
Dua buah mobil berhenti di depan IGD, dari mobil pertama turun Kevin dibantu oleh Abi dan Juna. Sedang dari mobil kedua, turun Jojo dibantu oleh Cakra dan Anfa. Tak lama berselang, datang mobil ketiga. Dari mobil terakhir turun Gurit, dibantu oleh Radix dan Syakira.
“Tolong… tolong besan saya,” ujar Abi.
Perawat yang bertugas langsung membantu Abi, dia segera menunjukkan kemana kedua pria itu harus menempatkan pasien. Kevin melepaskan sandal yang digunakannya, lalu naik ke atas blankar. Di bilik sebelah, Jojo juga dibantu naik oleh Cakra dan Anfa. Dan di sebelahnya lagi, Gurit dibantu oleh Syakira dan Radix.
Ansel yang baru tiba di IGD, langsung diminta memeriksa ketiga pasien tersebut. Kebetulan di jam ini baru dirinya yang ada di IGD bersama tiga orang koas. Daffa sedang diminta membantu Fadli di ruang operasi, Dante tengah berkeliling memeriksa pasien yang baru dioperasi bersama dengan Arsy. Sedang Genta, masuk siang.
“Apa keluhannya, pak?” tanya salah satu koas pada Gurit.
Pria itu mengeluh sakit di bagian perutnya. Dengan cepat koas tersebut memeriksa keadaan perut pasien yang sedang meringis kesakitan.
“Syuaamiihh syayaahh nggaahh biysaahh kenthuuth,” jawab Syakira. Walau usianya sudah tua, ternyata suara wanita itu saat berbicara masih mend*sah, walau tidak separah saat muda.
Untuk sejenak dokter koas berjenis kelamin pria itu hanya melongo mendengar wanita tua di depannya berbicara dengan gaya seperti itu. Radix sebisa mungkin menahan tawanya melihat ekspresi sang dokter.
“Kenapa bengong? Ini perut saya sakit!” hardik Gurit.
“Eh iya, pak. Sudah berapa lama bapak tidak buang angin?”
“Dari tadi pagi. Terakhir saya kentut jam tujuh pagi.”
Dokter koas itu hanya mengernyitkan kening. Refleks matanya langsung melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, baru tiga jam pria itu tidak buang angin, sudah heboh seperti ini.
“Saya ngga mau dirawat sama kamu! Panggil dokter lain!!”
Suara keras Gurit tertangkap oleh Ansel. Tadinya pria itu hendak memeriksa Kevin lebih dulu, namun mendengar ucapan Gurit, dia memilih menghampiri pasien pemarah itu. Begitu masuk ke dalam bilik, terlihat Gurit sedang dalam posisi menungging. Baru saja Ansel mendekat, tiba-tiba dentuman keluar dari bokong Gurit.
DUUUTTT
Ansel memejamkan matanya, hembusan angin disertai aroma yang begitu memabukkan langsung masuk dan terhisap indra penciumannya. Radix menepuk bokong sahabatnya yang sukses mengeluarkan bau busuk, bergegas dia keluar dari bilik. Begitu pula dengan dokter koas tadi. Puas telah mengeluarkan bom yang sedari tadi ditahannya, Gurit bangun dari posisinya.
“Aduh.. lega sekarang,” Gurit menepuk-nepuk perutnya yang terasa plong.
“Apa yang bapak rasakan sekarang?” tanya Ansel seraya mengibas-ngibaskan tangannya.
“Udah beres, dok. Saya udah bisa kentut lagi. Dokter telat.”
“Syayaangghh nggaahh boleehh gituuuhh,” ujar Syakira.
Sontak Ansel terkejut mendengar suara Syakira yang bisa membuat orang galfok. Untung saja wanita itu sudah berusia lanjut, kalau masih muda, dia yakin koas dan perawat pria, mungkin termasuk dirinya akan langsung terangsang mendengar suaranya.
“DOKTER!!!”
Suara teriakan Jojo membuyarkan lamunan Ansel, bergegas pria itu menuju bilik sebelahnya. Nampak Jojo sedang tiduran sambil memegangi pinggangnya. Ansel segera memeriksa kakek dari Arsy itu.
“Bagian mana yang sakit?”
“Pinggang saya.”
“Suster, ambil USG.”
“Ngga usah di USG, ini encok saya kumat pas lagi senam tadi.”
“Ooh.. suster ambilkan kompresan dingin.”
“Baik, dok.”
Ansel mendekati Jojo, dia menaikkan sedikit kaos yang dikenakan Jojo. Tiba-tiba saja pria itu menarik kencang rambutnya, hingga kepala Ansel tertarik ke arahnya.
“Aduuhh.. tolong lepas pak..”
“Sakiiit dooookkk,” Jojo mengencangkan jambakannnya.
Tak lama kemudian suster datang membawakan kompresan yang diisi es batu. Ansel langsung menempelkan kompresan tersebut ke pinggang Jojo. Perlahan jenggutan di rambut dokter spesialis itu terurai. Suster berusaha menahan tawanya, melihat rambut Ansel yang berantakan.
“Dokter! Tolong teman saya!!”
Abi berteriak memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Kevin. Dia segera menuju bilik sebelah. Di sana Kevin sedang dalam posisi berbaring, matanya menatap lurus ke atas dan tak ada reaksi apapun darinya, hanya terdengar mulutnya saja yang bergumam.
“Panggilkan dokter Rafa. Mana cucu mantuku.”
“Keluhannya apa?” tanya Ansel.
“Dia mengeluh sakit di bagian dadanya. Dokter Rafa ada?” tanya Juna.
“Pak.. bagian mana yang sakit? Suster coba hubungi dokter Rafa.”
“Ini dari bahu sampai dada sakit,” jawab Kevin lemah.
__ADS_1
“Dok.. dokter Rafa lagi operasi. Katanya disuntik pereda nyeri aja dulu.”
“Siapkan obatnya.”
Bergegas suster tersebut menyiapkan suntikan yang berisikan pereda nyeri. Dia menyerahkan suntikan tersebut pada Ansel. Melihat suntikan di tangan Ansel, Kevin langsung bereaksi. Dia yang tadinya tiduran, langung bangun. Sekuat tenaga dia berusaha menahan Ansel yang berusaha menyuntiknya. Kaki pria itu terangkat lalu menempelkannya ke wajah Ansel, dengan sedikit tenaga, telapak kaki Kevin mendorong wajah dokter tersebut hingga jatuh terjengkang.
“Awas kamu berani suntik saya!!”
Mata Kevin melotot ke arah Ansel. Di saat bersamaan, Arsy dan Dante yang sudah selesai berkeliling datang menghampiri. Keduanya berusaha menahan tawa melihat Ansel yang jatuh terjengkang.
“Kakek ngapain di sini?” tanya Arsy. Wanita itu mencium punggung tangan Abi, Juna dan Kevin bergantian.
“Opamu sakit katanya. Rafa bilang disuntik pereda nyeri aja, tapi dia ngga mau. Malah kasih tendangan Beckham sama dokter itu,” jelas Abi.
“Biar saya aja, dok. Mohon maaf, opa saya memang takut jarum suntik.”
Ansel segera bangun dari posisinya, kemudian keluar dari bilik tersebut. Mimpi apa dia semalam, mendapat tiga pasien gila. Yang satu mengentutinya, satunya lagi menjambak rambutnya dan yang terakhir menendang wajahnya. Pria itu mendudukkan diri di kursi yang ada di IGD. Abi keluar menghampiri Ansel.
“Maaf ya, dok. Besan saya memang bar-bar orangnya. Dokter ngga apa-apa?”
“Ngga apa-apa, pak.”
“Kakek..”
Kepala Abi langsung menoleh mendengar sebuah suara yang tak asing memanggilnya. Daffa yang sudah selesai dengan operasinya bergegas menghampiri Abi. Diciumnya punggung tangan pria itu.
“Kakek ngapain ke sini? Kakek sakit?”
“Cuma antar opa.”
“Opa kenapa? Jantungnya kambuh lagi?” tanya Daffa dengan cemas.
“Udah ngga apa-apa. Udah ditolong sama Arsy.”
Abi merangkul bahu Daffa, kemudian membawanya menuju Ansel. Dokter itu hanya diam memperhatikan kedekatan Daffa dengan pria yang dia ketahui adalah salah satu anggota keluarga Hikmat. Ansel diberitahu oleh suster yang membantunya tadi.
“Dokter siapa ya?” tanya Abi pada Ansel.
“Ansel, pak.”
“Iya, dokter Ansel. Saya titip cucu saya, ya. Daffa ini dokter yang baik, cakap dan cekatan. Sebentar lagi masa residennya selesai. Kalau ada yang macam-macam sama cucu saya, tolong bilang ke saya. Biar saya kirim ke pulau Rinca.”
“Ada komodo. Yang ganggu cucu saya, mau saya kirim ke sana, buat nemenin komodo. Nyikatin giginya, mandiin sama ngelonin.”
“Hahaha.. kakek ada-ada aja.”
Ansel hanya menelan ludahnya kelat. Walau sepertinya bercanda, namun Ansel bisa merasakan keseriusan dalam setiap kalimat yang dilontarkan pria itu. Dia segera berpamitan pada Abi. Berada dekat dengan pria itu, membuat moodnya buruk. Auranya cukup menyeramkan.
“Aku mau lihat opa Kevin dulu, kek.”
“Ngga usah. Dia ngga apa-apa.”
Kening Daffa berkerut mendengar ucapan Abi. Kemudian matanya melihat sekeliling. Ternyata bukan hanya Abi dan Kevin, tapi Juna, Cakra, Jojo, Anfa, Radix dan Gurit berada di IGD. Dia jadi curiga, kedatangan para kakek itu hanya untuk mengacaukan IGD saja. Abi hanya mengulum senyum saja. Apa yang dia dan para sahabatnya lakukan untuk memberikan pelajaran pada Ansel.
“Om..”
Reyhan yang mendengar kedatangan Abi dan yang lain ke rumah sakit, bergegas menghampiri pria itu di IGD. Reyhan mencium punggung tangan Abi. Bersama dengan pria itu, dia menghampiri bilik di mana Kevin berada.
“Jadi om Kevin ngga apa-apa?” Reyhan memastikan.
“Aku sehat,” jawab Kevin.
“Syukurlah, om. Aku takut jantung om kumat lagi.”
“Kami ke sini cuma ingin melihat dokter yang sudah menindas Daffa.”
“Hahaha… ya ampun. Pasti Geya nih yang mengadu.”
Tebakan Reyhan langsung dibalas anggukan oleh Abi. Cucunya itu misah-misuh mengadukan tentang Ansel yang selalu menindas Daffa. Akhirnya Abi dan yang lainnya memutuskan datang ke rumah sakit karena tak tahan mendengar rengekan Geya.
“Kenapa kamu ngga turun tangan, Rey? Anakmu ditindas begitu.”
“Hahaha.. itu biasa, om. Biar Daffa belajar bertanggung jawab dan mengatasi masalahnya sendiri. Dia itu anak yang pintar dan kuat. Dia tahu kapan harus diam dan kapan harus melawan. Kakek tenang aja, Daffa tidak selemah itu. Sampaikan juga pada calon menantuku untuk jangan terlalu khawatir, hahaha..”
“Masalahnya dia itu kalau udah merengek, persis seperti kaleng rombeng.”
“Hahaha..”
Reyhan tak bisa menahan tawanya mendengar julukan yang Abi berikan untuk calon menantunya itu. Sedangkan objek yang dijadikan bahan gibahan, tengah sibuk mengerjakan tugasnya di masa akhir magangnya.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Hari terus berlalu, Daffa semakin sibuk saja menghadapi ujian dan juga menyelesaikan tugas akhirnya. Begitu pula dengan Geya yang berkonsentrasi menyelesaikan masa magangnya yang hanya tersisa sebentar lagi. Walau berada di rumah sakit yang sama, namun keduanya jarang bertemu akhir-akhir ini.
Sejak kedatangan Abi dan para sahabatnya, sikap Ansel sedikit melunak pada Daffa. Namun terkadang pria itu masih menegur dokter residen tersebut secara berlebihan. Daffa sendiri tidak mempermasalahkannya, selama apa yang dilakukan Ansel masih berada dalam batas toleransinya.
Dengan langkah pelan, Daffa menuju rooftop yang berada di bagian atas rumah sakit. Seketika udara sore hari langsung menyapa permukaan kulitnya, ketika pria itu sampai di sana. Suasana di rooftop, tidak begitu ramai. Pria itu berjalan menuju salah satu gazebo yang ada di sana. Dia membaringkan tubuhnya, mengistirahatkan punggungnya yang terasa kaku.
Kemarin Daffa secara resmi sudah mengakhiri masa residennya. Dia berhasil menyelesaikan tugas akhirnya dan mampu mempertanggung jawabkannya dengan baik. Nilai yang diperolehnya juga bagus. Bangga rasanya bisa menyelesaikan studinya, sekaligus pekerjaannya sebagai dokter residen dengan perjuangannya sendiri. Tanpa campur tangan kakak apalagi ayahnya.
Pintu menuju rooftop kembali terbuka. Kali ini Geya yang masuk ke sana. Dia sudah mendengar soal Daffa yang sudah menyelesaikan masa residennya. Tentu saja gadis itu ingin mengatakan secara langsung ucapan selamat untuk pria yang dicintainya. Tempat pertama yang didatanginya setelah IGD adalah rooftop. Dia tahu kalau Daffa sering menghabiskan waktu senggangnya di sini.
Mata Geya memandang berkeliling, mencari keberadaan Daffa. Kemudian matanya tertuju pada sebuah gazebo yang hanya terdapat seorang pria mengenakan pakaian OP sedang tiduran. Bergegas Geya melangkahkan kakinya ke sana. Gadis itu langsung mendaratkan bokongnya di samping Daffa.
“Abang..” panggilnya.
“Tau aja aku lagi di sini,” ujar Daffa masih dengan posisi berbaring.
“Geya gitu, loh. Apa sih yang ngga aku tau soal abang.”
Geya ikut membaringkan tubuhnya di samping Daffa. Matanya memandang ke arah langit-langit gazebo yang terbuat dari anyaman daun kelapa. Kemudian melirik pada Daffa yang berbaring di sampingnya sambil melipat kedua tangannya.
“Abang.. selamat, ya. Akhirnya masa residennya beres juga. Sekarang udah resmi jadi dokter spesialis bedah umum, dong.”
“Aamiin.. makasih, Ge. Secara akademik udah, tapi secara administratif belum, ya. Kan belum diresmiin,” Daffa hanya terkekeh saja setelahnya.
“Abang kapan wisudanya?”
“Masih lama, tiga bulan lagi. Kenapa?”
“Ngga apa-apa. Kali aja abang buka lowongan buat PW. Aku mau ngelamar.”
“Apaan PW?” Daffa menolehkan kepalanya pada Geya.
“Pendamping Wisuda.”
“Hahaha..”
Daffa mengangkat tubuhnya, kemudian duduk dengan kaki terjuntai ke bawah. Geya mengikuti apa yang Daffa lakukan. Pria itu melihat pada gadis cantik di sebelahnya. Cukup lama Daffa memandangi Geya, hingga wajahnya tersipu malu karena dilihat begitu intens oleh Daffa.
“Kamu mau jadi PW aku?”
“Ngga usah ditanya juga aku pasti mau, bang.”
“Oke.”
“Beneran aku bakal jadi PW abang?”
Tanya Geya dengan wajah berbinar. Daffa menganggukkan kepalanya, dan hal tersebut sukses membuat wajah Geya menjadi lebih sumringah lagi. Daffa tersenyum manis melihat tingkah gadis di sampingnya yang selalu sukses membuatnya gemas dan cenat-cenut sendiri.
“Magangmu gimana?”
“Besok hari terakhir. Tinggal nyusunnya aja.”
“Harus semangat, ya.”
“Pasti, bang.”
“Kamu akhir minggu ini ada acara, ngga?”
“Ngga. Kenapa? Abang mau ajak kencan ya?”
Daffa hanya melemparkan senyum manisnya saja. Hati Geya semakin berbunga-bunga. Menurutnya sikap Daffa sudah berbeda sekarang. Pria itu tak sungkan menatapnya cukup lama, melemparkan senyuman manis, bahkan mengajaknya kencan. Geya yakin sekali kalau pria di sampingnya ini memiliki perasaan yang sama padanya.
“Kuliahmu gimana?”
“Baik, bang. Tinggal satu semester lagi, abis itu langsung nyusun deh.”
“Yang rajin ya, kuliahnya. Biar nilainya bagus.”
“Aamiin.. tapi abang ngga lupa, kan? Abang udah janji mau bantu aku katrol nilai.”
“Ngga, kok. Abang ngga lupa.”
Senyum kembali terbit di wajah Geya, memperlihatkan deretan giginya yang putih. Hatinya benar-benar bahagia, dan dunianya terasa begitu cerah. Secerah warna langit di atas sana, walau senja mulai merangkak, namun warnanya masih terlihat cerah.
Tiba-tiba angin berhembus cukup kencang, hembusannya membuat rambut Geya sedikit berantakan. Tangan Daffa bergerak merapihkan rambut Geya, kemudian menyelipkannya ke belakang telinga. Apa yang dilakukan Daffa, sukses membuat jantung Geya memiliki irama yang tidak beraturan. Tanpa dikomando, pipinya merona. Daffa terus melakukan kegiatannya, sampai rambut Geya rapih kembali.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Eaaa... Tanggung jawab, Daf. Noh emak² yang ngintip pasti baper🤣