngga mau nikah sama dokter. Aku cuma akan jadi orang kedua setelah pasien.”
“Ada-ada aja kamu.”
“Tapi kalau sama abang, aku bisa pertimbangkan. Kan asik ya jadi istri CEO. Tinggal ongkang-ongkang kaki, uang belanja ngalir terus.”
“Hahaha.. ya ampun, Ila. Kamu tuh lucu banget.”
“Mulai deh bilang aku lucu, berasa kaya cihuahua.”
“Masih mending dari pada aku bilang mirip Sharmila.”
“Siapa Sharmila?”
“Monyet tetanggaku, hahaha..”
“Kalau aku Sharmila, abang Ashraf-nya.”
“Siapa Ashraf?”
“Beruk di bonbin.”
“Hahaha…”
Suasana makan siang di ruang kerja Rakan penuh dengan percakapan dan gelak tawa. Kehadiran Vanila membuat hidup Rakan lebih berwarna. Biasanya pria itu hanya menjalani rutinitas yang melelahkan dan membosankan.
🍁🍁🍁
Kantor Bareskrim
__ADS_1
Stella memarkirkan kendaraannya begitu sampai di kantor bareskrim. Dia segera keluar sambil membawa tote bag berisi makan siang untuk calon suaminya. Kedatangan gadis itu disambut ramah oleh rekan-rekan Tamar yang sudah mengetahui identitasnya. Dia langsung masuk ke dalam ruang kerja Tamar.
“Ooo calon suami, makan siang sudah datang.”
Tamar yang sedang berbincang dengan Aji terkejut dengan kedatangan Stella. Aji buru-buru keluar dari ruangan saat Stella masuk ke dalam. Gadis itu membereskan dahulu meja kerja Tamar yang penuh dengan kertas kerja kemudian menaruh tote bag di atasnya.
Dibukanya satu per satu kotak bekal dan menyusunnya di atas meja. Tamar benar-benar penasaran. Dia ingin tahu apa yang dibuat oleh calon istrinya ini untuk makan siangnya. Dia menarik kursi di belakng meja kerjanya. Matanya melihat isi kotak bekal yang dibawa oleh Stella.
“Mie goreng,” celetuk Tamar.
“Eii.. jangan lihat mienya aja. Kan temannya banyak, ada kol, sawi, baso, sosis, telur. Mie gorengnya cuma aksesoris aja.”
“Bisa aja ngelesnya. Terus ini apa?” tangan Tamar menujuk pada telur gulung yang bentuknya aneh.
“Telur gulung, yang kaya di drakor.”
“Perasaannya ngga gini bentuknya,” protes Tamar.
“Ngga usah protes, yang penting rasanya.”
“Terus ini?”
“Nuget ayam.”
“Kok gosong?”
“Bukan gosong. Telat ngangkat dikit.”
Tamar berdecak mendengar Stella yang terus menerus mengelak. Stella memasukkan nasi beserta lauknya ke dalam kotak bekal yang kosong lalu memberikannya pada Tamar.
“Eh lupa, makan dulu pisangnya. Makan buah itu sebelum makan bagusnya bukan sesudah.”
“Pisang, udah kaya onye.”
“Protes mulu. Ini yang paling praktis.. tis.. tis..”
Tangan Tamar bergerak membuka kulit pisang, begitu pula dengan Stella. Gadis itu membuka kulit pisang menjadi empat bagian. Berbeda dengan Tamar yang hanya membuka tiga bagian.
“Bang.. tau ngga bedanya buka pisang empat bagian sama tiga?”
“Apa?”
“Kalau manusia buka pisang itu empat bagian. Kalau tiga itu, onye. Hahaha…”
Mata Tamar menatap tajam pada Stella yang masih tertawa setelah mengungkapkan hipotetsis absurdnya. Secara tidak langsung calon istrinya itu menganggap dirinya monyet. Tanpa ada keinginan untuk membalas, Tamar segera memakan pisangnya.
“Gimana rasa mie-nya? Enak kan?” tanya Stella ketika Tamar mulai memakan masakab buatannya.
“Kaya mie goreng instan.”
“Ck.. nugetnya?”
“Ya kaya nugget ayam.”
“Telor gulungnya?”
Tamar langsung mengambil telur gulung yang belum dicobanya. Pria itu memasukkan potongan telur sekaligus. Namun dia segera mengambil tisu dan mengeluarkan telur dari mulutnya.
“Kenapa?”
“Asin.. kamu masukin garem berapa ton?”
“Lebay.”
Tak percaya yang dikatakan calon suaminya, Stella mengambil satu potong telur gulung kemudian memakannya. Sama speerti halnya Tamar, dia pun mengeluarkan lagi telur dari dalam mulutnya.
“Bener kan, asin. Bisa darah tinggi aku makan makanan asin kaya gini.”
Tak ada bantahan dari Stella mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Tamar. Gadis itu tak meneruskan makannya. Dia memandangi hasil makanannya. Semuanya hanya makanan instan yang diolah olehnya. Dia memang tidak memiliki bakat masak. Membuat telur dadar yang mudah saja masih keasinan.
Stella menutup kembali kotak makanan yang berisi masakannya. Dia bahkan mengambil kotak makanan dari tangan Tamar. Tentu saja hal tersebut membuat pria itu terkejut.
“Kenapa diambil?”
“Abang ngga usah makan ini. Aku bakal beliin makanan lain. Aku emang ngga bakat masak. Hiks.. hiks.. abang jangan makan ini, nanti malah sakit, hiks.. hiks..”
Tamar terkejut melihat reaksi Stella. Gadis itu menghapus airmatanya sambil menutup kotak bekal yang dibawanya. Tamar menghentikan apa yang dilakukan gadis itu. Dia menarik tangan Stella, kemudian menggenggamnya.
“Aku lapar. Aku mau makan makanan buatanmu.”
“Rasa makanannya ngga enak. Jangan dimakan.”
“Mie gorengnya enak.”
“Iya karena udah ada bumbunya. Aku cuma masukin bumbunya aja.”
“Tapi kamu tambahin sayuran, baso dan sosis. Rasa mie gorengnya jadi tambah enak.”
“Nugetnya gosong, telornya juga asin.”
“Biar gosong tapi masih bisa dimakan. Kalau telornya aku ngga sanggup makan. Tapi kamu udah mau susah payah bikin makanan ini buat aku, itu sudah cukup. Kamu bisa belajar pelan-pelan. Ayo makan lagi.”
Tamar mengambil kembali tempat makannya yang tadi diambil Stella. Dengan lahap dia menghabiskan makanan tersebut. Sedikit demi sedikit senyum Stella terbit. Melihat Tamar yang tetap menghabiskan makanan yang dibuatnya, dia merasa dihargai dan juga bahagia. Dalam hati dia berjanji akan belajar memasak pada sang mama, agar bisa membuat makanan enak dan bergizi untuk calon suaminya.
🍁🍁🍁
**Wkwkwk.. Makanan buatan Stella paling emejing🤭
Pada setuju ngga Rakan sama Ila**?
__ADS_1